Tampilkan postingan dengan label Syifa Aulia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syifa Aulia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
Sisa Purnama

Bulan telah sejengkal
di kepala
bintang-bintang telah
ada di genggaman
cuma yang kurasakan
temaram begitu mendalam

Pada cermin kupalingkan
muka
namun rengkah kaca
pecah
bersiap membidik
nyawa.

14-9-2011



Yang Tertunda

Sekali lagi
rindu menunda kedatangannya
meski jalan begitu di hapal
sesak kerikil dan kesiur angin
menghantam kecamuk
kekasih
dalam ruang perjanjian
yang sunyi

Ini kali bukan waktu
bagai pantai dan buih
hanya ombak menepi
dan bulan pun urung
tampak dimatanya.

24-9-2011



Layang Jingga (1)

Seribu putaran matahari telah kita lewati
kekasihku, dan satu purnama
lagi musti kita lalui untuk sampai pada
tempat yang kita sasar.
Ini kali kesekian saat suci bulan
menaungi dunia, kita masih saja
merapal jarak meniti jejak.

Gelombang telah
membesarkanmu, ombak
setia membelaimu
dalam rengkuhan luas
samudera
kau menyulam masa depan
yang kita impikan.
Kalau laut mendebur akulah yang paling khawatir
bila angin berkesiur akulah
yang paling menggigil,
biarpun tak lelah kau
menenangkan aku dengan
caramu
agar percaya pada kekuatan doa
dan kehendak-Nya, tapi hati
tak bisa dibohongi sebab
mengkhawatirkanmu
sama pentingnya dengan
makan tiga kali sehari.

Kau memang tak pandai
menulis seperti mereka,
juga bukan lelaki puisi yang
merayuku ditiap baitnya
tapi kau telah melukis sempurna
di jiwaku, memahat nama begitu
indah di hatiku.
Kau telah mengajariku cara paling
kasih perihal hati
untuk berhati-hati dalam menjaga hati,
untuk tidak bermain hati
baik secara diam-diam
maupun terus terang.
Kau mengajariku arti tanggung jawab
atas kepercayaan yang kita saling
embankan dipundak jiwa masing-masing,
kau mengajariku makna setia
bukan dengan kata-kata
tapi lakumu yang selalu madu.

Ah, betapa padamu aku
berkesudian menjadi pohon
paling gurun sebab kaulah
kekasihku yang paling hati.

19-8-2011



Layang Jingga (2)

Berpuluh purnama telah
terlewati
waktu telah berkesudian
menjadi saksi
atas luruhnya janji
yang terabaikan

Kau telah menggulung
seluruh ingatan
tentang masa depan
yang pernah kita bincangkan

Lihatlah setia itu telah menua
dan binasa diperjalanan
menujumu
terbujur dalam sunyi
paling tak terbagi

dan rindu yang begitu
biru padamu
kugantungkan diranting
perdu
kiranya hujan melarungnya
tanpa bermuara.

13-10-2011

Sabtu, 03 September 2011

Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
Sepotong doa untuk kepala yang dipenggal paksa

Darah kembali bersimbah
di Bumi para Nabi
mengalirkan sungai
disudut mata Bunda Pertiwi
BMI berduka lagi.

Bersama hukum pancung
seluruh asa pun terpasung
setulus doa terpanjat
serupa kidung agung
menghantar ketempatmu
yang abadi dan terlindung.

Hai Rembulan
belikan kami telpon genggam
untuk menghubungi Tuhan
bikin perjanjian, bahwa
hidup bukan hanya milik
tuan-tuan berseragam safari
di gedung dewan perwakilan.

Sebab rancangan undang-undang
yang kesekian
nama-nama kami tidak
disebutkan sebagai anak
Negara
yang satu tumpah
air mata darah.

20-6-2011
(puisi untuk ibu Ruyati BMI/TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi)



Aku Kau dan Jarak

Jarak ini bentangan waktu,
sayang
pulau-pulau yang bakal
kita lewati adalah
sejumput harapan
tentang rumah, juga
pepohonan yang melilitnya
laut-laut tumpah di matamu,
bahwa kita kehilangan
dayung
hanya layar mengantar
sampai ke Negeri siapa
kita sasar.

Kita bukan orang tepian
sayang
kita pernah jadi
nahkoda pada kapal
sendiri
gagahi lautan, tunjuk
bintang, tak kenal
labuhan
juga menyelam pada
karang-karang.

Garis tangan kita adalah
garis khatulistiwa
maka musim tak akan
berpihak
sebelum kita temukan
alamat
pada peta tak bernama.

03-Sep-11



Berproses

Tidak mudah untuk sampai
pada titik ini
dimana mata tumpah
di ujung telapak kaki sendiri
mencandui kebengisanmu
yang selalunya
membuatku makin tak terlihat
oleh mata sekalipun.

Jika mencintaimu adalah
kesalahan
biarlah terus menjadi salah
tak harus menjadi benar
untuk membenarkan
segala salah
dan menciptakan surga
sebagai bentuk kelit
dari setiap masalah
sebab dalam diam aku menang.

Tak perlu kutanyakan lagi
mengapa cinta dan harapan
lahir seluruhnya padamu
takkan kubiarkan
diriku menjadi keparat
untuk memilikimu.

23-7-2011



Mamoar Rindu

Aku enyahkan rindu itu
yang melubangi tubuhku
bagai bongkah-bongkah harap
tertelan gelombang pasang.

Aku bukan dewi
yang bisa kau puji
dan sesekali kau bohongi.

Aku butuh persembahan
paling naif
dari angka-angka
yang tak sempat diperhitungkan
dan jalan pulang
sudah terlanjur bercabang
ketika singgahmu tertunda.

Tak kuberi makna padanya
hanya senja yang sesekali
mengirim gerimis
bagi pualamku
atas namamu.

14-3-2011



Senja

Di hening yang sempurna
mencipta bening
direlung sukma
kutatap senja di bentang
cakrawala
dalam arakan mega
kembali berpulang kepelukan malam gulita
membiarkan Matahari
menjadi piatu karenanya

dan
aku masih saja di sini
mencumbui kata yang tak
sempat tereja
hingga karatan makna
sebab ada rengkah kaca
menghalang raga
untuk meraba warna
menjelma sulur jiwa
tapi masih ada tangan-tangan rapuh
yang akan senantiasa merapal doa.

26-8 -2011

Senin, 18 Juli 2011

Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
WAKIL RAKYAT

Selamat menjalankan ibadah puasa Pak SBY…
bapak Presidenku yang gagah dan dikagumi ibu-ibu.

Semoga rasa lapar menjadikan bapak rendah diri
dan ingat mereka yang di kolong jembatan,

pernahkah bapak memikirkan
apa menu mereka buat buka puasa nanti?

Terlintaskah di pikiran bapak akan nasib mereka? Ataukah bapak
menganggap mereka hanya mengotori indahnya Ibu Kota?

Saat bapak shalat tarawih di masjid Istiqlal
adakah bapak mendoakan mereka?…



MALAM

ketika matahari berpulang
pertanda hadirmu

lelaplah di atas tubuh
yang ku serahkan
pada bumi untukmu

hadirmu…

sejenak membuat ruh-ruh
meninggalkan raga
melayang menikam langit petang
merajut mimpi yang ternisbikan

gelapmu…

menandai sang kupu-kupu malam
telah siap mengepakkan sayap
menuju selangkangan
di ujung simpang jalang

indahmu…

selalunya bersambutkan
berjuta bintang
dengan gempita turut menyaksikan
pengaduan atas dosa-dosa termuda

25-07-2010



PERSAMAAN YANG BATU

betapa persamaan itu
mengundang prahara pada
akhirnya

mengaburkan makna dan arti
sesungguhnya

persamaan yang terpaksa
membuat hati pecah
karena lidah yang pedang

sungguh setelahnya
tiada lelap kuraih

terus kusebut namamu
diam-diam sekaligus terus terang

sebab telaga matamu
mengapungkan
dosa-dosa atas namaku

28-06-2010



BETINA ITU

kau hampir saja berhasil
membuat aku gila

kau pembawa kering dan terik
penghisap bintik-bintik
air dari arakan mega

kau datang dengan
tawa bahakmu

berhasil merobohkan
tangga dalam rumahku

paku-paku yang begitu kuat
tertancap tercerabut serta

kau perbesar simpang siur
dan lalu lintas
dalam penderitaanku

27-06-2010



MANUSIA GAGAL

betapa nyaman
bersandar di bahuMu

mengadukan segala
gundah termuda

hanya di saat butuh
aku mencariMu
memuji kebesaranMu

apakah aku layak
di sebut manusia?

sementara aku dengan sadar
melanggar garis
batas perintahMu

aku dengan segala ke”aku”anku
selalu menuntut lebih
atas pemberianMu

manusiakah aku?

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae