Tampilkan postingan dengan label Dody Kristianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dody Kristianto. Tampilkan semua postingan

Kamis, 13 Oktober 2011

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://sastra-indonesia.com/
Berbicara Tentang Kotamu yang Terlelap

berbicara tentang kotamu yang terlelap aku bangkitkan mayat mayat yang berbaris di lenganmu kesunyian di alismu perlahan bangkit dengan sungai yang lahir melalui wujud menara tapi bulan tumbuuh di rambutmu dan perlahan kawanan pemabuk menyentuhku mencekikku lewat keabadian goa yang terkutuk ribuan cahaya segera aku mati tanpa jasad dan segala kenanganku membentuk planet hijau di otakmu tapi begitulah, imajiku mengagungkan pelacur dan kaum surealis yang beku memaku birahiku persis kutunggui kupu kupu retak di alismu rupanya kesedihanku menggugurkan dedaun dan di ketinggian bulan retak, aku mencungkil matamu dan sayap laba laba yang kudengungkan berubah seseram jenazah seperti mimpiku yang lekas berlalu, begitu pula elang elang yang berdzikir di mulutmu aku kekalkan hari seperti kelak mayatku membiru memuja gairahmu dengan mulutku yang busuk

2007



Kuarungkan 1000 Surealita

jalan jalan angkasa telah mengaburkan
1000 langkahku. seperti warna sajak dengan kehitaman pekat
kesunyian yang kuterbangkan menjelma ikan dengan insang terbuka
tapi kota kesepianku sudah kadung terluka dan langkahku lebih terlunta dari para pemabuk
aku mendekam
dengan sayapku yang tersampir di bulan
serupa mayat pelacur dengan wajah ngeri
peri peri kecil di hatiku
menjadi ketakutan

katakanlah tentang cinta yang lebih sakit
ketimbang kemenawanan kota
dengan sejuta cahayanya
aku gagal menerbangkan mimpi surealita
setelah jauh kau tinggal dalam darahku
jutaan serigala menggasang
dan ekor ku mengayun alun berganti rupa
dengan laba laba yang kau ceritakan
pada saat kau hidup kan aroma parade hitam

sajak sajakku terluka dan aku
mengawang awang
seperti kegemaranmu menyalib burung
di musim hujan

2007

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://pawonsastra.blogspot.com/
Lagu Musim

seperti lagu musimmusim tua, gerakmu adalah bau sunyi
yang tak habis kupahami. dengan menikam mata lenganku pasrah

memanjat bunyibunyi sangit kesakitan. betapa tubuhmu melabuh
dan dari pagar, kucakar semua ingatan dalam lehermu

aku seperti pemuda dengan kalungan darah, lukisan terjal
tentang igal hantu masa silam, membentuk gaunmu

terbelah di girang jauh. sungguh, aku rindukan jejakmu
alisalis bisu, di mana langit merah akan teraba dan kau

senantiasa menunggu, bayibayi terlahirkan serupa foto samun kenangan

2007



Setiap Malam Kurasakan Hujan

setiap malam kurasakan hujan
yang tumbuh di jemarimu
daundaun kurayu dan anakanak matahari
berkaki tanah terjura di kastil darah
sebagai bukti kukhianati laut
dan jejakku maut tumbuh di bulan
sesering kutumbuhkan mimpi daunmu
pada gereja bara

lalu lambang tanah gugur, serupa bayanganmu
terayun, mengingat ribuan terakota
yang mati dalam hembus hallintar
sepiku serupa pohon cahaya
aku tumbuh liar di pelupukmu
tahuntahun emas kebimbanganmuku
pada rumput
semerah pagi belati

2007



Kepompong Penyair

mataku yang picik menggali kubur semut
pisaupisau kenangan terbuka terbang
melecutkan malam amfibi. pada sebentuk lingga
betapa gairahmu menganga
alir rumput menyuarakan semu
di gerbang ingatanku, labalaba membangun
jantungnya. tapi mumi otakku seketika
murung. malaikatmalaikat masa lalu
bernyanyi menggemakan suar kelam kelabu
dengan kegaiban bibir pelacur

aku wujudkan guratgurat cemara berledakan
lidah bulan kaku menggenapkan waktu
bermuka patung. betapa sungai adalah kegilaan
seperti tari nabinabi yang mengutuk angin
arwahku hidup lebih sesat. pada kelas kenangan
betapa puisi jadi tak menyenangkan
fantasiku lancang mencela butiran salju
pemabuk dengan warna rabun melayang
menjadi berita cuaca yang gagal terbaca

segera segala kemustahilanku memberi nyawa
lubanglubang gerhana. perutmu yang mulus
menggugah tanganku untuk membunuh siput
sungguh, seratus tahun lebih kubentangkan
tubuhmu yang putih mengapung
tiangtiang jahat di selatan mengamuk
menculik terakanku yang lebih sumbang
dari aroma mobil terbakar
mengingatkanku pada kepompong penyair yang urung
memahat planet putih di pinggulmu

2007



Lalu Kukuburkan Seratus Planet di Dadamu

lalu kukuburkan seratus planet di dadamu
serupa kegembiraan burung terkurung pada
berabad pembunuhan
anakanakmu terlahir dan gerimis ombak kulukis
dari sebalik kubur yang terpajang
antara jendela dan tiang gantungan

2007

Jumat, 08 Oktober 2010

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://www.jawapos.co.id/
Riam Hujan

ia akan kembali untuk yang lama
ia akan pergi bagi yang purba
sebab ia sekadar singgah
menemui Puan yang terus ia rindui
Puan yang lama menjejaki bumi
Puan yang tinggalkan segala benih
benih rindu yang kelak tak abadi
sebab ia akan terus kembali

2010



Gambar Hujan

sudah berkali-kali ia masih lupa
warna mata yang ditatapnya
di perjalanan
tak berkehendak ia serupa buta
tapi sekenangan kastil masih saja
menunggunya di senja pertama
sebelum malam sesekali menghapus namanya
sungguh, bimbang ia masih
pada sebidang putih
yang mengungkungnya
di akhir malam

2010



Kitab Hujan

serupa pencuri tandang tiba-tiba
ia sabar masih, terlampau sabar
untuk memindai genting yang alpa
pada salam yang ia ucapkan, semalam
sedang segenap malam masih berbenah
untuk pantun yang gagal ia lanturkan

2010



Detak Hujan

ia dan jantung purbanya sungguh dekat,
hanya sejejak, sejejak saja terpisah
lalu dalam sekejapan akan ia temui,
jejantungnya,
sekaligus seteru dan sekutu
yang selalu gagal ia retakkan
pada genggam pertama
sungguh, ia teramat rindu
sekaligus dendam
pada kembaran lamanya itu

2010



Tilas Hujan

ada yang senantiasa kami lupa :
ia selalu bertandang
dengan segala santun dan salam
para bangsawan
di tubuh kami ia gemar mengulur salam
lalu masuk dan menjelma badai
yang hantami kapal di hati kami

2010



Keroncong Hujan

di ketinggian ia masih
berpuluh rumah dipukulnya
terdiam ia masih
bebangkai tanah disiginya
memandang ia masih
sekembaran laut dilipatnya

2010



Mata Hujan

sedang gemar ia pandangi
setiap genting kami yang luka
lalu lilin kamar kami kian redup
dirundungi mantra yang ndentam
di pintu rumah
“selamat datang, bagi tuan
yang sesat di jalan pulang”

2010



Suluk Hujan

kami mengaji kitab api
yang tuntas di hari pagi
sementara ia masih bersendiri
menutup tirai putih matahari

2010



Memo Hujan

segeralah :
kaum lawan meradang Puan
sementara ia masyuk berdiam
setetesan pandangnya hendak ia peluk
segala yang ia temukan di perjalanan
sebab lama sudah ia rindukan
ia rindukan sang kerabat
yang tak kunjung merambat
ke ketinggian, tempat ia dan seterunya
terus dilahirkan

2010

*) Dody Kristianto , lahir di Surabaya, 3 April 1986. Lulus Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Giat pada Komunitas Rabo Sore (KRS) dan Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).

Senin, 28 Juni 2010

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://oase.kompas.com/
Musim Hujan Tumbuh

musim hujan tumbuh
di atas kepalamu
bintang-bintang luka
dan hilang
kehendak daun lanjut usia
gugur
jatuh pada kerekahan
tanah resah
segera, mimpi akan berakhir
bagai bulan sabit mengawang
sepanjang gigil musim
sungaisungai akan terbelah
melayari duka yang tumbuh
dari setiap ayunan gerimis
di helai rambutmu

2009



Rapsodia I

kekasih, kotakota lepas di lenganmu
segenap laju merangkum peluk dan rukukku
pada segala dahan, di mana tangan
tangan hujan mengikat kepergian
dan tatapmu melepas orbitorbit
kecemasan

2009



Rapsodia II

perjalanan ini mulai habis
rumahrumah kenangan terbakar
pada lekukmu, aku warnai
sejuta retas kupukupu
yang tertinggal
di sebalik gelombang,
di sebalik tatapan
di mana, pernah kita ingat
sebuah ciuman- pembebasan-
atas darah yang membekas
pada tapak salib pertama

2009



Rapsodia III

sebuah ciuman, kumaknai
jalanjalan patah
hutan tinggal hujan
sepetak siul daun berlesatan
di ujung gang : membawa anak
persetubuhan yang redam
di setengah malam
kehamilanmu agung
aku maknai persebaran kunang
kunang menggasang
di seluruh panjang rambutmu
yang padam

2009



Madara

sepotong mukim luka
lingkar cuaca mengertap
memendam nanar bulan
paling mawar
aku pandang wajahmu
sebalik kembang
sekilas tembang
sayap– sayup mengumandang
antara tawar dan tawan
ingatan : yang mengancam
di kitaran pertemuan kita

2009

Dody Kristianto, lahir di Surabaya, 3 April 1986. Belajar di Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya. Menulis puisi, cerpen dan sedikit esai. Karya-karyanya terpublikasi pada beberapa media, antara lain Majalah GONG, Kidung DKJT, Jurnal The Sandour, Buletin Tera, Jurnal Lembah Biru, Surabaya Post, Radar Surabaya, Duta Masyarakat, Banjarmasin Post, Buletin Sastra Pawon, Titikoma.com, dll. Juga dalam beberapa antologi bersama, antara lain Kemayaan dan Kenyataan (Fordisastra, 2007), Duka Muara (Rabo Sore, 2008) serta Apologi Kupu-kupu (forum SARBI, 2009). Bergiat pada Komunitas Rabo Sore (KRS) dan menjadi penggerak forum Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI). Saat ini tinggal di Sidoarjo.

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae