http://sastra-indonesia.com/
Uang dan Tuhan
koalisi pahala dan rayuan dosa
manusia lupa dipeluk maksiat
dalam doa doa yang tak berniat
cuma sekedar pameran morailitas?
berlombalah membeli status suci
lupakan saja setan gentayangan
yang dipercaya adalah uang semata
kekuasaan pun mencetak kerakusan
pidato demi pidato bersaut-sautan
semua berjanji atas nama rakyat
hasilnya hanya pepesan kosong
faktanya duitlah yang jadi tuhan!
Amsterdam, 2 sptember 2011
Proteslah ketidakadilan
jutaan orang pergi ke luar negeri, karena negerinya tak bisa memberikan apa yang diharapkannya: pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. jutaan orang indonesia terbang seperti burung merpati patah hati, patah semangatnya akibat ketidakadilan yang terjadi di negerinya, sedangkan di depan mata kita yang kaya makin kaya dengan harta hasil koneksinya, dan yang miskin berputar-putar frustasi di lingkungan serba kekurangan.
jutaan orang setiap 5 tahun sekali dibujuk janji-janji politisi, yang menjanjikan masa depan lebih baik, tapi nyatanya janji itu cuma pepesan kosong, janji bulan madu pemilu selalu bau kebohongan. politisi busuk memamerkan kebusukannya dengan menghamburkan uang negara, dan rakyat miskin dibiarkan mati di dalam lumbung padi.
indonesia yang alamnya kaya raya ini hanya dinikmati segelintir orang di dalam lingkaran kekuasaan, merekalah yang bertanggung jawab atas kematian marsinah, ruyati dan jutaan orang yang tiap hari diperbudak oleh orang asing. harga diri bangsa hanya seharga selembar kertas bernama paspor tanpa kehormatan. penderitaan bangsa budak memang menyakitkan, di abad ke 21 ini ternyata kita masih jadi bangsa kuli yang dihina bangsa asing secara membabi buta.
tak ada gunanya bapak berpidato di depan kongres buruh sedunia, tak ada gunanya tepuk tangan basa basi yang dibangga-banggakan itu, karena bangsa kita masih jadi budak belian yang dijual oleh pemerintahnya sendiri!
hanya rakyat yang kritis dan sadar akan harga dirinya akan melawan semua ketidakadilan yang menindasnya.
amsterdam, 25 juni 2011
Antagonisme
: kepada firmandaru
rumah impian di batas senja
jaringan kata dibalut luka
kaca membias masa depan
panjangnya gelombang memori
rindunya mimpi jadi puisi
siapa sangka dibakar sepi
Amsterdam, 02/06/2011
Kodratnya
puluhan tahun jadi orang asing
ternyata indonesia yang dimimpinya
oya?
kebudayaan tak bisa dicangkokkan
manusia selalu kembali ke kodratnya
Amsterdam, 04/09/2011
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan
Kamis, 10 November 2011
Sabtu, 03 September 2011
Puisi-Puisi Heri Latief
http://sastra-indonesia.com/
Jakarta
kota lama eh stamboel tjatja
cahaya kota gemerlap berlian
laron pacaran di lampu jalanan
ibu kota sinetron politik uang
koruptor ngantre ambil nomor
penjara penuh penjahat berdasi
apalagi yang disandiwarakan nanti?
judulnya penyalahgunaan kekuasaan
diatur tangan tangan yang tak kelihatan
Amsterdam, 27/08/2011
Amsterdam
kota pelabuhan asal muasal kolonial
seperti puisi surrealis yang tragis?
kerajaan bukan sekedar lambang
konflik politik siapa yang menang?
kota misteri dilingkari jalan trem
berbecak dayung bermotor listrik
campuran budaya patatje oorlog
nasi goreng di lagunya wong indo
kota tua dan gedung gedung antiknya
eh ada angsa putih berenang di kanal
rumah kaca di daerah lampu merah
legitimasi sejarah budak masa lalunya
Amsterdam, 24/08/2011
Bling Bling MImpi
meraung sirene merobek keramaian
lukisan kota tua yang jauh di sana
kanal tempat orang buang sampah
saat hujan sekejap memberi ingat
dunia materi bukan jadi ukuran
bling bling di dunia miskin meratap
bayi bayi kering mati kelaparan
harga diri warga dunia yang sakit
obatnya dicari dalam mimpi mimpi
rakyat rajin ngapalin jajnji janji
harga sembako terbang ke langit
jika sekolah adalah ilmu yg mahal
awas! doa dendam orang kelaparan
jangan lupakan hari pembalasan
mari kita kemon nyadarkan napsu!
Amsterdam, 05/08/2011
Mata air Mata
adakah puisi surrealis yang bukan tragis?
tak ada yang tau apa maunya musim
jangan mau lagi terjebak mimpi sepi
menulislah sesuai apa kata hati
kata bersayap tak menunggu cerita
syairnya meleleh dari mata air mata
rindunya menulis sajak tanpa basa basi
siapa yang bisa membaca langit berawan?
dan badai emosi datang bersama hujan!
Amsterdam, 30/07/2011
Disihir puisi misteri hujan
tak ada yang tau kapan jadinya
sebaris sajak melupakan hujan
mungkin kau bermimpi lagi
dan siapa mampu merayu emosi?
di sihir puisi kata pemujaan
menghancurkan segala yang terbilang
membekas di hati terluka sayangku?
menunggu jawaban yang tak pernah selesai
mari kita menyontek dosa di kitab suci
cinta, siapa itu yang takut kehilangan?
mengganas badai tanpa setetes airmata
tarian mistik memuja sajak rembulan
jangan kau ragu merobek malam
dan jangan mau tersesat dalam diam!
amsterdam, 24/07/2011
Jakarta
kota lama eh stamboel tjatja
cahaya kota gemerlap berlian
laron pacaran di lampu jalanan
ibu kota sinetron politik uang
koruptor ngantre ambil nomor
penjara penuh penjahat berdasi
apalagi yang disandiwarakan nanti?
judulnya penyalahgunaan kekuasaan
diatur tangan tangan yang tak kelihatan
Amsterdam, 27/08/2011
Amsterdam
kota pelabuhan asal muasal kolonial
seperti puisi surrealis yang tragis?
kerajaan bukan sekedar lambang
konflik politik siapa yang menang?
kota misteri dilingkari jalan trem
berbecak dayung bermotor listrik
campuran budaya patatje oorlog
nasi goreng di lagunya wong indo
kota tua dan gedung gedung antiknya
eh ada angsa putih berenang di kanal
rumah kaca di daerah lampu merah
legitimasi sejarah budak masa lalunya
Amsterdam, 24/08/2011
Bling Bling MImpi
meraung sirene merobek keramaian
lukisan kota tua yang jauh di sana
kanal tempat orang buang sampah
saat hujan sekejap memberi ingat
dunia materi bukan jadi ukuran
bling bling di dunia miskin meratap
bayi bayi kering mati kelaparan
harga diri warga dunia yang sakit
obatnya dicari dalam mimpi mimpi
rakyat rajin ngapalin jajnji janji
harga sembako terbang ke langit
jika sekolah adalah ilmu yg mahal
awas! doa dendam orang kelaparan
jangan lupakan hari pembalasan
mari kita kemon nyadarkan napsu!
Amsterdam, 05/08/2011
Mata air Mata
adakah puisi surrealis yang bukan tragis?
tak ada yang tau apa maunya musim
jangan mau lagi terjebak mimpi sepi
menulislah sesuai apa kata hati
kata bersayap tak menunggu cerita
syairnya meleleh dari mata air mata
rindunya menulis sajak tanpa basa basi
siapa yang bisa membaca langit berawan?
dan badai emosi datang bersama hujan!
Amsterdam, 30/07/2011
Disihir puisi misteri hujan
tak ada yang tau kapan jadinya
sebaris sajak melupakan hujan
mungkin kau bermimpi lagi
dan siapa mampu merayu emosi?
di sihir puisi kata pemujaan
menghancurkan segala yang terbilang
membekas di hati terluka sayangku?
menunggu jawaban yang tak pernah selesai
mari kita menyontek dosa di kitab suci
cinta, siapa itu yang takut kehilangan?
mengganas badai tanpa setetes airmata
tarian mistik memuja sajak rembulan
jangan kau ragu merobek malam
dan jangan mau tersesat dalam diam!
amsterdam, 24/07/2011
Selasa, 21 Juni 2011
Puisi-Puisi Heri Latief
http://sastra-indonesia.com/
Ngibulisme
burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan
rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran
apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan
musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang
19 februari 2011
Kodok beracun
kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati
Amsterdam, 14/02/2011
Anjing muka dua
itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?
Amsterdam, 14/02/2011
Jangan telmi
anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revolusi? mereka yang namanya rakyat atau elite?
jangan “telat mikir”, menyesal nanti.
Amsterdam, 11/02/2011
Pelajaran sejarah
18 hari demonstrasi di mesir
jutaan orang marah di lapangan tahrir
menuntut tiran turun dari korsi kerajaan
tiba tiba mereka kehilangan musuh bersamanya
orangpun bingung setelah diktator pergi, lalu?
siapa yang berani menjamin demokrasi?
sia-sia mengharapkan pada yang berkuasa
satu demi satu kekuatan rakyat nanti dibonsai
seperti pengalaman kami yang pahit ini
Amsterdam, 11/02/2011
Pertarungan
bertarung demi eksistensi
puisi dalam jelmaan pemikiran
demi tujuan bersama kita bisa
angin perubahan pasti datang
jika percaya pada tanda tanda
dari mana datangnya kesadaran?
Amsterdam, 10/02/2011
Leidseplein
mad world, mad world
lagunya gary jules membelah malam di leidseplein
sinar lampu jalanan membias di kaca restoran
dan mata siapa itu dari balik jendela trem?
musik membuai dibelai angin badai
di persimpangan jalan mengucap salam
Amsterdam, 7 februari 2011
Kaum
kaum miskin kota ada dimana-mana
di belakang perumahan mewah
di depan asrama tentara
di samping rumah ibadah
tersebarlah dendam yang lapar
kaum melarat yang namanya rakyat
jadi budak di kampungnya sendiri
rindunya kawula mimpi keadilan sosial
kaum terpelajar sembunyi di balik materi
riwayat penjilat dan kerlipnya berlian
menjual diri demi harta dan kekuasaan
Amsterdam, 6 februari 2011
Kemerdekaan
jalan berduri diasah pengalaman
hidup yang tak pernah diam
bicaralah kawan!
jangan membisu nanti beku
kutukan revolusi berdarah sejarah
menghalang siapa yang pasang badan?
kemerdekaan kita bukan kado dari langit!
biarpun badai menghadang gerakan
rakyat bersatu melawan penindasan
Amsterdam, 2 februari 2011
Batu
panorama stasiun angkot batu,
gunung-gunung tegak mematung,
di selecta batu-batu membisu dimakan waktu.
membaca senja menjelang malam,
ah, itu kan hanya impian semalam,
pilihan hidup bukan di garis tangan.
mengulang cerita tanpa koma,
menjalin cerita perjalanan manusia,
menyimpan memori bersaksi puisi.
Amsterdam, 1 februari 2011
Ngibulisme
burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan
rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran
apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan
musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang
19 februari 2011
Kodok beracun
kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati
Amsterdam, 14/02/2011
Anjing muka dua
itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?
Amsterdam, 14/02/2011
Jangan telmi
anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revolusi? mereka yang namanya rakyat atau elite?
jangan “telat mikir”, menyesal nanti.
Amsterdam, 11/02/2011
Pelajaran sejarah
18 hari demonstrasi di mesir
jutaan orang marah di lapangan tahrir
menuntut tiran turun dari korsi kerajaan
tiba tiba mereka kehilangan musuh bersamanya
orangpun bingung setelah diktator pergi, lalu?
siapa yang berani menjamin demokrasi?
sia-sia mengharapkan pada yang berkuasa
satu demi satu kekuatan rakyat nanti dibonsai
seperti pengalaman kami yang pahit ini
Amsterdam, 11/02/2011
Pertarungan
bertarung demi eksistensi
puisi dalam jelmaan pemikiran
demi tujuan bersama kita bisa
angin perubahan pasti datang
jika percaya pada tanda tanda
dari mana datangnya kesadaran?
Amsterdam, 10/02/2011
Leidseplein
mad world, mad world
lagunya gary jules membelah malam di leidseplein
sinar lampu jalanan membias di kaca restoran
dan mata siapa itu dari balik jendela trem?
musik membuai dibelai angin badai
di persimpangan jalan mengucap salam
Amsterdam, 7 februari 2011
Kaum
kaum miskin kota ada dimana-mana
di belakang perumahan mewah
di depan asrama tentara
di samping rumah ibadah
tersebarlah dendam yang lapar
kaum melarat yang namanya rakyat
jadi budak di kampungnya sendiri
rindunya kawula mimpi keadilan sosial
kaum terpelajar sembunyi di balik materi
riwayat penjilat dan kerlipnya berlian
menjual diri demi harta dan kekuasaan
Amsterdam, 6 februari 2011
Kemerdekaan
jalan berduri diasah pengalaman
hidup yang tak pernah diam
bicaralah kawan!
jangan membisu nanti beku
kutukan revolusi berdarah sejarah
menghalang siapa yang pasang badan?
kemerdekaan kita bukan kado dari langit!
biarpun badai menghadang gerakan
rakyat bersatu melawan penindasan
Amsterdam, 2 februari 2011
Batu
panorama stasiun angkot batu,
gunung-gunung tegak mematung,
di selecta batu-batu membisu dimakan waktu.
membaca senja menjelang malam,
ah, itu kan hanya impian semalam,
pilihan hidup bukan di garis tangan.
mengulang cerita tanpa koma,
menjalin cerita perjalanan manusia,
menyimpan memori bersaksi puisi.
Amsterdam, 1 februari 2011
Jumat, 25 Juni 2010
Puisi-Puisi Heri Latief
http://www.sastra-indonesia.com/
Bukan Puisi
sederhana dan simpel katanya
jauh di sana tempat kelahirannya
rindunya terbang bersama debu
ke negeri timur arahnya angin senja
berbeda budaya bermusim semi
dan ini bukan puisi sayangku
cuma catatan menjelang hari kelahiran
mencoba mengaca pada realita
betapa indahnya bunga impian
Amsterdam, 17 Juni 2010
Apa Kabar?
boss, apa kabar kasus bank century?
sembunyi lagi di balik politik pornografi
Amsterdam, 17/06/2010
Otokritik
gagalnya gerakan di bawah bukan hayalan
akibat kemiskinan uangpun jadi tuhan
kerna lapar jual diri dan obral keyakinan
trauma kepasrahan dilibat kemiskinan
menunggu kenekatan jadi kenyataan?
Amsterdam, 17 Juni 2010
Bacalah!
membaca trilyunan dollar kerugian bank sedunia
semilyard rakyat miskin semakin melarat boss!
inilah sebab akibat kerakusan kaum kapitalis
memeras rakyat demi kemewahan nyonya dan tuan
kesadaran orang terpelajar di balik ide keadilan sosial
Amsterdam, 17 Juni 2010
Jurang Konflik Sosial
ini bukan sekedar cerita hayalan boss!
gelandangan mengais nasib di tong sampah
sedangkan makelar kasus punya duit milyaran bah!
malu menangkap maling ketemu garong
mulut pejabat suka ngomong bohong
siapa yang bertanggung jawab atas ketimpangan sosial?
pemerintah berjanji basmi korupsi setengah hati
rakyatnya dipaksa tidur walaupun perutnya lapar
dan anak jalanan tumbuh liar makin sangar
lahirnya generasi frustrasi akibat perbedaan materi
Amsterdam, 17 Juni 2010
Bukan Puisi
sederhana dan simpel katanya
jauh di sana tempat kelahirannya
rindunya terbang bersama debu
ke negeri timur arahnya angin senja
berbeda budaya bermusim semi
dan ini bukan puisi sayangku
cuma catatan menjelang hari kelahiran
mencoba mengaca pada realita
betapa indahnya bunga impian
Amsterdam, 17 Juni 2010
Apa Kabar?
boss, apa kabar kasus bank century?
sembunyi lagi di balik politik pornografi
Amsterdam, 17/06/2010
Otokritik
gagalnya gerakan di bawah bukan hayalan
akibat kemiskinan uangpun jadi tuhan
kerna lapar jual diri dan obral keyakinan
trauma kepasrahan dilibat kemiskinan
menunggu kenekatan jadi kenyataan?
Amsterdam, 17 Juni 2010
Bacalah!
membaca trilyunan dollar kerugian bank sedunia
semilyard rakyat miskin semakin melarat boss!
inilah sebab akibat kerakusan kaum kapitalis
memeras rakyat demi kemewahan nyonya dan tuan
kesadaran orang terpelajar di balik ide keadilan sosial
Amsterdam, 17 Juni 2010
Jurang Konflik Sosial
ini bukan sekedar cerita hayalan boss!
gelandangan mengais nasib di tong sampah
sedangkan makelar kasus punya duit milyaran bah!
malu menangkap maling ketemu garong
mulut pejabat suka ngomong bohong
siapa yang bertanggung jawab atas ketimpangan sosial?
pemerintah berjanji basmi korupsi setengah hati
rakyatnya dipaksa tidur walaupun perutnya lapar
dan anak jalanan tumbuh liar makin sangar
lahirnya generasi frustrasi akibat perbedaan materi
Amsterdam, 17 Juni 2010
Rabu, 16 September 2009
Puisi-Puisi Heri Latief
http://oase.kompas.com/
DEJA VU
rasa manis pahitnya
pengalaman
bercumbu dalam konflik
kepentingan
seperti senyum deja vu
merayumu?
Amsterdam, 10/05/2009
Refleksi Sejarahmu
puluhan tahun yang lalu
di radio pemimpin besar berpidato
tolak bantuan asing yang menjajah!
begitu kenyataan jaman dulu
sipatnya tegas dan tekadnya keras
anti nekolim dan makelarnya
di masa itu rakyat memuja kemandirian
gotongroyong membangun kekuatan
mana lagi sekarang sisa kesadaran?
keberhasilan minjam hutang dibanggakan
upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
yang kaya makin genit memamerkan harta
yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?
oya?!
puluhan tahun tertindas sepatu lars
sepanjang jalan kenangan berdarah
siapa mampu nolak refleksi sejarah?
Amsterdam, 06/05/2009
Sajak Kowloon Park
baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak
merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas
negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat yang peduli
berani bela bangsanya dan mandiri
demi keadilan buat buruh migran
solidaritas atas nama kemanusiaan
Amsterdam, 23 Mei 2009
ps: sajak ini buat buruh migran indonesia di seluruh dunia. tetap smangat!
Sajak Buat Diunk
jaman taon jebot tujuhpuluhan
dalam mimpinya tinejer ngejeger
musiknya nge-rock en roll beybeh!
gayanya ngehippie banget deh
hidup ini patut dinikmati
dalam tanda kutip emosi
siapa dia generasi bunga?
terbaca dari sajak dan emosinya
nyanyian rindunya anak jalanan
perdamaian dan keadilan buat semuanya
dalam syair puisi yang berlawan?
Amasterdam, 03/05/2005
Puisi Dua
dualisme dalam demokrasimu
musuh kemarin teman sejalan
kemana kawan hilang muka?
kapan janji pemilu dibuktikan
lupa memori pahitnya kenyataan?
sampah kampanye berserakan
maling curang tikus berpesta
tanya setan nyari jawaban?
bangsa miskin tanahnya kaya
dikuras demi pensiun pemodal
bangsa miskin koruptornya kayorayo bah!
tragedi kemanusiaan tanpa batasan
anak-anak lapar keliaran di jalanan
terpaku kita pada facebookmu?
Amsterdam, 03/05/2009
Di balik Wajah Politik
Ketika hujan adalah banjir
Uang sebagai alat berkuasa
Manusia mau jadi budaknya
Materi dibalut madunya duka
Katalepsi tesis orang termajinalkan
Tak ada yang tau kemana angin merayu
Membebek swara dari atas
Terjebak keajaiban tukang sulap
Merindu sajak yang berlawan
Dibakar dendam sejarah berpolitik
Pertarungan siasat dan sejuta intrik
Mengubah janji wajah munafik
Di batas senja merah menyala
Sisa kopi dan sebaris puisi
Bisikan dari akar rumput liar
Kataklisme menebar bau persaingan
Berdoalah agar tak terjadi frustasi
Siapa mampu bermimpi revolusi?
Amsterdam, 11/04/2009
Libas Phobias!
golput itu katanya partaiphobia
gayanya suka banget berpolitik
kayak cinta campur benci politik
bukan demokrasi tanpa diawasi
mestinya ide bertarung di gelanggang
supaya perubahan terjadi lagi
jangan apatis mandang masa depan
belajar bersaing di jalan yang benar
berani memilih suatu keyakinan
masa depan itu harus diperjuangkan
proses demokrasi tetap berjalan
walau pun berbeda kita sodara
sebangsa sebahasa setanah air
dalam semangat syair
: yang berlawan!
Amsterdam, 6 april 2009
Puisi di antara Dua Benua
di sini
tanah seberang lautan ide
demi langit merah menyala, api
membakar pahitnya duka
kami punya sejarah terluka
luka dibawanya ke muara, cinta
tanah air mata air kehidupan
mengembara di dunia maya, terbang
bersama debu dan mimpi-mimpinya
nyanyian jejak puisinya?
meminimalis ilusinya
tanah air mata air cintanya!
Amsterdam, 2005
BUNGA
selamat datang di dunia maya
cintamu habis dirayu waktu
demi musiknya dewi malam
lagu kenangan anak jalanan
sajak dimimpi pemuja cinta
wanginya kopi koalisi air api
bisikan daun dibelai rindu
musim semi bunga bernapsu
Amsterdam, 02/04/2009
Jangan Sampai Otakmu Tercuci
ketika otakmu asik dicuci
cintamu hanya pada ayat suci
demi sorga bidadari menanti
lupa indonesia tanah airmu?
biarkan segala warna dan ideologi
jangan kau paksa munafik lagi
budaya kita adalah nusantara
dari sabang sampai merauke
kemana tujuan kemerdekaan?
itulah yang mestinya dikerjakan
bukan cuma ngitung pahala dan dosa
persatuan bangsa penting adanya
ayo jangan mau tercuci otakmu
belajar bicara dari hati nurani
siapa yang punya urat malu
pasti tau arti cuci otakmu
Amsterdam, 27/03/2009
Jakarta Kita
kampungnya urbanisasi
tanah air semua perantau
harapan pendatang berkilauan
terjebak cinta macet di jalanan
terasing ide kemanusiaan
dirayu jilatan anak setan
jakarta itu biang kerok
pabriknya kasak kusuk busuk
langganan banjir isu
jual pahala beli dosa
bikin orang napsu berkuasa
jakarta panggungnya sandiwara
rakyat tertipu mimpinya penguasa
Amsterdam, 23/03/2009
DEJA VU
rasa manis pahitnya
pengalaman
bercumbu dalam konflik
kepentingan
seperti senyum deja vu
merayumu?
Amsterdam, 10/05/2009
Refleksi Sejarahmu
puluhan tahun yang lalu
di radio pemimpin besar berpidato
tolak bantuan asing yang menjajah!
begitu kenyataan jaman dulu
sipatnya tegas dan tekadnya keras
anti nekolim dan makelarnya
di masa itu rakyat memuja kemandirian
gotongroyong membangun kekuatan
mana lagi sekarang sisa kesadaran?
keberhasilan minjam hutang dibanggakan
upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
yang kaya makin genit memamerkan harta
yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?
oya?!
puluhan tahun tertindas sepatu lars
sepanjang jalan kenangan berdarah
siapa mampu nolak refleksi sejarah?
Amsterdam, 06/05/2009
Sajak Kowloon Park
baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak
merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas
negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat yang peduli
berani bela bangsanya dan mandiri
demi keadilan buat buruh migran
solidaritas atas nama kemanusiaan
Amsterdam, 23 Mei 2009
ps: sajak ini buat buruh migran indonesia di seluruh dunia. tetap smangat!
Sajak Buat Diunk
jaman taon jebot tujuhpuluhan
dalam mimpinya tinejer ngejeger
musiknya nge-rock en roll beybeh!
gayanya ngehippie banget deh
hidup ini patut dinikmati
dalam tanda kutip emosi
siapa dia generasi bunga?
terbaca dari sajak dan emosinya
nyanyian rindunya anak jalanan
perdamaian dan keadilan buat semuanya
dalam syair puisi yang berlawan?
Amasterdam, 03/05/2005
Puisi Dua
dualisme dalam demokrasimu
musuh kemarin teman sejalan
kemana kawan hilang muka?
kapan janji pemilu dibuktikan
lupa memori pahitnya kenyataan?
sampah kampanye berserakan
maling curang tikus berpesta
tanya setan nyari jawaban?
bangsa miskin tanahnya kaya
dikuras demi pensiun pemodal
bangsa miskin koruptornya kayorayo bah!
tragedi kemanusiaan tanpa batasan
anak-anak lapar keliaran di jalanan
terpaku kita pada facebookmu?
Amsterdam, 03/05/2009
Di balik Wajah Politik
Ketika hujan adalah banjir
Uang sebagai alat berkuasa
Manusia mau jadi budaknya
Materi dibalut madunya duka
Katalepsi tesis orang termajinalkan
Tak ada yang tau kemana angin merayu
Membebek swara dari atas
Terjebak keajaiban tukang sulap
Merindu sajak yang berlawan
Dibakar dendam sejarah berpolitik
Pertarungan siasat dan sejuta intrik
Mengubah janji wajah munafik
Di batas senja merah menyala
Sisa kopi dan sebaris puisi
Bisikan dari akar rumput liar
Kataklisme menebar bau persaingan
Berdoalah agar tak terjadi frustasi
Siapa mampu bermimpi revolusi?
Amsterdam, 11/04/2009
Libas Phobias!
golput itu katanya partaiphobia
gayanya suka banget berpolitik
kayak cinta campur benci politik
bukan demokrasi tanpa diawasi
mestinya ide bertarung di gelanggang
supaya perubahan terjadi lagi
jangan apatis mandang masa depan
belajar bersaing di jalan yang benar
berani memilih suatu keyakinan
masa depan itu harus diperjuangkan
proses demokrasi tetap berjalan
walau pun berbeda kita sodara
sebangsa sebahasa setanah air
dalam semangat syair
: yang berlawan!
Amsterdam, 6 april 2009
Puisi di antara Dua Benua
di sini
tanah seberang lautan ide
demi langit merah menyala, api
membakar pahitnya duka
kami punya sejarah terluka
luka dibawanya ke muara, cinta
tanah air mata air kehidupan
mengembara di dunia maya, terbang
bersama debu dan mimpi-mimpinya
nyanyian jejak puisinya?
meminimalis ilusinya
tanah air mata air cintanya!
Amsterdam, 2005
BUNGA
selamat datang di dunia maya
cintamu habis dirayu waktu
demi musiknya dewi malam
lagu kenangan anak jalanan
sajak dimimpi pemuja cinta
wanginya kopi koalisi air api
bisikan daun dibelai rindu
musim semi bunga bernapsu
Amsterdam, 02/04/2009
Jangan Sampai Otakmu Tercuci
ketika otakmu asik dicuci
cintamu hanya pada ayat suci
demi sorga bidadari menanti
lupa indonesia tanah airmu?
biarkan segala warna dan ideologi
jangan kau paksa munafik lagi
budaya kita adalah nusantara
dari sabang sampai merauke
kemana tujuan kemerdekaan?
itulah yang mestinya dikerjakan
bukan cuma ngitung pahala dan dosa
persatuan bangsa penting adanya
ayo jangan mau tercuci otakmu
belajar bicara dari hati nurani
siapa yang punya urat malu
pasti tau arti cuci otakmu
Amsterdam, 27/03/2009
Jakarta Kita
kampungnya urbanisasi
tanah air semua perantau
harapan pendatang berkilauan
terjebak cinta macet di jalanan
terasing ide kemanusiaan
dirayu jilatan anak setan
jakarta itu biang kerok
pabriknya kasak kusuk busuk
langganan banjir isu
jual pahala beli dosa
bikin orang napsu berkuasa
jakarta panggungnya sandiwara
rakyat tertipu mimpinya penguasa
Amsterdam, 23/03/2009
Langganan:
Postingan (Atom)
A. Mustofa Bisri
A'yat Khalili
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Wachid B.S.
Abi N. Bayan
Abidah El Khalieqy
Acep Syahril
Acep Zamzam Noor
Adi Toha
Adrian Balu
AF Denar Daniar
Afrizal Malna
Agus Manaji
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Maltuf Syamsury
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Ala Roa
Aldika Restu Pramuli
Alfatihatus Sholihatunnisa
Alfiyan Harfi
Ali Makhmud
Ali Subhan
Amelia Rachman
Amie Williams
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Andry Deblenk
Anggie Melianna
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Aprinus Salam
Ariandalu S
Arieyoko Ksmb
Arya Winanda
As Adi Muhammad
Asep Sambodja
Atrap S. Munir
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Badaruddin Amir
Bakdi Sumanto
Bambang Darto
Bambang Kempling
Bambang Widiatmoko
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Bernando J. Sudjibto
Bernard S. Y. Batubara
Binhad Nurrohmat
Budhi Setyawan
Budi Palopo
Bustan Basir Maras
Chairul Abhsar
Chavchay Saifullah
Cut Nanda A.
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Afriady
Dadang Ari Murtono
Daisy Priyanti
Daysi Priyanti
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dedy Tri Riyadi
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Desti Fatin Fauziyyah
Dewi Kartika
Dharmadi
Diah Budiana
Diah Hadaning
Dian Hartati
Didik Komaidi
Dimas Arika Mihardja
Djoko Saryono
Dody Kristianto
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Edy Lyrisacra
Effendi Danata
Eimond Esya
Eka Budianta
Eko Hendri Saiful
Eko Nuryono
El Sahra Mahendra
Ellie R. Noer
Elly Trisnawati
Emha Ainun Nadjib
Endang Supriadi
Endang Susanti Rustamadji
Eny Rose
Eppril Wulaningtyas R
Esha Tegar Putra
Esti Nuryani Kasam
Etik Widya
Evi Idawati
Evi Melyati
Evi Sefiani
Evi Sukaesih
Fadhila Ramadhona
Fahmi Faqih
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Fikri MS
Fina Sato
Firman Wally
Fitrah Anugerah
Frischa Aswarini
Gampang Prawoto
Ghaffur Al-Faqqih
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gunoto Saparie
Gus tf Sakai
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hari Leo
Haris del Hakim
Hasan Al Banna
Hasan Aspahani
Hasta Indriyana
Helga Worotitjan
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Maja Kelana
Herlinatiens
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Ibnu Wahyudi
Ikarisma Kusmalina
Ike Ayuwandari
Ilenk Rembulan
Imam S Arizal
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santoso
Imron Tohari
Indah Darmastuti
Indiar Manggara
Indra Tjahyadi
Indrian Koto
Isbedy Stiawan ZS
Iwan Gunadi
Javed Paul Syatha
Jibna Sudiryo
Johan Khoirul Zaman
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Saputro
Jufri Zaituna
Jusuf AN
Kadek Wara Urwasi
Kadjie Bitheng MM
Kartika Kusworatri
Kedung Darma Romansha
Kika Syafii
Kirana Kejora
Kirdjomuljo
Kurnia Effendi
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Yunianto
Kusprihyanto Namma
Kuswaidi Syafi’ie
L.K. Ara
Lailatul Muniroh
Landung Rusyanto Simatupang
Lela Siti Nurlaila
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Linus Suryadi AG
Liza Wahyuninto
Lubis Grafura
Lutfi Mardiansyah
M. Badrus Alwi
M. Faizi
Maghfur Munif
Maghie Oktavia
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maman S. Mahayana
Maqhia Nisima
Marcellus Nur Basah
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marwanto
Mas Marco Kartodikromo
Mashuri
Mathori A. Elwa
Matroni el-Moezany
Maya Mustika K.
Mega Vristian
Miftahul Abrori
Mohammad Yamin
Muhammad Ali Fakih
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muntamah Cendani
Mustiar AR
Mustofa W Hasyim
Mutia Sukma
Nadjib Kartapati Z
Nanang Suryadi
Nezar Patria
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Noor Sam
Nunung S. Sutrisno
Nur Iswantara
Nur Lodzi Hady
Nur Wahida Idris
Nurel Javissyarqi
Nurul Komariyah
Nyoman Tusthi Eddy
Nyoman Wirata
Pariyo Adi
Pringadi AS
Pringgo HR
Puisi-Puisi Indonesia
Purwadmadi Admadipurwa
Puspita Rose
Putri Sarinande
R. Toto Sugiharto
Rachmat Djoko Pradopo
Raedu Basha
Ragil Suwarno Pragolapati
Rakai Lukman
Rama Prabu
Ramadhan KH
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Ribut Wijoto
Rikard Diku
Robin Al Kautsar
Rozi Kembara
Rudi Hartono
Rusydi Zamzami
S Yoga
Sahaya Santayana
Saiful Bakri
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Selendang Sulaiman
Seli Desmiarti
Sigit Sugito
Sihar Ramses Simatupang
Siska Afriani
Sitok Srengenge
Sitor Situmorang
Slamet Rahardjo Rais
Slamet Widodo
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Harjanto Sahid
Sri Jayantini
Sri Setya Rahayu
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sumargono SN
Suminto A. Sayuti
Sunardi KS
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Sutirman Eka Ardhana
Syifa Aulia
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Triaton
Tengsoe Tjahjono
Tharie Rietha
Thowaf Zuharon
Timur Sinar Suprabana
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Ulfatin Ch
Umbu landu Paranggi
Unieq Awien
Usman Arrumy
W. Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Hidayat
Wahyu Subuh
Warih Wisatsana
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Widi Astuti
Wiji Thukul
Winarni R.
Y. Wibowo
Yonathan Rahardjo
Yosi M Giri
Yudhi Herwibowo
Yudhiono Aprianto
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Yuswan Taufiq
Yuswinardi
Zaenal Faudin
Zainal Arifin Thoha
Zamroni Allief Billah
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae