Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Heri Latief. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 November 2011

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Uang dan Tuhan

koalisi pahala dan rayuan dosa
manusia lupa dipeluk maksiat
dalam doa doa yang tak berniat
cuma sekedar pameran morailitas?

berlombalah membeli status suci
lupakan saja setan gentayangan
yang dipercaya adalah uang semata
kekuasaan pun mencetak kerakusan

pidato demi pidato bersaut-sautan
semua berjanji atas nama rakyat
hasilnya hanya pepesan kosong
faktanya duitlah yang jadi tuhan!

Amsterdam, 2 sptember 2011



Proteslah ketidakadilan

jutaan orang pergi ke luar negeri, karena negerinya tak bisa memberikan apa yang diharapkannya: pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. jutaan orang indonesia terbang seperti burung merpati patah hati, patah semangatnya akibat ketidakadilan yang terjadi di negerinya, sedangkan di depan mata kita yang kaya makin kaya dengan harta hasil koneksinya, dan yang miskin berputar-putar frustasi di lingkungan serba kekurangan.

jutaan orang setiap 5 tahun sekali dibujuk janji-janji politisi, yang menjanjikan masa depan lebih baik, tapi nyatanya janji itu cuma pepesan kosong, janji bulan madu pemilu selalu bau kebohongan. politisi busuk memamerkan kebusukannya dengan menghamburkan uang negara, dan rakyat miskin dibiarkan mati di dalam lumbung padi.

indonesia yang alamnya kaya raya ini hanya dinikmati segelintir orang di dalam lingkaran kekuasaan, merekalah yang bertanggung jawab atas kematian marsinah, ruyati dan jutaan orang yang tiap hari diperbudak oleh orang asing. harga diri bangsa hanya seharga selembar kertas bernama paspor tanpa kehormatan. penderitaan bangsa budak memang menyakitkan, di abad ke 21 ini ternyata kita masih jadi bangsa kuli yang dihina bangsa asing secara membabi buta.

tak ada gunanya bapak berpidato di depan kongres buruh sedunia, tak ada gunanya tepuk tangan basa basi yang dibangga-banggakan itu, karena bangsa kita masih jadi budak belian yang dijual oleh pemerintahnya sendiri!

hanya rakyat yang kritis dan sadar akan harga dirinya akan melawan semua ketidakadilan yang menindasnya.

amsterdam, 25 juni 2011



Antagonisme
: kepada firmandaru

rumah impian di batas senja
jaringan kata dibalut luka
kaca membias masa depan

panjangnya gelombang memori
rindunya mimpi jadi puisi
siapa sangka dibakar sepi

Amsterdam, 02/06/2011



Kodratnya

puluhan tahun jadi orang asing
ternyata indonesia yang dimimpinya

oya?

kebudayaan tak bisa dicangkokkan
manusia selalu kembali ke kodratnya

Amsterdam, 04/09/2011

Sabtu, 03 September 2011

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Jakarta

kota lama eh stamboel tjatja
cahaya kota gemerlap berlian
laron pacaran di lampu jalanan

ibu kota sinetron politik uang
koruptor ngantre ambil nomor
penjara penuh penjahat berdasi

apalagi yang disandiwarakan nanti?
judulnya penyalahgunaan kekuasaan
diatur tangan tangan yang tak kelihatan

Amsterdam, 27/08/2011



Amsterdam

kota pelabuhan asal muasal kolonial
seperti puisi surrealis yang tragis?
kerajaan bukan sekedar lambang
konflik politik siapa yang menang?

kota misteri dilingkari jalan trem
berbecak dayung bermotor listrik
campuran budaya patatje oorlog
nasi goreng di lagunya wong indo

kota tua dan gedung gedung antiknya
eh ada angsa putih berenang di kanal
rumah kaca di daerah lampu merah
legitimasi sejarah budak masa lalunya

Amsterdam, 24/08/2011



Bling Bling MImpi

meraung sirene merobek keramaian
lukisan kota tua yang jauh di sana
kanal tempat orang buang sampah

saat hujan sekejap memberi ingat
dunia materi bukan jadi ukuran
bling bling di dunia miskin meratap

bayi bayi kering mati kelaparan
harga diri warga dunia yang sakit
obatnya dicari dalam mimpi mimpi

rakyat rajin ngapalin jajnji janji
harga sembako terbang ke langit
jika sekolah adalah ilmu yg mahal

awas! doa dendam orang kelaparan
jangan lupakan hari pembalasan
mari kita kemon nyadarkan napsu!

Amsterdam, 05/08/2011



Mata air Mata

adakah puisi surrealis yang bukan tragis?
tak ada yang tau apa maunya musim
jangan mau lagi terjebak mimpi sepi

menulislah sesuai apa kata hati
kata bersayap tak menunggu cerita
syairnya meleleh dari mata air mata

rindunya menulis sajak tanpa basa basi
siapa yang bisa membaca langit berawan?
dan badai emosi datang bersama hujan!

Amsterdam, 30/07/2011



Disihir puisi misteri hujan

tak ada yang tau kapan jadinya
sebaris sajak melupakan hujan
mungkin kau bermimpi lagi
dan siapa mampu merayu emosi?

di sihir puisi kata pemujaan
menghancurkan segala yang terbilang
membekas di hati terluka sayangku?
menunggu jawaban yang tak pernah selesai

mari kita menyontek dosa di kitab suci
cinta, siapa itu yang takut kehilangan?
mengganas badai tanpa setetes airmata

tarian mistik memuja sajak rembulan
jangan kau ragu merobek malam
dan jangan mau tersesat dalam diam!

amsterdam, 24/07/2011

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Ngibulisme

burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan

rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran

apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan

musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang

19 februari 2011



Kodok beracun

kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati

Amsterdam, 14/02/2011



Anjing muka dua

itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?

Amsterdam, 14/02/2011



Jangan telmi

anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revolusi? mereka yang namanya rakyat atau elite?
jangan “telat mikir”, menyesal nanti.

Amsterdam, 11/02/2011



Pelajaran sejarah

18 hari demonstrasi di mesir
jutaan orang marah di lapangan tahrir
menuntut tiran turun dari korsi kerajaan

tiba tiba mereka kehilangan musuh bersamanya
orangpun bingung setelah diktator pergi, lalu?
siapa yang berani menjamin demokrasi?

sia-sia mengharapkan pada yang berkuasa
satu demi satu kekuatan rakyat nanti dibonsai
seperti pengalaman kami yang pahit ini

Amsterdam, 11/02/2011



Pertarungan

bertarung demi eksistensi
puisi dalam jelmaan pemikiran
demi tujuan bersama kita bisa

angin perubahan pasti datang
jika percaya pada tanda tanda
dari mana datangnya kesadaran?

Amsterdam, 10/02/2011



Leidseplein

mad world, mad world
lagunya gary jules membelah malam di leidseplein
sinar lampu jalanan membias di kaca restoran
dan mata siapa itu dari balik jendela trem?
musik membuai dibelai angin badai
di persimpangan jalan mengucap salam

Amsterdam, 7 februari 2011



Kaum

kaum miskin kota ada dimana-mana
di belakang perumahan mewah
di depan asrama tentara
di samping rumah ibadah
tersebarlah dendam yang lapar

kaum melarat yang namanya rakyat
jadi budak di kampungnya sendiri
rindunya kawula mimpi keadilan sosial

kaum terpelajar sembunyi di balik materi
riwayat penjilat dan kerlipnya berlian
menjual diri demi harta dan kekuasaan

Amsterdam, 6 februari 2011



Kemerdekaan

jalan berduri diasah pengalaman
hidup yang tak pernah diam
bicaralah kawan!
jangan membisu nanti beku
kutukan revolusi berdarah sejarah
menghalang siapa yang pasang badan?
kemerdekaan kita bukan kado dari langit!
biarpun badai menghadang gerakan
rakyat bersatu melawan penindasan

Amsterdam, 2 februari 2011



Batu

panorama stasiun angkot batu,
gunung-gunung tegak mematung,
di selecta batu-batu membisu dimakan waktu.

membaca senja menjelang malam,
ah, itu kan hanya impian semalam,
pilihan hidup bukan di garis tangan.

mengulang cerita tanpa koma,
menjalin cerita perjalanan manusia,
menyimpan memori bersaksi puisi.

Amsterdam, 1 februari 2011

Jumat, 25 Juni 2010

Puisi-Puisi Heri Latief

http://www.sastra-indonesia.com/
Bukan Puisi

sederhana dan simpel katanya
jauh di sana tempat kelahirannya
rindunya terbang bersama debu
ke negeri timur arahnya angin senja
berbeda budaya bermusim semi
dan ini bukan puisi sayangku
cuma catatan menjelang hari kelahiran
mencoba mengaca pada realita
betapa indahnya bunga impian

Amsterdam, 17 Juni 2010



Apa Kabar?

boss, apa kabar kasus bank century?
sembunyi lagi di balik politik pornografi

Amsterdam, 17/06/2010



Otokritik

gagalnya gerakan di bawah bukan hayalan
akibat kemiskinan uangpun jadi tuhan
kerna lapar jual diri dan obral keyakinan
trauma kepasrahan dilibat kemiskinan
menunggu kenekatan jadi kenyataan?

Amsterdam, 17 Juni 2010



Bacalah!

membaca trilyunan dollar kerugian bank sedunia
semilyard rakyat miskin semakin melarat boss!
inilah sebab akibat kerakusan kaum kapitalis
memeras rakyat demi kemewahan nyonya dan tuan
kesadaran orang terpelajar di balik ide keadilan sosial

Amsterdam, 17 Juni 2010



Jurang Konflik Sosial

ini bukan sekedar cerita hayalan boss!
gelandangan mengais nasib di tong sampah
sedangkan makelar kasus punya duit milyaran bah!
malu menangkap maling ketemu garong
mulut pejabat suka ngomong bohong
siapa yang bertanggung jawab atas ketimpangan sosial?
pemerintah berjanji basmi korupsi setengah hati
rakyatnya dipaksa tidur walaupun perutnya lapar
dan anak jalanan tumbuh liar makin sangar
lahirnya generasi frustrasi akibat perbedaan materi

Amsterdam, 17 Juni 2010

Rabu, 16 September 2009

Puisi-Puisi Heri Latief

http://oase.kompas.com/
DEJA VU

rasa manis pahitnya
pengalaman
bercumbu dalam konflik
kepentingan
seperti senyum deja vu
merayumu?

Amsterdam, 10/05/2009



Refleksi Sejarahmu

puluhan tahun yang lalu
di radio pemimpin besar berpidato
tolak bantuan asing yang menjajah!

begitu kenyataan jaman dulu
sipatnya tegas dan tekadnya keras
anti nekolim dan makelarnya

di masa itu rakyat memuja kemandirian
gotongroyong membangun kekuatan
mana lagi sekarang sisa kesadaran?

keberhasilan minjam hutang dibanggakan
upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
yang kaya makin genit memamerkan harta
yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?

oya?!

puluhan tahun tertindas sepatu lars
sepanjang jalan kenangan berdarah
siapa mampu nolak refleksi sejarah?

Amsterdam, 06/05/2009



Sajak Kowloon Park

baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak

merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas

negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat yang peduli

berani bela bangsanya dan mandiri
demi keadilan buat buruh migran
solidaritas atas nama kemanusiaan

Amsterdam, 23 Mei 2009
ps: sajak ini buat buruh migran indonesia di seluruh dunia. tetap smangat!



Sajak Buat Diunk

jaman taon jebot tujuhpuluhan
dalam mimpinya tinejer ngejeger
musiknya nge-rock en roll beybeh!
gayanya ngehippie banget deh
hidup ini patut dinikmati
dalam tanda kutip emosi
siapa dia generasi bunga?
terbaca dari sajak dan emosinya
nyanyian rindunya anak jalanan
perdamaian dan keadilan buat semuanya
dalam syair puisi yang berlawan?

Amasterdam, 03/05/2005



Puisi Dua

dualisme dalam demokrasimu
musuh kemarin teman sejalan
kemana kawan hilang muka?
kapan janji pemilu dibuktikan
lupa memori pahitnya kenyataan?
sampah kampanye berserakan
maling curang tikus berpesta
tanya setan nyari jawaban?
bangsa miskin tanahnya kaya
dikuras demi pensiun pemodal
bangsa miskin koruptornya kayorayo bah!
tragedi kemanusiaan tanpa batasan
anak-anak lapar keliaran di jalanan
terpaku kita pada facebookmu?

Amsterdam, 03/05/2009



Di balik Wajah Politik

Ketika hujan adalah banjir
Uang sebagai alat berkuasa
Manusia mau jadi budaknya
Materi dibalut madunya duka

Katalepsi tesis orang termajinalkan
Tak ada yang tau kemana angin merayu

Membebek swara dari atas
Terjebak keajaiban tukang sulap

Merindu sajak yang berlawan
Dibakar dendam sejarah berpolitik

Pertarungan siasat dan sejuta intrik
Mengubah janji wajah munafik

Di batas senja merah menyala
Sisa kopi dan sebaris puisi
Bisikan dari akar rumput liar
Kataklisme menebar bau persaingan

Berdoalah agar tak terjadi frustasi
Siapa mampu bermimpi revolusi?

Amsterdam, 11/04/2009



Libas Phobias!

golput itu katanya partaiphobia
gayanya suka banget berpolitik
kayak cinta campur benci politik

bukan demokrasi tanpa diawasi
mestinya ide bertarung di gelanggang
supaya perubahan terjadi lagi

jangan apatis mandang masa depan
belajar bersaing di jalan yang benar
berani memilih suatu keyakinan
masa depan itu harus diperjuangkan

proses demokrasi tetap berjalan
walau pun berbeda kita sodara
sebangsa sebahasa setanah air
dalam semangat syair
: yang berlawan!

Amsterdam, 6 april 2009



Puisi di antara Dua Benua

di sini
tanah seberang lautan ide
demi langit merah menyala, api
membakar pahitnya duka

kami punya sejarah terluka
luka dibawanya ke muara, cinta
tanah air mata air kehidupan
mengembara di dunia maya, terbang
bersama debu dan mimpi-mimpinya

nyanyian jejak puisinya?
meminimalis ilusinya
tanah air mata air cintanya!

Amsterdam, 2005



BUNGA

selamat datang di dunia maya
cintamu habis dirayu waktu

demi musiknya dewi malam
lagu kenangan anak jalanan

sajak dimimpi pemuja cinta
wanginya kopi koalisi air api

bisikan daun dibelai rindu
musim semi bunga bernapsu

Amsterdam, 02/04/2009



Jangan Sampai Otakmu Tercuci

ketika otakmu asik dicuci
cintamu hanya pada ayat suci
demi sorga bidadari menanti
lupa indonesia tanah airmu?

biarkan segala warna dan ideologi
jangan kau paksa munafik lagi
budaya kita adalah nusantara
dari sabang sampai merauke

kemana tujuan kemerdekaan?
itulah yang mestinya dikerjakan
bukan cuma ngitung pahala dan dosa
persatuan bangsa penting adanya

ayo jangan mau tercuci otakmu
belajar bicara dari hati nurani
siapa yang punya urat malu
pasti tau arti cuci otakmu

Amsterdam, 27/03/2009



Jakarta Kita


kampungnya urbanisasi
tanah air semua perantau
harapan pendatang berkilauan
terjebak cinta macet di jalanan
terasing ide kemanusiaan
dirayu jilatan anak setan

jakarta itu biang kerok
pabriknya kasak kusuk busuk
langganan banjir isu
jual pahala beli dosa
bikin orang napsu berkuasa

jakarta panggungnya sandiwara
rakyat tertipu mimpinya penguasa

Amsterdam, 23/03/2009

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae