Tampilkan postingan dengan label Hamdy Salad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hamdy Salad. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 September 2010

Puisi-Puisi Hamdy Salad

http://www.jawapos.com/
BULAN MELAYANG

Guyur aku dengan darah panasmu
dan biarkan kompor gas itu menyala
mematangkan butiran beras
daging cinta dan urat-urat biru
sekujur tubuhku. Bulan melayang
lepas cahaya dari ikatan malam
menyusup tanganmu ke dalam dada
memeras pahit empedu
dekat jantungku. Luka pun berbunga
menari-nari di ujung tangkai
tegak berdiri menghunjam tanah
saat langit menggambar wajahmu
dan bumi bersinar di telapak kakiku

Duhai penjaga asmara yang setia
kibarkan tujuhpuluh sayapmu
agar aku bisa terbang kembali
menempuh rindu tanpa nafsu bidadari

(2010)



MIMPI BERJALAN

Di atas gelombang samuderaku
mimpi-mimpi berjalan tanpa kaki
menolak dandan pengantin baru
melepas jubah dan pakaian
bagai perahu sedang berlabuh
pulang dan pergi ke tepi pantai
mencari pangkal segala ruh
di antara topan dan badai

Separuh bayang-bayang meregang
dan melenguh di sisi ranjang
suntuk jiwaku dalam dekapan
harum lempung dadamu
kuhirup sampai hilang purnama
di antara kekalahan dan kemenangan
di antara kehidupan dan kematian

Suara sembilu bertalu-talu di udara
membawa pergi semua yang terluka

(2010)



BINTANG PAGI

Bintang pagi wajahmu
masih juga berseri di langit itu
walau fajar telah merekah
dan bumi berdarah-darah

Tapi entah, kapan aku bisa bertemu
dekap erat kilau tubuhmu
sepanjang mimpi yang diberkahi

Angin lalu menggulung kesepian
dingin matamu menjelma jam tangan

Bau rindu menyengat pernafasanku

(2010)



TAK MATI-MATI

Kenapa cinta itu tak mati-mati
di sini, di lambung kosong ini
terus menari bersama usus duabelas jari
mengaduk biji-biji cabe dan tomat merah
sampai duka kembali ke rahim sunyi
dan pohon berbuah di dalam rumah
mengusap airmata doa
mengucap doa airmata
tepati janji di ujung sajadah

Sebilah pisau berkilat dari pinggangmu
tapi darahku telah mengalir lebih dahulu
melukis resahmu di empat penjuru

(2010)



KUPU-KUPU TERBANG

Kupu-kupu terbang sendirian
mencari jejakmu yang berbunga
di atas pundak batu karang
kala cermin membuka kelambu
rahasia ombak dan gelombang

Lalu usia menumbuk waktu
hingga pasir dan debu bersinar
di tepi lautmu. Masa lalu kelaparan
meminta dagingku jadi cincangan
saat senja mulai bertandang
menabuh dadaku bagai genderang

Maka itu kasihku, medekatlah!
peluk jiwaku dalam selimutmu
jangan tinggalkan aku sendirian
jangan biarkan aku kebingungan

(2010)

—
Hamdy Salad, dosen Creative Writing Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Menerbitkan kumpulan puisi: Sebutir Debu Di Tepi Jurang (2004), Rubaiyyat Sebiji Sawi (2004), Sajadah di Pipi Mawar (2005), Mahar Cinta Bagi Kekasih (2005), Dzikir Logam (Dami, 2009).

Sabtu, 14 Maret 2009

Puisi-Puisi Hamdy Salad

http://sastrakarta.multiply.com/
SURAT-SURAT UNTUK BERKACA

Dan dunia telah dibenamkan para raksasa
ke dasar benua. Laut berlumpur hitam
menghisap cahaya dari cincin matahari
mengaduk luka dan air garam
dalam bencana yang tak pernah selesai

Doa dan dupa, mantra dan sesaji
tak juga sampai ke langit tinggi
menggumpal di udara kelam
bagai awan yang gagal menjadi hujan
tubuh dan jiwa bersembunyi dalam keluh
berpisah diri dengan semesta paling inti

113 surat dalam kitab keabadian
menuliskan martabat cinta
bagi manusia yang berkaca. Bacalah! Bacalah!

2001



SENJA DI ATAS MENARA

Dan bergeraklah senja. Fasabbih, fasabbih!
menyeberangi segala sungai yang mendidih

Matahari berambut pirang, mengirim usia di perbatasan
tangan-tangan saling berebut bagai puncak menara
dalam remang, menjulurkan rasa takut
di antara gema adzan, ayat suci dan panggilan maut
yang bergulung menuju pelangi di langit baka

Maka badai tak kunjung reda untuk berdoa
dan kembali ke dalam mimpi yang lebih purba

Kemarilah wahai pedang khalifah. Tebas leherku!
nyalakan api neraka yang telah padam
di sekujur tubuhku. Bakarlah semua gairah
sampai surga menjadi kosong dalam darahku
dan dunia tak lagi pilu kepompong batu

2002



KERTAS PUTIH PENYAIRKU

Buka mata tulipmu! dan ceraplah warna tinta
sampai huruf dan kata-kata menjadi sirna

Dari pelipis kirimu, kertas putih menari
berpendaran bagai batu-batu granit
penuh beban: meja marmer yang pecah
patahan tulang, gigi palsu dan rambut perak
terlempar dari tempat asalnya
di udara fana. Setitik embun menguap
dan sembahyang bersama terik matahari
tapi jiwamu masih saja pengap dan beku
walau musim semi telah menyergapmu

Maka berlarilah engkau, wahai penyairku
Fafirru, fafirru! Kitari sumbu api di dekat jantungmu

2002



KUKIRIMKAN MAWAR CINTA

Aku ingin kembali menjadi bayi
menyusu rindu pada puting abadi

Seperti angin lalu pada setiap musim
kukirimkan mawar cinta
ke dalam rahimmmu. Wahai kekasihku!
sepenuh waktu aku berdoa dan mengaji
di gigir malam paling sunyi
kubiarkan bintang-bintang berlayar
mendayung perahu
menuju muara tak bertepi

Kulintasi api dan cahaya!
mendaki rindu di bukit cinta

2003



WAKTU DOA DI PAGI BUTA

Waktu doa di pagi itu, di antara lumut hijau yang beku
aku terbangun dan gagap, kata-kata jadi lenyap
tak ada lidah untuk bertanya pada segala
kenapa gempa dan ombak itu bergolak
menangkup rahasia el-maut di tengah kota

Lalu aku berenang di sela batu karang
mengembangkan sirip waktu dan kesaksian
seperti ikan mencari cahaya di tengah gelombang
ketika air garam mengencangkan otot-ototnya
menjalarkan rasa perih ke seluruh tubuhku
sampai aku tak berdaya di gigir pelabuhan
mendengar gema adzan dari pucuk pepohonan

Dan subuh telah berpisah dengan matahari
gelegar badai menggulung perkampungan
juga lembah dan daratan di sepanjang pantai
berjuta luka menjerit dalam kegaduhan
jiwa-jiwa mengukuh di antara benda yang rubuh
lalu berdiri dan berdoa untuk terakhir kali

O laut biru, sungai biru
dzikir air yang mengalir
bawalah syahadat kami
menuju langit Yang Tinggi

Begitu cepat, serupa kilat menembus gelap
kematian berguling dari lantai ke dinding
jasad-jasad berbaur dengan lumpur
mengaduk rasa pilu di bumi subur
cinta, derita dan airmata
membawakan mawar pada semua
sampai cahaya kembali bersinar
di atas kubah dan menara

Masih adakah tasbih laut-mu
untuk mengenang doa terakhir di pagi itu?

2005



WAKTU API MEMBAKAR RINDU

Engkau api dan hujan di musim semi

Waktu api membakar rindu
separuh tubuhku jadi belerang
arwah cinta bangkit kembali dari kuburan
mengirim bangkai para pengkhianat
dalam tengkorakku, dada merah jambu
jenjang leher angsa penuh bulu
menari bagai panas tanpa bayangan
meremuk daging dan tulang nafsu
antara tidur dan mimpiku

Engkau api dan hujan di musim semi

Waktu hujan menyiram rindu
separuh tubuhku menjadi ladang
tempat bersemi segala pujian
tak ada cinta yang berjamur di dada
kalimat tanpa jasad, pohon dan bunga
mencari jejak semesta di tengkukku
daun-daun menghijau dalam keemasan
menanggalkan duri dari tangkainya
antara hidup dan matiku

Engkau api dan hujan di musim semi
matamu kilat menembus dinding batu
keringatmu parfum sepanjang hari
separuh jiwaku menjadi abu
separuhnya lagi jadi tanaman

2006



LAYAR KOSONG

Aku mati jadi mineral
ruh pun berlayar
menuju ke tempat asal

Kecapi abad tak terdengar lagi
lenyap segala dalam riuh dunia
bangkai-bangkai babi
sejarah satu mata
jadi beban di bumi

Anak bangsa bermimpi
terbang tanpa sayap
munuju ke langit tinggi
melintasi gugusan asap
pulau-pulau dan hutan api
mencari jejak katulistiwa
dalam neraka lima benua

Layar kosong
kata-kata gosong
penyair pergi
menyusur kolong
di negeri sendiri

Rubuh kota dalam gempa
raga dan jiwa berpelukan
mencari silsilah keabadian

2006



DOA SEPASANG GANGGANG

Seperti batu dibanting rasa cemburu
anak cintaku terguling dari ayunan
menyulut jerami di antara tidur dan jaga
hingga asapnya memenuhi pipa paru-paru
dalam dadaku – sepasang rusuk mahligai
menilap radang kata dari lembaran buku-buku

Satu menghilang di cermin
mendekap bayangmu tanpa yang lain
dari mula sampai akhirnya

Aku pun mengaji dan keluar dari lubang jeruji
menjadi tukang las di gerbang pintu rumahmu

menyambung ruas baja dan potongan besi
dari masa lalu – leleh keringatku kolam ikan
tempat berenang sepasang ganggang
menjaga rinduku sepanjang siang dan malam
mengusap airmata doa – mengucap doa airmata

Lalu gerimis menghilang di udara fana
tak ada gunanya pipi lembab dan batu nisan
jika tangis bergema hanya sampai telinga

Maka kulepas gelembung duka itu dari semestamu
dari lingkaran usus duabelasjari di lambungku
saat cinta mengikat kembali sayap-sayapnya
di punggung rindu – aku berdiri tanpa beban
memanggul kenangan dari segala penderitaan
berjalan dan terus berjalan di sisimu selamanya

Apalagi yang masih sembunyi -- kekasih!
sebab jejakmu telah tergambar di telapakku
dan darahmu juga mengalir dalam resahku

2007



ORANG PESTA DI BALIK PUNGGUNGMU

Kilat pedangmu menusuk dadaku
berulangkali – aku tersungkur dan berdiri
meliuk bunga matahari tanpa angin
sendiri – membentang pelangi
rajah senja di halaman rumahmu

Mengucur juga akhirnya darah cintaku
merembes ke tanah jadi bayangmu paling indah

Dan biarkan luka itu menganga
bagai mulut si bayi merindukan airsusu ibunya
di ceruk malam – mengisap cahayamu
sampai bulan dan bintang terasa ngilu
sekujur tubuhku – tisikan tato menghitam

Lalu aku bermimpi orang pesta di balik punggungmu
menyantap gulai dari jantung dan hatinya sendiri

Hutan dan taman terbakar – anak waktu terkapar
barisan asap merapat – mengusung lencana
dari ruang diskotik dan kamar mayat
kakek nenek mati bersama – para pahlawan
menjelma arang dalam tungku perapian

Kembali nyeri dadaku membaca surat-suratmu
mengeja kata cinta yang berkilat di langit senja itu

2007



BULAN PECAH DI KOTAKU

langit kaki
bulan pecah di kotaku

Gerak bumi menggerus dinding batu
menyusuri jejak kaki rumah-rumah tua
di antara kilat dan cahaya kematianku

kapak berayun
membelah dada kegelapan

Darah putih menyembur ke empat penjuru
menggulung perihku tanpa gugusan bintang
seratus tahun menghilang dari gundukan waktu

keluh berbaris
mengusung keranda tubuh amis

Kubur-kubur menganga seperti jalan berlubang
saat sunyi memburu bayangku di tengah malam
dari kekosongan menuju kekosongan

sembarang mimpi
di atas ranjang kawat berduri

Lalu surut menggigil dalam selimut warna bunga
rasa pahit butrowali menjelma gula di lidahku
betapa manis duka itu jika ditelan bersama getahnya

2007

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae