Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kirana Kejora. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Maret 2009

Puisi-Puisi Kirana Kejora

http://oase.kompas.com/
AKU TERJEBAK SKENARIOKU SENDIRI

Hari ini aku patah
Aku merasa jadi daun
Bukan eidelweismu lagi
Aku merasa kamu hilang
Diammu bukan emas
Tapi sebuah kemarahan padaku

Aku sering melupakan diri
Bahwa kamu adalah lelaki dengan kudanya
Yang terus bergulat dengan cairan-cairan darah
Memacu terus pelana bajamu
Melibas badai
Menyeruak di hutan cemara kisah

Aku serasa tak memiliki pagi, siang, malam
Senyapku tetap setia menjadi rasa

Kini
Jika aku kasih tahu tempatku
Apa kamu akan petik aku dan bawa terbang pagi ini membelah mentari?
Sebenarnya aku ada di dekatmu

Sapamu telah bangunkan tubuhku dari persinggahan alam sadarku
Lalu kau pergi begitu saja
Ah!
Kau ternyata jadi angin sesunyiku pagi ini
Jika kau elangku
Harusnya kau terbangkan aku untuk membelah mentari
Ah!
Kau nakal!
Rindu apa yang kau punya buatku yang hanya setetes embun di padang tandusmu?
Aku hanya sebutir debu, sehelai bulu ayam, sepenggal sabit
Kau merasa begitu sempurna buatku?
Ah!

Aku terhenti di ujung penantian tanpa kutoleh ke belakang
Mataku menatap ke semua penjuru jarum nadiku
Menyeruak tubuhku diantara ilalangmu untuk pencarian terakhir wujudmu
Biarkan aku meliukkan tubuhku di ujung gelisah
Menggelinjangkan lekuknya di tepian kisah
Tetaplah kau tenang arungi pergumulanmu
Aku sudah biasa jadi pesunyi
Pesunyi telah jadi darah dagingku
Lamunan dalam sunya adalah santapanku
Sejak badai hidup dera bathin
Dan lahirku sebagai eidelweis ungu

Kubaru saja rajam rinduku ke kamu dengan pinset sayapku sendiri
Darahku mengucur
Membanjiri bugil tubuhku yang iklas menerimanya
Karena ku tahu
Penderitaan telah kusambut
Ketika kumiliki cinta buatmu

Pagi ini
Tubuhku yang terlihat siluetnya karena mentari berhasil menembus kain tipisnya
Lari tergopoh-gopoh menyeruak hutan cemara kembaramu
Namun betapa lunglai tubuhku
Ketika tapal kudamu tak bisa kuendus lagi
Rasanya ingin kusudahi mimpi panjang ini
Aku harus bangun
Kucubiti kulit tubuhku hingga membiru
Kutepuk pipiku hingga terasa ngilu
Wake up eidelweis!
Biarkan lelakimu pergi dengan kudanya
Dia hanya ada dalam puisimu…no more
Begitu angin katakan padaku pagi ini
Tapi bukankan dia juga sang angin itu sendiri?
Ah!
Membingungkan kisah konyolku kali ini

Angin
Mengakulah sekarang padaku
Aku tlah jujur padamu selama ini
Diammu bukan emas lagi
Namun diammu karena kau menguji kesetiaanku pada senyap di puncak gunung
Aku tak memiliki pagi,siang,malam
Menatap langitpun aku tak mampu
Karena ku takut kembali punya rindu padamu yang tak bisa kujumputi
Sekarang jawab
Dimana kamu melihatku?
Apakah masih nampak kuntuman eidelweis ungu itu pada tatap liar mata elangmu?
Ah!
Bukankah angin itu adalah kamu sendiri elang?
Shitt!
Stupid love in my mind!

Bhumi Menteng Dalam, 061108, klimaks kefrutrasian yang benar-benar membodohi hati
Where r u eaglenest? Your silent not gold!



KESAKITAN YANG TERLAMBAT

Semua tanya tak harus dijawab
Meski semua tanya memiliki jawab
Sms ini mungkin tak penting bagimu
Sudah basi
Aku tahu ini
Tapi hatiku lega bisa menulisnya di sini
Apa benar lelaki itu di hatinya selalu ada lebih dari satu perempuan?
Gambar itu tak bisa bohong
Mataku menatap
Logikaku meratap
Ada perempuan di dalam cermin kamarmu
Seorang perempuan muda
Mungkin seorang gadis
Yah!
Gadis yang hanya statusnya
Atau gadis yang baru hilang kegadisannya karenamu
Aku tak tahu dan tak mau tahu lagi
Karena semua telah terjadi
Kita sudah habis
Kita sudah pergi
Kita sudah nggak ada lagi
Aku tak berhak memvonismu selingkuh
Meski tanggal gambar itu ter-upload sebelum kita putus
Karena perahumu tak lagi tertambat pada dermagaku
Kau pergi dariku
Karena
Hatimu terluka
Karena
Aku kasar katamu
Kau inginkan wanitamu lembut bertutur
Namun kini
Gambar perempuan belia dalam cermin kamarmu itu telah menjadi jawaban atas lukaku yang telah dulu ada
Dunguku kali ini terpelihara dan bagus terrawat!
Kesakitanku telah terlambat!

Menteng Dalam, 020109
Usai menikmati senyap di apartemen Taman Anggrek
Usai memelototi foto-foto di rumah mayamu….



KU HANYA BILANG

KAU AKAN DATANGI AKU KETIKA RINDUKU MEMUNCAK
ITU KATAMU
LALU
INI JAWABKU
RINDUKU PADAMU YANG BARU SEPENGGAL SABIT, BUATLAH MENJADI PURNAMA
CARILAH CARA HINGGA PURNA
KALAU KAU MEMANG PUNYA CINTA YANG SEBENARNYA
TAPI
TUNGGU
KUBISIKKAN INI PADA DAUN TELINGAMU YANG SEXY
BEGINI
AKU BUTUH KEHANGATAN KINI
JADILAH BARA API PADA TUNGKU HATIKU INI!

Menteng Dalam, 200109
Kedewasaanmu kuharap datangiku kini



PADMA KUNING

Aku lelah terus kau kultuskan jadi eidelweis
Karena harus terus setia padamu di puncak senyap
Kamu bilang aku diperbudak ego
Ego yang mana dan bagaimana?
Kali ini aku ingin jadi padma kuning
Air mata sepiku telah jadi batu
Jadi aku tak kan basahi kelopakku dengan bulirannya
Kamu pikir aku lemah karena turun tahta dari puncak ke tanah?
Atau akan tenggelam dalam kolam yang memutari tubuhku?
Kamu keliru
Kodratku selalu terapung di atas airnya
Bebas mengembangkan daunku
Berenang dengan riang di kecipaknya
Tetaplah kamu terus dengan sorot angkuhmu bertengger di sana
Kenapa pagi ini kamu bilang langitmu di Nagoya?
Buat apa?
Terbanglah kemana kamu suka
Jangan terus kelopakku kamu pelototi dengan keliaran imajimu
Aku bosan!
Ah!
Pergilah cepat kamu ke langitmu
Atau kembalilah menjadi elang kutub
Jumputilah sakura-sakura di bhumi Nagoya dengan tajam paruhmu
Cemburuku sudah habis
Aku bukan eidelweismu lagi
Aku kini setia menjadi padma kuning dengan kata pedas teriring
Begini,
Duniamu sulit kutembus
Karena kamu memang tak pernah siap membawaku ke sana
Dan kini
Aku ingin menyejukkan birahiku kembali dengan genangan air yang memadatkan sintal tubuhku

Bhumi Menteng Dalam, 81108
Bawalah pulang sakuramu, lupakan eidelweismu
El…kamu el…ek!
Mbencekno!

Minggu, 03 Agustus 2008

Puisi-Puisi Kirana Kejora

LELAKIKU DAN KUDANYA

Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati

Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya

Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla

Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya

Bumi Samudra, Surabaya, 070507



SURAT KEPADA ILALANGMU

Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu

Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku rerimbunan sang ruh

Persembahan secawan anggur hati
Tlah menyingkap gaun tidurku
Sungguh tubuhku lunglai tiada nadi daya
Hingga sapa matahari
Menghangatkan sunyi tubuhku

Kelam terrenda temaram kabut masa
Aku masih sabit yang terpenggal
Yang tak pernah memiliki malam, siang, pagi

Karena singgahku
Tak pernah termiliki siapapun
Kecuali Kupu-Kupu Saljuku
Aku hanya debu yang ingin menjadi gurun
Entah kapan dan dimana

Kamu tak pernah miliki daya arung
Buat sauhkan sampan roman ini
Sedang waktu mulai tak bersahabat
Dengan ruang hati yang kita miliki

Topannya mengiris kulit
Menidurkan kembali bulu-bulunya
Sudahlah, kelelahanku tlah menuju kematian
Padahal aku ingin terus hidup
Buat penumpang kecil sampanku…

Syairmu setinggi langit ke tujuh
Ku sulit sentuh dan gapai
Cekat pita hati
Katupkan bibirku yang tertoreh pujimu
Kembarakan gemintang rindu cinta
Pada langit yang tak pernah memberi jawab
Walau sedikit
Menunggu sesuatu yang abstrak
Tak berbentuk

Meski bisa berasa jiwa
Namun tak bisa tersentuh raga

Semua yang terpilih
Adalah milik Sang Berkehendak!
Aku ingin kita bertemu dalam ruang
Tanpa sekat-sekat maya
Pergumulan raga yang kuinginkan
Buat buktikan daya arung lelaki sejatimu!
Usah kau jawab
Jika kau tak sedia lakukan itu!

Menara 4, Taman Anggrek,
Jkt, 12:21, 240407



NYANYIAN EIDELWEIS LANGIT

Lembut laut sang pasir
Tirani yang kokoh buat sambut rindumu
Kisaran saat tak bisa pisahkan hasrat
Cinta yang kita hidupkan
Adalah fajar yang terus menyingsing

Tahukah arti pergumulan ini?
Langit bersendawa dengan roman birunya
Berbuih bersama tulus putihnya
Sudi terus payungi pasir yang menggunung

Lalu datang keabadaian
Lewat kelopakku
Yang tak pernah terjamah buliran air mata
Ku sapu tangis embun
Ku redam kalut pagi
Ku peluk geliat siang
Ku cium galau malam
Kekuatan tangkai kehidupan harus jadi milikku
Meski aromaku tak pernah terhirup
Dan indahku tak tersinggahi kilat mata
Ku terlupa
Ku tersisih
Tak apa ku bilang
Karena garisku
Ku hanya lambang keabadian cinta
Itukah perempuan?

Rumah Putih, Surabaya 030507



NIRWANA CINTA SELAMANYA

Perempuan itu menyipukan malunya dengan senyum
Dan berkata kepada kekasihnya
”Lelaki adalah elang, pantang baginya buat mundur!
Inginku, jadilah engkau elang yang bukan pemangsa
Namun elang sang dewa angin
Yang siap meminangku sang dewi bhumi”

Kemudian sang lelaki menjawab
Begini,
”Perempuan adalah eidelweis, pantang baginya menangis
Tegar kelopakmu yang tetap menyimpan kelembutan
adalah lambang keabadian abdimu kepadaku”

Setelah mantra hati mereka termantap
Dalam sebuah kitab
Perempuan dan lelaki itu menikah

Abadilah cinta kita, tersimpan selamanya
Dalam hati DIA Sang Pemilik Abadi
Begitu,
Kalimat surga perempuan dan lelaki itu di atas pelaminannya

Bhumi Menteng Dalam, 200308



KAMU TAK SENTUH AKU

Ku penuhi janjiku padamu
Hanya keterpaguan yang keluar dari bibirku
Ketika kau lontarkan kalimatmu
Itu membuatku terpagut
Makin membuat kalut
Hatiku berkabut
Segera kuhapus bayanganmu yang melekat
Yang memaskeri wajahku begitu pekat
Makin luruh menuruni hatiku yang terpikat
Memita jantungku begitu erat
Ternyata
Keberadaanmu begitu kuat
Sesadarnya aku merasa tak terjerat
Aku merasa tak terikat
Hingga
Tak ada beban berat
Karena
Ternyata
Kau tak sentuh aku
Tepatnya ragaku
Meski jiwaku
Sebenarnya telah kau sentuh
Kuat!
Erat!
Ikat!
Dengan kedinginanmu sebagai elang kutub!

Kamarku, Permata Ex. 210608

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae