Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Yunianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Yunianto. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
MELEWATI PAGI MENGEJAR SIANG

selain pekatnya hitam
tak ada lagi yang dapat dilihat
bahkan luka menganga
yang orang bilang pedih dan bising itu

di sini di negeri tanpa pagi
nyaris semua indera tak berfungsi
mungkin masih menyisakan satu mata
tapi sudah terlalu lama lupa tempatnya

dan celakanya
ini bukan bagian paling menyedihkan
kerna duatiga tahun terakhir
kau aku belum sekalipun membunuh
berbagai jenis kegelapan
yang tumbuh subur membelukar
melenyapkan bayangbayang

bukti keberadaan yang makin samar
satu demi satu melayang

kepada waktu mesti bersulang
kita di atas kuda pacuan

13.02.2011



KE PUKUL 00:00

pada tiap pergantian gerbang
kalbu menjelma mantra
menjadi rajah pembuka pintu

huruf purba bergetar di lapang dada
menjanjikan rumah yang nyaman
bagi jiwa yang butuh betah
bermukim dalam tabah

sepanjang bentang berkelokan
tanpa marka pemisah
melintas di jalan satu arah
diam bersimpuh menempuh tujuan

tak ada lagi yang tengadah
sebab tangan menggenggam pisau
memotong sejarak risau
dari yang telah ditentukan

sudah terlalu banyak detik terbuang
biarlah waktu geming sejenak
atau tepat saatnya sekali detak

meski kemudian kedua kaki lelah
arah tak akan berubah

jarum kompas telah patah

10.02.2011



TAK TERASA PUTUS ASA

selagi masih rasa
yang dipercaya

tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai

kehendak terperas dari keinginan
yang tiris dari nafsu
tak pernah selaras pada yang satu

kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras

hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan

tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah

begitu nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan

inilah nikmat akal yang diulangulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau

seperti kepada mainan baru
membuatmu berlamalama
tak ke manamana

hingga lupa waktu
tak menemukan pintu

asyik terkunci

09.02.2011



RIUH PENYAMBUTAN

yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca

hanya terasa
kian pupur pada wajah

udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut

geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang

lantai memucat
kian lapang pada ruang

deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri

pada detak berbagi sunyi
saling mengunci

05.02.2011



TERIMA KASIH

sesiang ini
aku sibuk menghafalkan wajahwajah
yang dulu pernah kutemui
saat gunung yang kulukis masih berwarna biru
belum tercampur warnawarna lain

kenangan demi kenangan terus berkelebatan
sementara aku masih sibuk menghafalkan
memukimkan satu persatu semua yang pernah hadir
meski beberapa sekedar mampir
pada ingatan sebelum semuanya kusatukan

lalu kuucapkan dua buah kata
atas apapun yang pernah datang kepada mata
kepada mulut kepada telinga
kepada semua yang terindera oleh tubuh
dan jiwa yang menua

betapapun mulut ini masih lebih banyak bicara
ketimbang mengunyah garam

duka suka sama saja

03.02.2011

Senin, 13 September 2010

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
PERTUNJUKAN KE SEKIAN

panggung adalah lautan
kilau lokan nyala ikan
suara ombak telan menelan

ada yang berhasil sampai ke dasar
meski berperan sebagai perahu
tapi bukannya karam

angin dengan kristal garam
mengajak orang tepuk tangan

heii kaukah itu sayang

duduk di deret kursi paling depan
melambaikan tangan kepadaku
yang mabuk sendirian

sebotol arak masih tergenggam
saat nyanyian air beraroma karang
meninggalkan ruang

lampulampu akhirnya padam

aku masih di sini
sibuk menangkar segala kegilaan

09.06.2010



MELEWATI KUTUB

tak hanya engkau yang merasa lega
aku seperti turut meluncur keluar dari mata
setelah sekian lama terperangkap dalam kacakaca

biarlah bayang kita saling meninggalkan
punyamu ke utara punyaku ke selatan
setelah melewati kutub pasti kembali bertemu bukan

di sini di ruang tanpa pintu tanpa jendela

meski telah berabadabad di dalamnya
kita tak lagi butuh waktu untuk menunggu
kerna jantungku sejarak detak dengan dadamu

08.06.2010



MENJELMA APA SAJA

bagaimana mungkin merindu
jika kau telah menjelma zat asam
terhirup di tiap nafas yang satu satu

jika bertemu adalah sebuah keinginan
maka persetan dengan rindu
kerna aku tidak ingin bernafas

seperti halnya saat buang kotoran
tak perlu diinginkan bukan.



MEMBUNUH

sudah berulang kali kau membunuhku tapi seperti yang sudahsudah aku kembali menyapamu
membuatmu terdiam sebelum kemudian menyeringai saat kau lihat aku memasuki jantungmu
dan dari dalam aku hanya tersenyum saat ujung belati hanya berjarak sesenti dengan dada kiri
sepertinya kau telah paham dan ngerti bagaimana membuatku benarbenar mati kali ini

meski setelahnya aku yakin kau yang akan lebih dulu tersenyum menyapaku

02.06.2010



TAHUN KE EMPAT PULUH

beku dan dingin
entah butuh berapa musim
untuk dapat mencair mengalir ke muara
ke pertemuan milyaran noktah

airmatakah yang ingin terasa payau di lidah

saat nyaris segala yang tumpah
tak lagi pada rumah

halamanmu tibatiba menjelma hutan belantara
betapapun pintu telah terbuka
tapi arah entah ke mana

inilah tahun ke empatpuluh
masih terbatabata mengeja usia
pada lipatan lemak yang mulai memadat

sebagaimana pula sebuah isyarat
bagi nafas yang kian berkarat
yang tiap helanya setapak mendekat

menuju kematian

02.06.2010

Jumat, 13 Maret 2009

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.kompas.com/
PUNCAK BERKABUT

bukankah masih terlampau jauh
meski barat telah ku tempuh

mestinya punya dua sayap dan empat kaki
seperti kuda sembrani

tapi segenap bekal telah tanggal
tampaknya hanya perjalanan ini saja yang kekal

selain mati, yang tak jua datang menghampiri
kini apalagi yang mesti dinanti

puncakpuncak mengerucut
kabur dalam pandang di pekatkabut



TERTIPU TAK TERASA

… tak perlu lagi sumpah serapah … pun segala pujian yang membuncah …. segalanya mesti ditempatkan pada tempatnya ……. kini, aku sedang belajar menakar kehidupan …….. dengan otak yang memang kubuat bebal …….. lalu jika pada akhirnya semuakata membunuhku … biar saja …. aku menerimanya …… kerna selama ini ….. mereka telah kugunakan seenaknya … tanpa timbal balik yang layak ……. apalagi syukur … seucap terimakasih untuk mereka pun …. tak pernah terpikirkan …….. maka inilah saatnya …. saat bikin perhitungan kepada yang telah banyak berhutang …………... jangan jual mahal pasar akan segera kembali normal ..…………… bermain air basah bermain api hangus …… mempermainkan katakata …… Tertipu yang tak pernah Terasa …… lalu… bunuh diri saja …. agar mereka tak repot lagi … menyeret pedang menebasmu



KEPADA KEMATIAN

kepada pepohonan di pinggir jalanan menuju rumah
kau ucapkan rasa terimakasih yang sangat mendalam
yang selalu diucapkan pula oleh segenap rumput kepada tanah

tentu kenangan tentang kesejukan bukan
yang selalu melapangkan jalan menuju ke rumah
rumah kayu yang telah melewati batas usia banyak manusia

bagiku segenap kematian terasa melegakan
sebagaimana pula kelopakkelopak bunga yang tanggal
satu demi satu melepas beban menggugurkan anganangan

direngkuh bumi basah, ibu dari segenap makhluk dan tetumbuhan
dilupakan banyak orang, namun justeru menentramkan

wanamukti, oktober 2008



MEYAKINI KEMUSTAHILAN

dapatkah kau bayangkan jika unsurunsur alam menjadi tak karuan :
api tibatiba mencair sedingin air di kutub utara
mendadak angin menjadi sekeras cadas diam tak kemanamana
air telah mencerai gravitasi bumi, yang lainya tak sempat terpikirkan lagi

seorang temanku bilang : ah bagaimana mungkin, kawan

ketika seorang pecinta telah menemukan kecintaannya :
seperti rerumputan kepada tanahtanah basah
serupa para pengembara kepada jalan menuju pulang
lalu dapatkah kau bayangkan andai ia berpaling darinya

seorang temanku tadi menukas : seperti unsur alam yang tak karuan

jadi jangan paksa aku menengkarmu, sayang :
kerna engkau adalah tanah tempat berpijak rerumputan
engkau ialah jalan pulang yang bertahun dicari para pengembara
berpaling darimu lebih dari sekedar tak biasa, kini aku sudah tak bisa

wanamukti 2008



DI MANA ENGKAU, SAYANG

bintangbintang telah menemukan singgasananya
di langit raya, mereka masih saja rela berbagi tempat dan bertukar sapa
pertunjukanpertunjukan itu sungguh sangat mempesona

aku menikmatinya
di teramat dulu, barangkali saat udara masih belum terdapat banyak noda

lalu di mana engkau kini, sayang

maaf, jika kemarau terakhir telah membuat mu berpikir
lalu merasa telah dapat menterjemahkan matahari sebagai musuh tangguh yang mesti dibunuh

wanamukti ‘2008



KAPAN SEGALANYA TERSAPIH

air yang mengalir di alur sungai, benarkah memang menuju ke muara yang selalu kau sebutsebut sebagai gerbang, menuju ke sebuah dunia yang luasnya tak terkira dimana tak ada yang menempatinya selain engkau saja

jika kemudian ada yang tercipta sebagai air
siapa kira ia pernah menginginkan keberadaan diri terukir

di segenap senyum mu untuk semesta
tak ada memang jejak cela yang terindera

tidakkah kau tahu aku masih tertatihtatih
berupaya memandang penuh kepada mu tak peduli mata terasa pedih

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae