http://www.sastra-indonesia.com/
MELEWATI PAGI MENGEJAR SIANG
selain pekatnya hitam
tak ada lagi yang dapat dilihat
bahkan luka menganga
yang orang bilang pedih dan bising itu
di sini di negeri tanpa pagi
nyaris semua indera tak berfungsi
mungkin masih menyisakan satu mata
tapi sudah terlalu lama lupa tempatnya
dan celakanya
ini bukan bagian paling menyedihkan
kerna duatiga tahun terakhir
kau aku belum sekalipun membunuh
berbagai jenis kegelapan
yang tumbuh subur membelukar
melenyapkan bayangbayang
bukti keberadaan yang makin samar
satu demi satu melayang
kepada waktu mesti bersulang
kita di atas kuda pacuan
13.02.2011
KE PUKUL 00:00
pada tiap pergantian gerbang
kalbu menjelma mantra
menjadi rajah pembuka pintu
huruf purba bergetar di lapang dada
menjanjikan rumah yang nyaman
bagi jiwa yang butuh betah
bermukim dalam tabah
sepanjang bentang berkelokan
tanpa marka pemisah
melintas di jalan satu arah
diam bersimpuh menempuh tujuan
tak ada lagi yang tengadah
sebab tangan menggenggam pisau
memotong sejarak risau
dari yang telah ditentukan
sudah terlalu banyak detik terbuang
biarlah waktu geming sejenak
atau tepat saatnya sekali detak
meski kemudian kedua kaki lelah
arah tak akan berubah
jarum kompas telah patah
10.02.2011
TAK TERASA PUTUS ASA
selagi masih rasa
yang dipercaya
tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai
kehendak terperas dari keinginan
yang tiris dari nafsu
tak pernah selaras pada yang satu
kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras
hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan
tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah
begitu nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan
inilah nikmat akal yang diulangulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau
seperti kepada mainan baru
membuatmu berlamalama
tak ke manamana
hingga lupa waktu
tak menemukan pintu
asyik terkunci
09.02.2011
RIUH PENYAMBUTAN
yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca
hanya terasa
kian pupur pada wajah
udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut
geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang
lantai memucat
kian lapang pada ruang
deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri
pada detak berbagi sunyi
saling mengunci
05.02.2011
TERIMA KASIH
sesiang ini
aku sibuk menghafalkan wajahwajah
yang dulu pernah kutemui
saat gunung yang kulukis masih berwarna biru
belum tercampur warnawarna lain
kenangan demi kenangan terus berkelebatan
sementara aku masih sibuk menghafalkan
memukimkan satu persatu semua yang pernah hadir
meski beberapa sekedar mampir
pada ingatan sebelum semuanya kusatukan
lalu kuucapkan dua buah kata
atas apapun yang pernah datang kepada mata
kepada mulut kepada telinga
kepada semua yang terindera oleh tubuh
dan jiwa yang menua
betapapun mulut ini masih lebih banyak bicara
ketimbang mengunyah garam
duka suka sama saja
03.02.2011
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Yunianto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kurniawan Yunianto. Tampilkan semua postingan
Selasa, 21 Juni 2011
Senin, 13 September 2010
Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto
http://www.sastra-indonesia.com/
PERTUNJUKAN KE SEKIAN
panggung adalah lautan
kilau lokan nyala ikan
suara ombak telan menelan
ada yang berhasil sampai ke dasar
meski berperan sebagai perahu
tapi bukannya karam
angin dengan kristal garam
mengajak orang tepuk tangan
heii kaukah itu sayang
duduk di deret kursi paling depan
melambaikan tangan kepadaku
yang mabuk sendirian
sebotol arak masih tergenggam
saat nyanyian air beraroma karang
meninggalkan ruang
lampulampu akhirnya padam
aku masih di sini
sibuk menangkar segala kegilaan
09.06.2010
MELEWATI KUTUB
tak hanya engkau yang merasa lega
aku seperti turut meluncur keluar dari mata
setelah sekian lama terperangkap dalam kacakaca
biarlah bayang kita saling meninggalkan
punyamu ke utara punyaku ke selatan
setelah melewati kutub pasti kembali bertemu bukan
di sini di ruang tanpa pintu tanpa jendela
meski telah berabadabad di dalamnya
kita tak lagi butuh waktu untuk menunggu
kerna jantungku sejarak detak dengan dadamu
08.06.2010
MENJELMA APA SAJA
bagaimana mungkin merindu
jika kau telah menjelma zat asam
terhirup di tiap nafas yang satu satu
jika bertemu adalah sebuah keinginan
maka persetan dengan rindu
kerna aku tidak ingin bernafas
seperti halnya saat buang kotoran
tak perlu diinginkan bukan.
MEMBUNUH
sudah berulang kali kau membunuhku tapi seperti yang sudahsudah aku kembali menyapamu
membuatmu terdiam sebelum kemudian menyeringai saat kau lihat aku memasuki jantungmu
dan dari dalam aku hanya tersenyum saat ujung belati hanya berjarak sesenti dengan dada kiri
sepertinya kau telah paham dan ngerti bagaimana membuatku benarbenar mati kali ini
meski setelahnya aku yakin kau yang akan lebih dulu tersenyum menyapaku
02.06.2010
TAHUN KE EMPAT PULUH
beku dan dingin
entah butuh berapa musim
untuk dapat mencair mengalir ke muara
ke pertemuan milyaran noktah
airmatakah yang ingin terasa payau di lidah
saat nyaris segala yang tumpah
tak lagi pada rumah
halamanmu tibatiba menjelma hutan belantara
betapapun pintu telah terbuka
tapi arah entah ke mana
inilah tahun ke empatpuluh
masih terbatabata mengeja usia
pada lipatan lemak yang mulai memadat
sebagaimana pula sebuah isyarat
bagi nafas yang kian berkarat
yang tiap helanya setapak mendekat
menuju kematian
02.06.2010
PERTUNJUKAN KE SEKIAN
panggung adalah lautan
kilau lokan nyala ikan
suara ombak telan menelan
ada yang berhasil sampai ke dasar
meski berperan sebagai perahu
tapi bukannya karam
angin dengan kristal garam
mengajak orang tepuk tangan
heii kaukah itu sayang
duduk di deret kursi paling depan
melambaikan tangan kepadaku
yang mabuk sendirian
sebotol arak masih tergenggam
saat nyanyian air beraroma karang
meninggalkan ruang
lampulampu akhirnya padam
aku masih di sini
sibuk menangkar segala kegilaan
09.06.2010
MELEWATI KUTUB
tak hanya engkau yang merasa lega
aku seperti turut meluncur keluar dari mata
setelah sekian lama terperangkap dalam kacakaca
biarlah bayang kita saling meninggalkan
punyamu ke utara punyaku ke selatan
setelah melewati kutub pasti kembali bertemu bukan
di sini di ruang tanpa pintu tanpa jendela
meski telah berabadabad di dalamnya
kita tak lagi butuh waktu untuk menunggu
kerna jantungku sejarak detak dengan dadamu
08.06.2010
MENJELMA APA SAJA
bagaimana mungkin merindu
jika kau telah menjelma zat asam
terhirup di tiap nafas yang satu satu
jika bertemu adalah sebuah keinginan
maka persetan dengan rindu
kerna aku tidak ingin bernafas
seperti halnya saat buang kotoran
tak perlu diinginkan bukan.
MEMBUNUH
sudah berulang kali kau membunuhku tapi seperti yang sudahsudah aku kembali menyapamu
membuatmu terdiam sebelum kemudian menyeringai saat kau lihat aku memasuki jantungmu
dan dari dalam aku hanya tersenyum saat ujung belati hanya berjarak sesenti dengan dada kiri
sepertinya kau telah paham dan ngerti bagaimana membuatku benarbenar mati kali ini
meski setelahnya aku yakin kau yang akan lebih dulu tersenyum menyapaku
02.06.2010
TAHUN KE EMPAT PULUH
beku dan dingin
entah butuh berapa musim
untuk dapat mencair mengalir ke muara
ke pertemuan milyaran noktah
airmatakah yang ingin terasa payau di lidah
saat nyaris segala yang tumpah
tak lagi pada rumah
halamanmu tibatiba menjelma hutan belantara
betapapun pintu telah terbuka
tapi arah entah ke mana
inilah tahun ke empatpuluh
masih terbatabata mengeja usia
pada lipatan lemak yang mulai memadat
sebagaimana pula sebuah isyarat
bagi nafas yang kian berkarat
yang tiap helanya setapak mendekat
menuju kematian
02.06.2010
Jumat, 13 Maret 2009
Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto
http://www.kompas.com/
PUNCAK BERKABUT
bukankah masih terlampau jauh
meski barat telah ku tempuh
mestinya punya dua sayap dan empat kaki
seperti kuda sembrani
tapi segenap bekal telah tanggal
tampaknya hanya perjalanan ini saja yang kekal
selain mati, yang tak jua datang menghampiri
kini apalagi yang mesti dinanti
puncakpuncak mengerucut
kabur dalam pandang di pekatkabut
TERTIPU TAK TERASA
… tak perlu lagi sumpah serapah … pun segala pujian yang membuncah …. segalanya mesti ditempatkan pada tempatnya ……. kini, aku sedang belajar menakar kehidupan …….. dengan otak yang memang kubuat bebal …….. lalu jika pada akhirnya semuakata membunuhku … biar saja …. aku menerimanya …… kerna selama ini ….. mereka telah kugunakan seenaknya … tanpa timbal balik yang layak ……. apalagi syukur … seucap terimakasih untuk mereka pun …. tak pernah terpikirkan …….. maka inilah saatnya …. saat bikin perhitungan kepada yang telah banyak berhutang …………... jangan jual mahal pasar akan segera kembali normal ..…………… bermain air basah bermain api hangus …… mempermainkan katakata …… Tertipu yang tak pernah Terasa …… lalu… bunuh diri saja …. agar mereka tak repot lagi … menyeret pedang menebasmu
KEPADA KEMATIAN
kepada pepohonan di pinggir jalanan menuju rumah
kau ucapkan rasa terimakasih yang sangat mendalam
yang selalu diucapkan pula oleh segenap rumput kepada tanah
tentu kenangan tentang kesejukan bukan
yang selalu melapangkan jalan menuju ke rumah
rumah kayu yang telah melewati batas usia banyak manusia
bagiku segenap kematian terasa melegakan
sebagaimana pula kelopakkelopak bunga yang tanggal
satu demi satu melepas beban menggugurkan anganangan
direngkuh bumi basah, ibu dari segenap makhluk dan tetumbuhan
dilupakan banyak orang, namun justeru menentramkan
wanamukti, oktober 2008
MEYAKINI KEMUSTAHILAN
dapatkah kau bayangkan jika unsurunsur alam menjadi tak karuan :
api tibatiba mencair sedingin air di kutub utara
mendadak angin menjadi sekeras cadas diam tak kemanamana
air telah mencerai gravitasi bumi, yang lainya tak sempat terpikirkan lagi
seorang temanku bilang : ah bagaimana mungkin, kawan
ketika seorang pecinta telah menemukan kecintaannya :
seperti rerumputan kepada tanahtanah basah
serupa para pengembara kepada jalan menuju pulang
lalu dapatkah kau bayangkan andai ia berpaling darinya
seorang temanku tadi menukas : seperti unsur alam yang tak karuan
jadi jangan paksa aku menengkarmu, sayang :
kerna engkau adalah tanah tempat berpijak rerumputan
engkau ialah jalan pulang yang bertahun dicari para pengembara
berpaling darimu lebih dari sekedar tak biasa, kini aku sudah tak bisa
wanamukti 2008
DI MANA ENGKAU, SAYANG
bintangbintang telah menemukan singgasananya
di langit raya, mereka masih saja rela berbagi tempat dan bertukar sapa
pertunjukanpertunjukan itu sungguh sangat mempesona
aku menikmatinya
di teramat dulu, barangkali saat udara masih belum terdapat banyak noda
lalu di mana engkau kini, sayang
maaf, jika kemarau terakhir telah membuat mu berpikir
lalu merasa telah dapat menterjemahkan matahari sebagai musuh tangguh yang mesti dibunuh
wanamukti ‘2008
KAPAN SEGALANYA TERSAPIH
air yang mengalir di alur sungai, benarkah memang menuju ke muara yang selalu kau sebutsebut sebagai gerbang, menuju ke sebuah dunia yang luasnya tak terkira dimana tak ada yang menempatinya selain engkau saja
jika kemudian ada yang tercipta sebagai air
siapa kira ia pernah menginginkan keberadaan diri terukir
di segenap senyum mu untuk semesta
tak ada memang jejak cela yang terindera
tidakkah kau tahu aku masih tertatihtatih
berupaya memandang penuh kepada mu tak peduli mata terasa pedih
PUNCAK BERKABUT
bukankah masih terlampau jauh
meski barat telah ku tempuh
mestinya punya dua sayap dan empat kaki
seperti kuda sembrani
tapi segenap bekal telah tanggal
tampaknya hanya perjalanan ini saja yang kekal
selain mati, yang tak jua datang menghampiri
kini apalagi yang mesti dinanti
puncakpuncak mengerucut
kabur dalam pandang di pekatkabut
TERTIPU TAK TERASA
… tak perlu lagi sumpah serapah … pun segala pujian yang membuncah …. segalanya mesti ditempatkan pada tempatnya ……. kini, aku sedang belajar menakar kehidupan …….. dengan otak yang memang kubuat bebal …….. lalu jika pada akhirnya semuakata membunuhku … biar saja …. aku menerimanya …… kerna selama ini ….. mereka telah kugunakan seenaknya … tanpa timbal balik yang layak ……. apalagi syukur … seucap terimakasih untuk mereka pun …. tak pernah terpikirkan …….. maka inilah saatnya …. saat bikin perhitungan kepada yang telah banyak berhutang …………... jangan jual mahal pasar akan segera kembali normal ..…………… bermain air basah bermain api hangus …… mempermainkan katakata …… Tertipu yang tak pernah Terasa …… lalu… bunuh diri saja …. agar mereka tak repot lagi … menyeret pedang menebasmu
KEPADA KEMATIAN
kepada pepohonan di pinggir jalanan menuju rumah
kau ucapkan rasa terimakasih yang sangat mendalam
yang selalu diucapkan pula oleh segenap rumput kepada tanah
tentu kenangan tentang kesejukan bukan
yang selalu melapangkan jalan menuju ke rumah
rumah kayu yang telah melewati batas usia banyak manusia
bagiku segenap kematian terasa melegakan
sebagaimana pula kelopakkelopak bunga yang tanggal
satu demi satu melepas beban menggugurkan anganangan
direngkuh bumi basah, ibu dari segenap makhluk dan tetumbuhan
dilupakan banyak orang, namun justeru menentramkan
wanamukti, oktober 2008
MEYAKINI KEMUSTAHILAN
dapatkah kau bayangkan jika unsurunsur alam menjadi tak karuan :
api tibatiba mencair sedingin air di kutub utara
mendadak angin menjadi sekeras cadas diam tak kemanamana
air telah mencerai gravitasi bumi, yang lainya tak sempat terpikirkan lagi
seorang temanku bilang : ah bagaimana mungkin, kawan
ketika seorang pecinta telah menemukan kecintaannya :
seperti rerumputan kepada tanahtanah basah
serupa para pengembara kepada jalan menuju pulang
lalu dapatkah kau bayangkan andai ia berpaling darinya
seorang temanku tadi menukas : seperti unsur alam yang tak karuan
jadi jangan paksa aku menengkarmu, sayang :
kerna engkau adalah tanah tempat berpijak rerumputan
engkau ialah jalan pulang yang bertahun dicari para pengembara
berpaling darimu lebih dari sekedar tak biasa, kini aku sudah tak bisa
wanamukti 2008
DI MANA ENGKAU, SAYANG
bintangbintang telah menemukan singgasananya
di langit raya, mereka masih saja rela berbagi tempat dan bertukar sapa
pertunjukanpertunjukan itu sungguh sangat mempesona
aku menikmatinya
di teramat dulu, barangkali saat udara masih belum terdapat banyak noda
lalu di mana engkau kini, sayang
maaf, jika kemarau terakhir telah membuat mu berpikir
lalu merasa telah dapat menterjemahkan matahari sebagai musuh tangguh yang mesti dibunuh
wanamukti ‘2008
KAPAN SEGALANYA TERSAPIH
air yang mengalir di alur sungai, benarkah memang menuju ke muara yang selalu kau sebutsebut sebagai gerbang, menuju ke sebuah dunia yang luasnya tak terkira dimana tak ada yang menempatinya selain engkau saja
jika kemudian ada yang tercipta sebagai air
siapa kira ia pernah menginginkan keberadaan diri terukir
di segenap senyum mu untuk semesta
tak ada memang jejak cela yang terindera
tidakkah kau tahu aku masih tertatihtatih
berupaya memandang penuh kepada mu tak peduli mata terasa pedih
Langganan:
Postingan (Atom)
A. Mustofa Bisri
A'yat Khalili
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Wachid B.S.
Abi N. Bayan
Abidah El Khalieqy
Acep Syahril
Acep Zamzam Noor
Adi Toha
Adrian Balu
AF Denar Daniar
Afrizal Malna
Agus Manaji
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Maltuf Syamsury
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Ala Roa
Aldika Restu Pramuli
Alfatihatus Sholihatunnisa
Alfiyan Harfi
Ali Makhmud
Ali Subhan
Amelia Rachman
Amie Williams
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Andry Deblenk
Anggie Melianna
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Aprinus Salam
Ariandalu S
Arieyoko Ksmb
Arya Winanda
As Adi Muhammad
Asep Sambodja
Atrap S. Munir
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Badaruddin Amir
Bakdi Sumanto
Bambang Darto
Bambang Kempling
Bambang Widiatmoko
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Bernando J. Sudjibto
Bernard S. Y. Batubara
Binhad Nurrohmat
Budhi Setyawan
Budi Palopo
Bustan Basir Maras
Chairul Abhsar
Chavchay Saifullah
Cut Nanda A.
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Afriady
Dadang Ari Murtono
Daisy Priyanti
Daysi Priyanti
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dedy Tri Riyadi
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Desti Fatin Fauziyyah
Dewi Kartika
Dharmadi
Diah Budiana
Diah Hadaning
Dian Hartati
Didik Komaidi
Dimas Arika Mihardja
Djoko Saryono
Dody Kristianto
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Edy Lyrisacra
Effendi Danata
Eimond Esya
Eka Budianta
Eko Hendri Saiful
Eko Nuryono
El Sahra Mahendra
Ellie R. Noer
Elly Trisnawati
Emha Ainun Nadjib
Endang Supriadi
Endang Susanti Rustamadji
Eny Rose
Eppril Wulaningtyas R
Esha Tegar Putra
Esti Nuryani Kasam
Etik Widya
Evi Idawati
Evi Melyati
Evi Sefiani
Evi Sukaesih
Fadhila Ramadhona
Fahmi Faqih
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Fikri MS
Fina Sato
Firman Wally
Fitrah Anugerah
Frischa Aswarini
Gampang Prawoto
Ghaffur Al-Faqqih
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gunoto Saparie
Gus tf Sakai
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hari Leo
Haris del Hakim
Hasan Al Banna
Hasan Aspahani
Hasta Indriyana
Helga Worotitjan
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Maja Kelana
Herlinatiens
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Ibnu Wahyudi
Ikarisma Kusmalina
Ike Ayuwandari
Ilenk Rembulan
Imam S Arizal
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santoso
Imron Tohari
Indah Darmastuti
Indiar Manggara
Indra Tjahyadi
Indrian Koto
Isbedy Stiawan ZS
Iwan Gunadi
Javed Paul Syatha
Jibna Sudiryo
Johan Khoirul Zaman
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Saputro
Jufri Zaituna
Jusuf AN
Kadek Wara Urwasi
Kadjie Bitheng MM
Kartika Kusworatri
Kedung Darma Romansha
Kika Syafii
Kirana Kejora
Kirdjomuljo
Kurnia Effendi
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Yunianto
Kusprihyanto Namma
Kuswaidi Syafi’ie
L.K. Ara
Lailatul Muniroh
Landung Rusyanto Simatupang
Lela Siti Nurlaila
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Linus Suryadi AG
Liza Wahyuninto
Lubis Grafura
Lutfi Mardiansyah
M. Badrus Alwi
M. Faizi
Maghfur Munif
Maghie Oktavia
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maman S. Mahayana
Maqhia Nisima
Marcellus Nur Basah
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marwanto
Mas Marco Kartodikromo
Mashuri
Mathori A. Elwa
Matroni el-Moezany
Maya Mustika K.
Mega Vristian
Miftahul Abrori
Mohammad Yamin
Muhammad Ali Fakih
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muntamah Cendani
Mustiar AR
Mustofa W Hasyim
Mutia Sukma
Nadjib Kartapati Z
Nanang Suryadi
Nezar Patria
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Noor Sam
Nunung S. Sutrisno
Nur Iswantara
Nur Lodzi Hady
Nur Wahida Idris
Nurel Javissyarqi
Nurul Komariyah
Nyoman Tusthi Eddy
Nyoman Wirata
Pariyo Adi
Pringadi AS
Pringgo HR
Puisi-Puisi Indonesia
Purwadmadi Admadipurwa
Puspita Rose
Putri Sarinande
R. Toto Sugiharto
Rachmat Djoko Pradopo
Raedu Basha
Ragil Suwarno Pragolapati
Rakai Lukman
Rama Prabu
Ramadhan KH
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Ribut Wijoto
Rikard Diku
Robin Al Kautsar
Rozi Kembara
Rudi Hartono
Rusydi Zamzami
S Yoga
Sahaya Santayana
Saiful Bakri
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Selendang Sulaiman
Seli Desmiarti
Sigit Sugito
Sihar Ramses Simatupang
Siska Afriani
Sitok Srengenge
Sitor Situmorang
Slamet Rahardjo Rais
Slamet Widodo
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Harjanto Sahid
Sri Jayantini
Sri Setya Rahayu
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sumargono SN
Suminto A. Sayuti
Sunardi KS
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Sutirman Eka Ardhana
Syifa Aulia
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Triaton
Tengsoe Tjahjono
Tharie Rietha
Thowaf Zuharon
Timur Sinar Suprabana
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Ulfatin Ch
Umbu landu Paranggi
Unieq Awien
Usman Arrumy
W. Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Hidayat
Wahyu Subuh
Warih Wisatsana
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Widi Astuti
Wiji Thukul
Winarni R.
Y. Wibowo
Yonathan Rahardjo
Yosi M Giri
Yudhi Herwibowo
Yudhiono Aprianto
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Yuswan Taufiq
Yuswinardi
Zaenal Faudin
Zainal Arifin Thoha
Zamroni Allief Billah
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae