balipost.co.id
Sunlie Thomas Alexander
: komang ira
di luar jendela, masihlah anak-anak
menangkap bayang
menunggu peri peri manis
yang bertandang
dengan coklat atau boneka menawan
maka tak perlu risau mimpimu;
menari di bintang
walau mungkin hanya sedikit
yang bakal bertahan takjub
pada keajaiban
dan menyapamu
dengan bahasa paling rahasia
bukankah dunia ini tercipta dari impian
setelah kakek lelah berkisah?
tak usah sangsi menghitung larik hujan,
lingkaran halo bakal tumbuh terang
di atas ubun ubunmu
dan anjing anjing lucu yang berkepak
setiap menjaga masa depan
meski sesekali waktu:
dunia ini dipenuhi carut marut
juga kepastian, juga kejemuan
percayalah,
sayap sayap yang putih
akan terus melebar,
melebar hingga tak terbayang!
di punggung mereka
yang merindukan ketakjuban…
_______________
*) Sunlie Thomas Alexander memiliki nama lahir Tang Shunli, (lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, 7 Juni 1977), sastrawan berkebangsaan Indonesia keturunan Tionghoa. Ia dikenal melalui karya-karyanya berupa cerpen, puisi, esai, kritik sastra, catatan sepak bola, dan ulasan seni yang dipublikasikan di berbagai surat kabar serta jurnal yang terbit di Indonesia dan di luar negeri: Kompas, Jawa Pos, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison, Suara Merdeka, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Poetika, Kedaulatan Rakyat, DetikSport, Jurnal Ruang, Gong, Lampung Post, Bangka Pos, Hai, Nova, Hakka Monthly, dll. Tahun 2016, menerima beasiswa residensi penulis di Taiwan dari Menteri Kebudayaan Republik China Taiwan, dan tahun 2018 menerima beasiswa residensi ke Belanda dari Komite Buku Nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.