http://www.sastra-indonesia.com/
Bahtera
bahtera mengapung di permukaan
air mata yang membawanya pergi
seperti burungburung terbang menuju hilir
bahtera kubangun sekuat tenaga
bercampur air mata rasa gelisah
kujelaskan pada mereka
penghuni setiap tingkap
bangunan ini hanya sebuah kegalauan
dan bahtera tetap berkelana
mencari tempat aman di atas kefanaan
bahteraku penuh keluh
selalu diurai kisah masa lalu
siapa penghuni berikutnya
ada firasat tak baik di hati
ragaku adalah bahtera
yang haus kisahkisah baru
di lambungnya terdapat karat
sebab menanti hujan reda
adalah sesuatu yang tak terjangkau
kayukayu berpatahan
koyak dimakan waktu
galau menuju kehampaan
siapa penghuni berikutnya
tak mengawali permulaan dengan kebohongan
nomornomor palsu
katakata hanya berlesatan
air mataku menderas
menggoyahkan samudera
tubuhku rapuh dimakan lumutlumut
kupercayakan alur air yang membawaku
gelombang membuai buritan
tiangtiang mencapai langit
berusaha mensucikan hati
aku dan tubuhku diintai waktu
siapa penghuni berikutnya
dapatkah kujelaskan pada mereka
tempat berlabuh yang aman
tetap tubuhku
SudutBumi, Maret 2008
Pentagon Suatu Malam
mengapa hujan selalu datang tanpa dimengerti
ketika kabut menyusup di bingkaibingkai tanpa terali besi
ruang dipenuhi nadanada
langkah mengiringi setiap nasib puisi
siapa berani menghardik untai kata
yang menempel di papanpapan hijau
mengerti gundah hati
pelataran tanpa cahaya
loronglorong bisu bermakna
resapilah bahwa tanggatangga yang memanjang itu
milik sementara waktu
kau akan beranjak meninggalkan semua kenangan
riuh puisipuisi dibacakan
lagulagu didendangkan
ketahuilah waktumu tak banyak
sekadar mengantar kepulangan
bangunan ini akan koyak
dimakan zaman bernama kenangan
SudutBumi, Desember 2006
Kau tak Melihat Kupukupu di Leherku
siang itu kuberikan leherku
agar kau melihat
sayapsayap mengepak
SudutBumi, 2006
Biar Kusimpan Kenangan Sendiri
~ ba
semenjak lagu itu kau putar
aku mulai tahu
musim tengah berguguran di hatiku
mewartakan setiap gelagat cuaca
dan aku merasakan semilir yang berbeda
dari gerak tubuhmu
jika saja
kita dapat menyimpan setiap kenangan
mungkin kau tak akan
singgah di cakrawala yang lain
biarlah,
kudengarkan senandung ini sendiri
di antara bias hari
kutetapkan hati
untuk bertamu sekali waktu
ketika daundaun
merajut zat hijaunya
ketika kau menghentikan putaran gramofon
di musim yang lain
SudutBumi, 17 Desember 2007
*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.
Wahyaning wahyu tumelung, tulus tan kena tinegor (wirid hidayat jati, R.Ng. Ronggowarsito)
Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan
Rabu, 24 Maret 2010
Rabu, 30 Desember 2009
Puisi-Puisi Dian Hartati
http://jurnalnasional.com/
Pelataran Kawah Putih
memasuki wilayahmu
ada hampar pasir jadi gerbang
anakanak angin membangunkan segala ruh
rantingranting membatu
cahaya kehijauan mencipta langit teduh
aku datang membawa raga
dari tangkuban parahu
menyampaikan salam junghuhn
untuk kau yang merajai patuha
eyang jaga satru, aku mendengar laskar yang kau pimpin
suarasuara itu menyadarkan aku
betapa alam begitu ambigu
aku hirup belerang
bau cadas yang siap menyerang setiap ingatan
tanahtanah mengering, batubatu memenjarakan jarak
mengitarimu,
aku mendapati aroma memikat
jalan setapak
hangat udara
juga cakrawala yang tak pernah senja
kau yang menguasai kawahkawah
asapasap pengintai usia
juga suara domba putih, domba lukutan
eyang jaga satru, inikah kerajaanmu
yang setiap hari didatangi peziarah
dari kotakota berlainan
SudutBumi, 2009
Menyulam Sisa Hujan
di teras rumahku ada payung,
sisa hujan sore tadi
kuperhatikan
: masih tersisa jejak kakimu yang basah
sisa kunjungan yang tak usai
SudutBumi, 2009
Jalan Air
aku menelusuri jalan air
menginjakkan kaki di antara deru; lalu lalang tak henti
hujan terus saja menemani perjalanan pulang
menjauhi riuh hari juga senyum bertemu
waktu panjang untuk kamis yang manis
tualang di sebuah kotak
: bernama kantor
air begitu mahir memilin lajur
menggenangi jejak pejalan juga petak sawah yang siap panen
kakiku terus melangkah
bergegas
menyibak jalanan yang mulai digenangi air
khawatir panen gagal esok hari
SudutBumi, 2009
Terkadang, Kita Lupa
dengan Masa Lalu
tanah
dari yang dilahirkan
bernama sihir
selalu mengalir
menempa segala
dari yang terurai
bertumbuhan sesak
kenangan
jalanan
tenggelamlah
temukan setiap akar
ingatan
ketika gerak
menepiskan waktu
lunaslah semua
dan tawa itu
jadi sebuah reklame
mahal
kawan
sebuah dilatasi
disekat
digiring ruang waktu
lagi dan lagi
disempurnakan
tawa
SudutBumi, 2009
buat kawan: ria novitasari
Perempuan di Tepi Jendela
[1]
sejak kapan
perempuan jadi perona
membuat warna hati berlainan
kau merangkum seluruh kisah
jadi segenggam rindu
lalu kau bawa pergi
berlari ke laut
menyisir setiap bayang matahari
[2]
sampai hari ini, kau tetap membeku
jadi kawanan gerimis
yang tajam
tak mau diam
berseliweran
bersama angin yang tetap bersetia
bukankah ia lelaki?
ahhh kau, tetap membatu
[3]
“apa yang hendak kau lukis sekarang?”
warna pelangi atau rimbun hijau hatimu
SudutBumi, 2009
buat kawan, risma dewi
Dalam Sebuah Kartu Nama
di sebuah mal, kau bersama anak dan istri
hatihati aku melewatimu
memperhatikan senyum rekah di wajah tua
ada banyak bangunan di sana
geliat mimpi masih jelas kubaca
kau terus mendirikan tonggak
tak henti membuka pintu
memberikan ucapan selamat
bagi pendatang sepertiku
bukan hanya gedunggedung tinggi bertumbuhan
kau membentuk setiap senja bersama warna kamboja
di sebuah cafe, aku dan kamu bermanja
lupakanlah kantor, ucapmu ketika aku menolak sebuah tatapan
berjalanlah agak santai
agar malam lebih terasa ramainya
dan tak akan ada lagi yang merasa dingin
sebab kepala sudah dipenuhi angan
dan telapak tangan sudah ditafsirkan
genggamlah
maka tak akan ada yang berani mematikan
alun musik itu
di sebuah pertemuan, siapapun tak akan tahu
siapa pernah menjalin siapa
mobil, ponsel, buku, rumah, garasi, mawar,
cokelat, cerpen, tongseng, jakarta, kereta, taksi
siapa yang dapat membendung kata
keinginan kepergian
seluruhnya telah disepakati
aku dan kamu
dalam perjamuan siang yang tak istimewa
hanya menghadirkan fatamorgana senja
serupa kamboja
SudutBumi, 2009
buat kawan perjalanan kusnandar
Nama Calon Anakku
saraswati tirta arum, misalkan kau anak pertama
genaplah aku sebagai perempuan
menyusur mata air
berjalan di bawah pohon amarta
dan kukemas segala haru
kutumpahkan pada dada limbung bahagia
ai, tumbuhlah mengikuti aliran
yang dicecapkan ubunubun
sastra bayu laksana, jika kau hadir pertama
penyempurna doa bagi hari penantian
kisah yang mengakas
bagi lelaki di tepi rindu
selalu kejutkan rahim milik ibu
as, melarunglah
sejauh masa lalu sekuat angin
saraswati banyu arum, laksmi banyu arum
jika bumi membelah ganda
sastra bayu pratama, sastra lindu pratama
menawarkan rekah bunga pada musim penghujan
kemaslah hari dan berlarilah bersamaku
SudutBumi, 2009
Mengasah Pisau
[ruang makan]
pandai benar kau mengiris roti
menuangkan selai ke permukaannya
memadupadankan tepung dan cerita
dalam ruang kecil
bersekat ganda
[halaman belakang]
di dekat pintu
kau menyiapkan batu asah, air, juga secuil cerita
sambil menggosokkan besi dan batu
kau terus mencerocos
perihal politik yang hampir basi
dan tentang uang sekolah yang tak lagi ada jaminan
pandanganmu terus saja menggamit mata pisau
sesekali kau mencobanya
membelah kentang dengan tegas
[dapur]
di dalam tungku segalanya matang
rumah tangga kian menua
rumput di depan rumah semakin pudar warnanya
pisau dan batu tak bosan meracik rasa
bernama cinta
SudutBumi, 2009
Kemarau Tiba,
Kulitku Robek Karenanya
dingin mencatat di pagi lunta
berapa lagi selimut harus dipesan
agar mimpi tak jadi usang
datang juga kemarau
memerahkan kulit
menjadikan gatagatal
seumpama kata
tak mau diam
terus saja mengumpat
seolah tanah rekah
retak di sanasini
tak menghasilkan apapun
hanya angin
mencoba merapatkan kenangan
SudutBumi, 2009
Pelataran Kawah Putih
memasuki wilayahmu
ada hampar pasir jadi gerbang
anakanak angin membangunkan segala ruh
rantingranting membatu
cahaya kehijauan mencipta langit teduh
aku datang membawa raga
dari tangkuban parahu
menyampaikan salam junghuhn
untuk kau yang merajai patuha
eyang jaga satru, aku mendengar laskar yang kau pimpin
suarasuara itu menyadarkan aku
betapa alam begitu ambigu
aku hirup belerang
bau cadas yang siap menyerang setiap ingatan
tanahtanah mengering, batubatu memenjarakan jarak
mengitarimu,
aku mendapati aroma memikat
jalan setapak
hangat udara
juga cakrawala yang tak pernah senja
kau yang menguasai kawahkawah
asapasap pengintai usia
juga suara domba putih, domba lukutan
eyang jaga satru, inikah kerajaanmu
yang setiap hari didatangi peziarah
dari kotakota berlainan
SudutBumi, 2009
Menyulam Sisa Hujan
di teras rumahku ada payung,
sisa hujan sore tadi
kuperhatikan
: masih tersisa jejak kakimu yang basah
sisa kunjungan yang tak usai
SudutBumi, 2009
Jalan Air
aku menelusuri jalan air
menginjakkan kaki di antara deru; lalu lalang tak henti
hujan terus saja menemani perjalanan pulang
menjauhi riuh hari juga senyum bertemu
waktu panjang untuk kamis yang manis
tualang di sebuah kotak
: bernama kantor
air begitu mahir memilin lajur
menggenangi jejak pejalan juga petak sawah yang siap panen
kakiku terus melangkah
bergegas
menyibak jalanan yang mulai digenangi air
khawatir panen gagal esok hari
SudutBumi, 2009
Terkadang, Kita Lupa
dengan Masa Lalu
tanah
dari yang dilahirkan
bernama sihir
selalu mengalir
menempa segala
dari yang terurai
bertumbuhan sesak
kenangan
jalanan
tenggelamlah
temukan setiap akar
ingatan
ketika gerak
menepiskan waktu
lunaslah semua
dan tawa itu
jadi sebuah reklame
mahal
kawan
sebuah dilatasi
disekat
digiring ruang waktu
lagi dan lagi
disempurnakan
tawa
SudutBumi, 2009
buat kawan: ria novitasari
Perempuan di Tepi Jendela
[1]
sejak kapan
perempuan jadi perona
membuat warna hati berlainan
kau merangkum seluruh kisah
jadi segenggam rindu
lalu kau bawa pergi
berlari ke laut
menyisir setiap bayang matahari
[2]
sampai hari ini, kau tetap membeku
jadi kawanan gerimis
yang tajam
tak mau diam
berseliweran
bersama angin yang tetap bersetia
bukankah ia lelaki?
ahhh kau, tetap membatu
[3]
“apa yang hendak kau lukis sekarang?”
warna pelangi atau rimbun hijau hatimu
SudutBumi, 2009
buat kawan, risma dewi
Dalam Sebuah Kartu Nama
di sebuah mal, kau bersama anak dan istri
hatihati aku melewatimu
memperhatikan senyum rekah di wajah tua
ada banyak bangunan di sana
geliat mimpi masih jelas kubaca
kau terus mendirikan tonggak
tak henti membuka pintu
memberikan ucapan selamat
bagi pendatang sepertiku
bukan hanya gedunggedung tinggi bertumbuhan
kau membentuk setiap senja bersama warna kamboja
di sebuah cafe, aku dan kamu bermanja
lupakanlah kantor, ucapmu ketika aku menolak sebuah tatapan
berjalanlah agak santai
agar malam lebih terasa ramainya
dan tak akan ada lagi yang merasa dingin
sebab kepala sudah dipenuhi angan
dan telapak tangan sudah ditafsirkan
genggamlah
maka tak akan ada yang berani mematikan
alun musik itu
di sebuah pertemuan, siapapun tak akan tahu
siapa pernah menjalin siapa
mobil, ponsel, buku, rumah, garasi, mawar,
cokelat, cerpen, tongseng, jakarta, kereta, taksi
siapa yang dapat membendung kata
keinginan kepergian
seluruhnya telah disepakati
aku dan kamu
dalam perjamuan siang yang tak istimewa
hanya menghadirkan fatamorgana senja
serupa kamboja
SudutBumi, 2009
buat kawan perjalanan kusnandar
Nama Calon Anakku
saraswati tirta arum, misalkan kau anak pertama
genaplah aku sebagai perempuan
menyusur mata air
berjalan di bawah pohon amarta
dan kukemas segala haru
kutumpahkan pada dada limbung bahagia
ai, tumbuhlah mengikuti aliran
yang dicecapkan ubunubun
sastra bayu laksana, jika kau hadir pertama
penyempurna doa bagi hari penantian
kisah yang mengakas
bagi lelaki di tepi rindu
selalu kejutkan rahim milik ibu
as, melarunglah
sejauh masa lalu sekuat angin
saraswati banyu arum, laksmi banyu arum
jika bumi membelah ganda
sastra bayu pratama, sastra lindu pratama
menawarkan rekah bunga pada musim penghujan
kemaslah hari dan berlarilah bersamaku
SudutBumi, 2009
Mengasah Pisau
[ruang makan]
pandai benar kau mengiris roti
menuangkan selai ke permukaannya
memadupadankan tepung dan cerita
dalam ruang kecil
bersekat ganda
[halaman belakang]
di dekat pintu
kau menyiapkan batu asah, air, juga secuil cerita
sambil menggosokkan besi dan batu
kau terus mencerocos
perihal politik yang hampir basi
dan tentang uang sekolah yang tak lagi ada jaminan
pandanganmu terus saja menggamit mata pisau
sesekali kau mencobanya
membelah kentang dengan tegas
[dapur]
di dalam tungku segalanya matang
rumah tangga kian menua
rumput di depan rumah semakin pudar warnanya
pisau dan batu tak bosan meracik rasa
bernama cinta
SudutBumi, 2009
Kemarau Tiba,
Kulitku Robek Karenanya
dingin mencatat di pagi lunta
berapa lagi selimut harus dipesan
agar mimpi tak jadi usang
datang juga kemarau
memerahkan kulit
menjadikan gatagatal
seumpama kata
tak mau diam
terus saja mengumpat
seolah tanah rekah
retak di sanasini
tak menghasilkan apapun
hanya angin
mencoba merapatkan kenangan
SudutBumi, 2009
Jumat, 26 Desember 2008
Puisi-Puisi Dian Hartati
http://www.kompas.com/
Lelaki Hujan
tibatiba kau menjemputku dalam perjalanan pulang
ketika sore berubah mendung
dan jalanan hanya menyisakan bayangan pohonpohon cemara
langkahku masih saja tersaruk
mendapati mimpi yang jadi nyata
kau dan rupamu menjelma sore itu
jadi hujan yang dikirim tuhan
mendatangi aku yang selalu berjalan sendiri
kau membawa angin imaji
yang luruhkan semua rinduku
bagi lelaki yang selalu datang dan pergi
kau hadir dengan ribuan cerita
tentang anakanak hujan yang membasahi tubuhku
gigil sore yang menghangatkan
lalu kita berjalan bersama
bercerita tentang perjalanan air
muaramuara tempat singgah
dan ceruk rahasia yang telah kita buat
kau lelaki hujan
datang memberikan warna di hatiku
setelah abadabad muram
tanpa gemuruh dan menyisakan kenangan biru yang ranum
datang menjelma hujan di soreku yang sibuk
SudutBumi, November 2007
Melamin
kuiringkan langkah menuju sebuah ruang
sedang keraguan terus membidai
kutelusuri makna lantai
apakah yang akan kutemui
degup jantung ini terus tak menentu
aku perajut hari yang sunyi
meniti setiap hati
menyunggi setiap harapan
hingga sebuah ruang kupilih
sebagai penanda waktu
di muka pintu kutemukan siluet
adakah gemetar tubuhmu akan kurasakan
ketika malam menyusup bisu
apakah gemulaimu akan kutandaskan
sedang hujan selalu tak dapat menentukan arah
inilah waktu
musim yang mencocokkan
setiap gerak yang berbeda
tumit yang merangkum sebentuk rasa
SudutBumi, 2007
Sebuah Wajah
pu, aku mencintai sebentuk wajah
yang tergurat dari rupamu
ketika pertemuan hanya menyisakan
batas angan
aku tergeragap
karena kau begitu saja membuatku berdebar
aku masih ingat, pu
sore itu
langit bandung begitu anggun
jalanan begitu teratur
dan aku begitu menikmati wajahmu
di balik etalase
sebuah beranda telah memenjarakan ruang gerak kita
pu, aku ingin mengulangi peristiwa itu
ketika kau mencermati wajahku
dan menuangkannya di sebuah kanvas
sebuah wajah yang diliput kecintaan
kau tahu, pu
aku baru saja memerdekakan sebuah luka
dan kau hadir tanpa kuduga
mencerahkan cakrawala yang hendak kubentangkan
sebuah perayaan tercipta sore itu
kau yang berkawan angin
dan aku yang diliput bahagia
pu, aku mencintai sebentuk rupa
yang kau guratkan di wajahku
SudutBumi, November 2007
Pertarungan
selamat datang wahai lelaki
penuhi empat penjuru angin dengan langkah gempita
ikat kuat cemeti itu di pinggangmu
agar tarian ini membentuk formasi akurat
dan bidang dadamu yang telanjang
telah siap untuk mewarnai angkasa dengan
semburat merah darah
siapkan kudakuda agar liuk tubuhmu kuat
menghasilkan aroma memikat
ciptakan kekuatan yang akan guncangkan cakrawala
di sore laknat
lihat kanan dan kiri
setiap saat matamata itu siap memangsa
detik waktu siap mencengkram tubuh
pikirkan sebuah strategi
agar kau memenangkan sayembara ini
wajahwajah kaku saling memercik amarah
adakah dendam yang dihamilkan waktu
atau genta yang telah bertabuh dan saling membisikkan
kebinasaan
ambil cambuk itu
lecutkan waktu
dan pecahkan segera dendam
biar habis segala prasangka
lelaki, apakah kau memerlukan pertolongan
dewadewa akan segera datang
karena sesaji telah dilarung tadi malam
dengarkan suara yang datang dari utara
kau tidak sendiri
kau takkan tersesat
tersebab waktu telah memilihmu sebagai panglima
penjaga kepalakepala singa
hentakkan langkahmu
sekarang
atau kematian memilihmu
sebagai senja temaram
enambelas kaki kuda mengepung
tubuhmu tak lagi berdaya
senyummu hilang dalam tabir melayang
kau kembali mengitung
delapan arah angin begitu murung
dan tubuhmu hanya anyir
selepas bertarung
SudutBumi, Desember 2007
Lelaki Badai
tiupkanlah anginmu
yang akan menumbangkan segala gelisah
hanya ketika datang malam
kau hadir
meringkus tidurku yang lelap
berusaha menemani dari jarak terjauh
tidakkah kau ingat
sebuah ranjang telah basah
oleh keringat amukmu
sebuah gelas telah kau tandaskan isinya
berkalikali menciumi sesuatu yang tak terjamah
masih kurasakan hela nafasmu yang lelah
karena siang selalu saja menjauhkan kita
tentu saja aku cemburu pada angin yang selalu membawamu pergi
aku kalap ketika suaramu tak juga menyapa
hingga di sebuah pagi kau pergi tak kembali
meninggalkan sisa badai yang masih bergemuruh di hati
menyisakan sedikit harapan
rangkaian
perjalanan yang sempat membuatku mabuk
lalu merasakan kecewa
SudutBumi, November 2007
Orangorang Berpayung
selepas bersepakat dengan matahari
kami bergegas ke kota
berjalan menyusuri setapak sepi
tersebab listrik belum menjangkau
kami harus membenahi semua siang hari
merapikan hidup yang serba rumit
karena kami sadar
jelujur yang kami pijak adalak milik semesta
di tempat ini tak ada cahaya
selain matahari sang juru penghangat
walau temaram datang
itu hanya milik malam
yang diterangi bulan
kami selalu gegas
ketika kota yang didatangi hanya menyeringai
begitu asing
tak mengenal wajahwajah kami
sebab kami membutuhkan segala sandang
segala pangan
dan segala perabot
selalu kami bersepakat dengan matahari
agar hujan tak datang
melincirkan setapak jalan
kami pun tetap diam
ketika kematian demi kematian
datang beriringan
memaku setiap petak tanah merah
SudutBumi, Desember 2007
19 November 2007
//kejadian pagi
baru saja aku duduk tenang di kursi
diam menghikmati jejak pembicaraan semalam
tersadar ada sesuatu yang salah
semisal pembicaraan tentang hati
perjalanan kasih ambigu
pesan darimu datang juga
dikirimkan dan terbaca melalui layar ponsel
tentang samar peristiwa
ketika aku memaksamu untuk sebuah pertemuan
ketika rinduku tak dapat lagi kupendam
dan aku hanya ingin bercakap denganmu
sebuah pesan
tumbuh menjadi gundah di hati
tibatiba kau ingin pergi
meninggalkan semua yang masih samar
ingatkah kau,
kita belum sempat menikmati malam bersama
kita belum sempat memandang bulan
dari tempat yang berbeda
kau di kotamu
dan aku di kota lahirku
betapa
waktu semakin memanjang
memperjelas perbedaan
//kejadian sore
aku ingin mencarimu
di sudutsudut mall
barangkali etalase yang kujumpai
menghadirkan bayang dirimu
menyusuri koridor yang berbeda
memaku angkuh pada setiap cakrawala
kau tak ada, yang tersisa hanya kenangan
tak kuduga,
cakrawala anggun di ujung menara
memunculkan dirimu sebagai lelaki hujan
datang hanya di waktuwaktu tertentu
meninggalkan jejak di singgung temu
//kejadian luar biasa
sudahlah, aku tak ingin menyimpan luka
yang ada hanya kecewa
dan diamdiam aku menemukan sosok lain
ia sedang menatap tubuh layuku
di beranda
ketika angin tak lagi merindu
aku tengah mencermati seseorang terduduk
tangannya lincah menggoreskan siluet tubuh
apakah dia dikirimkan langit untukku
matanya masih saja jalang
menembus cakrawala senja
bercampur biru
bercampur merah sumba
SudutBumi, Desember 2007
Akolade
bolehkah aku memanggil namamu
sebuah nama yang akan mengawangkan diri
dalam senyap malam kelam
ketika jeruji pagi mengekalkan waktu pisah
jika memang sementara
sanggupkah aku melupa namamu
katakan semua dalam haru rindu
jalanjalan penuh kenang
petak cahaya yang menyilaukan
maukah kau berbagi sapaan
sekadar mengingatkan
paruh waktu adalah perjalanan pulang
tak ada lagi jembatan penyangga
jam pasir
kedap suara
lamunan hanya melambungkan nama
jangan larang aku untuk menyimpan sebuah nama
dalam ingatan yang makin lamur
selarik harapan masih saja digumamkan
inikah perjumpaan itu
langgam mengosongkan alur cerita
dan kamu adalah tokoh utama dalam kenanganku
jangan palingkan wajahmu
ketika aku mengharap anggukanmu
juga saat senja datang menjemput segala
sesal karena siang membawa namamu
tak kembali
seolah kampung yang patah akibat goncangan
sebab namamu tak hampa lagi dalam ingatan
bolehkah aku memanggil namamu
menjaga rindu untukmu
walau semua takkan kembali
SudutBumi, Maret 2007
Tubuhku dalam Percintaan Platonik
takkan kau temui sisa jelaga dalam tubuhku
hanya periuk bersandar di tubir duha
suci tak tersentuh
mengumbar kidung milik leluhur
agar kau ingat
aku adalah perempuan pertama setelah ibu
semang yang hadir di lesung pipi
jangan berharap
karena tubuh akan selalu merajah alir darah
agar kau tak sempat melupa
setiap sudut waktu
akan menemani menuju muara
lihat lebih dalam
karena setiap hentakkan
membuat lena
tipisnya angin membawa manis tubuh
menoreh roman kecintaan
jika bungkam kupilih
itu pertanda
usai segala bias
dan tubuhku
tetap kukuh menanti tubuh yang lain
SudutBumi, Maret 2007
Semenanjung Muria
kau rasakan pijak mimpimu di tanah ini
serombongan orang datang membawa bencana
menanamkan benihbenih panas udara
lihatlah, karangkarang meradang
ikanikan meracau di tanah leluhur
sepertinya siasat kata tak menjawab gelisah
sembilu menghunjam dasar bumi yang murung
pernahkah kau mendengar kisah jenaka di chernobyl
kisahkisah di tempat lainnya
pernahkah kau pikir betapa lucunya menanam luka
menernak gelisah di benak penderma
tanah adalah sebuah pengharapan
tempat para sunan merecup kedamaian
singgah dan rasakan geletar bumi
di sini ikanikan itu tak ingin bermutasi
SudutBumi, 2007
Lelaki Hujan
tibatiba kau menjemputku dalam perjalanan pulang
ketika sore berubah mendung
dan jalanan hanya menyisakan bayangan pohonpohon cemara
langkahku masih saja tersaruk
mendapati mimpi yang jadi nyata
kau dan rupamu menjelma sore itu
jadi hujan yang dikirim tuhan
mendatangi aku yang selalu berjalan sendiri
kau membawa angin imaji
yang luruhkan semua rinduku
bagi lelaki yang selalu datang dan pergi
kau hadir dengan ribuan cerita
tentang anakanak hujan yang membasahi tubuhku
gigil sore yang menghangatkan
lalu kita berjalan bersama
bercerita tentang perjalanan air
muaramuara tempat singgah
dan ceruk rahasia yang telah kita buat
kau lelaki hujan
datang memberikan warna di hatiku
setelah abadabad muram
tanpa gemuruh dan menyisakan kenangan biru yang ranum
datang menjelma hujan di soreku yang sibuk
SudutBumi, November 2007
Melamin
kuiringkan langkah menuju sebuah ruang
sedang keraguan terus membidai
kutelusuri makna lantai
apakah yang akan kutemui
degup jantung ini terus tak menentu
aku perajut hari yang sunyi
meniti setiap hati
menyunggi setiap harapan
hingga sebuah ruang kupilih
sebagai penanda waktu
di muka pintu kutemukan siluet
adakah gemetar tubuhmu akan kurasakan
ketika malam menyusup bisu
apakah gemulaimu akan kutandaskan
sedang hujan selalu tak dapat menentukan arah
inilah waktu
musim yang mencocokkan
setiap gerak yang berbeda
tumit yang merangkum sebentuk rasa
SudutBumi, 2007
Sebuah Wajah
pu, aku mencintai sebentuk wajah
yang tergurat dari rupamu
ketika pertemuan hanya menyisakan
batas angan
aku tergeragap
karena kau begitu saja membuatku berdebar
aku masih ingat, pu
sore itu
langit bandung begitu anggun
jalanan begitu teratur
dan aku begitu menikmati wajahmu
di balik etalase
sebuah beranda telah memenjarakan ruang gerak kita
pu, aku ingin mengulangi peristiwa itu
ketika kau mencermati wajahku
dan menuangkannya di sebuah kanvas
sebuah wajah yang diliput kecintaan
kau tahu, pu
aku baru saja memerdekakan sebuah luka
dan kau hadir tanpa kuduga
mencerahkan cakrawala yang hendak kubentangkan
sebuah perayaan tercipta sore itu
kau yang berkawan angin
dan aku yang diliput bahagia
pu, aku mencintai sebentuk rupa
yang kau guratkan di wajahku
SudutBumi, November 2007
Pertarungan
selamat datang wahai lelaki
penuhi empat penjuru angin dengan langkah gempita
ikat kuat cemeti itu di pinggangmu
agar tarian ini membentuk formasi akurat
dan bidang dadamu yang telanjang
telah siap untuk mewarnai angkasa dengan
semburat merah darah
siapkan kudakuda agar liuk tubuhmu kuat
menghasilkan aroma memikat
ciptakan kekuatan yang akan guncangkan cakrawala
di sore laknat
lihat kanan dan kiri
setiap saat matamata itu siap memangsa
detik waktu siap mencengkram tubuh
pikirkan sebuah strategi
agar kau memenangkan sayembara ini
wajahwajah kaku saling memercik amarah
adakah dendam yang dihamilkan waktu
atau genta yang telah bertabuh dan saling membisikkan
kebinasaan
ambil cambuk itu
lecutkan waktu
dan pecahkan segera dendam
biar habis segala prasangka
lelaki, apakah kau memerlukan pertolongan
dewadewa akan segera datang
karena sesaji telah dilarung tadi malam
dengarkan suara yang datang dari utara
kau tidak sendiri
kau takkan tersesat
tersebab waktu telah memilihmu sebagai panglima
penjaga kepalakepala singa
hentakkan langkahmu
sekarang
atau kematian memilihmu
sebagai senja temaram
enambelas kaki kuda mengepung
tubuhmu tak lagi berdaya
senyummu hilang dalam tabir melayang
kau kembali mengitung
delapan arah angin begitu murung
dan tubuhmu hanya anyir
selepas bertarung
SudutBumi, Desember 2007
Lelaki Badai
tiupkanlah anginmu
yang akan menumbangkan segala gelisah
hanya ketika datang malam
kau hadir
meringkus tidurku yang lelap
berusaha menemani dari jarak terjauh
tidakkah kau ingat
sebuah ranjang telah basah
oleh keringat amukmu
sebuah gelas telah kau tandaskan isinya
berkalikali menciumi sesuatu yang tak terjamah
masih kurasakan hela nafasmu yang lelah
karena siang selalu saja menjauhkan kita
tentu saja aku cemburu pada angin yang selalu membawamu pergi
aku kalap ketika suaramu tak juga menyapa
hingga di sebuah pagi kau pergi tak kembali
meninggalkan sisa badai yang masih bergemuruh di hati
menyisakan sedikit harapan
rangkaian
perjalanan yang sempat membuatku mabuk
lalu merasakan kecewa
SudutBumi, November 2007
Orangorang Berpayung
selepas bersepakat dengan matahari
kami bergegas ke kota
berjalan menyusuri setapak sepi
tersebab listrik belum menjangkau
kami harus membenahi semua siang hari
merapikan hidup yang serba rumit
karena kami sadar
jelujur yang kami pijak adalak milik semesta
di tempat ini tak ada cahaya
selain matahari sang juru penghangat
walau temaram datang
itu hanya milik malam
yang diterangi bulan
kami selalu gegas
ketika kota yang didatangi hanya menyeringai
begitu asing
tak mengenal wajahwajah kami
sebab kami membutuhkan segala sandang
segala pangan
dan segala perabot
selalu kami bersepakat dengan matahari
agar hujan tak datang
melincirkan setapak jalan
kami pun tetap diam
ketika kematian demi kematian
datang beriringan
memaku setiap petak tanah merah
SudutBumi, Desember 2007
19 November 2007
//kejadian pagi
baru saja aku duduk tenang di kursi
diam menghikmati jejak pembicaraan semalam
tersadar ada sesuatu yang salah
semisal pembicaraan tentang hati
perjalanan kasih ambigu
pesan darimu datang juga
dikirimkan dan terbaca melalui layar ponsel
tentang samar peristiwa
ketika aku memaksamu untuk sebuah pertemuan
ketika rinduku tak dapat lagi kupendam
dan aku hanya ingin bercakap denganmu
sebuah pesan
tumbuh menjadi gundah di hati
tibatiba kau ingin pergi
meninggalkan semua yang masih samar
ingatkah kau,
kita belum sempat menikmati malam bersama
kita belum sempat memandang bulan
dari tempat yang berbeda
kau di kotamu
dan aku di kota lahirku
betapa
waktu semakin memanjang
memperjelas perbedaan
//kejadian sore
aku ingin mencarimu
di sudutsudut mall
barangkali etalase yang kujumpai
menghadirkan bayang dirimu
menyusuri koridor yang berbeda
memaku angkuh pada setiap cakrawala
kau tak ada, yang tersisa hanya kenangan
tak kuduga,
cakrawala anggun di ujung menara
memunculkan dirimu sebagai lelaki hujan
datang hanya di waktuwaktu tertentu
meninggalkan jejak di singgung temu
//kejadian luar biasa
sudahlah, aku tak ingin menyimpan luka
yang ada hanya kecewa
dan diamdiam aku menemukan sosok lain
ia sedang menatap tubuh layuku
di beranda
ketika angin tak lagi merindu
aku tengah mencermati seseorang terduduk
tangannya lincah menggoreskan siluet tubuh
apakah dia dikirimkan langit untukku
matanya masih saja jalang
menembus cakrawala senja
bercampur biru
bercampur merah sumba
SudutBumi, Desember 2007
Akolade
bolehkah aku memanggil namamu
sebuah nama yang akan mengawangkan diri
dalam senyap malam kelam
ketika jeruji pagi mengekalkan waktu pisah
jika memang sementara
sanggupkah aku melupa namamu
katakan semua dalam haru rindu
jalanjalan penuh kenang
petak cahaya yang menyilaukan
maukah kau berbagi sapaan
sekadar mengingatkan
paruh waktu adalah perjalanan pulang
tak ada lagi jembatan penyangga
jam pasir
kedap suara
lamunan hanya melambungkan nama
jangan larang aku untuk menyimpan sebuah nama
dalam ingatan yang makin lamur
selarik harapan masih saja digumamkan
inikah perjumpaan itu
langgam mengosongkan alur cerita
dan kamu adalah tokoh utama dalam kenanganku
jangan palingkan wajahmu
ketika aku mengharap anggukanmu
juga saat senja datang menjemput segala
sesal karena siang membawa namamu
tak kembali
seolah kampung yang patah akibat goncangan
sebab namamu tak hampa lagi dalam ingatan
bolehkah aku memanggil namamu
menjaga rindu untukmu
walau semua takkan kembali
SudutBumi, Maret 2007
Tubuhku dalam Percintaan Platonik
takkan kau temui sisa jelaga dalam tubuhku
hanya periuk bersandar di tubir duha
suci tak tersentuh
mengumbar kidung milik leluhur
agar kau ingat
aku adalah perempuan pertama setelah ibu
semang yang hadir di lesung pipi
jangan berharap
karena tubuh akan selalu merajah alir darah
agar kau tak sempat melupa
setiap sudut waktu
akan menemani menuju muara
lihat lebih dalam
karena setiap hentakkan
membuat lena
tipisnya angin membawa manis tubuh
menoreh roman kecintaan
jika bungkam kupilih
itu pertanda
usai segala bias
dan tubuhku
tetap kukuh menanti tubuh yang lain
SudutBumi, Maret 2007
Semenanjung Muria
kau rasakan pijak mimpimu di tanah ini
serombongan orang datang membawa bencana
menanamkan benihbenih panas udara
lihatlah, karangkarang meradang
ikanikan meracau di tanah leluhur
sepertinya siasat kata tak menjawab gelisah
sembilu menghunjam dasar bumi yang murung
pernahkah kau mendengar kisah jenaka di chernobyl
kisahkisah di tempat lainnya
pernahkah kau pikir betapa lucunya menanam luka
menernak gelisah di benak penderma
tanah adalah sebuah pengharapan
tempat para sunan merecup kedamaian
singgah dan rasakan geletar bumi
di sini ikanikan itu tak ingin bermutasi
SudutBumi, 2007
Jumat, 21 November 2008
Puisi-Puisi Dian Hartati
Di Balik Tikungan
buat budi p hatees
h/
malam telah menghabiskan cahaya
seluruhnya diserap tubuhmu
aura apa yang kau sisakan di gelap ini
yang silang di balik jabat tangan
ternyata jalanan telah mempertemukan kita
arah datang katakata tak diduga
mencecar tawa dalam ruang yang melaju
t/
siang tadi aku masih mencermati tikungan ini
sepi, hanya angin yang menghibur diri
dan gugur daunan mendatangkan kupukupu
apakah itu pertanda kau akan datang
menjelang malam serangga itu pergi
berganti dirimu
duduk menanti di tikungan
aku abai melewatimu
yang sibuk di antara genggam ponsel
tertawa begitu renyah
kau berbicara dengan siapa
sungguh aku ingin tahu
s/
di balik tikungan
akhirnya kita saling sapa
menorehkan segumpal kenangan
selalu dalam tawa yang hangat
SudutBumi, 30 April 2008
Melati yang Aku Curi
kata leluhurku,
datangilah setiap pelaminan yang digelar di ranah kerinduan
di situ ada cinta yang diikat sempurna oleh janji sehidup
ada hati yang tak dapat mengaburkan kenangan
tersebab harihari dilalui dengan asa
kata leluhurku,
belajarlah memainkan jemari ketika bersalaman dengan pengantin perempuan
dan pejamkan matanya
“agar kau dapat mencuri kantil melati”
merebut kesempatan yang sama
menjadi pengantin di hari yang berbeda
mainkan jemarimu
tanpa pengetahuan raja dan ratu sehari
kata leluhurku: “agar sempurna kau menjadi perempuan”
SudutBumi, 11 Juni 2008
Firasat Waktu
akhirnya aku tahu
ada jarak dari sekian perjalanan panjang
dari lubuk ke lubuk
hilir yang melantakkan tubuh
ini hanyalah perjalanan air
yang terus mengambang kehilangan tenaga
berenang mencapai sesuatu yang tak kumengerti
sebagai ikan,
hanya kunantikan
arah datangnya cahaya
dari permukaan
SudutBumi, 1 September 2008
Melepasmu dengan Doa
maka kugumamkan basmalah
mengiringi langkahmu menuju tangga itu
kuuraikan segala doa,
katakata yang tak mungkin kuungkap
tersebab hati berkata lain
demi ubunubun yang telah kau sematkan doa
malam penuh tanda tanya
adakah hatimu terbuka karenanya
hingga kelam matahari kurasakan di senja ini
pergilah
akan kunantikan sebuah waktu
ketika cakrawala mempertemukan kembali
angin dan laut
lembayung dan jingga
teruslah merapalkan doa untukku
agar tuhan kita mempertemukan hati yang saling membatu
tersebab mata berkata lain
kuakhiri juga rasa ini
memaksa putus sesuatu yang belum selesai
penuh tanda tanya
karena begitulah jalan takdir
tak bisa memaksa
SudutBumi, 8 September 2008
Perumpamaan Rindu
untuk kau, sungguh aku tak ingin menuliskan namamu
aku merindukanmu
selayaknya matahari merindu awan
peraduan yang dinantikan siang hari
tempat singgah segala lelah
ketika bumi ingin menepi dari panas purba
seumpama matahari
aku siap menanti kunjungan angin
yang datang bersama awan
dari arah tak terduga
selalu aku sebut namamu
tentunya –disertai nama tuhanku
segenap ingatan yang tak lepas
berlesatan
menyusuri setiap tepi hari
waktu ke waktu
dan aku selalu menemukan jalan
yang buntu
hingga rindu ini tak mungkin luruh
“hai angin, sampaikan padanya”
seperti lagu usang yang kusuka
“katakan, sampai kapan aku harus menunggu”
mendung di langit seolah pertanda
tetapi aku akan tetap bersetia
seumpama matahari
datang dan pergi di waktu yang sama
menarik usia bumi
menuju kesempurnaan
–yang difirasatkan semesta
aku merindukanmu
sungguh!
SudutBumi, 14 September 2008
buat budi p hatees
h/
malam telah menghabiskan cahaya
seluruhnya diserap tubuhmu
aura apa yang kau sisakan di gelap ini
yang silang di balik jabat tangan
ternyata jalanan telah mempertemukan kita
arah datang katakata tak diduga
mencecar tawa dalam ruang yang melaju
t/
siang tadi aku masih mencermati tikungan ini
sepi, hanya angin yang menghibur diri
dan gugur daunan mendatangkan kupukupu
apakah itu pertanda kau akan datang
menjelang malam serangga itu pergi
berganti dirimu
duduk menanti di tikungan
aku abai melewatimu
yang sibuk di antara genggam ponsel
tertawa begitu renyah
kau berbicara dengan siapa
sungguh aku ingin tahu
s/
di balik tikungan
akhirnya kita saling sapa
menorehkan segumpal kenangan
selalu dalam tawa yang hangat
SudutBumi, 30 April 2008
Melati yang Aku Curi
kata leluhurku,
datangilah setiap pelaminan yang digelar di ranah kerinduan
di situ ada cinta yang diikat sempurna oleh janji sehidup
ada hati yang tak dapat mengaburkan kenangan
tersebab harihari dilalui dengan asa
kata leluhurku,
belajarlah memainkan jemari ketika bersalaman dengan pengantin perempuan
dan pejamkan matanya
“agar kau dapat mencuri kantil melati”
merebut kesempatan yang sama
menjadi pengantin di hari yang berbeda
mainkan jemarimu
tanpa pengetahuan raja dan ratu sehari
kata leluhurku: “agar sempurna kau menjadi perempuan”
SudutBumi, 11 Juni 2008
Firasat Waktu
akhirnya aku tahu
ada jarak dari sekian perjalanan panjang
dari lubuk ke lubuk
hilir yang melantakkan tubuh
ini hanyalah perjalanan air
yang terus mengambang kehilangan tenaga
berenang mencapai sesuatu yang tak kumengerti
sebagai ikan,
hanya kunantikan
arah datangnya cahaya
dari permukaan
SudutBumi, 1 September 2008
Melepasmu dengan Doa
maka kugumamkan basmalah
mengiringi langkahmu menuju tangga itu
kuuraikan segala doa,
katakata yang tak mungkin kuungkap
tersebab hati berkata lain
demi ubunubun yang telah kau sematkan doa
malam penuh tanda tanya
adakah hatimu terbuka karenanya
hingga kelam matahari kurasakan di senja ini
pergilah
akan kunantikan sebuah waktu
ketika cakrawala mempertemukan kembali
angin dan laut
lembayung dan jingga
teruslah merapalkan doa untukku
agar tuhan kita mempertemukan hati yang saling membatu
tersebab mata berkata lain
kuakhiri juga rasa ini
memaksa putus sesuatu yang belum selesai
penuh tanda tanya
karena begitulah jalan takdir
tak bisa memaksa
SudutBumi, 8 September 2008
Perumpamaan Rindu
untuk kau, sungguh aku tak ingin menuliskan namamu
aku merindukanmu
selayaknya matahari merindu awan
peraduan yang dinantikan siang hari
tempat singgah segala lelah
ketika bumi ingin menepi dari panas purba
seumpama matahari
aku siap menanti kunjungan angin
yang datang bersama awan
dari arah tak terduga
selalu aku sebut namamu
tentunya –disertai nama tuhanku
segenap ingatan yang tak lepas
berlesatan
menyusuri setiap tepi hari
waktu ke waktu
dan aku selalu menemukan jalan
yang buntu
hingga rindu ini tak mungkin luruh
“hai angin, sampaikan padanya”
seperti lagu usang yang kusuka
“katakan, sampai kapan aku harus menunggu”
mendung di langit seolah pertanda
tetapi aku akan tetap bersetia
seumpama matahari
datang dan pergi di waktu yang sama
menarik usia bumi
menuju kesempurnaan
–yang difirasatkan semesta
aku merindukanmu
sungguh!
SudutBumi, 14 September 2008
Kamis, 20 November 2008
Puisi-Puisi Dian Hartati
Kamar Beraroma Apel 2
inilah garis singgung yang kucipta
sebuah dunia yang mendedahkan segala rasa
ketika tawa dan cerita hanya milikku
tak terdengar oleh sesiapa
di sinilah sudutbumi kuhamparkan
petapeta rahasia kubentangkan
penuh kepak kupukupu
kesegaran aroma apel
kecerahan matahari yang selalu bersinar
juga lelembah yang antarkan aku pada sebuah cahaya
di hampar permadani yang sejuk
kusebutsebut sebuah nama
juga kutuliskan banyak puisi
untuk mengenangkan seluruh kisahku
mengabadikan tangis yang diantar sebagian rasa gundah
jika kau masuki tempatku berada
lihatlah sketsa hidupku
seseorang telah melukiskannya untukku
di beranda sebuah mall
ketika angin memenjarakan aku di senja kota bandung
telusurilah angan yang kucipta
langkahlangkah sepasti sejarah
lekuk gairah yang lebur di tubuhku
semua menghadirkan senyuman yang banal
SudutBumi, 07 Maret 2008
Sketsa Hati
hatiku bukan hijau
ia ungu seperti yang tumbuh di mataku
ia dalam menutupi sumur kenangan
ada luka di hatiku
yang selalu gerimis
jika seseorang melihat di kedalamannya
SudutBumi, 17 Maret 2008
Wajah Pagi
kuterkaterka sebuah wajah,
wajah pagi yang dingin
lalu kuhantarkan matahari,
tempat luka dikeringkan
tempat segala rasa dirangkumkan
dalam sebuah cawan,
bernama kenangan
SudutBumi, 20 Maret 2008
Metawaktu
apakah kau bersiap
untuk sesuatu yang tak pernah terduga?
serupa aku yang menjelma di lelahmu
serupa aku yang berkelindan di ingatanmu
serupa kupukupu
aku siap
bermetamorfosis
SudutBumi, Maret 2008
inilah garis singgung yang kucipta
sebuah dunia yang mendedahkan segala rasa
ketika tawa dan cerita hanya milikku
tak terdengar oleh sesiapa
di sinilah sudutbumi kuhamparkan
petapeta rahasia kubentangkan
penuh kepak kupukupu
kesegaran aroma apel
kecerahan matahari yang selalu bersinar
juga lelembah yang antarkan aku pada sebuah cahaya
di hampar permadani yang sejuk
kusebutsebut sebuah nama
juga kutuliskan banyak puisi
untuk mengenangkan seluruh kisahku
mengabadikan tangis yang diantar sebagian rasa gundah
jika kau masuki tempatku berada
lihatlah sketsa hidupku
seseorang telah melukiskannya untukku
di beranda sebuah mall
ketika angin memenjarakan aku di senja kota bandung
telusurilah angan yang kucipta
langkahlangkah sepasti sejarah
lekuk gairah yang lebur di tubuhku
semua menghadirkan senyuman yang banal
SudutBumi, 07 Maret 2008
Sketsa Hati
hatiku bukan hijau
ia ungu seperti yang tumbuh di mataku
ia dalam menutupi sumur kenangan
ada luka di hatiku
yang selalu gerimis
jika seseorang melihat di kedalamannya
SudutBumi, 17 Maret 2008
Wajah Pagi
kuterkaterka sebuah wajah,
wajah pagi yang dingin
lalu kuhantarkan matahari,
tempat luka dikeringkan
tempat segala rasa dirangkumkan
dalam sebuah cawan,
bernama kenangan
SudutBumi, 20 Maret 2008
Metawaktu
apakah kau bersiap
untuk sesuatu yang tak pernah terduga?
serupa aku yang menjelma di lelahmu
serupa aku yang berkelindan di ingatanmu
serupa kupukupu
aku siap
bermetamorfosis
SudutBumi, Maret 2008
Langganan:
Postingan (Atom)
A. Mustofa Bisri
A'yat Khalili
Abdul Azis Sukarno
Abdul Aziz Rasjid
Abdul Wachid B.S.
Abi N. Bayan
Abidah El Khalieqy
Acep Syahril
Acep Zamzam Noor
Adi Toha
Adrian Balu
AF Denar Daniar
Afrizal Malna
Agus Manaji
Agus R. Sarjono
Agus R. Subagyo
Agus Sulton
Agus Sunarto
Ahmad Fatoni
Ahmad Kekal Hamdani
Ahmad Maltuf Syamsury
Ahmad Muchlish Amrin
Ahmad Syauqi Sumbawi
Ahmad Yulden Erwin
Ahmad Zaini
Ahmadun Yosi Herfanda
Akhiriyati Sundari
Akhmad Fatoni
Akhmad Muhaimin Azzet
Akhmad Sekhu
Ala Roa
Aldika Restu Pramuli
Alfatihatus Sholihatunnisa
Alfiyan Harfi
Ali Makhmud
Ali Subhan
Amelia Rachman
Amie Williams
Amien Kamil
Amien Wangsitalaja
Aming Aminoedhin
Andry Deblenk
Anggie Melianna
Anis Ceha
Anjrah Lelono Broto
Anna Subekti
Aprinus Salam
Ariandalu S
Arieyoko Ksmb
Arya Winanda
As Adi Muhammad
Asep Sambodja
Atrap S. Munir
Awalludin GD Mualif
Aziz Abdul Gofar
Badaruddin Amir
Bakdi Sumanto
Bambang Darto
Bambang Kempling
Bambang Widiatmoko
Beni Setia
Beno Siang Pamungkas
Bernando J. Sudjibto
Bernard S. Y. Batubara
Binhad Nurrohmat
Budhi Setyawan
Budi Palopo
Bustan Basir Maras
Chairul Abhsar
Chavchay Saifullah
Cut Nanda A.
D. Zaini Ahmad
D. Zawawi Imron
Dadang Afriady
Dadang Ari Murtono
Daisy Priyanti
Daysi Priyanti
Dea Anugrah
Dea Ayu Ragilia
Dedy Tri Riyadi
Deni Jazuli
Denny Mizhar
Deny Tri Aryanti
Desti Fatin Fauziyyah
Dewi Kartika
Dharmadi
Diah Budiana
Diah Hadaning
Dian Hartati
Didik Komaidi
Dimas Arika Mihardja
Djoko Saryono
Dody Kristianto
Dorothea Rosa Herliany
Dwi Pranoto
Dwi Rejeki
Dwi S. Wibowo
Edy Lyrisacra
Effendi Danata
Eimond Esya
Eka Budianta
Eko Hendri Saiful
Eko Nuryono
El Sahra Mahendra
Ellie R. Noer
Elly Trisnawati
Emha Ainun Nadjib
Endang Supriadi
Endang Susanti Rustamadji
Eny Rose
Eppril Wulaningtyas R
Esha Tegar Putra
Esti Nuryani Kasam
Etik Widya
Evi Idawati
Evi Melyati
Evi Sefiani
Evi Sukaesih
Fadhila Ramadhona
Fahmi Faqih
Faizal Syahreza
Fajar Alayubi
Fanny Chotimah
Fatah Anshori
Fatah Yasin Noor
Fati Soewandi
Fatimah Wahyu Sundari
Fauzi Absal
Felix K. Nesi
Fikri MS
Fina Sato
Firman Wally
Fitrah Anugerah
Frischa Aswarini
Gampang Prawoto
Ghaffur Al-Faqqih
Gita Nuari
Gita Pratama
Goenawan Mohamad
Gunawan Maryanto
Gunoto Saparie
Gus tf Sakai
Halimi Zuhdy
Hamdy Salad
Hamid Jabbar
Hari Leo
Haris del Hakim
Hasan Al Banna
Hasan Aspahani
Hasta Indriyana
Helga Worotitjan
Heri Latief
Heri Listianto
Heri Maja Kelana
Herlinatiens
Hudan Hidayat
Hudan Nur
Ibnu Wahyudi
Ikarisma Kusmalina
Ike Ayuwandari
Ilenk Rembulan
Imam S Arizal
Imamuddin SA
Iman Budhi Santosa
Iman Budi Santoso
Imron Tohari
Indah Darmastuti
Indiar Manggara
Indra Tjahyadi
Indrian Koto
Isbedy Stiawan ZS
Iwan Gunadi
Javed Paul Syatha
Jibna Sudiryo
Johan Khoirul Zaman
Johannes Sugianto
Joko Pinurbo
Joko Saputro
Jufri Zaituna
Jusuf AN
Kadek Wara Urwasi
Kadjie Bitheng MM
Kartika Kusworatri
Kedung Darma Romansha
Kika Syafii
Kirana Kejora
Kirdjomuljo
Kurnia Effendi
Kurniawan Junaedhie
Kurniawan Yunianto
Kusprihyanto Namma
Kuswaidi Syafi’ie
L.K. Ara
Lailatul Muniroh
Landung Rusyanto Simatupang
Lela Siti Nurlaila
Liestyo Ambarwati Khohar
Lina Kelana
Linda Sarmili
Linus Suryadi AG
Liza Wahyuninto
Lubis Grafura
Lutfi Mardiansyah
M. Badrus Alwi
M. Faizi
Maghfur Munif
Maghie Oktavia
Mahmud Jauhari Ali
Mahwi Air Tawar
Maman S. Mahayana
Maqhia Nisima
Marcellus Nur Basah
Mardi Luhung
Marhalim Zaini
Mario F. Lawi
Marwanto
Mas Marco Kartodikromo
Mashuri
Mathori A. Elwa
Matroni el-Moezany
Maya Mustika K.
Mega Vristian
Miftahul Abrori
Mohammad Yamin
Muhammad Ali Fakih
Muhammad Rain
Muhammad Yasir
Muhammad Zuriat Fadil
Muntamah Cendani
Mustiar AR
Mustofa W Hasyim
Mutia Sukma
Nadjib Kartapati Z
Nanang Suryadi
Nezar Patria
Ni Made Purnama Sari
Ni Made Purnamasari
Ni Putu Destriani Devi
Noor Sam
Nunung S. Sutrisno
Nur Iswantara
Nur Lodzi Hady
Nur Wahida Idris
Nurel Javissyarqi
Nurul Komariyah
Nyoman Tusthi Eddy
Nyoman Wirata
Pariyo Adi
Pringadi AS
Pringgo HR
Puisi-Puisi Indonesia
Purwadmadi Admadipurwa
Puspita Rose
Putri Sarinande
R. Toto Sugiharto
Rachmat Djoko Pradopo
Raedu Basha
Ragil Suwarno Pragolapati
Rakai Lukman
Rama Prabu
Ramadhan KH
Raudal Tanjung Banua
Remy Sylado
Ribut Wijoto
Rikard Diku
Robin Al Kautsar
Rozi Kembara
Rudi Hartono
Rusydi Zamzami
S Yoga
Sahaya Santayana
Saiful Bakri
Salman Rusydie Anwar
Samsudin Adlawi
Sapardi Djoko Damono
Sartika Dian
Satmoko Budi Santoso
Saut Situmorang
Selendang Sulaiman
Seli Desmiarti
Sigit Sugito
Sihar Ramses Simatupang
Siska Afriani
Sitok Srengenge
Sitor Situmorang
Slamet Rahardjo Rais
Slamet Widodo
Sosiawan Leak
Sreismitha Wungkul
Sri Harjanto Sahid
Sri Jayantini
Sri Setya Rahayu
Sri Wintala Achmad
Suci Ayu Latifah
Sumargono SN
Suminto A. Sayuti
Sunardi KS
Sunlie Thomas Alexander
Sunu Wasono
Suryanto Sastroatmodjo
Sutirman Eka Ardhana
Syifa Aulia
Taufiq Ismail
Taufiq Wr. Hidayat
Teguh Ranusastra Asmara
Teguh Triaton
Tengsoe Tjahjono
Tharie Rietha
Thowaf Zuharon
Timur Sinar Suprabana
Tita Maria Kanita
Tjahjono Widarmanto
Tjahjono Widijanto
TS Pinang
Ulfatin Ch
Umbu landu Paranggi
Unieq Awien
Usman Arrumy
W. Haryanto
W. Herlya Winna
W.S. Rendra
Wahyu Hidayat
Wahyu Subuh
Warih Wisatsana
Wayan Sunarta
Weni Suryandari
Widi Astuti
Wiji Thukul
Winarni R.
Y. Wibowo
Yonathan Rahardjo
Yosi M Giri
Yudhi Herwibowo
Yudhiono Aprianto
Yurnaldi
Yusri Fajar
Yusuf Suharto
Yuswan Taufiq
Yuswinardi
Zaenal Faudin
Zainal Arifin Thoha
Zamroni Allief Billah
Zawawi Se
Zehan Zareez
Zen Hae