Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dian Hartati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 24 Maret 2010

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://www.sastra-indonesia.com/
Bahtera

bahtera mengapung di permukaan
air mata yang membawanya pergi
seperti burungburung terbang menuju hilir
bahtera kubangun sekuat tenaga
bercampur air mata rasa gelisah

kujelaskan pada mereka
penghuni setiap tingkap
bangunan ini hanya sebuah kegalauan
dan bahtera tetap berkelana
mencari tempat aman di atas kefanaan

bahteraku penuh keluh
selalu diurai kisah masa lalu
siapa penghuni berikutnya

ada firasat tak baik di hati
ragaku adalah bahtera
yang haus kisahkisah baru
di lambungnya terdapat karat
sebab menanti hujan reda
adalah sesuatu yang tak terjangkau

kayukayu berpatahan
koyak dimakan waktu
galau menuju kehampaan
siapa penghuni berikutnya
tak mengawali permulaan dengan kebohongan
nomornomor palsu
katakata hanya berlesatan

air mataku menderas
menggoyahkan samudera
tubuhku rapuh dimakan lumutlumut
kupercayakan alur air yang membawaku
gelombang membuai buritan
tiangtiang mencapai langit
berusaha mensucikan hati
aku dan tubuhku diintai waktu

siapa penghuni berikutnya
dapatkah kujelaskan pada mereka
tempat berlabuh yang aman
tetap tubuhku

SudutBumi, Maret 2008



Pentagon Suatu Malam

mengapa hujan selalu datang tanpa dimengerti
ketika kabut menyusup di bingkaibingkai tanpa terali besi
ruang dipenuhi nadanada
langkah mengiringi setiap nasib puisi

siapa berani menghardik untai kata
yang menempel di papanpapan hijau
mengerti gundah hati
pelataran tanpa cahaya
loronglorong bisu bermakna

resapilah bahwa tanggatangga yang memanjang itu
milik sementara waktu
kau akan beranjak meninggalkan semua kenangan
riuh puisipuisi dibacakan
lagulagu didendangkan

ketahuilah waktumu tak banyak
sekadar mengantar kepulangan
bangunan ini akan koyak
dimakan zaman bernama kenangan

SudutBumi, Desember 2006



Kau tak Melihat Kupukupu di Leherku

siang itu kuberikan leherku
agar kau melihat
sayapsayap mengepak

SudutBumi, 2006



Biar Kusimpan Kenangan Sendiri
~ ba

semenjak lagu itu kau putar
aku mulai tahu
musim tengah berguguran di hatiku
mewartakan setiap gelagat cuaca
dan aku merasakan semilir yang berbeda
dari gerak tubuhmu

jika saja
kita dapat menyimpan setiap kenangan
mungkin kau tak akan
singgah di cakrawala yang lain

biarlah,
kudengarkan senandung ini sendiri

di antara bias hari
kutetapkan hati
untuk bertamu sekali waktu
ketika daundaun
merajut zat hijaunya

ketika kau menghentikan putaran gramofon
di musim yang lain

SudutBumi, 17 Desember 2007

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Rabu, 30 Desember 2009

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://jurnalnasional.com/
Pelataran Kawah Putih

memasuki wilayahmu
ada hampar pasir jadi gerbang
anakanak angin membangunkan segala ruh
rantingranting membatu
cahaya kehijauan mencipta langit teduh

aku datang membawa raga
dari tangkuban parahu
menyampaikan salam junghuhn
untuk kau yang merajai patuha

eyang jaga satru, aku mendengar laskar yang kau pimpin
suarasuara itu menyadarkan aku
betapa alam begitu ambigu

aku hirup belerang
bau cadas yang siap menyerang setiap ingatan
tanahtanah mengering, batubatu memenjarakan jarak

mengitarimu,
aku mendapati aroma memikat
jalan setapak
hangat udara
juga cakrawala yang tak pernah senja

kau yang menguasai kawahkawah
asapasap pengintai usia
juga suara domba putih, domba lukutan

eyang jaga satru, inikah kerajaanmu
yang setiap hari didatangi peziarah
dari kotakota berlainan

SudutBumi, 2009



Menyulam Sisa Hujan

di teras rumahku ada payung,
sisa hujan sore tadi

kuperhatikan
: masih tersisa jejak kakimu yang basah

sisa kunjungan yang tak usai

SudutBumi, 2009



Jalan Air

aku menelusuri jalan air
menginjakkan kaki di antara deru; lalu lalang tak henti

hujan terus saja menemani perjalanan pulang
menjauhi riuh hari juga senyum bertemu

waktu panjang untuk kamis yang manis
tualang di sebuah kotak
: bernama kantor

air begitu mahir memilin lajur
menggenangi jejak pejalan juga petak sawah yang siap panen

kakiku terus melangkah
bergegas
menyibak jalanan yang mulai digenangi air
khawatir panen gagal esok hari

SudutBumi, 2009



Terkadang, Kita Lupa
dengan Masa Lalu

tanah
dari yang dilahirkan
bernama sihir
selalu mengalir
menempa segala

dari yang terurai
bertumbuhan sesak
kenangan

jalanan
tenggelamlah
temukan setiap akar
ingatan

ketika gerak
menepiskan waktu
lunaslah semua

dan tawa itu
jadi sebuah reklame
mahal

kawan
sebuah dilatasi
disekat
digiring ruang waktu

lagi dan lagi
disempurnakan
tawa

SudutBumi, 2009
buat kawan: ria novitasari

Perempuan di Tepi Jendela

[1]
sejak kapan
perempuan jadi perona
membuat warna hati berlainan

kau merangkum seluruh kisah
jadi segenggam rindu
lalu kau bawa pergi

berlari ke laut
menyisir setiap bayang matahari

[2]
sampai hari ini, kau tetap membeku
jadi kawanan gerimis
yang tajam
tak mau diam
berseliweran
bersama angin yang tetap bersetia

bukankah ia lelaki?
ahhh kau, tetap membatu

[3]
“apa yang hendak kau lukis sekarang?”
warna pelangi atau rimbun hijau hatimu

SudutBumi, 2009
buat kawan, risma dewi



Dalam Sebuah Kartu Nama

di sebuah mal, kau bersama anak dan istri
hatihati aku melewatimu
memperhatikan senyum rekah di wajah tua
ada banyak bangunan di sana
geliat mimpi masih jelas kubaca
kau terus mendirikan tonggak
tak henti membuka pintu
memberikan ucapan selamat
bagi pendatang sepertiku
bukan hanya gedunggedung tinggi bertumbuhan
kau membentuk setiap senja bersama warna kamboja

di sebuah cafe, aku dan kamu bermanja
lupakanlah kantor, ucapmu ketika aku menolak sebuah tatapan
berjalanlah agak santai
agar malam lebih terasa ramainya
dan tak akan ada lagi yang merasa dingin
sebab kepala sudah dipenuhi angan
dan telapak tangan sudah ditafsirkan
genggamlah
maka tak akan ada yang berani mematikan
alun musik itu

di sebuah pertemuan, siapapun tak akan tahu
siapa pernah menjalin siapa
mobil, ponsel, buku, rumah, garasi, mawar,
cokelat, cerpen, tongseng, jakarta, kereta, taksi
siapa yang dapat membendung kata
keinginan kepergian
seluruhnya telah disepakati
aku dan kamu
dalam perjamuan siang yang tak istimewa
hanya menghadirkan fatamorgana senja
serupa kamboja

SudutBumi, 2009
buat kawan perjalanan kusnandar



Nama Calon Anakku

saraswati tirta arum, misalkan kau anak pertama
genaplah aku sebagai perempuan
menyusur mata air
berjalan di bawah pohon amarta
dan kukemas segala haru
kutumpahkan pada dada limbung bahagia
ai, tumbuhlah mengikuti aliran
yang dicecapkan ubunubun

sastra bayu laksana, jika kau hadir pertama
penyempurna doa bagi hari penantian
kisah yang mengakas
bagi lelaki di tepi rindu
selalu kejutkan rahim milik ibu
as, melarunglah
sejauh masa lalu sekuat angin

saraswati banyu arum, laksmi banyu arum
jika bumi membelah ganda
sastra bayu pratama, sastra lindu pratama
menawarkan rekah bunga pada musim penghujan
kemaslah hari dan berlarilah bersamaku

SudutBumi, 2009



Mengasah Pisau

[ruang makan]
pandai benar kau mengiris roti
menuangkan selai ke permukaannya
memadupadankan tepung dan cerita
dalam ruang kecil
bersekat ganda

[halaman belakang]
di dekat pintu
kau menyiapkan batu asah, air, juga secuil cerita
sambil menggosokkan besi dan batu
kau terus mencerocos
perihal politik yang hampir basi
dan tentang uang sekolah yang tak lagi ada jaminan
pandanganmu terus saja menggamit mata pisau
sesekali kau mencobanya
membelah kentang dengan tegas

[dapur]
di dalam tungku segalanya matang
rumah tangga kian menua
rumput di depan rumah semakin pudar warnanya
pisau dan batu tak bosan meracik rasa
bernama cinta

SudutBumi, 2009



Kemarau Tiba,
Kulitku Robek Karenanya

dingin mencatat di pagi lunta
berapa lagi selimut harus dipesan
agar mimpi tak jadi usang

datang juga kemarau
memerahkan kulit
menjadikan gatagatal

seumpama kata
tak mau diam
terus saja mengumpat

seolah tanah rekah
retak di sanasini
tak menghasilkan apapun
hanya angin
mencoba merapatkan kenangan

SudutBumi, 2009

Jumat, 26 Desember 2008

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://www.kompas.com/
Lelaki Hujan

tibatiba kau menjemputku dalam perjalanan pulang
ketika sore berubah mendung
dan jalanan hanya menyisakan bayangan pohonpohon cemara

langkahku masih saja tersaruk
mendapati mimpi yang jadi nyata
kau dan rupamu menjelma sore itu
jadi hujan yang dikirim tuhan
mendatangi aku yang selalu berjalan sendiri

kau membawa angin imaji
yang luruhkan semua rinduku
bagi lelaki yang selalu datang dan pergi
kau hadir dengan ribuan cerita
tentang anakanak hujan yang membasahi tubuhku
gigil sore yang menghangatkan

lalu kita berjalan bersama
bercerita tentang perjalanan air
muaramuara tempat singgah
dan ceruk rahasia yang telah kita buat

kau lelaki hujan
datang memberikan warna di hatiku
setelah abadabad muram
tanpa gemuruh dan menyisakan kenangan biru yang ranum

datang menjelma hujan di soreku yang sibuk

SudutBumi, November 2007



Melamin

kuiringkan langkah menuju sebuah ruang
sedang keraguan terus membidai
kutelusuri makna lantai
apakah yang akan kutemui
degup jantung ini terus tak menentu

aku perajut hari yang sunyi
meniti setiap hati
menyunggi setiap harapan
hingga sebuah ruang kupilih
sebagai penanda waktu

di muka pintu kutemukan siluet
adakah gemetar tubuhmu akan kurasakan
ketika malam menyusup bisu
apakah gemulaimu akan kutandaskan
sedang hujan selalu tak dapat menentukan arah

inilah waktu
musim yang mencocokkan
setiap gerak yang berbeda
tumit yang merangkum sebentuk rasa

SudutBumi, 2007



Sebuah Wajah

pu, aku mencintai sebentuk wajah
yang tergurat dari rupamu

ketika pertemuan hanya menyisakan
batas angan
aku tergeragap
karena kau begitu saja membuatku berdebar

aku masih ingat, pu
sore itu
langit bandung begitu anggun
jalanan begitu teratur

dan aku begitu menikmati wajahmu
di balik etalase
sebuah beranda telah memenjarakan ruang gerak kita

pu, aku ingin mengulangi peristiwa itu
ketika kau mencermati wajahku
dan menuangkannya di sebuah kanvas

sebuah wajah yang diliput kecintaan

kau tahu, pu
aku baru saja memerdekakan sebuah luka
dan kau hadir tanpa kuduga

mencerahkan cakrawala yang hendak kubentangkan

sebuah perayaan tercipta sore itu
kau yang berkawan angin
dan aku yang diliput bahagia

pu, aku mencintai sebentuk rupa
yang kau guratkan di wajahku

SudutBumi, November 2007



Pertarungan

selamat datang wahai lelaki
penuhi empat penjuru angin dengan langkah gempita
ikat kuat cemeti itu di pinggangmu
agar tarian ini membentuk formasi akurat
dan bidang dadamu yang telanjang
telah siap untuk mewarnai angkasa dengan
semburat merah darah
siapkan kudakuda agar liuk tubuhmu kuat
menghasilkan aroma memikat
ciptakan kekuatan yang akan guncangkan cakrawala
di sore laknat

lihat kanan dan kiri
setiap saat matamata itu siap memangsa
detik waktu siap mencengkram tubuh
pikirkan sebuah strategi
agar kau memenangkan sayembara ini
wajahwajah kaku saling memercik amarah
adakah dendam yang dihamilkan waktu
atau genta yang telah bertabuh dan saling membisikkan
kebinasaan

ambil cambuk itu
lecutkan waktu
dan pecahkan segera dendam
biar habis segala prasangka

lelaki, apakah kau memerlukan pertolongan
dewadewa akan segera datang
karena sesaji telah dilarung tadi malam
dengarkan suara yang datang dari utara
kau tidak sendiri
kau takkan tersesat
tersebab waktu telah memilihmu sebagai panglima
penjaga kepalakepala singa
hentakkan langkahmu
sekarang
atau kematian memilihmu
sebagai senja temaram

enambelas kaki kuda mengepung
tubuhmu tak lagi berdaya
senyummu hilang dalam tabir melayang

kau kembali mengitung
delapan arah angin begitu murung
dan tubuhmu hanya anyir
selepas bertarung

SudutBumi, Desember 2007



Lelaki Badai

tiupkanlah anginmu
yang akan menumbangkan segala gelisah

hanya ketika datang malam
kau hadir
meringkus tidurku yang lelap
berusaha menemani dari jarak terjauh

tidakkah kau ingat
sebuah ranjang telah basah
oleh keringat amukmu
sebuah gelas telah kau tandaskan isinya
berkalikali menciumi sesuatu yang tak terjamah

masih kurasakan hela nafasmu yang lelah
karena siang selalu saja menjauhkan kita

tentu saja aku cemburu pada angin yang selalu membawamu pergi
aku kalap ketika suaramu tak juga menyapa
hingga di sebuah pagi kau pergi tak kembali

meninggalkan sisa badai yang masih bergemuruh di hati
menyisakan sedikit harapan

rangkaian
perjalanan yang sempat membuatku mabuk
lalu merasakan kecewa

SudutBumi, November 2007



Orangorang Berpayung

selepas bersepakat dengan matahari
kami bergegas ke kota
berjalan menyusuri setapak sepi

tersebab listrik belum menjangkau
kami harus membenahi semua siang hari
merapikan hidup yang serba rumit
karena kami sadar
jelujur yang kami pijak adalak milik semesta

di tempat ini tak ada cahaya
selain matahari sang juru penghangat

walau temaram datang
itu hanya milik malam
yang diterangi bulan

kami selalu gegas
ketika kota yang didatangi hanya menyeringai
begitu asing
tak mengenal wajahwajah kami

sebab kami membutuhkan segala sandang
segala pangan
dan segala perabot

selalu kami bersepakat dengan matahari
agar hujan tak datang
melincirkan setapak jalan

kami pun tetap diam
ketika kematian demi kematian
datang beriringan
memaku setiap petak tanah merah

SudutBumi, Desember 2007

19 November 2007



//kejadian pagi

baru saja aku duduk tenang di kursi
diam menghikmati jejak pembicaraan semalam
tersadar ada sesuatu yang salah
semisal pembicaraan tentang hati
perjalanan kasih ambigu

pesan darimu datang juga
dikirimkan dan terbaca melalui layar ponsel
tentang samar peristiwa

ketika aku memaksamu untuk sebuah pertemuan
ketika rinduku tak dapat lagi kupendam
dan aku hanya ingin bercakap denganmu

sebuah pesan
tumbuh menjadi gundah di hati

tibatiba kau ingin pergi
meninggalkan semua yang masih samar

ingatkah kau,
kita belum sempat menikmati malam bersama
kita belum sempat memandang bulan
dari tempat yang berbeda
kau di kotamu
dan aku di kota lahirku

betapa
waktu semakin memanjang
memperjelas perbedaan



//kejadian sore

aku ingin mencarimu
di sudutsudut mall
barangkali etalase yang kujumpai
menghadirkan bayang dirimu

menyusuri koridor yang berbeda
memaku angkuh pada setiap cakrawala
kau tak ada, yang tersisa hanya kenangan

tak kuduga,
cakrawala anggun di ujung menara
memunculkan dirimu sebagai lelaki hujan
datang hanya di waktuwaktu tertentu
meninggalkan jejak di singgung temu



//kejadian luar biasa

sudahlah, aku tak ingin menyimpan luka
yang ada hanya kecewa
dan diamdiam aku menemukan sosok lain
ia sedang menatap tubuh layuku

di beranda
ketika angin tak lagi merindu
aku tengah mencermati seseorang terduduk
tangannya lincah menggoreskan siluet tubuh

apakah dia dikirimkan langit untukku
matanya masih saja jalang
menembus cakrawala senja
bercampur biru
bercampur merah sumba


SudutBumi, Desember 2007



Akolade

bolehkah aku memanggil namamu
sebuah nama yang akan mengawangkan diri
dalam senyap malam kelam
ketika jeruji pagi mengekalkan waktu pisah
jika memang sementara
sanggupkah aku melupa namamu

katakan semua dalam haru rindu
jalanjalan penuh kenang
petak cahaya yang menyilaukan
maukah kau berbagi sapaan
sekadar mengingatkan
paruh waktu adalah perjalanan pulang
tak ada lagi jembatan penyangga
jam pasir
kedap suara
lamunan hanya melambungkan nama

jangan larang aku untuk menyimpan sebuah nama
dalam ingatan yang makin lamur
selarik harapan masih saja digumamkan
inikah perjumpaan itu

langgam mengosongkan alur cerita
dan kamu adalah tokoh utama dalam kenanganku

jangan palingkan wajahmu
ketika aku mengharap anggukanmu
juga saat senja datang menjemput segala
sesal karena siang membawa namamu

tak kembali
seolah kampung yang patah akibat goncangan
sebab namamu tak hampa lagi dalam ingatan

bolehkah aku memanggil namamu
menjaga rindu untukmu
walau semua takkan kembali

SudutBumi, Maret 2007



Tubuhku dalam Percintaan Platonik

takkan kau temui sisa jelaga dalam tubuhku
hanya periuk bersandar di tubir duha
suci tak tersentuh

mengumbar kidung milik leluhur
agar kau ingat
aku adalah perempuan pertama setelah ibu
semang yang hadir di lesung pipi

jangan berharap
karena tubuh akan selalu merajah alir darah
agar kau tak sempat melupa

setiap sudut waktu
akan menemani menuju muara

lihat lebih dalam
karena setiap hentakkan
membuat lena
tipisnya angin membawa manis tubuh
menoreh roman kecintaan

jika bungkam kupilih
itu pertanda
usai segala bias

dan tubuhku
tetap kukuh menanti tubuh yang lain

SudutBumi, Maret 2007



Semenanjung Muria

kau rasakan pijak mimpimu di tanah ini
serombongan orang datang membawa bencana
menanamkan benihbenih panas udara

lihatlah, karangkarang meradang
ikanikan meracau di tanah leluhur
sepertinya siasat kata tak menjawab gelisah
sembilu menghunjam dasar bumi yang murung

pernahkah kau mendengar kisah jenaka di chernobyl
kisahkisah di tempat lainnya
pernahkah kau pikir betapa lucunya menanam luka
menernak gelisah di benak penderma

tanah adalah sebuah pengharapan
tempat para sunan merecup kedamaian
singgah dan rasakan geletar bumi
di sini ikanikan itu tak ingin bermutasi

SudutBumi, 2007

Jumat, 21 November 2008

Puisi-Puisi Dian Hartati

Di Balik Tikungan
buat budi p hatees

h/
malam telah menghabiskan cahaya
seluruhnya diserap tubuhmu
aura apa yang kau sisakan di gelap ini
yang silang di balik jabat tangan

ternyata jalanan telah mempertemukan kita
arah datang katakata tak diduga
mencecar tawa dalam ruang yang melaju

t/
siang tadi aku masih mencermati tikungan ini
sepi, hanya angin yang menghibur diri
dan gugur daunan mendatangkan kupukupu
apakah itu pertanda kau akan datang

menjelang malam serangga itu pergi
berganti dirimu
duduk menanti di tikungan

aku abai melewatimu
yang sibuk di antara genggam ponsel
tertawa begitu renyah
kau berbicara dengan siapa
sungguh aku ingin tahu

s/
di balik tikungan
akhirnya kita saling sapa
menorehkan segumpal kenangan
selalu dalam tawa yang hangat

SudutBumi, 30 April 2008



Melati yang Aku Curi

kata leluhurku,
datangilah setiap pelaminan yang digelar di ranah kerinduan
di situ ada cinta yang diikat sempurna oleh janji sehidup
ada hati yang tak dapat mengaburkan kenangan
tersebab harihari dilalui dengan asa

kata leluhurku,
belajarlah memainkan jemari ketika bersalaman dengan pengantin perempuan
dan pejamkan matanya
“agar kau dapat mencuri kantil melati”
merebut kesempatan yang sama
menjadi pengantin di hari yang berbeda

mainkan jemarimu
tanpa pengetahuan raja dan ratu sehari

kata leluhurku: “agar sempurna kau menjadi perempuan”

SudutBumi, 11 Juni 2008



Firasat Waktu

akhirnya aku tahu
ada jarak dari sekian perjalanan panjang
dari lubuk ke lubuk
hilir yang melantakkan tubuh

ini hanyalah perjalanan air
yang terus mengambang kehilangan tenaga
berenang mencapai sesuatu yang tak kumengerti

sebagai ikan,
hanya kunantikan
arah datangnya cahaya
dari permukaan

SudutBumi, 1 September 2008



Melepasmu dengan Doa

maka kugumamkan basmalah
mengiringi langkahmu menuju tangga itu
kuuraikan segala doa,
katakata yang tak mungkin kuungkap

tersebab hati berkata lain

demi ubunubun yang telah kau sematkan doa
malam penuh tanda tanya
adakah hatimu terbuka karenanya
hingga kelam matahari kurasakan di senja ini

pergilah
akan kunantikan sebuah waktu
ketika cakrawala mempertemukan kembali
angin dan laut
lembayung dan jingga
teruslah merapalkan doa untukku
agar tuhan kita mempertemukan hati yang saling membatu

tersebab mata berkata lain

kuakhiri juga rasa ini
memaksa putus sesuatu yang belum selesai
penuh tanda tanya
karena begitulah jalan takdir
tak bisa memaksa

SudutBumi, 8 September 2008



Perumpamaan Rindu
untuk kau, sungguh aku tak ingin menuliskan namamu

aku merindukanmu
selayaknya matahari merindu awan
peraduan yang dinantikan siang hari
tempat singgah segala lelah
ketika bumi ingin menepi dari panas purba

seumpama matahari
aku siap menanti kunjungan angin
yang datang bersama awan
dari arah tak terduga

selalu aku sebut namamu
tentunya –disertai nama tuhanku
segenap ingatan yang tak lepas
berlesatan
menyusuri setiap tepi hari
waktu ke waktu
dan aku selalu menemukan jalan
yang buntu
hingga rindu ini tak mungkin luruh

“hai angin, sampaikan padanya”
seperti lagu usang yang kusuka
“katakan, sampai kapan aku harus menunggu”

mendung di langit seolah pertanda
tetapi aku akan tetap bersetia

seumpama matahari
datang dan pergi di waktu yang sama
menarik usia bumi
menuju kesempurnaan
–yang difirasatkan semesta
aku merindukanmu
sungguh!

SudutBumi, 14 September 2008

Kamis, 20 November 2008

Puisi-Puisi Dian Hartati

Kamar Beraroma Apel 2

inilah garis singgung yang kucipta
sebuah dunia yang mendedahkan segala rasa
ketika tawa dan cerita hanya milikku
tak terdengar oleh sesiapa

di sinilah sudutbumi kuhamparkan
petapeta rahasia kubentangkan
penuh kepak kupukupu
kesegaran aroma apel
kecerahan matahari yang selalu bersinar
juga lelembah yang antarkan aku pada sebuah cahaya

di hampar permadani yang sejuk
kusebutsebut sebuah nama
juga kutuliskan banyak puisi
untuk mengenangkan seluruh kisahku
mengabadikan tangis yang diantar sebagian rasa gundah

jika kau masuki tempatku berada
lihatlah sketsa hidupku
seseorang telah melukiskannya untukku
di beranda sebuah mall
ketika angin memenjarakan aku di senja kota bandung

telusurilah angan yang kucipta
langkahlangkah sepasti sejarah
lekuk gairah yang lebur di tubuhku
semua menghadirkan senyuman yang banal

SudutBumi, 07 Maret 2008



Sketsa Hati

hatiku bukan hijau
ia ungu seperti yang tumbuh di mataku
ia dalam menutupi sumur kenangan
ada luka di hatiku
yang selalu gerimis
jika seseorang melihat di kedalamannya

SudutBumi, 17 Maret 2008



Wajah Pagi

kuterkaterka sebuah wajah,
wajah pagi yang dingin

lalu kuhantarkan matahari,
tempat luka dikeringkan

tempat segala rasa dirangkumkan
dalam sebuah cawan,
bernama kenangan

SudutBumi, 20 Maret 2008



Metawaktu

apakah kau bersiap
untuk sesuatu yang tak pernah terduga?
serupa aku yang menjelma di lelahmu
serupa aku yang berkelindan di ingatanmu

serupa kupukupu
aku siap
bermetamorfosis

SudutBumi, Maret 2008

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae