Tampilkan postingan dengan label S Yoga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label S Yoga. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Puisi-Puisi S Yoga

Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010
GENDERUWO

obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010



BARONGSAI

barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang bercahaya
karnaval perayaan musim tanam
malam menjulang bertabur bintang
kembang api menyembur
di kegelapan malam yang memanjang
mercon meledak di udara
tambur dimainkan, gemerencing genta
dan keras genderang yang menggema
di persimpangan jalan kau ragu
arah mana yang dituju
menari-nari di malam gemerlap
warna-warni merah api
bergantungan di udara
di sisimu seekor naga raksasa
meliukkan ekor hitamnya
dengan sisik kuning emas
penuh kenangan
dan derita yang memanjang
dari sejarah gelap yang terlupa
berlengak-lengok dalam tarian liong
dengan tubuh telanjang
ekor masa lalumu yang melumut
melingkar-lingkar di dasar angan
meliuk dan menyemburkan api
membelit tubuhmu yang mulai bersisik

Ngawi, 2010
Kompas, 21 November 2010



NGIBING

hutan yang sunyi
seharum tubuh terlupa
hanya jejak-jejak yang tertinggal
di mana akar pertama ditanam
malam telah bertabur bintang dan kunang

kau mulai ngibing
sambil telanjang dada
kaki menghentak pada irama kendang
selendang kuning terkalung di leher
lelaki legam sebentar lagi tambah kelam

kau buka sarung yang melingkar di bahu
kau kembangkan ke udara memanas
kau sarungkan ke tubuh penari takjub
kau menari dalam balutan ciu kedelapan
kau menari dalam sarung yang sama
kau mencari dalam jiwa yang samar

tanganmu masuk ke rusuk sebelah kiri
menemukan tulang yang selama ini dicari
penari bergelinjang ke sebelah kanan
mencari yang lebih sepi dari api

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010



PALGUNADI

aku belajar dengan damar di belukar
hingga fajar pada sesosok tubuh samar
untuk mengejar semua pusat dan pusar amar
yang tak pernah kudengar

kudirikan sebuah patung buntung memegang jemparing
dengan punggung melengkung serupa dirimu yang agung
dari lempung gunung menghadap gerbang kampung
agar sabdamu selalu dapat kutangkap dan kukenang

kubentangkan panah cakrawala dari busurku
ingin kubidikan pada musuh-musuh malamku
namun kau meminta agar aku tak memanah rembulan
simpan semua kesabaran pada datangnya firman

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010
Sumber: http://syoga.blogspot.com/2010/11/pusi-dimuat-kompas-21-november-dan-4.html

Rabu, 21 Januari 2009

Puisi-Puisi S Yoga

http://jurnalnasional.com/
http://syoga.blogspot.com/
LILIN

telah kumusnahkan tubuh yang dulu
hingga dapat kuciptakan bayangan baru
dengan api yang selalu menghabiskan
kepercayaan kepercayaanku telah jatuh

ke dalam jurang jurang malam
pada langit yang tak pernah kujangkau
kuharap kau merunduk dan menciumku
karena hanya ruang yang dapat kupahami

dengan waktu pun aku telah menjauh
karena hanya akan mengekalkan kesunyian
yang selalu kumusuhi dalam mencari terang
aku hanya bertamsil pada angin yang membisu

di atas meja berplitur yang menggoda
debu debu telah bersetubuh dengan waktu
mengincarku dengan bidikan lumpur
agar aku runtuh dalam lobang yang sama

lobang yang pernah kugali saat kejatuhan dulu
saat aku membenci warna yang menyilaukan
ketika aku menyihir bayang bayang
dari kenikmatan kenikmatan dunia

di atas penderitaanmu
memang kebahagiaan yang selalu kucari
dengan api yang menerangi kegelapan
sebelum tubuh habis dilalapnya

***



IKAN

bukan aku yang ingin mendustai
sisik sisik ini bukti keremajaanku
meski telah kutempuh berpuluh lautan
jurang, palung dan kapal karam

yang selalu menggoda adalah waktu
yang tak pernah mau menunjukkan arah
hingga cahaya lautan tak dapat kutaklukkan
maka terimalah aku sebagai kepunyaanmu

bila belum dengan apa aku harus datang padamu
akan kuberikan jika kau minta seluruh harta di laut
namun kau hanya mengirimkan isyarat ombak
yang kuterjemahkan dalam ibadah

bahwa keikhlasanku belum sampai batas
kugali lagi darah air agar dapat menjadi bukti
bahwa aku pernah sampai di palung terdalam
untaian untaian mutiara ini buktinya

yang telah kuraih dari mulut tiram yang karam
istana dan kerajaan lautan pun pernah kusinggahi
namun tak kutemukan kau di singgasana
hanya ada jerangkong kosong bermahkota lumut

telah kusihir beribu kuda laut agar takluk
namun desirmu telah menggagalkan semua rencana
padahal pasir pasir telah berjamaah bersamaku
agar selalu setia menemani dalam kesepian

agar selalu setia menemani dalam kegelapan
akan kutunggu dan kujebak kedatanganmu
kusiapkan perangkat doa agar kau menerimaku
sebelum matahari mengeringkan lautan

***



TULANG

telah kuterima nasihatmu wahai sang malam
agar aku tabah menerima semua ini
menerima kepurbaan yang terus melapuk
menerima lumpur yang terus menyembur

darah atau lumpur tak pernah kuingat benar
ke dalam pori pori yang tak pernah berkuasa
bukan aku menolak tapi isyarat malam terus menatap
karena matahati telah terkubur di jantung nafsu

dan sumsum hidup telah terhisap ke dalam lambung
aku tak ingin melukai hatimu yang rapuh
dan tak ingin menyempurnakan kefanaanmu
setiap hari aku hanya bercermin pada labirin waktu

yang kuterjemahkan sebagai tugu kesunyian
sebelum kebangkitan cahaya yang pertama
arwahmu telah memintaku untuk kembali
namun aku masih sabar menghadapi kegelapan

***



AKIK

telah kuserap semua cahaya yang kukenal
ke dalam diri yang gelap gulita
agar raga dapat kau lihat dengan kemilau
agar kesempurnaan bukan lagi kemustahilan

apa gunanya bertapa di dalam gua
bila batu batu tetap menyertai
tubuh begitu berat sebelum terbasuh dalam air
rasa yang tak pernah kujumpa sebelum kejatuhan

langkah besarku menjadi begitu bebal dan gagal
bila kusidik dari jemari tangan yang hening
gerinda telah membuatku mahir memainkan peran
menggosok tubuh hingga mengilap

jasad yang sebentar tampak indah
lumpur lumpur telah kutaklukkan dalam air bening
telah kusuling menjadi kristal kristal cahaya
sebelum musuh musuhku membuatku lebih berharga

batu mulia kau sebut ragaku yang baru
namun aku undur dalam kata kata mutiara
sebelum para aulia
mempercayai

***



MATA

kubenamkan matahati di air hening
ketika subuh mengutusku ke dalam sepi
kubuka jendela dan matahari menghampiri
sisiknya bergelantungan di janggut pepohonan

berkilauan diiringi cericit burung pipit
dengan api pagi kuambil jaketku yang lusuh
siap berangkat bertarung dengan waktu
mataku kini memang sunyi di bawah tatapanmu

tapi percayalah dendam telah kusimpan rapi
di almari hati yang luka oleh kenangan
sebenarnya enggan aku menatap sebening telaga
karena cahaya hanya memantul di permukaan air

ingin aku tenggelam selamanya di dasar kolam
agar raga berlumut dan menebal dalam warna kelam
agar diri terhindar dari gelombang cahaya
telah kusidik luas dan panjang palungmu

dengan mata yang hampir buta karena luasmu
tak mampu kujangkau dan kuukur kekufuran ini
sedang jejak jejak yang pernah tertinggal
hanya samar dan hampir terhapus kitab waktu

batu dan ilalang telah kujinakkan
dalam rumah doa dan savana
agar ia tabah dalam mencari mata sejati
yang berwajah kesunyian

***

Minggu, 03 Agustus 2008

HIKAYAT ULAR

S Yoga

kudengar nada lirih
yang terukur berkesiur
dan bergetar di dalam dada

di dalam dada ada damar
menyala terang di sulur pohon poplar
di bawah pohon poplar
ada ular melingkar
di akar yang kekar
konon terusir dari surga
ketika menjaga pohon kuldi keramat

adam dan hawa telah membujuknya
untuk memetik buah terlarang
karena manusialah yang berakal
sang ular hanya mengikuti naluri
dengan kata kata bijak
ia telah mengingatkan agar selalu tafakur

dengan mata yang nanar
adam yang berwajah pupur
melempar takdir
ke sisik sisik tubuh sang ular
hingga ia undur terjatuh ke lumpur
yang tergenang di dalam dada
hingga di dada tumbuh pohon amarah
yang tercipta dari nafsu dan kelenjar nanah

setelah memetik buah harapan
sang adam membawa anggur kebahagiaan
menuju altar hawa yang girang
ia sedang membuat catatan harian
tentang kisah sang ular
yang menjebak dan merayu samar
agar ia nyidam buah terlarang
agar adam bersedia memetikkan
dan memakan buah hasrat berdua

di nadir dan tabir ini
sang ular membongkar kitab lamur
ia duduk di puncak kenangan
dengan melingkarkan ekor masa lalunya
agar amar tuhan dapat tercipta
saat kau menafsir sebuah mitos
tentang manusia yang jatuh ke bumi

2007

A. Mustofa Bisri A'yat Khalili Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Wachid B.S. Abi N. Bayan Abidah El Khalieqy Acep Syahril Acep Zamzam Noor Adi Toha Adrian Balu AF Denar Daniar Afrizal Malna Agus Manaji Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunarto Ahmad Fatoni Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Maltuf Syamsury Ahmad Muchlish Amrin Ahmad Syauqi Sumbawi Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Akhiriyati Sundari Akhmad Fatoni Akhmad Muhaimin Azzet Akhmad Sekhu Ala Roa Aldika Restu Pramuli Alfatihatus Sholihatunnisa Alfiyan Harfi Ali Makhmud Ali Subhan Amelia Rachman Amie Williams Amien Kamil Amien Wangsitalaja Aming Aminoedhin Andry Deblenk Anggie Melianna Anis Ceha Anjrah Lelono Broto Anna Subekti Aprinus Salam Ariandalu S Arieyoko Ksmb Arya Winanda As Adi Muhammad Asep Sambodja Atrap S. Munir Awalludin GD Mualif Aziz Abdul Gofar Badaruddin Amir Bakdi Sumanto Bambang Darto Bambang Kempling Bambang Widiatmoko Beni Setia Beno Siang Pamungkas Bernando J. Sudjibto Bernard S. Y. Batubara Binhad Nurrohmat Budhi Setyawan Budi Palopo Bustan Basir Maras Chairul Abhsar Chavchay Saifullah Cut Nanda A. D. Zaini Ahmad D. Zawawi Imron Dadang Afriady Dadang Ari Murtono Daisy Priyanti Daysi Priyanti Dea Anugrah Dea Ayu Ragilia Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Desti Fatin Fauziyyah Dewi Kartika Dharmadi Diah Budiana Diah Hadaning Dian Hartati Didik Komaidi Dimas Arika Mihardja Djoko Saryono Dody Kristianto Dorothea Rosa Herliany Dwi Pranoto Dwi Rejeki Dwi S. Wibowo Edy Lyrisacra Effendi Danata Eimond Esya Eka Budianta Eko Hendri Saiful Eko Nuryono El Sahra Mahendra Ellie R. Noer Elly Trisnawati Emha Ainun Nadjib Endang Supriadi Endang Susanti Rustamadji Eny Rose Eppril Wulaningtyas R Esha Tegar Putra Esti Nuryani Kasam Etik Widya Evi Idawati Evi Melyati Evi Sefiani Evi Sukaesih Fadhila Ramadhona Fahmi Faqih Faizal Syahreza Fajar Alayubi Fanny Chotimah Fatah Anshori Fatah Yasin Noor Fati Soewandi Fatimah Wahyu Sundari Fauzi Absal Felix K. Nesi Fikri MS Fina Sato Firman Wally Fitrah Anugerah Frischa Aswarini Gampang Prawoto Ghaffur Al-Faqqih Gita Nuari Gita Pratama Goenawan Mohamad Gunawan Maryanto Gunoto Saparie Gus tf Sakai Halimi Zuhdy Hamdy Salad Hamid Jabbar Hari Leo Haris del Hakim Hasan Al Banna Hasan Aspahani Hasta Indriyana Helga Worotitjan Heri Latief Heri Listianto Heri Maja Kelana Herlinatiens Hudan Hidayat Hudan Nur Ibnu Wahyudi Ikarisma Kusmalina Ike Ayuwandari Ilenk Rembulan Imam S Arizal Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Iman Budi Santoso Imron Tohari Indah Darmastuti Indiar Manggara Indra Tjahyadi Indrian Koto Isbedy Stiawan ZS Iwan Gunadi Javed Paul Syatha Jibna Sudiryo Johan Khoirul Zaman Johannes Sugianto Joko Pinurbo Joko Saputro Jufri Zaituna Jusuf AN Kadek Wara Urwasi Kadjie Bitheng MM Kartika Kusworatri Kedung Darma Romansha Kika Syafii Kirana Kejora Kirdjomuljo Kurnia Effendi Kurniawan Junaedhie Kurniawan Yunianto Kusprihyanto Namma Kuswaidi Syafi’ie L.K. Ara Lailatul Muniroh Landung Rusyanto Simatupang Lela Siti Nurlaila Liestyo Ambarwati Khohar Lina Kelana Linda Sarmili Linus Suryadi AG Liza Wahyuninto Lubis Grafura Lutfi Mardiansyah M. Badrus Alwi M. Faizi Maghfur Munif Maghie Oktavia Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maqhia Nisima Marcellus Nur Basah Mardi Luhung Marhalim Zaini Mario F. Lawi Marwanto Mas Marco Kartodikromo Mashuri Mathori A. Elwa Matroni el-Moezany Maya Mustika K. Mega Vristian Miftahul Abrori Mohammad Yamin Muhammad Ali Fakih Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muntamah Cendani Mustiar AR Mustofa W Hasyim Mutia Sukma Nadjib Kartapati Z Nanang Suryadi Nezar Patria Ni Made Purnama Sari Ni Made Purnamasari Ni Putu Destriani Devi Noor Sam Nunung S. Sutrisno Nur Iswantara Nur Lodzi Hady Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Nurul Komariyah Nyoman Tusthi Eddy Nyoman Wirata Pariyo Adi Pringadi AS Pringgo HR Puisi-Puisi Indonesia Purwadmadi Admadipurwa Puspita Rose Putri Sarinande R. Toto Sugiharto Rachmat Djoko Pradopo Raedu Basha Ragil Suwarno Pragolapati Rakai Lukman Rama Prabu Ramadhan KH Raudal Tanjung Banua Remy Sylado Ribut Wijoto Rikard Diku Robin Al Kautsar Rozi Kembara Rudi Hartono Rusydi Zamzami S Yoga Sahaya Santayana Saiful Bakri Salman Rusydie Anwar Samsudin Adlawi Sapardi Djoko Damono Sartika Dian Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Selendang Sulaiman Seli Desmiarti Sigit Sugito Sihar Ramses Simatupang Siska Afriani Sitok Srengenge Sitor Situmorang Slamet Rahardjo Rais Slamet Widodo Sosiawan Leak Sreismitha Wungkul Sri Harjanto Sahid Sri Jayantini Sri Setya Rahayu Sri Wintala Achmad Suci Ayu Latifah Sumargono SN Suminto A. Sayuti Sunardi KS Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Suryanto Sastroatmodjo Sutirman Eka Ardhana Syifa Aulia Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teguh Ranusastra Asmara Teguh Triaton Tengsoe Tjahjono Tharie Rietha Thowaf Zuharon Timur Sinar Suprabana Tita Maria Kanita Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto TS Pinang Ulfatin Ch Umbu landu Paranggi Unieq Awien Usman Arrumy W. Haryanto W. Herlya Winna W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyu Subuh Warih Wisatsana Wayan Sunarta Weni Suryandari Widi Astuti Wiji Thukul Winarni R. Y. Wibowo Yonathan Rahardjo Yosi M Giri Yudhi Herwibowo Yudhiono Aprianto Yurnaldi Yusri Fajar Yusuf Suharto Yuswan Taufiq Yuswinardi Zaenal Faudin Zainal Arifin Thoha Zamroni Allief Billah Zawawi Se Zehan Zareez Zen Hae