Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Puisi-Puisi Jufri Zaituna

http://www.sastra-indonesia.com/
Perempuan yang Selalu
Kuciumi Tangannya di Dapur

perempuan yang selalu kuciumi tangannya di dapur
setiap kali aku pergi meninggalkannya
bau kencur, bawang, merica, serta asin garam
dapur yang selalu mengepulkan asap penderitaan
dari tungku pembakaran hasrat yang berkobar
piring-piring amis ikan, gelas-gelas kotor, sendok juga karatan
tapi ia setia mencucinya dengan air mata
merapikannya tanpa ada sesal di hatinya

2009



0rang-Orang Mengira

orang-orang mengira namaku namamu
namamu yang menenggelamkan namaku

orang-orang mengira aku berjalan di jalanmu
jalanmu yang tak pernah mempertemukan jalanku

orang-orang mengira mataku memandang matamu
matamu yang tak pernah memandang mataku

2009



Kubacakan Puisimu
:alm zainal arifin thoha

jam yang masih menetes perlahan
pada sebongkah malam yang kian pualam
aku tak bisa lagi menyimpan rahasia dingin
sampai kesendirian ini lesup
kubaca puisimu berulang-ulang
mengingatkan aku pada kematian

2009



Seusai Kepulanganmu

embun tak lagi meneteskan pagi
ketika…

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

http://www.sastra-indonesia.com/
Sebuah Kota Tua
- Derek Walcott

Sebuah kota tua, memiliki kisah masa lalu,
sejarah bedil dan senapan, kereta kencana yang karat.
Tahukah engkau, setiap sore di museum sebelah timur taman bunga itu,
ada suara-suara berteriak bagai roh gentayangan yang berdesakan,
lelaki dan perempuan pucat, matanya lembab seribu bulan,
menunggu hari pembalasan yang dijanjikan.

Sebuah kota tua, di bawahnya air sungai mengalir
dan buah-buah dusta dipetik dari pohon bidara yang berduri.
Tahukah engkau, kenangan gugur ke bawah pohon pisang yang bersusun,
jadilah ia firman suci nabi-nabi, bersumpah demi beredarnya bintang-bintang,
demi malaikat yang membagikan air hangat, teh poci dan kopi robusta,
demi sebatang rokok yang ditanam sendiri di hari muda.

Sebuah kota tua, kota yang hampir hancur lebur,
para tukang sihir menyulapnya menjadi kandang babi,
merubah pikiran mereka untuk melupakan kisah pahit
prajurit-prajurit. Dan tahukah engkau,
orang-orang di kota ini menjadi gila,
sampai badai membu…

Puisi-Puisi Matroni el-Moezany

http://www.sastra-indonesia.com/
Risalah Batu-Batu

Kadang aku tak sanggup
Menaklukkan batu-batu jiwamu
Lantaran engkau tak jua
Meninggalkan irisan luka kata
Yang datang dari seberang

Ketaksanggupan adalah keniscayaan
Yang tidur pulas memelukku erat
Apa dan siapa diriku? Lalu
Ketakmengertian itu membuat
Kemenyatuan pena dengan darahku
Walau kau anggap puisi sebuah kemiskinan

Lantaran aku penyair
Kau menuduhku tak memiliki apa-apa

Penyair adalah apa-apa
Penyair adalah separuh semesta
Dan separuhnya adalah kata-kata

Lalu, dimanakah tuhan?

Tuhan adalah kemenyatuan penyair dan kata-kata

Masihkah kau tak percaya
Kalau aku orang hebat
Yang mampu menaklukkan semesta
Hanya dengan kata-kata

Yogyakarta, 2009



Adalah Engkau

Engkau bisa mencari dari atas
Dari bawah bahkan dari tengah-tengah
Sehingga menemukan perjumpaan
Di dalam kata-kata

Jendela sudah terbuka
Jendela yang di sukai banyak penyair
Tapi sudahkah kita bertanya
Terhadap keberhasilannya itu?
Keberhasilan mendapat pengetahuan
Keberhasilan mencari perjumpaan?

Engkau boleh s…

Puisi-Puisi Winarni R.

http://www.sastra-indonesia.com/
Bandung Saat Seremoni Tahun Baru
: deng

Kau ajak aku membakar jiwajiwa
Melolong membutakan lampulampu
Menembus sekawanan pekat yang menunda cahya
Embun yang bimbang datang

Kau nyalakan mercon perpisahan untuk kemarin
Melukiskan musimmusim yang menawarkan gerimis
Menagih kekasih pada malam yang diiringi jerit hitungan jam

Bandung saat seremoni tahun baru
Kau bacakan mantramantra percintaan di trotoar merdeka
Menghanyutkan ribuan album yang kau sisipkan dalam saku
Serta ratusan tembang kenangan tentang lelaki dalam cermin

Bandung saat basah di tahun baru
Kita mengubur semua puisi hujan
Dan mabuk dalam lautan manusia

2007-2008



Senja

sari,
kita tidak tahu gerimis senja ini kiriman siapa?
Pun aku tak tahu berapa trotoar yang merekam perburuan kita.
sari,
rindu ini lahir dari keterasingan.
seperti teratai yang merah dan matamu yang hitam.
sari,
kanak-kanak musim kemarin berlarian membunuh pelangi.
aku waswas
bagaimana jika senja kutuliskan dalam sajak kita?
diantara rumah, laut, dan asi…

Puisi-Puisi Iwan Gunadi

http://www.jawapos.co.id/
MERGER

bank adalah kepala manusia
yang dijaga dengan senjata apa saja:
kapak batu, tombak, panah,
golok, keris, parang, bambu runcing,
belati, pisau, ketapel, pistol,
senapan, meriam, granat, dan ranjau
volume kepala setiap manusia tak sama
warna rambut setiap manusia bisa berbeda
usia keduanya bisa tak semasa
ketika dua atau beberapa kepala
diminta disatukan di bawah satu nama,
yang tampak mencolok
bukanlah merendahkan sirah,
melapangkan dada, dan meringankan langkah
demi kesebatian volume, warna, dan usia
yang sering mereka pilih
sejak awal hingga akhir
adalah perang antarsenjata:
”lebih baik kami tak punya nama
asal punya kepala,”
kata mereka sembari menyurutkan kaki
dan menyamarkan muka
dengan mengganti-ganti topeng
yang peka dengan perubahan cuaca



REKSA DANA FIKTIF

ini minyak wangi nomor wahid. lebih harum dari seluruh kembang di taman. bahkan, dari seluruh bunga di kebun bunga di negeri ini. apalagi, sekarang bukan musimnya mengunjungi, lalu memetik bunga di kebun bunga. sebab, k…

Puisi-Puisi Nanang Suryadi

http://www.jawapos.co.id/
BERSYUKURLAH

Dengan
rasa sakit yang kita nikmati
dengan
rasa bahagia yang kita khidmati
dengan
menerima segala
selapang sunyi



TAHUN KETIGAPULUH EMPAT

apa yang kau ingat
mungkin kematian
yang kian mendekat
jarum jam menunjuk
membusur
ke dada hibuk
telah berapa jejak yang kau buat
hingga sampai
pada alamat
putaran waktu berulang kembaliberputar ke awal
mulai jadi
akankah engkau menengadah
atau tertunduk kalah
karena demikianlah hidup
memberi arti
pada yang tak kau mengerti
karena demikianlah hidup
sesuatu yang sukar kau mengerti
dan ingin kau beri arti

Juli, 2007



DAN

dan jiwa yang sedang bergejolak itu mendidihkan kenangan-kenanganhingga matang puisi di tungku
jiwamu
Hingga waktu menghela kereta mimpi ke segala tak berbatas
nafasmu



Dongeng Sisiphus Buat Ook

akulah sisiphus katamu menggelinding sepanjang pagi hingga malam di jalanan ibukota. tapi aku bahagia, tapi aku bahagia. seperti kudengar ada yang menderaskan airmata di dalam guci puisi.seguci puisi keteguk demi seteguk hingga airmatamu menda…

Puisi-Puisi Mahwi Air Tawar

http://www.jawapos.co.id/
Isyarat

gelembung hari tergantung pada ranting usia
berayun pelan-cepat diseret angin kemarau
dan guruh musim yang melulu pilu
adalah ujung dari segala isyarat
saat retak tanahmu tak dapat kupijak
setiap jejak dalam perjalanan panjang
meruap bau anyir tubuhmu
separuh wajahmu membayang
menagih sisirat pada sepatak liang ladang
menarik-narik temali hidupku
dan memaksaku memberi tanda
pada setiap tempat dan alamat

Jogjakarta, 2010



Perempuan Seruling
:Otzu

di malam keseribu selepas musim semi
kotamu merah kelabu
buncahan usus menggumpal seperti awan berarak pekat
mata-mata nyalang memandang
masa kini-kemarin mengabur
dalam pekikan gempur
tiuplah
tiuplah serulingmu
agar pegunungan tubuh-tubuh rapuh berserak
tak selalu senyap
dan jiwaku yang senantiasa hampa dapat merasakan
getaran rindu kepada yang telah tiada
hingga runcing samuraiku
membelah pekat langit
yang melulu bergelegar
dan maut tak jadi ancaman

jogjakarta, 2010



Banyuwangi Perjalanan Kedua
:Taufik wr, Fatah Yasin

di jalan ini, luka duka lun…

Puisi-Puisi Akhmad Fatoni

http://www.surabayapost.co.id/
Jauh

jauh sebelum kau menaburi tamanku dengan bunga-bunga
airmata, aku telah merasakan ketakutan
yang menjamah tubuhku ini
dengan hati yang tak lagi seindah
senyuman di bibirmu

jauh sebelum kau meninggalkanku
pesakitan telah bersemayam di tubuhku,
di kepalaku, dan kau datang membisikkan
suara yang lirih di telingaku
karena kau takut kebohonganmu
didengarkan telinga-telinga di sekelingmu



Gemigil di Tuban

Kasri, kau menuai api yang
memanas, nian sungguh kau dekat dengan malang
air, genang, dan penyakit
datang menyapa dengan bertubi
mirip mendung yang tak kuat menahan air
dan menjadikannya hujan

sungguh ingin aku memelukmu Kasri
memeluk dengan iba
dan dentum yang menggema
membawa baju, sekardus mi instan, dan obat-obat
yang di jual murah di apotek-apotek

sungguh mereka tak
kasihan melihat Kasri, semua di telan dan
di masukkan kantong dengan diam-diam
dan mulai gusar ketika ATM di bobol beruntun
dengan manis dan sangat ritmis
mereka tak bisa tidur
tiap malam mengerang dan membayangkan uan…

Puisi-Puisi Kurniawan Junaedhie

http://www.jurnalnasional.com/
Keluarga Bahagia Ketika Hujan di Hari Minggu

Hujan di pagi hari menyebalkan. Aku menarik selimut sampai dagu. Tanganku kelu di bawah bantal. Istri dan anak-anak sudah mandi. Ke Mal, teriak mereka. Jendela tidak bohong. Kaca penuh embun. Selebihnya kabut. Aku menarik selimut sampai kepala. Tanganku berputar ke arah guling. Istri dan anak-anak sudah mandi. Ke Mal, teriak mereka. Aku menarik selimut menutup kepalaku. Gelap dalam selimut. Anak istriku ikut masuk ke dalam selimut. Istriku meninju guling. Anak-anak meninju mukaku. Aku tidak bohong. Kami keluarga bahagia.

2010



Kata-Kata Yang Ditimpuk Air Hujan
-penyair han

Aku mencelup dalam hujan. Tubuhku kuyup. Han di mana? Di bawah genting? Aku mencopot jas hujan. Celana dan bajuku basah. Han! Kupanggil dia. Dia bergantung di bawah ranting yang dibalut air hujan. Seperti embun. Heran. Orang-orang membicarakan orang lain. Han pacaran sama Gusti. Ngurah sama Dewi. Ines sama Saut. Orang-orang itu mestinya masuk ke da…

Puisi-Puisi Ahmad Kekal Hamdani*

http://www.sastra-indonesia.com/
Di Eriberne

I
Di eriberne, rindu dan darah jadi batu
sunyi meminang terumbu dan kuali-kuali
yang tak tertampung perihnya

Di eriberne, kota asing dalam diriku
dimana rembulan pecah dan berwarna biru
yang sakit. kuigaukan jemarimu
melambai pada tikungan, dari setiap kemungkinan
tentang ingatan

Di eriberne, di kota dalam diriku
para serdadu dengan melepas sepatu
telah memeluk tiang-tiang jalan. jalan yang menulis
jalan-jalan berkesiur pada kenangan. jalan bahasaku padamu

II
Di eriberne, di kota yang tak siang itu
orang-orang menampung air mata
melipat tapak yang terkibas dan terlepas

Di eriberne, di jantung rinduku
kota dengan raut masa kanak
dan usia yang bergelayut sedih
di tiang lelampu
kelak kunyalakan namamu

Yogyakarta, 2009



Nama

Daun yang tanggal ketanah hendak mengenang seluruh pertanda
tentang keabadian, disana aku mencarimu lewat sebuah nama

Lewat nafas yang mengendus, membaca seluruh ayat
- jam dinding tak henti berdetak

Kamarku lebih sepi dari hatiku
aku mencarimu lewat sebu…

Puisi-Puisi W. Haryanto

http://www.jawapos.com/
MALAM BULAN JULI

Embun terputus ke pinggir gapura: kupu-kupu berbagi
peran dengan bayangan, masjid yang terkurung penat
dengan tanda koma. Ketika malam habis, rambutnya
merentang memungut bulan yatim piatu,
lama ia menghibur diri dan lekat dengan perpindahan,
ia seperti kekasih yang iseng dengan bunga kertas,
sebelum pagi, ia seperti sepi, ia mata yang tak berpaling
cuma tatapan yang licik, lalu menyingkir ke pinggir subuh
seperti warna Juli yang gelisah. Ketika malam tinggal setitik
pada jambangan bunga, ia seolah menjauh dari kampung,
warnanya tak mau bicara, tinggal buih, tinggal kepulan
teramat getir ia mendengar debar subuh,
tak cukup tema dalam pelariannya. Ketika pagi datang
ia mengeras lalu tersekap dekat semak, malam bulan Juli
cuma arang yang pura-pura menekuni catatan cinta
ia terdampar dalam kata, janji yang kecut dan ia berbisik,
”aku buta dan tak tahu bedakan rasa” — ia larut,
prenjak tak mau meraba, ia cuma perpindahan warna,
di seberang: ketika selat usai di jam 3 …

Puisi-Puisi Indra Tjahyadi

http://www.suarakarya-online.com/
KESENDIRIAN
- fransisca romana ninik

Kesendirian menguntit.
Kelam merangkak sepanjang jalan menjelma jembalang,
menghisap darah yang bertetesan dari jejak.
Dari kedua bola mataku rabun,
kesunyian meluncur bak burung
bersayap muram yang meledakkan mendung.
“Kesunyian itu, cintaku, adalah bulan memar menyoroti
malam-malamku dengan bara hitam yang diletupkan
ingatan tentangmu.”
Seluruh badai yang pernah dicurahkan
kini berpulang pada bisu.Maka iklim pun mencatat riwayatku
sebagai kesepian pohon,pohon yang dihidupkan jam-jam larut.
Ingin kupeluk tubuhmu,
tapi dalam kalbu hanya pahit,
hanya sakit menggerutup, menjalar di
segenap tulang dan nadiku.
“inikah duka, cintaku,
lagu yang tercipta dari
segenap perih dan airmata mengemuruh?”
Aku jasad murung. Dilupakan mazmur,
dihujati kubur.
Dalam hampa musim dan senyap tahun,
kesendirian menguntitku dengan
sebilah lengan terayun,
siap menujahkan parang ke dadaku.

2007-2008.



MAYAT TEGAK

Mayatku yang tegak ditabuhi rindu
berserah pada pilu.Jejak …

Puisi-Puisi Sunardi KS

http://www.suarakarya-online.com/
Jangan Macam Macam

dan karena batu-batu
dan karena memang batu
lalu cemburu jadi seteru

perang barata yudha
pada jaman batu
oleh batu-batu
bermimpi di ranjang tidurmu
dipanggung angan-angan
runtuhnya awan
langit penuh bintang
jadi milik seorang

tak boleh ada yang ikut-ikutan
siku-siku gatal ditajamkan
lirikan ditajamkan
kaki injak-injakan
di bawah meja makan
meski tangan-tangan bersalaman

kuucap selamat datang
selamat menyerahkan
atau mengikhlaskan
meski kau paksakan
jangan banyak kata
kalau tak mau
dimaknai dengan lain bahasa

* Jepara, januari 2010.



Ulat

kerlingan
apakah bermakna
:ada kemenangan

(senantiasa diragukan)

aku ingin laut, aku ingin langit
aku ingin hutan, aku ingin legit

(tempat persembunyian, hutan
jangan sekali-sekali kau nistakan)

aku tak peduli pada mata
pada lidah terus bicara
pada pikiran tajam
pada nurani menyelam

(kau bilang; tembok-tembok
tetapi jangan dipasang gembok
samudera luas, langit luas
daratan luas, kalu bilang lupa)

tak apa-apa
sebab segalanya
aku tak suka serta te…

Puisi-Puisi Gita Nuari

http://www.suarakarya-online.com/
NOL

baiklah, kau telah menulis sunyi di batu itu
yang kemudian kau biarkan digauni lumut dan semut
aku tak menduga ada kabar bahwa menara
yang kau bangun dengan airmata, terbakar tadi malam
orang-orang memadamkannya dengan bersorak
kejam, katamu. keji, kataku
sudah kuhallo berulang kali ponselmu
tapi kesunyian yang kuterima
kau sengaja mencuri suaraku
tapi kau sembunyikan
gairahmu
kosong, katamu. hampa, kataku

Depok, 2010



SEBATAS KEPAK

diterang paling derang
langkahmu terbaca mataku
tapi di ujung kelokan
kau hilang di rimbun hutan dua ekor capung
bersenggama di atas danau
di ujung paling mendung, kau muncul
menjelma gelang-gelang airah, baru kali ini
rindu bersayap gelap
terbang sebatas kepak
singgah karena lelah

Depok, 2010



MINUMAN

kita seharian minum
bergelas-gelas keraguan
pergi menuju entah
pulang lupa arah
kita seharian makan
berpiring-piring kepalsuan
pikiran ke kiri
langkah ke kanan
jangan saling tikam
jika jalan penuh tikungan
ambil kompas
mari berlayar di lautan lepas

Depok, 2010



LA…

Puisi-Puisi Timur Sinar Suprabana

http://www.suarakarya-online.com/
Sajak Kembanghati

di mana kini
kembanghati
kembangnyanyi
kembangseri

tinggal kosongsuwung
tiada bayang gunung
tiada gaung bersambung
tiada kau di Jantung

tiada!

* Semarang, agustus 2008



Sajak Kembangkenanga

kembangkenanga
mekar tiga warna
di sepasang mata
:mencari jiwa ia

tiada cintatiada bara
tiada sedia dicinta
tiada apa
dalam tiada
meniada pula segala tiada

kembangkenanga
kenangajawa kenagacina
warnaluber wangilebur
terkubur
menatap mantap
menangkap kertab

cintajawa
cintacina
cintakembangkenanga
di rumah tanah merdeka
di negeri pusaka

* Semarang, agustus 2008



Sajak Kembangbulan

kembangbulan
di halaman
kembangpekikmerindu petik
tiada kata jangan
ketika digenggam tangan
karena cinta melarik
tanpa berita terbetik
kekasih lama pergi
melupa hati

kembangbulan
badan kasmaran
terpesona lambai
ia terkulai
jalan sunyipanjang
diseraki bayangranjang
tiada peduli malam
ia biar hidup mengelam
tiada disapa fajar
tak ia memucat gemetar

kembangbulan
kehampaan
hidup tanpa pinangan

* Semarang, agustus 2008



Sajak KembangYun

y…

Puisi-Puisi Dea Anugrah

http://oase.kompas.com/
A HIMSA

/1/
tibatiba cermin menukar wajahku dengan wajah gandhi!
yang jelek dan malang
lantaran terus mengapung dalam benak seribu orang

yang mengemis sedikit saja pelajaran
tentang cinta dan rasa manis di pelataran
sajakku

yang terkapar dan membusuk

di depan kios binatu
sebelum sempat membasuh abu
yang selama ini kami raupkan di wajah-wajah dan kuku-kuku

“o ahimsa,
ahimsa…”

/2/
–timor-timor, aceh, sampit
lalu apalagi yang harus kami isikan
kedalam cangkirmu?
tempat seharihari kami tumpahruahkan
darah usang pemberian ibu, sebagai pelarian dari rasa bosan yang terus memburu

Jogjakarta, Mei-Juni 2009



AKU INGIN
—persembahan kecil buat mama, papa & aam di rumah

/0/
kueja namamu pada bulan
yang meneteskan malam bersama hujan
.
tersebab balada-balada cengeng
dan drama-drama murahan
dada kita gerimis
wajahmu meringis
dan engkau menangis
memelukku
dan mengiris
dalam sajakku

/0/
aku mencintaimu.

tapi dengan apa kupeluk dirimu?
sedang tak kupahami katakata itu
sedang tak kumengerti bahasa yang menyusunmu*
m…

Puisi-Puisi Mathori A. Elwa

http://mathorisliterature.blogspot.com/
SAKIT

ribuan sajak minta ditulis segera
dalam kertas
seperti rasa rindu yang mengeram
seperti resep dokter

ribuan sajak kautelan
bersama waktu
pagi siang dan malam
seperti ingin bersama selalu

tak kunjung sembuh juga
sakit jiwamu?

1994



Suluk

memetik pelajaran dari daun-daun
hidup tumbuh berguguran
bersama waktu, matahari dan rindu

dari lautan tinta
aku menulis berkah
manfaat dan madarat
saling bercumbu
menempa parang cinta
menggosok batu permata

jika bencana telah usai
pertempuran sebenarnya baru dimulai
agar tetap tegar dan waspada
bersama pertapa
aku memilih fajar

1990

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://oase.kompas.com/
Musim Hujan Tumbuh

musim hujan tumbuh
di atas kepalamu
bintang-bintang luka
dan hilang
kehendak daun lanjut usia
gugur
jatuh pada kerekahan
tanah resah
segera, mimpi akan berakhir
bagai bulan sabit mengawang
sepanjang gigil musim
sungaisungai akan terbelah
melayari duka yang tumbuh
dari setiap ayunan gerimis
di helai rambutmu

2009



Rapsodia I

kekasih, kotakota lepas di lenganmu
segenap laju merangkum peluk dan rukukku
pada segala dahan, di mana tangan
tangan hujan mengikat kepergian
dan tatapmu melepas orbitorbit
kecemasan

2009



Rapsodia II

perjalanan ini mulai habis
rumahrumah kenangan terbakar
pada lekukmu, aku warnai
sejuta retas kupukupu
yang tertinggal
di sebalik gelombang,
di sebalik tatapan
di mana, pernah kita ingat
sebuah ciuman- pembebasan-
atas darah yang membekas
pada tapak salib pertama

2009



Rapsodia III

sebuah ciuman, kumaknai
jalanjalan patah
hutan tinggal hujan
sepetak siul daun berlesatan
di ujung gang : membawa anak
persetubuhan yang redam
di setengah malam
kehamilanmu agung
aku maknai perseb…

Puisi-Puisi Budi Palopo

http://www.jawapos.co.id/
MATAHARI BIRU

kala bulan pantai tercabik jejak perahu
gadisku menghormat cahaya yang
terpancar dari lempeng tembaga
singgah di seribu pulau bermatahari biru
oh, gadisku yang bermata ibu
jika di perbukitan sebuah pulau
ada mahkota durga yang terpendam
tanah anganmu, haruskah kau
terus mengukir jejak penggalian-nya?
matahari bukanlah bulan yang
tertusuk tajam pucuk ilalang
matahari juga bukan bintang yang
bisa terajut di pundak jenderal bermata api
jika cahaya-nya tak lagi bisa
mengirim bayang-bayang hitam atas tubuh-mu
kenapa harus mengukir risau di pasir pantai?

Gresik, 7 April 2010



SURAT TERHORMAT

kepada semua gunung pemilik banyak puncak
kutulis surat terhormat, demi ledakan amarah
yang tersembunyi di segala kobaran api
kutawarkan persetubuhan abadi, agar
kelak bisa terlahir anak-anak kayu yang
punya rasa hormat atas kelembutan tunas
semua dedaun di hutan belantara seluruh kota

Gresik, 7 April 2010



NYANYIAN KUPU
* Gus…!

manakala dedaun tak lagi bisa tersapa
ulat membisu dalam keras kepom…

Puisi-Puisi Landung Rusyanto Simatupang

http://sastrakarta.multiply.com/
KATANYA IA

Katanya ia pernah menyusup Merah dan merah ia kelupas jadi cokelat, putih, kuning, dan beberapa golongan minoritas warna lainnya. Konon ia pernah masuk Hijau dan hijau ia sayat-sayat hingga jadi birunya hijau, kuningnya hijau, putihnya hijau, bahkan cokelatnya hijau, bahkan juga hitampekatnya hijau. Dan ia masuk putih dan si putih diserpih-serpih jadi biru laut si putih, kuning emas si putih, coklattanah si putih, kelaburambut si putih dan ribuan serat nuansa tanpa nama. Kabarnya ia sangat sangsi sekaligus amat pasti ketika menekur, bersila, menghimpun dan menghembuskan tatapan mata pada pucuk hidung yang membulat hamil beribu cakrawala. Kabarnya ia tiba di terang yang hari-hari ini menghampiri kita sebagai warna-warni nyala lampu, papan nama, spanduk, panji, pataka, kerudung, celana mini, bikini. Semuanya cuma tertangkap oleh kita sebagai isyarat-isyarat sederhana untuk berhenti, berjalan, menghitung, menandatangan, sembahyang, membeli, mengh…

Puisi-Puisi Arya Winanda

http://www.korantempo.com/
TUNAWICARA

bila sekadar decak-kecap

tiada lagi sanggup
ditanggung langit-langit lidah

heninglah

genap kilap kilat
dan getar guruh

dilontarkan selisih awan

kilau batang-batang air
sempurna tertuang

disesap bibir tanah

saksikan lengan
yang menunggu setia, terulur

menyisip dari gelap celah
membentangkan daun pertama

bisulah

(2009)



SEPATU LAMA

mereka melindungi kakiku dari dekil, beling, tahi ayam
atau lain gangguan, ketika cahaya bulan berpendaran
dari daratan, tampak semacam kilau cawan: keemasan

penghujung minggu gegas berkemas, hari-hari seranum hijau pipi anggur
gemas–menetas di pojok bibir, manis: tanpa rasa was-was

helai-helai tanggalan, runtuh
tanpa butuh lingkaran merah
(yang melulu cemas)
tanda awas pada yang siap menyergap
bersembunyi, menanti mahluk
di puncak mabuk:

absen pada riak rupa sendiri

ia ingin istirah, alasnya terkelupas
wajahnya pecah

kini ia menjadi kediaman baru sekawanan serangga
(aku tak tahu mereka harus diberi nama apa)
salah satunya, spesies laba-laba yang mengulur
me…

Puisi-Puisi Helga Worotitjan

http://www.suarakarya-online.com/
Kremes

Aku duduk menikmati lelautan dan matahari tak datang Kremes setengah bulat di tangan kiri.Kremes cokelat emas.Manis, sedikit gurih dan berair?Kremes diantara telunjuk dan ibu jari. Ubi parut, gula jawa dan air mata.

29 November 2008



Respect of Indonesia

Padamu kurebahkan lelah Dari deru jaman yang mengguru Padamu kugayutkan nelangsa Dari luruh air mata yang mengeruh Di tanah yang aku pernah mati Di udara yang aku pernah mendebu Dengan hanya satu bias retak Saat waktu jatuh terhentak Di lara yang begitu dalam Serta suara masa yang diam Cintaku tak diam

Jakarta, 20 Oktober 2008



Aku Mencintaimu
Sederhana Saja

Aku mencintaimu sederhana saja Penjual dan pembeli Menawar dan belanja Aku mencintaimu sederhana saja Satu sapa dari hari kita Lalu berlalu dan aku kelu Aku mencintaimu sederhana saja Demi telingamu agar mendengar Sebuah harga aku lacurkan

Jakarta, 3 Desember 2008



Misa

Untuk Yudi
Kau adikku kau keluhanku kala kau mengaku kau cinta aku maka pertalian ini t…

Puisi-Puisi Lubis Grafura

http://www.jawapos.co.id/
Perumpamaan Hasut

Pecahkan cermin. Rangkai kembali.
Tataplah wajahmu.

Nglegok, 2010



Inisial A.

Kalau saja pertapaanku ini,
melebihi batas usiaku
barangkali nanti kan kutitipkan jasad
agar aku leluasa menemui: mu!

Nglegok, 2010



Sendiri

Kadang kita butuh waktu:
bermeditasi, mencari persejatian diri
mencari jalan kembali
namun, tanpamu di sini
hidup seolah memilih berhenti

Nglegok, 2010



Sajak Kematian

Menanti dirimu
seolah menanti fajar yang menggulung sinar
Hanya saja,
fajar datang sesuai waktunya
Sementara dirimu,
kedatangannya tak tertandai waktu

Penataran, 2010



Dalam Sujud

yang berperang tanpa pedang
yang musuhnya arupa mamang

Penataran, 2010

*) Lubis Grafura, penyair yang juga guru di SMKN 1 Nglegok. Buku antologi puisinya, Ponari For President (2009) dan Kenyataan dan Kemayaan (Fordisastra, (2009), serta antologi cerpen Ketawang Puspawarna (2009).

Puisi-Puisi Gunoto Saparie

http://www.jawapos.co.id/
BETIS

tak malam tak siang
ken arok hanya terbayang
betis, betis, dan betis
punya si jelita ken dedes
tak petang tak subuh
ken arok risau dan resah
bergolak nafsu keserakahan
bermula dari betis menawan
tak rindu tak dendam
ken arok abai sembahyang
di tangannya sebilah keris
darah menetes karena betis
tak malam, wahai, tak siang
ken arok hanya terbayang
betis penuh pesona bintang
terkapar gandring dan ametung

2009



JARAN KEPANG

suara gelegar cambuk bagaikan petir
ketika jaran kepang pun mabuk menari
musik bertalu-talu, penonton pun melingkar -
”niat ingsun mbukak kalangan, duh, gusti”

2009



THE LOST PARADISE

di manakah embun berkilau
di ujung daun pagi hari?
di manakah burung berkicau?
di manakah kau, maha sunyi?
di manakah malam bulan penuh
berlayar pelan di langit jauh?
di manakah jutaan kunang-kunang?
di manakah kau, maha bintang?
di manakah cinta rindu dendam
bergelora di dalam hati?
di manakah syair dan puisi?
di manakah kau, maha kelam?

2009



MRT STATIONS

dengan tiket dalam genggaman
kita pun ikut …

Puisi-Puisi Zainal Arifin Thoha

http://sastrakarta.multiply.com/
ZIARAH DOA

Dan doa adalah
Persembahyangan dalam ziarah
Menali hasrat penuh sedekap
Bersujud diri merambah akrab

Lalu salam sewangi kembang
Bagi kiri kanan tiada pandang
Dan zikir senantiasa sumilir
Mengalirkan cinta dari hulu hingga hilir

Dalam doa ada senyum shalawat
Kepada sesama erat berjabat
Itulah ziarah sepanjang shalat
Pinta dan rahmat diaminkan para malaikat



DARI SEBUAH JENDELA

Jendela yang mengetukketuk deras hujan
Adalah bayangmu yang tibatiba bersalam
Lalu kau buka mantel dan memeras
Gerai rambut yang bercucuran

Adakah yang lebih puitik
Ketimbang senyummu yang gemetar
Lalu binar mata dan bening suaramu
Menghaluskan ini jiwa dalam dingin yang nanar

Duduklah, nikmati kopi
Dan jangan dulu berkata-kata
Biarkan sejarah yang barusan berputar
Mengheningkan resah sembari
Memijit-mijit kalbu yang kepegalan

Oleh daundaun yang menempelkan tangan di kaca
Jendela itu kembali terbuka

Mempersilakan tangismu menerobos
Bersama luruh angin yang luka



HIDUP ATAU MAUT

Perjalanan ini begitu menc…

Puisi-Puisi Joko Pinurbo

http://sastrakarta.multiply.com/
CELANA IBU

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali
Maria datang ke kubur anaknya itu,
membawa celana yang dijahitnya sendiri
dan meminta Yesus mencobanya.

“Paskah?” tanya Maria
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga

2004



CELANA

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya

“Kalian tidak tahu ya,
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan,
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu b…

Puisi-Puisi Teguh Ranusastra Asmara

http://sastrakarta.multiply.com/
Siapakah Aku

di antara bunyi yang sepi
kulewati jalan setapak ini
tak kan jejakku berpaling pada kasih pengembara
disini ada setumpuk lengking yang bisik
seperti wajah orang dengan kerut-kerut tuanya
memandang bulan mengaca di telaga

Yogya, Awal April 1969



Jalan yang Putus

katakan bahwa kereta tak akan berhenti lagi
di rel ini yang tua
sinya-sinyal mengangguk tunduk berkarat
dulu kereta selalu lewat
dengan bunyi desah yang mengisi senja hari
termakan muatan, manusia penuh tanda tanya
mana kepala setasiun ?
disini kereta tak mau lagi berhenti
rel kembali membujur, dan setasiun
dimakan beribu-ribu kesepian

Yogya, 1969



Sebuah Ruangan Tua

sudahkan tirai ini kau buka kembali
bau busuk, dan debu menambah
ruangan makin hitam
ramat-ramat adalah lukisan dinding tanpa pigura
semua serba mendekap

mentari pertama yang menyentuh dinding
jamur pada melekat
untuk inikah kau akan memulai
langkah yang baru, jalan lenggang

bukalah tirai lebar-lebar
kalau tak ingin mati dibius kepadatan mimpi

Yogya, 197…

Puisi-Puisi Eko Nuryono

http://sastrakarta.multiply.com/
Berguru Kepada Batu-batu

sebab kenyataan hidup seringkali luput
dari segala yang engkau angankan
panas-hujan senantiasa luput dari hitungan
ketika kini putaran musim kehilangan irama
maka bergurulah kepada batu
biarlah ia akan mengajarkan kepadamu
: tentang kearifan

kepada sunyinya bening sungai
kepada tajam matahari yang memanggang tubuhnya
tak pernah keluh-kesah kudengar
dari mulut batu-batu itu, bersama jernih embun pagi
ia sulam dingin-panas cuaca sebagai bait-bait puisi

Kasongan, Agustus 2006



Kasongan-Sidoarum

meski matahari senantiasa terbit-terbenam
pada titik keberangkatan yang berbeda
tetaplah engkau tegap menatap pusat cahayanya

jangan pejamkan matamu dan hiruplah angin
seraya merentang belahan tangan dan jarimu
hari ini adalah milikmu wahai anak-anak alam

usah risau hari depan
karena senyum mengembang dibibir mungil itu
berabad-abad sudah malaikat di tujuh langit
diam-diam merindukan untuk memetiknya

Kasongan, Agustus 2006



Ijinkan Aku Menari
: kenangan kepada oq

sekali …

Puisi-Puisi Bambang Darto

http://sastrakarta.multiply.com/
APEL DAN GADIS

Apel merah matang mengeras di dada gadis
mungkin dirabuk pakai kosmetik
kadang nampak lembek
bagai ilham yang sulit menangkap teka-teki

kukunyah dagingnya
dan si gadis pun mengejap bodoh
mengapa ia tak mengumpatku “bangsat”
atau “kau pencuri”
Kenapa ia malah tanya tentang bulan bintang-bintang
yang menggerombol dan berputar-putar di langit tanpa awan!

Tidak!
Aku kehilangan kata yang siap
selain hanya lelucon
Apakah ia suka
itu tergantung kuncinya:
senggama!



AKU MENATAP JEJAKMU

Langit tak pernah berganti
di jalan ini
Kutemukan:
kerisik dedaunan
matahari dan bulan
yang bergerak lambat.
Kutatap jejakku di situ
bergetar bagai senar gitar
Menggaung
memberi hidup bagi yang dicintainya
yang tak lain dirinya sendiri.
Sambil menakar jarak dan dalamnya
: aku megap oleh cahaya



SORE HARI

Hujan turun di saat jam rusak
dan matahari menggelap
Hari tanpa angin
dan ketika geludug menggedor dada
hatiku luka

Ah, cinta yang tak saling berkabar
separo garam separo air tawar merembes ke akar.
Kapan…

Puisi-Puisi Evi Idawati

http://sastrakarta.multiply.com/
SONG OF THE WIND

Alam yang berkabar tentang bencana
Tak terdengar oleh telinga manusia
Sekawanan burung camar terbang berarak menghindar
“Larilah ke bukit-bukit! Ke gunung!
Akan datang bencana menenggelamkan Aceh Raya!”
Tapi suara mereka menjadi nyanyian angin
Ibu tuli anak berlari
Menutup telinga sambil berlari
Bermain dengan ombak yang menggelegak
Bersuka ria karena hari baru akan datang
Lalu tak ada sisa
Jerit ibu mencari anak
Teriak suami memanggil istri
Tenggelam bersama riuh ombak, buih, lumpur dan pasir
Putaran dan tarikan arus menyeret mimpi-mimpi
Dan senyuman mereka yang terkubur bersama reruntuhan rumah
Istana yang dibangun dari keringat dan cinta pada negeri
Duhai Nangoe,
Terbacakan isyrarat langit olehmu
Terbacakah ribuan kata yang terukir di awan dari tubuh bocah-bocah
Para ibu dan bapak yang hilang dan tenggelam?
Mereka mati bukan oleh peperangan?
Masihkah engkau menghendaki pertikaian?
Dengarkanlah lagu angin
Dengarkanlah nada-nada angin
Yang berkabar tentang isya…

Puisi-Puisi Sri Setya Rahayu

http://sastrakarta.multiply.com/
ODE BUAT SULTAN
Untuk Sri Sultan Hamengku Buwono IX

Ada seorang anak lelaki kecil yang menangis
ketika sore hari harus kembali ke pondokan
jauh dari teduhnya pohon Keben
jauh dari sembah sujud para abdi dalem

Matahari terbenam di sudut jagad paling barat
rona emasnya menimpa wajah sendu tanpa senyum
penuh sejuta harap, memutar waktu berlari cepat
hingga tujuh hari laju melewat
hingga gerbang megah ada lagi di depan mata
bersimpuh sujud di hadapan ayahanda

Betapa beratnya rindu menggumpal di kalbu
seorang anak lelaki kecil yang memandang dunia:
masih begitu lugu
seorang anak yang tidak pernah sadar bahwa: suatu saat
mata dan telinga tertuju padanya
mengharap ia mengiyakan segala
mengharap tangan membubuh tanda
demi kelangsungan dinasti
demi kelangsungan perjalanan sejarah suatu negeri.

Seorang anak kecil memandang ke barat ketika mentari
sudah tidak lagi terlihat
terngiang lagi kata ramanda bahwa bukan karena ketiadaan kasih
ia dibesarkan di luar kemegahan tahta
namun untuk memp…