Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Aziz Abdul Gofar

sastra-indonesia.com
Pertanda Laut
buat emprit sawah

aku butuh ketemu denganmu
perempuan yang membawa pertanda laut
dalam tahun-tahun membentuk kita
dan menuruti hasrat memburu sesuatu
masih adakah sebuah tanda tak tersentuh
menyimpan rahasia tak terduga

perempuan yang membawa pertanda laut
gedung-gedung sekolah tersenyum putih
aku mengantarmu menaiki tangga kereta
lalu kutunggu di kaki-kaki dinding
membaca deru dari debu tanah lapang

kemudian kukirimkan isyarat laut
yang berjuntai di tubir jingga
kau sudah ngerti aku tak lagi
menghalau emprit-emprit sawah
menjaga ladang dan menelisik kabut
sesuatu telah terjadi dan orang-orang
datang dengan cerita yang sama

aku ingin mengantarmu
sejak dari kelok di tikungan
yang di kawal sekumpulan bambu
menggamitmu menyeberang kali berbatu
beberapa muncul aliran kecil
beberapa malam lepas tak terduga

aku selalu ingin mengikuti jejakmu
meloncati parit-parit dan bubu
yang akan kusampaikan pada
anak angin yang menyusup
ketika kata-kata sampai di depan pintu
ilalang di seberang sana itu perdu
membikin kata-kata menjadi tenang

aku masih ingin memandangimu mengetuk kaca
menunggu sejenak menelisik bunga di taman depan
kuharap ia bakal membikin kau ingat
dengan kalimat yang kuucap di malam pekat

aku selalu ingin memandang sebelum hilang
perempuan harum tanah sawah
tahun-tahun memenjarakan keberadaan
tadi siang adanya datang dalam mimpi

2008


Pelangi di Halaman Belakang
Sepanjang Ponorogo-Bandung

dan ini ombak kembali bertemu semenanjung/ dari tumpukan karang menjelma pantai tak berujung/ bara dan api memadam lautan mendung/ sebelum memburu suar dalam angin yang digulung/ dan kepada pelangi yang menjembatani pulauku dan pulaumu/ kepada penjaga anjungan yang memegang bendera kecil di atas perahu/ aku melipat seluruh malu menjadi segulung senyum tersipu/ lalu perjumpaan kembali seperti kabar burung di sayap angin/ tentang cerita lama yang kita titipkan pada kegaduhan/ padahal kita selalu memaksa zaman bergegas/ ataukah lensaku berembun dan ini zaman jalannya rabun/ beda apakah, selama kubangan berselisih hari/ kemarin aku tawarkan cara hidup serupa tanah/ dan bagaimanakah cara hidupmu yang serupa itu/ toh, anak-anak begitu cepat tumbuh dewasa/ dan kita masih asyik bercanda sebagai gembala

kepada mimpi-mimpikah rindu ini kita payungi/ kedatangannya selalu menjadi perihal tak terhentikan/ selama ini ia tak mengenal ketika/ dari gelisah yang gagal kita padamkan/ perjanjian kita untuk memupusnya melahirkan desau gerimis/ di manakah naungan teduh perlindungan kita saat berjauh/ rumbai atapnya luruh lalu terjatuh/ padahal sisa mendung masih bersembunyi di balik semak liar/ aku merasa takut jika ia datang dan segala jadi terbakar/ sebab rindu yang berkecamuk terlanjur tumbuh dan menjalar/ seperti mimpi yang datang sebelum pagi tadi/ ia selalu ngerti aku yang menyembunyikan rindu/ menatap lekat hingga aku merasa dekat/ dalam semarak malam kerinduan menemukan wajah kota/ yang timur adalah sunyi lembah dan ngarai telaga basah/ yang selatan adalah angin persawahan dan kaki perbukitan/ yang barat adalah suara hutan dan sejarah bebatuan/ yang utara adalah gemuruh gempita peradaban/ merangkum rindu menjadi pendar segala penjuru/ tetapi cuma dengan hati perempuan/ perempuan yang rindu/ aku rela membagi hatiku yang pula rindu/ dan aku cuma mencari pembenaran pada perempuan/ dalam gelepar ketika terlanjur tertawan/ah, mengapa rumah selalu berkeliaran/ di ladang-ladang rindu yang/ begitu jauh/ bersebab hati yang sendiri

di lantai tiga menerawang ke arah bandara/ kunang-kunang datang dan pergi/ selepas saja hingga pagi dini/ ini malam hampir merdeka/ dari redup temaram hotel bintang lima/ sejak kemarin aku ingin memberimu kabar/ ketika cicak membunuh kupu-kupu di dekat lampu/ aku ingin memberimu kabar ketika seorang kawan mengundang/ kemudian kubayangkan wajahmu di lampu-lampu jalan kota/ getaran damai sunyi/ merambat dari sudut-sudut trotoar tua/ sementara dalam ruang-ruang yang terpisah sepasang tangga/ mereka menggubah sepi dengan sengkala diam/ aku ingin memberi kabar padamu/ akan kuceritakan kali pertama bagaimana aku bertemu mereka/ juga tentang duri dan jalan-jalan berlobang yang luput tak terbaca/ sambil kupautkan arah pandang dari lantai dua/ terasa bara menguap membelah udara malam/ menyebar lewat mata lalu berjatuhan di bibir sunyi/ sebelum aku memutuskan menaiki tangga kembali/ aku urung memberi kabar padamu/ tidak pula pada bunga-bunga dan anggur/ juga pada rembulan kota

lalu adamu dan mereka tak pernah lalai mengunjungiku/ datang dan pergi dalam sengkala kesadaranku/ silih berganti menjadi seribu petisi/ adamu dan mereka tak meracun dan sungguh ada/ aku juga setia membawa cawannya/ setetes demi setetes sampai bilah dadaku/ aku masih setia membawa cawan juga penala/ mereka semakin mengada selama/ kujaga dalam jamur-jamur di kepalaku/ aku tidak akan menyesal dengan alunan kota ini/ biar serupa angin gunung yang sesekali menyapa ngarai/ ranumnya membelai rumput-rumput dan hutan jati/ akan ada nama-nama dan macam kota-kota lain/ di ini kota mimpi memberikan nama yang elok/ menjagai dengan manis dan mendongengkan/ hari esok yang penuh rahasia nyanyi malam

Ponorogo – Bandung 2007
Dijumput dari:  http://sastra-indonesia.com/2013/10/puisi-puisi-aziz-abdul-gofar/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-Puisi Iman Budi Santoso

http://jurnalnasional.com/
Manusia 1

Walau tubuhmu kian lapuk dengan mati
Jiwamu masih kusimpan dalam puisi

(12 Juni 2008 08:24 WIB)



Rumah

Malam kelam telah datang
Langit menyanyikan keheningan
Tidurlah, kekasihku, tidurlah
Biar lelahmu kian merebah

Kau tak perlu menceramahi
Tentang bagaimana mencintai
Kau bahkan tak tahu pasti
Seperti apa mencintai
Kau hanya ingin memiliki!

Kau cepat sekali terlelap

Kau terlalu banyak berharap!

Aku menari sunyi di langit
Sambil mengirimkan kasih
Untuk menyelimuti lelapmu
Biar hadirlah mimpi indahmu

Apa yang aneh dari perpisahan?
Bukankah itu terjadi berulang
dalam setiap kisah kehidupan?
Mengapa air matamu berlinang
seakan hujan tak lagi menggenang?

Sebenarnya aku ingin memelukmu
Seraya kau tidur, seperti dulu
Tapi aku enggan melakukannya
Tubuhku membatu dengan lara

Tak usah dikenang
Walau terasa dalam
Biar dendam melayang
Biar langkah terbebaskan

Ketika kau terbangun esok pagi
Mungkin kau akan mencium wangi melati
Nikmatilah
Itu yang sengaja kutinggalkan

Untuk apa mencaci yang telah mat…

Puisi-Puisi Aming Aminoedhin

http://www.jawapos.com/
Aku Masih Melihat
catatan ramadhan 1431-h

aku masih melihat
orang-orang melangkah ke masjid
selepas magrib jelang isya tiba
berharap bisa tarawih dengan berjamaah
aku masih melihat
orang-orang melangkah ke mal dan plasa
melepas duit jelang hari raya
agar lebaran tampak gagah lupa hati pongah
aku masih melihat
mal dan plasa berjuta orang
mengigau berjamaah, hamburkan uang
tanpa pernah dirasa atau merasa
ada berjuta orang di luar sana
atau mungkin di sekitar kita
teramat miskin papa
aku masih melihat
jurang menganga
begitu dalam tak terjangkau
dari matabatin orang-orang mengigau
aku masih melihat
berjuta orang meracau dan mengigau
di negeriku yang kacau

Canggu, 19 Agustus 2010



Matematika Lailatul Qodar

pakar matematika pernah berhitung
jika seribu bulan
adalah 83 tahun lebih umurnya
sedang usia manusia
tak lebihi angka sejumlah itu
maka bersujud dan beramallah
pada saat lailatul qodar
hingga impaslah segala dosamu
dibayar oleh sujud-amalan
di malam qodar itu
aku termangu (mungkin ragu)
lantas kita se…