Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Eppril Wulaningtyas R

KISI JIWA

Kisi jendela menangkap kelam,
bersama kering rasa jiwa terasing
; jauh di kedalaman kerak malam
merangkak lemah di sudut asa.

Namun,
asa bertalu wujudkan beribu gema,
membimbing pijakan kaki melangkah
gigih menyisir, getarnya separuh senja
; berpeluk pilu sedari pedihnya rintihan.

Engkau yang di sana,
habiskan masa di kucur keringat
berjuang besarkan anak tercinta
tanpa wajah letih tersirat.


TERUNTUK BUNDA

Sajak di tetesan air mata
tentang doa pengharapan
mengalun berjuta makna
menjemput kabahagiaan.

Maafkan anakmu Ibu,
yang masih terpasung
di tanah perantauan.


CEMARAKU HILANG

Mentari mengintip di ufuk timur
redup cahayanya di sela awan,
cemara meliuk ikuti nyanyian bayu
yang dingin pada pepagi sisi hutan;
tenang, damai tentram menyelimuti.

Ketika manusia serakah menjamah
sedikit demi sedikit hutan terusik
hingga lambat laun
deretannya menghilang.

Demi kekayaan pribadi
mereka kian tak peduli
; buta mata, telinga tuli.

"Ah... dasar manusia serakah"
: gerutu sang rusa bersuara lirih.


BUKANLAH AKHIR

Teruntai kusut anyaman rasa,
di ubun keluh gemuruhnya jiwa
: kala sehembus nafas kembara
di mana terdamba kuatnya rasa.

Duka memelukmu nyawa
merana gontainya langkah,
hempaskan impian harapan
musnah sudah tiada tersisa.

Kau kecap meski berat
sunggingkan kembali senyum,
mengiring teguh hasrat tersirat
: di balik rahasianya ada rahasia.


TEMARAM

Kunang menari-nari
bebintang mengelip,
dikala rembulan malu,
sembunyi di pekat awan.

Pepucuk pinus menggeliat
lincah pada gundah,
resapi helaian angin
sedingin malam sepi.

taipe, 20/4/13

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi