Langsung ke konten utama

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Ngibulisme

burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan

rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran

apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan

musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang

19 februari 2011



Kodok beracun

kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati

Amsterdam, 14/02/2011



Anjing muka dua

itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?

Amsterdam, 14/02/2011



Jangan telmi

anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revolusi? mereka yang namanya rakyat atau elite?
jangan “telat mikir”, menyesal nanti.

Amsterdam, 11/02/2011



Pelajaran sejarah

18 hari demonstrasi di mesir
jutaan orang marah di lapangan tahrir
menuntut tiran turun dari korsi kerajaan

tiba tiba mereka kehilangan musuh bersamanya
orangpun bingung setelah diktator pergi, lalu?
siapa yang berani menjamin demokrasi?

sia-sia mengharapkan pada yang berkuasa
satu demi satu kekuatan rakyat nanti dibonsai
seperti pengalaman kami yang pahit ini

Amsterdam, 11/02/2011



Pertarungan

bertarung demi eksistensi
puisi dalam jelmaan pemikiran
demi tujuan bersama kita bisa

angin perubahan pasti datang
jika percaya pada tanda tanda
dari mana datangnya kesadaran?

Amsterdam, 10/02/2011



Leidseplein

mad world, mad world
lagunya gary jules membelah malam di leidseplein
sinar lampu jalanan membias di kaca restoran
dan mata siapa itu dari balik jendela trem?
musik membuai dibelai angin badai
di persimpangan jalan mengucap salam

Amsterdam, 7 februari 2011



Kaum

kaum miskin kota ada dimana-mana
di belakang perumahan mewah
di depan asrama tentara
di samping rumah ibadah
tersebarlah dendam yang lapar

kaum melarat yang namanya rakyat
jadi budak di kampungnya sendiri
rindunya kawula mimpi keadilan sosial

kaum terpelajar sembunyi di balik materi
riwayat penjilat dan kerlipnya berlian
menjual diri demi harta dan kekuasaan

Amsterdam, 6 februari 2011



Kemerdekaan

jalan berduri diasah pengalaman
hidup yang tak pernah diam
bicaralah kawan!
jangan membisu nanti beku
kutukan revolusi berdarah sejarah
menghalang siapa yang pasang badan?
kemerdekaan kita bukan kado dari langit!
biarpun badai menghadang gerakan
rakyat bersatu melawan penindasan

Amsterdam, 2 februari 2011



Batu

panorama stasiun angkot batu,
gunung-gunung tegak mematung,
di selecta batu-batu membisu dimakan waktu.

membaca senja menjelang malam,
ah, itu kan hanya impian semalam,
pilihan hidup bukan di garis tangan.

mengulang cerita tanpa koma,
menjalin cerita perjalanan manusia,
menyimpan memori bersaksi puisi.

Amsterdam, 1 februari 2011

Komentar

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi