Senin, 26 Januari 2009

Puisi-Puisi Emha Ainun Nadjib

http://sastrakarta.multiply.com/
Kudekap Kusayang-sayang

Kepadamu kekasih kepersembahkan segala api di dadaku ini demi cinta kepada sesama manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan diri dalam hidupku demi mempertahankan kemesraan rahasia, yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah persemayaman dalam jiwaku remuk redam hamba–hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari dada mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan–sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang–sayang, kupeluk, kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan lagi pisau kepunggungku, sehingga mengucur lagi darah dari batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan–sobekan bajuku, kudekap, kusayang-sayang

1994



Doa Syukur Sawah Ladang

atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah
ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan
kunyanyikan lagu gembira sebagaimana padi itu
sendiri berterima kasih kepadamu dan bersukaria
lahir dari tanah, menguning di sawah, menjadi
eeras di tampah, kemudian sebagai nasi memasuki
tenggorakan hambamu yang gerah, adalah cara
paling mulia bagi padi untuk tiba kembali di
pangkuanmu
betapa gembira hati pisang yang dikuliti dan
dimakan oleh manusia, karena demikianlah tugas
luhurnya di dunia, pasrah di pengolahan usus para
hamba, menjadi sari inti kesehatan dan
kesejahteraan
demikianpun betapa riang udara yang dihirup,
air yang direguk, sungai yang mengairi persawahan,
kolam tempat anak–anak berenang, lautan penyedia
bermilyar ikan serta kandungan bumimu yang
menyiapkan berjuta macam hiasan
atas segala tumpahan kasih sayangmu kepadaku
ya allah, baik yang berupa rejeki maupun cobaan,
kelebihan atau kekurangan, kudendangkan rasa
bahagia dan tekadku sebisa-bisa untuk membalas
cinta
aku bersembahyang kepadamu, berjamaah
dengan langit dan bumimu, dengan siang dan malammu,
dengan matahari yang setia bercahaya dan
angin yang berhembus menyejukkan desa–desa

1988



Cahaya Maha Cahaya

Usiaku enam hari
Enam hari yang menakjubkan: Tuhan bermain
ruang
waktu di tangannya, bisa kau bayangkan?
Hari pertama cahaya maha cahaya
Cahaya maha cahaya tak bisa dikisahkan
Bisa, mungkin. Tapi kita ini dungu
Ilmu kita tingkat serdadu
Hari kedua kegelapan tiada tara
Beberapa kata mulai bisa mengucap, karena
rahasia mulai berlaku didepanmu sebagai
rahasia
Hari ketiga kau adalah kau, aku masih aku
Baru kelak Tuhan, semua kita nangis cengeng
Kita melempari galaksi supaya bintang runtuh, kita
mengais-ngais bumi mencari emas permata untuk
kita kunyah-kunyah demi mengisi hari dengan ketololan
Di hari keempat engkau adalah dunia ini
Kalau kau gembira bukanlah kau yang bergembira
sebab sesungguhnya tak kau perlukan
kegembiraan
Kalau kau bersedih kehidupanlah yang bersedih
sebab kesedihan tak sanggup menyentuh jiwamu
Kau tak membutuhkan suka duka, harta atau
kepapaan, kau tak terikat oleh penjara atau
kemerdekaan, kau lebih perkasa dari ketakutan
atau keberanian, kau lebih tinggi dari derajat
kehinaan, kau lebih besar dari kehidupan
atau maut
Di manakah engkau bersemayam kiranya?
Hari keempat telah senja dan fajar hari kelima
mulai menyiapkan pemenuhan janjinya
Hari kelima gelap gulita
Hari di mana engkau sirna, di mana engkau tak
engkau
hari yang menjelmakan kembali menjadi cahaya
menyatu ke hari keenam cahaya maha cahaya

1988

Tidak ada komentar:

Pengikut