Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Juni, 2011

Puisi-Puisi Eka Budianta

http://www.suarakarya-online.com/
Kenangan Pramoedya
(6 Februari 1925 – 30 April 2006)

Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa
Para korban kebodohan yang terlupa

Tetapi ketika kautulis kebenaran
Kamu dijebloskan ke penjara
Buku-buku dan pembacamu teraniaya

Akan kukenang Pramoedya
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku
Yang tidak sanggup memahami & mencintaimu

Di langit hatiku hujan telah reda
Tinggal namamu tertulis dan bersinar
Menagih cintaku pada bumi manusia

(2006)



Perjalanan Sungai

(1)
Sungai yang dulu menangis
Di antara batu-batu di pegunungan
Sekarang telah sampai di kota
Dan akan terus menuju ke laut

Tak lagi terdengar derai air terjun
Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga
Telah berganti panas terik dan polusi
Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati

Tapi aku terus mengalir
Menyilakan kapal-kapal berbeban berat
Masuk dari muara
Menyambut hangat hempasan ombak dunia

(2)
Sungai-sungai kecil, sungai-sungai besar
Bergelora dalam hidup singkat ini
Pegunungan dan air terjun memangg…

Puisi-Puisi Beni Setia

http://www.kr.co.id/24 May 2003
PENGUNGSI

kami ini barisan
achordeon dada
dengan paru-paru separuh

rompi zirah indian
jajaran bilah rusuk
setiap saat didera cuaca

warga kusta yang senantiasa
terengah-engah. lelah
membongkar tumpukan sampah

kami ini pewaris
persatuan kusta
di negara cacing pita.



ORGASMOLAND

aku mengenang soreang
seperti mencintai
surabaya, di mana
istri lahir dan kami merayakan kawin

aku mencintai surabaya
seperti aku memuja
caruban, di mana anak
digejalakan di dalam rahim dan lahir

aku memuja caruban
seperti mengenang
seorang di mana ibu
membuka pintu rahim dan aku hadir
dari kota ke kota
merentang cinta
sebelum aku telentang dalam
lahat kepayang mabuk kenangan



LAGU SIUL

bila tidak bersiul
barangkali kami
sudah lama mati. kaku

karena anak terus makan
minta jajan, uang sekolah
dan satu saat minta kawin. pesta

dan bila tidak belajar
bersiul: akan jadi apa
dengan berteriak dan berontak?

seperti sebuah lagu, aku
akan bersiul sampai
tembok runtuh dan indonesia tumbuh

dan bila bersiul
terus. lama-lama
aku jadi prongos …

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Memandangmu dari Sisi Benakku

melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka

engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi

tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati

Semarang, 20 November 2010



Bacalah

“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca…

Puisi-Puisi Agus Sunarto

http://www.suarakarya-online.com/
Miskin

Pagi buta segala hantu pun
belum terjaga
berlari mengejar bis
jam kerja
antrian panjang di pintu gerbang

memoles wajah
menyemprotkan wewangian

buruh hotel menjual jasa
harus wangi, bersih, segar
dan pintar
tersenyum ramah
persetan dengan masalah rumah
yang menumpuk
tetap harus senyum
berada di dalam bangunan
megah hotel berbintang

akhir bulan upah hanya 2 jam
mampir di tangan
semua budgeting harus diisi
negosiasi upah
selalu ditolak pengusaha
alasan pengusaha, hotel rugi
pendapatan anjlok

tetapi ini harga diri
kami harus terus berjuang keras
bertanya kapan penyesuaian gaji

* Bandung, Maret 2010



Koin

dulu sering kusisipkan satu koin
bukan untuk telpon rumahmu
tapi untuk lempar
kaca jendela kamarmu
pemberi tanda aku datang
lalu kita duduk bersama
di depan beranda

banyak cerita
banyak tawa
banyak mimpi
berakhir begitu saja

kau memilih pulang lebih dulu
dan aku masih ingin disini

bukan salahku
bila kita tak sejalan
benda terkutuk itu telah
membawamu pulang
sebelum kau selesaikan
etape pertamamu
s…

Puisi-Puisi Diah Hadaning

http://www.suarakarya-online.com/
Yogya Sebuah Pertanda

dalam bayang karakter nawa
telah terbaca satu pertanda
raibnya sebuah tiara purba
raibnya nyawa -nyawa
syairmu teronggok di sisa runtuhan rumah tua
lepas fajar di yogya
mencari lembar sejarahmu
untaian merjan bumi mataram
kidungmu kidung sarira hayu
mantramu sastra binedhakti
caraka balik lumat batu akik
o, wong sidik

simak angka-angka biarkan bicara
bulan mei hari kedua puluh tujuh
di tikungan jaman penuh ontran-ontran
tangan gaib gusti pangeran
menepuk bumi kesayangan
saat jiwa rindu kehadiran
sang danyang gaib pulau jawa
sabdo palon menagih janji
bukan dosa bunda pertiwi
jika teraju emasku: seonggok kayu
jika taman sariku: abu
jika rumah tuaku : serpih sembilu

Teratak Gondosuli, Juni 06



Lepas Subuh di Bumi Raja I

saat jiwa tergetar menatap gunung wingit
sementara doa tak henti sentuh langit
laut menghardik
bumi terbadik
dusun tua tercabik
rumah kuna luluh kumuh
sisakan serpih tak lebih
fajar kehilangan cahaya timur
mengiring raib nasib dan umur
satwa kehilangan n…

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumawi

http://sastra-indonesia.com/
Gempa mengusung Ka’bah

barangkali gempa yang mengusung ka’bah
seperti tanah batin yang rentan berpindah
ber-hala pada jenis dan ganda

manakah retak atas fitrah
kaca dipenuhi warna, bentuk, dan matra
memudar, menghalau lebih luar
dari wajah terdalam, terpesona pada bianglala

oh, bianglala, bianglala
indahmu biasan terik dan hujan
udara membumbung ragam warna
seperti dunia yang memenuhi kilau mata

laiknya, metrologi hanya memberi garis dan angka
seperti ka’bah yang menjadi satu tanda atas arah
pun segala arah dipenuhi wajah yang sama

Lamongan, 2010



Vonis yang Tertulis dalam Sejarah
-John Wansbrough

inikah nasib dari tradisi, bahasa, dan kisah
bahwa segala bermula dari yang datang pertama
adalah satu-satunya vonis yang tertulis dalam sejarah

tapi, siapakah yang kuasa berdiri di luar
bahkan tuhan pun disejarahkan, dikisahkan
dalam huruf, aksara, kata, dan tanda baca
sebelum diberangkatkan ke sidratul muntaha

apakah hanya dengan menjadi bagian kisah ini
lantas dengan semena-mena ditera s…

Puisi-Puisi Bambang Widiatmoko

http://www.suarakarya-online.com/
Tanda, 1

Mungkin tinggal kabut menjemput
Kesunyian dan rasa takut
Bingung mencari arah
Busur kehilangan anak panah.

Inilah bencana – entah apa pun namanya
Menceraiberaikan, lantas kering airmata
Bendera putih di ujung gang
Mengusir kembali burung gagak terbang.



Tanda, 2

Mungkin hanya tegur sapa
Tuhan hendak bicara
Berat beban bumi menyangga
Keserakahan dan nafsu angkara
Atau evolusi alam semesta
Berharap kita bijak mengartikannya.

Barangkali hanya tanda
Jika bumi menggeliat, hujan airmata
Ke mana lagi kita sembunyi
Tanah tempat kaki berpijak
Membuat kita enggan beranjak
Dan akhirnya kita lelah, juga pasrah.



Pura Beji
(Bagi: I Wayan Artika)

Penjor mulai kering
Tapi tiupan angin membuat kehidupan
Terasa berayun dalam irama nyanyian sukma
Lalu doa menjalin keseimbangan
Hitam putihnya sisi semesta
Percikan tirta dan bunga aneka warna.

Hidup terasa bagai pohon kamboja
Setia menjaga pura
Setia kata-kata harus terjaga
Bersama peluh, bersama sesaji
Dan patung-patung ditelan sunyi
Malam berkabut…

Puisi-Puisi Indra Tjahyadi

http://www.suarakarya-online.com/
Musim Hanya Tinggal Gempa

Mayat ingatanku yang menginsyafi badai
mengganyangi kupu-kupu. Seratus siulan pelangi melesat
Dari balik mendung, berserapah pada rindu. Serupa
tikus, aku impikan keremajaanmu,
tapi tanpa sorban, pengetahuanku dekaden
dikuliti laknat hantu-hantu. Seratus kejemuan
yang diriwayatkan perusuh menemukan kota-kota
khayalanku yang hangus.

Karena telah aku setubuhi harum jenazahmu,
pikiranku risau, mencium bunyi-bunyi geludhuk.
Tetesan-tetesan air menghajari perdu.
Musim hanya tinggal gempa berkali-kali
memaki hasratku. Aku raut burung-burung raib,
sayap-sayap muram taifun mengumandangkan ode
hitam semangat nihilistik batu-batu. Ikan-ikan mistis
berterbangan, mengobarkan gemuruh! Sejarah
kegembiraanku yang gila mengutili sisa-sisa gerimis,
memamahi lumut.

Panorama kebisuan 32 tahun bersipecah di dadaku.
Tapi, seperti seekor kerbau kesadaranku letih, menjelma
serdadu, mencumbui pelacur. Meski di esok
yang saman sukmaku akan merenungi jalan-jalan
maut, terkub…

Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.suarakarya-online.com/
Pesta Kembang Kertas

taman malam begitu dingin,
tapi engkau membaris
lilin hitungan usia
yang semakin saja bergemetar
kembang-kembang kertas
bertebaran hingga dada
menjadikan makna perjalanan
terkikis oleh embun
dan ciuman membara
di kolong yang telah buram

jangan lagi percaya
kepada khutbah para pendosa
katamu, tetapi betapa berlari itu
meledakkan api
yang engkau mengabadikan baranya
di pesta-pesta
kapan lagi duhai,
bukan semata mimpi kedalaman
bukankah telaga kita
betapa pernah bersaksi cinta



Seusai Melukis di Pinggir Kali

berbaringlah kekasihku,
menuntaskan segala warna
senyampang yang mengalir
masih kebeningan
dan melati betapa bertebaran menguar wangi
agar tak lagi nanar tatap ini,
hanya sekedar lekuk
berkali degup jantung
membisikkan silau cahaya

berbaringlah kekasihku,
meredam gejolak mempurba
sebagaimana saat mengalirkan
segala amsal gelisah
dalam aliran hari-hari,
yang senantiasa gemerisik
anggaplah, duhai,
percintaan air dan batu-batu kali
bukankah dendam juga
menghanyutkan gemetar…

Puisi-Puisi Dimas Arika Mihardja

http://www.suarakarya-online.com/
Di Kedalaman Dada, Jogja

di kedalaman dada, jogja
gempa mengguncangguncang sesiapa
yang pernah melintasi
malioboro-kraton-candicandi
di kedalaman dada, jogja
candu terasa pahit!

di ketinggian dada, jogja
merapi sakit flu berat
terbatukbatuk oleh asap
rokok mbah maridjan
dan cerutu sri sultan
jantung jogja penuh nikotin
memompakan asap wedhus gembel
yang membuat mripat perih

di dinding dada, jogja
kepingkeping luka tak terkalimatkan
puingpuing duka tak terbahasakan
empedu itu, aduh, betapa pahit

Jambi, Juli 2006



Jogja, Kota Kataku

jogja, kota kataku
tiap saat kubacabaca
tempat jiwa mengembara
pusara makna dan alamat doa semesta

jogja, kota kataku
tiap saat kurabaraba
tempat tragedi dan misteri
pusat magma cinta sejati

jogja, kota kataku kukatakan:
kita tak cukup melantunkan doa
kita tak cukup meraba jiwajiwa derita
kita tak cukup membangun tegursapa
kita harus meledakkan magma cinta

Jambi, Juli 2006



Metamorfosis

telur yang kulekatkan pada dauntelah menjelma ulat
aku-ulat itu bergerak di ce…

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana, Nov 2010

http://sastra-indonesia.com/
Sabda dan Cinta
Ali Subhan

glamor mata melihat gambarmu
menghayal jika ada hasrat membunuhku
mengabaikanmu adalah perjuangan terhebat dalam hidupku
hanya untuk merelakan jika dirimu bukan takdirku
bak lidah berlapis dua
bisa membawa cinta menjauh
bisa mengalirkan kebencian di setiap jaringan sel darah
seperti alam yang waktunya bisa berhenti
untuk memberikan ruang bagi dirimu
melihat jalan berembun…. membeku…. menetes ranting
seperti paruh meneguk air dari sumber padang pasir
mencari cahaya dalam sepi
membagi sendiri untuk sepi seperti tiada henti

tidak…. ini harus diakhiri…
tatap matanya telah melumpuhkan benang retinaku
keanggunannya adalah muslihat dibalik kerudungnya
sihir katanya memalingkanku dari hukum jagad raya
kebaikannya bermotif nafsu setan..
aku tidak ingin membagi selain denganNya
aku hanya butuh menggandengnya
untuk bersama menghiba dikaki kekuasaanNya



Amanda Al Kautsar, 2008
Robin Al Kautsar

telah lahir anakku yang kedua
ponsel se-dunia menuju ke arahku
“Eureka!”

seper…

Puisi-Puisi Fatah Yasin Noor

http://sastra-indonesia.com/
Belantara Hijau

Mata yang tersimpan dalam kandungan gunung. Perlahan silau atas tajam matahari. Atas hari-hari yang semakin terbuka. Menguak kehijauan hutan belantaramu. Nyaris tak lagi bisa ditandai. Gerimis yang terus merintih pelan. Jejak-jejak sunyi masih merangkum musim. Aku berjalan perlahan dalam beludru malam. Melingkar lewat lekuk teluk yang dikenali pelanduk. Ahai sepi, seperti ampas kopi.

2009



Sunyi Dalam Punggungku

menulis ingatan yang merapuh. Ingatan yang dibawa dari puluhan tahun silam. Kenapa kini engkau selalu tak sabar ingin berangkat? Ingin selalu beranjak dari kamar yang kapurnya sedikit demi sedikit rontok memutihkan kelopak matamu. Bergesas menuju laut yang itu-itu juga, debur ombak yang nyanyiannya itu-itu juga. Tapi kita selalu datang ke situ, mendulang embun. Seperti masih mencari sisa kata yang mungkin tertinggal untuk puisi. Dibalik embun, di atas alunan ombak, dan rintihan pasir yang menggeser kursimu. Setelah itu kita melesat ke Bak…

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Kemana untuk damai dan tenang jiwa

bintang-bintang
berhamburan
mengerdipkan mata
pada luka

gigil angin
merangkak
di ujung malam
selimuti
pohon angan
dalam remang

wajah basah
tengadah
terbasuh
ricik
alir
mata
air

wajah gundah
mendesah
tersapu
titik
alir
air
mata

kemana
tuk damai
dan tenang jiwa

sebatang asap
secangkir pekat
di remang
gelap

atau

sepasang takbir
selingkar dzikir
di fajar
lelap

2008



Jalanku

jalanku
ladang luas
mendaki

kaki-kaki
gemetar mengayun
pergi

jalanku
ladang luas
sarat
angan dan mimpi

langkah-langkah
pelan
mata lelah
menatap
depan

sangkuk
punggung
menahan
beban
rasa
menggunung

jalanku
ladang luas
lebat
onak dan duri

ku tabur
sejak
azali
ku tuai
hingga
kini

Oktober 2008



KataNya

ada yang
rindu
menyatu
dalam
kalbu

mengalir
dalam
darah

mendzahir
dengan
wajah

dia yang
bertanduk
tertunduk

lesu
terbelenggu
mengharap
saat-saat putih
berlalu

September 2008



Ajari Sesuatu

Tuan
ajari sesuatu
aku yang tak aku

kosong
pamrih
harap
nafi
perih
tak tiarap

Tuan
jangan tatap
aku yang aku

dengan
tembuspandang
cakrawalaMu
karna tak ada apa
apa dengan aku?

Tuan
ajari s…

ELEGI SUKMA, TELANJANG…

Anggie Melianna
http://sastra-indonesia.com/

(I)
Telanjang-telanjanglah kau di sini
di bukit-bukit asing ini
bersetubuh
dengan para binatang

mencium dan menjilati
anjing-anjing liar
merasakan desahan
nafas-nafas setan,

beradu lewat gejala api
kehinaan, menggeliat-
laiknya cacing dan ular

menuntaskan birahi demi birahi
manusia kotor berkumpul mencari
kenikmatan jahannam!

Lalu yang tersisa
janin-janin terbuang.

(II)
Wahai dewa kehidupan
di mana lagi harus kucari
kelezatan-kelezatan semu?

Keintiman yang membawaku
ke hamparan syahwat membelenggu,

berapi-api keringat demi keringat
menetes bercucuran, lantas
diterbangkan abu jahannam
yang semakin ganas menggilas.

Tuhan, beri aku kenikmatan
meski kutahu semua itu bukan surga
beri aku rahmat, meskipun kufaham
yang datang hanya bersandar kekejian…

(III)
Di sini
ombak menggulung hati
mengobrak-abrik sukmaku
yang kurasa amat labil itu,

kemudian laut menjadi beku
menenggelamkan pada masa
yang menyerupai kematian.

Kemudian
kebangkitan dan kesakitan
semuanya menggerogoti tubuh
terbuangnya pa…

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://pawonsastra.blogspot.com/
Lagu Musim

seperti lagu musimmusim tua, gerakmu adalah bau sunyi
yang tak habis kupahami. dengan menikam mata lenganku pasrah

memanjat bunyibunyi sangit kesakitan. betapa tubuhmu melabuh
dan dari pagar, kucakar semua ingatan dalam lehermu

aku seperti pemuda dengan kalungan darah, lukisan terjal
tentang igal hantu masa silam, membentuk gaunmu

terbelah di girang jauh. sungguh, aku rindukan jejakmu
alisalis bisu, di mana langit merah akan teraba dan kau

senantiasa menunggu, bayibayi terlahirkan serupa foto samun kenangan

2007



Setiap Malam Kurasakan Hujan

setiap malam kurasakan hujan
yang tumbuh di jemarimu
daundaun kurayu dan anakanak matahari
berkaki tanah terjura di kastil darah
sebagai bukti kukhianati laut
dan jejakku maut tumbuh di bulan
sesering kutumbuhkan mimpi daunmu
pada gereja bara

lalu lambang tanah gugur, serupa bayanganmu
terayun, mengingat ribuan terakota
yang mati dalam hembus hallintar
sepiku serupa pohon cahaya
aku tumbuh liar di pelupukmu
tahuntahun emas kebimba…

Puisi-Puisi Rudi Hartono

http://pawonsastra.blogspot.com/
Nyanyian Sepasang Pecinta

Siang nanti kita berjanji bertemu,
antara jalan penuh asongan yang masih terukir mungil namamu di situ.

Kita sepakat mengemasi segenap remah-remah luka, berwarna merah saga,
sebelum pamitanmu ketika itu, seperti warna darah bumi kita.

Aku harap kau di hadapanku nanti merona dan cantik berkerudung putih,
rapi dan wangi.

Tapi jangan kau kenakan segenap pakaian sunyi di tubuhmu
karena aku tak mau melihatnya.

Aku tak pernah bisa menjawab apa yang kau pertanyakan
karena rasa sayang tak ada alasan, tak terstruktur, dan tak berkerangka.

Jalan itu tetap saja kita lewati
meskipun bekas luka karena kesombongan cuaca
masih menyayat di bibir kita.

Bila nanti kau datang dengan kereta kupu-kupu
kemudian turun dari suara udara
dengan senyum kecil cahaya di balik dadaku kau kusambut.
Desiran angin belum juga datang padaku,
hanya bisikan kerikil kecil membawa kabar lewat di bawah mataku.
Aku tak akan datang, Sayang

Sukoharjo 2006



Wajahmu di Dalam Telephone

Hallo, si…

Puisi-Puisi Agus Manaji

http://pawonsastra.blogspot.com/
GELAP MALAM MENGENALI KITA
- Nurul Aini Sinta Dewi…

Reremah sisa cahaya membentur dinding-dinding rumah kusam.
Mendung merundung, mengaji kesedihan. Gelap malam luruh
di kejauhan. Pertemuan demi pertemuan kita hanya mengupas kabut rindu
di mata, selebihnya luka kembali kambuh, bagai perih daging tumbuh. Mataku
terlampau rapuh untuk nyala merah kerudungmu. Tapi jalan-jalan resah kota,
juga kelam mendung di matamu itu, begitu nyata mengusik
ufuk-ufuk sepiku. Apakah kita hanya bayang-bayang dari warna-warni cinta?

Kau tak mengerti. Aku tak mengerti. Tak seorangpun, Sayangku,
menyapa kita di sini. (Mungkin karena kita pun tak mengenal luka
mereka). Meski, gelap malam mengenali kita, akhirnya; kenyataan membakar
namamu dan namaku. Desir sesal, memagutku ragu. Helai-helai rambut halus
yang menyembul dari tepian kerudungmu mengarsir murung wajahmu,
memancung linglung nafasku. Berdosakah kita yang mendamba
sebentuk keluarga, menghamba demi kesetiaan sederhana?

Reremah sisa cah…

Puisi-Puisi Heri Maja Kelana

http://pawonsastra.blogspot.com/
RAHASIA TANJUNG BATU

satu musim berlalu
pantun berganti lagu
lagu berganti batu
seperti phinisi tenggelam di tanjung batu

batu-batu berbanjar menyudut ke laut
ombak berlomba-lomba mencium pantai
berbagai warna muncul
dari pasir
laut
langit
menghiasi panorama senja

kusimpan kenangan di gelas arak kelapa
keringat-keringat bercucuran di atas pasir
anak-anak mendorong sampan ke sana ke mari
baginya kemenangan adalah bebas untuk bermain

angin menerbangkan pantun-pantun
waktu kembali bertabuh
aku berlari mengingat luka bakau di hutan sunyi

di atas pasir kalimat kutulis dengan jari ketam
mimpiku takkan tenggelam
gubuk-gubuk menyimpan sepi sendiri
burung-burung menyimpan kicau sendiri

di sini sepoi angin mengajariku bertahan diri
kesabaran laut
katabahan pulau
menepi dalam jiwa

bangkitlah rahasia tanjung
batu-batu bisu rindu padamu
lalu kutuliskan sajak cinta untukmu
secinta aku pada pulau ini

di tanjung sanjung lagu perahu
:tulus
seperti ketulusanku pada pulau ini

2007



SUBUH

doa mengurai dalam …

Hari Akhir Sultan Saladin

: serupa dongeng untuk susy lisnawati
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

saladin telah sampai
dari masjid umayyah ia berjubah pengantin
melewati gerbang pohon-pohonan pir
buah-buahnya melayang
seumpama melodi dzikir diiringi putaran samâ

di sana, ada tanah lapang
biru luas seperti siang
rumputnya putih segumpal awan
perawan-perawan setengah telanjang
berkejaran mencuri perhatian, sayap angsa
sewarna uban mengepak di punggungnya
beberapa lainnya berkecipak ria
melebihi manja, melempar buah-buah pir
untuk dihanyutkan
beberapa renang berlombaan sesekali menyelam
di sungai susu yang memanjang

: jangan tumpahkan darah
darah yang terpercik tak akan tertidur
itu wasiat saladin untuk darah serta dagingnya

bulan setengah lingkaran, di pucuk tenda
suara kibar panji-panji berpadu ringkik kuda
saladin rebah di ranjang
layangkan kenangan sembari menatap bilah pedang:

— sebuah pir menggelinding
ditangkap telapak tangan richard
ke dalam kotak, aku mengemasi obat-obat
sebilah pisau bertanda salib emas
ia tarik dari ce…

Yang Hadir dalam Kemurnianku

Nur Wahida Idris
http://www.balipost.co.id/

duka penghiburanku…
tak soal engkau datang dari mana
tak soal aku mendayung
atau arus bawah yang mengawal
dinding bagiku semua sisi
bahtera ini hanya berhasrat
mengalir tujuan ke arahmu

bila daun-daun
dan hujan enggan jatuh ke bumi
melayang-layang di antara aku dan langit
dan langit tunduk padamu
o, jiwa yang dipikat fana dan umpama
kusemayamkan realitasku
di bawah daun-daun yang jatuh
di bawah hujan yang menimpa
aku menyaksikan dan memberi kesaksian
cinta dan aniaya
menyusun batu pijak ke arah jarak
dan cemas menyimak

…deru angin menikung di sela dahan
menyeru layar-layar menegangkan tali-temali
mengajarkan gerak dan suara-suara
bagi hikayat kegelapanku
ingatan pada bunga
yang tumbuh ditinggalkan daun-daun
ombak dikibaskan pujian
bagi bahtera yang terasing
terombang-ambing memutus pegangan kasih
bagi kehendak pergi untuk kembali

kini, aku berlaku bagi bumi fantasimu
berpijak bagi dunia fantasiku
dalam jerat grafitasi
arus duka penghiburanku
aku masih terikat pada dunia ini

oh…

Sepanjang Jalan Bukan Kenangan

http://www.balipost.com/
Nyoman Wirata

Di pasar pagi;

Biarpun kalut jika terbalut
Apa salahnya tawar-menawar
Pasar pagi menuju malam
Tak ada yang berhenti
Mengeja angka dan waktu

Biarpun kalut membaca lupa
Dengan rasa ragu kubayar
Dengan senyum dikulum

Masih ada rasa bunga
dupa dalam umpatan
Walau kata seliat getah nangka
Rasa basah masih terasa
Di dataran yang paling kering
Terasa duka tak abadi di wajah-wajah

Waktu subuh di terminal;

Pagi meniup terompetnya dan
Waktu pun migrasi
Bertualang langkah pekerja
Dimulai dari kuap kantuk
Dengan lenganlinggis bertato serta
Rasa tawar yang bengal
Namun mereka bukan begal

Bunyi klakson suara tambore
Penjaja luka pulang pagi
Gincu di sandal plastik warna ungu

Cleopatra berwajah edan
Dengan urat kawat
Lenyap di gang dekat terminal
Penjaja pun kehilangan wajah pembeli
Sesudah jubah malam tergantung di pagi hari

Mari bergoyang bersama sawi dan kubis
Racik dengan rasa pedas merica
Di atas kuali besar
Merayakan hari dimulai dari subuh

Yang diperlukan adalah kehangatan dan
Apakah pagi da…

Puisi-Puisi Liestyo Ambarwati Khohar

http://www.sastra-indonesia.com/
MALAM YANG MENJAWAB

Apa yang Tuhan jodohkan
sedari malam yang pekat
selain isak tangis kerinduan

Dedaunan berbisik gemulai
kini lunglai malu oleh waktu
yang tiba-tiba berhenti beku

Sebelum subuh menjemput malam
sebelum reranting kembali menari
dan sebelum masa-masa berlari

Aku kan menjawab
Disini, di bawah pohon ini
aku telah menanam ari-ari.



SETENGAH CINTA

Separuh dari rasa
yang pernah berkecamuk
menguap bersama tawa
juga kau sunting resah

Namun tapakan
angka-angka di kalender
bergulir semakin mesra

Sekalipun kau tak menemaniku
menghabiskan semangkuk senja

Tapi kau selalu mengirimkan
seikat puisi dari ujung kota
yang di ujung-ujungnya
ditulis setengah gelisa.



SENJA YANG PICISAN

Menyibak ilalang
memeluk senjakala

Menggenggam jemari
berangkulan cakrawala, berarak
bersembunyi hendak menutupi hari

Sedang punggung jemariku basah
kau cium dengan lembut bibirmu

Dua anak domba mengikik
tanda luapan cemburu.



PARANOID

Ah…
Mengenangmu adalah siksa bagiku

Belum juga seluruh aku mengingatmu
tetapi sukma i…

Puisi-Puisi Dea Anugrah

http://www.balipost.com/
SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI

kabut yang terangkat
menyisa genangan
pada punggung jalan
kawanan merpati ngungun
di atas kabel kabel telepon
begitu mirip
begitu persis tahun tahun lampau

gadis gadis berseragam
pengayuh sepeda
mengingatkanku akan
bekunya kursi sekolah
dan perasaan perasaan
yang tak sempat
yang tak kuasa
kuucapkan pada fiska

tanpa pernah kuziarahi
mekarlah buah dadanya
bagi sepasang akik
yang lebih keramat
dari segenap puisiku!

matahari yang terangkat
mengeringkan sisa sisa embun
pada punggung jalan

dan belumlah genap kujejaki
bengkolan di depan
hilang sudah penyesalan
atas masa silam
yang disesaki
aroma kegagalan.



KALAU KAU INGIN MENGERTI

kalau kau ingin mengerti
bagaimana aku mencintaimu
berpalinglah

dari daunan gugur
dan gerimis yang menari
sekadar
dalam sajak sajak sapardi

lupakanlah juga
birahi tardji
yang sia sia
pada kucingnya

kalau kau ingin mengerti.
aku mencintaimu bukan dengan
sepotong bulan yang menuruni

jendela
(dan lenyap) saat kau melamunkan
treva jakarta.

tapi bayangkanlah

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
MELEWATI PAGI MENGEJAR SIANG

selain pekatnya hitam
tak ada lagi yang dapat dilihat
bahkan luka menganga
yang orang bilang pedih dan bising itu

di sini di negeri tanpa pagi
nyaris semua indera tak berfungsi
mungkin masih menyisakan satu mata
tapi sudah terlalu lama lupa tempatnya

dan celakanya
ini bukan bagian paling menyedihkan
kerna duatiga tahun terakhir
kau aku belum sekalipun membunuh
berbagai jenis kegelapan
yang tumbuh subur membelukar
melenyapkan bayangbayang

bukti keberadaan yang makin samar
satu demi satu melayang

kepada waktu mesti bersulang
kita di atas kuda pacuan

13.02.2011



KE PUKUL 00:00

pada tiap pergantian gerbang
kalbu menjelma mantra
menjadi rajah pembuka pintu

huruf purba bergetar di lapang dada
menjanjikan rumah yang nyaman
bagi jiwa yang butuh betah
bermukim dalam tabah

sepanjang bentang berkelokan
tanpa marka pemisah
melintas di jalan satu arah
diam bersimpuh menempuh tujuan

tak ada lagi yang tengadah
sebab tangan menggenggam pisau
memotong sejarak risau
dari yang te…

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Ngibulisme

burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan

rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran

apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan

musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang

19 februari 2011



Kodok beracun

kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati

Amsterdam, 14/02/2011



Anjing muka dua

itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?

Amsterdam, 14/02/2011



Jangan telmi

anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revo…

Puisi-Puisi Effendi Danata

http://pawonsastra.blogspot.com/
KESEDERHANAAN YANG KITA BICARAKAN

di sepanjang sungai
tiba-tiba aku ingin bercermin
mencumbuimu dalam imajinasi
dengan dingin merangkul tubuh

aku menyaksikan
kau menawarkan rindu
yang terkelupas di bibirmu
menikam gairah
melintas keheningan

ada banyak jarak
pada kesederhanaan kubisikkan
dan kata-kata telah kusam
menyentuh telingamu

Lendek, 19 Agustus 2010



JADI SUNYI

aku pernah menyingkap air mata
di sudut bibirmu
mencari sunyi
pada detak jantungmu
kian memuncrat

aku pernah memelukmu
dengan sesungging senyum
mengharap nuranimu
jadi sunyi

Lendek, 22 Agustus 2010



MEMBURU

kutengadahkan jiwa pada matahari
agar mengelupas jadi keringatmu
yang panas

kau memetik hidup
memburu nyawa
isyarat pergulatan hawa
menjulur-julur ke lidah nafsu

seumpama malaikat menawarkan
segelas susu dan roti
kau memintaku mencipta nafas
dengan suara tak lebih jelas
dari suara sesenggukan
kemudian aku tenggelam
di pinggir genangan air matamu
yang tak lagi setia

Lendek, 24 Agustus 2010



PERJALANAN ARAH ANGIN

I
burung burung memutar…

Puisi-Puisi Rakai Lukman

http://pawonsastra.blogspot.com/
Kupu-kupu di atas Monitor

kupukupu hinggap di monitor, sayapnya seperti selendang kekasihku, ia membatu menjelma arca, dan menepis upacara musim penghujan, sengat siang ini
sengat rinduku,
kupukupu hinggap di monitor menjengukku, pesakitan membaca raut muram senja mereda, warga desaku menghapus lelah,
seperti lelahku menanti hijrahmu ke tanah becek, tempatku menggaruh nasib, demi sesuap nasi, perjamuanmu di rumah nanti

Gresik 2010



Di Bantaran Bengawan Solo Suatu Petang

bunga bakung bengawan pesiar ke jantungku, berkendara air limbah, telortelor ikan menggelembung hampir meletus seperti amarah rindu, kecebongkecebong terdampar di bantaran menggenang di pandangku
air mata buaya membanjir, tanggultanggul pecah, desadesa terbelah air asin, lalu tubuhku telungkup dan mendayuh ke muara,
barangkali kekasih masih semedi di teratai ungu, menungguku

Gresik 2010



Anak Kecil di Beranda Siang

anak kecil yang bentangkan tangannya di beranda siang memohon receh dari saku kempesku,

Puisi-Puisi Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Penulis Tua dan Mesin Tik

Tidakkah kau tahu di balik tirai mata ini
Tersimpan harmoni hidup; memberi tanpa meminta.
Engkau adalah kekasih dalam dunia kisahku
Kita menari berdansa mencipta kata dan bahasa.

Kesendirian oh kesendirian ini
Karna waktu telah berubah

Dan
Ketika air mata pecah kau pergi menjauh aku sendiri mengurai mimpi
Menyala bagai pelita.

November 2010



Akulah Perempuan

Seperti rajawali terbang lepas
Menatap mengabarkan kisahnya kepada dara-dara yang dewasa.

Bahwa aku perempuan terlupakan.

Terbiasa dengan bahaya dunia menangis tanpa derai air mata
Karena cintaku hanya kehidupan bukan untuk meminta rawatan

Akulah perempuan karya diberkati cinta
Menjelma berganti rupa tundukkan duka derita

Dengarlah
Kusampaikan padamu kisah hidupku tentang dara dan cinta tanpa duka atau derita hidup ini.

Karena aku adalah perempuan.

November 2010



Aku Masih Ingat

Ini malam dingin sekali kita tumpahkan segala rindu
di bangku putih tempat biasa asmara terurai,

Cerita tentang esok…

Kau p…

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Sajak Ladang dan Kebun
~ mengenangmu, Pak ~

detak kenangan mengapa selalu menikam pada hamparan ladang dilingkari alir sungai kecil mengering dan meluap mengikuti irama musim.

nak, arus sungai adalah cita-cita membawa anganmu menderas sampai muara jauh, arus sungai adalah sekaligus perjuangan melawan arus lurus menuju hulu meraih mata air bening melimpah. katamu, sambil engkau kumpulkan daun bambu kering dan menyulutnya, lalu kitapun menikmati jagung bakar dipinggir ladang pada suatu senja di dunia ceriaku.

derak kenangan mengapa selalu mengiang pada rerimbun kebun dibisiki gemericik air tumpah tak tertadah dari tarikan kekar dan kasar tanganmu.

sawo matang adalah kulit kami, anak-anakmu memilih kembara di rimba kota sebagai penghidupannya sedangkan kulitmu legam terbakar cahaya mengolah dan membalik tanah menyemai kehidupan yang berkah.

gerak kenangan mengapa selalu membayang pada liukan roboh pohonan bambu diterjang parang ditanganmu.

pada setapak jalan berlumpu…

Puisi-Puisi S Yoga

Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010
GENDERUWO

obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010



BARONGSAI

barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang berc…