Selasa, 21 Juni 2011

Puisi-Puisi Eka Budianta

http://www.suarakarya-online.com/
Kenangan Pramoedya
(6 Februari 1925 – 30 April 2006)

Kamu mencintai tulang dan pori-pori
Bumi kelahiranmu dan semua bangsa
Para korban kebodohan yang terlupa

Tetapi ketika kautulis kebenaran
Kamu dijebloskan ke penjara
Buku-buku dan pembacamu teraniaya

Akan kukenang Pramoedya
Dengan seluruh keangkuhan saudaraku
Yang tidak sanggup memahami & mencintaimu

Di langit hatiku hujan telah reda
Tinggal namamu tertulis dan bersinar
Menagih cintaku pada bumi manusia

(2006)



Perjalanan Sungai

(1)
Sungai yang dulu menangis
Di antara batu-batu di pegunungan
Sekarang telah sampai di kota
Dan akan terus menuju ke laut

Tak lagi terdengar derai air terjun
Udara sejuk, nyanyian burung, semerbak bunga
Telah berganti panas terik dan polusi
Sampah, minyak bekas, ikan-ikan mati

Tapi aku terus mengalir
Menyilakan kapal-kapal berbeban berat
Masuk dari muara
Menyambut hangat hempasan ombak dunia

(2)
Sungai-sungai kecil, sungai-sungai besar
Bergelora dalam hidup singkat ini
Pegunungan dan air terjun memanggil
Burung-burung mencicit
Menyulut awan putih
Menjadi lautan menyala
Menyepuh nama-namamu

Kota-kota kecil, kota-kota besar
Gemuruh dalam sunyi hati
Burung-burung menyayat sungai
Mengalirkan cinta
Di ambang usia saat butir-butir pohon
Menunggu undangan dari langit yang kekal

(2003)



Sebelum Laut Bertemu Langit

Seekor penyu pulang ke laut
Setelah meletakkan telurnya di pantai
Malam ini kubenamkan butir-butir
Puisiku di pantai hatimu
Sebentar lagi aku akan balik ke laut.

Puisiku – telur-telur penyu itu-
mungkin bakal menetas
menjadi tukik-tukik perkasa
yang berenang beribu mil jauhnya
Mungkin juga mati
Pecah, terinjak begitu saja

Misalnya sebutir telur penyu
menetas di pantai hatimu
tukik kecilku juga kembali ke laut
Seperti penyair mudik ke sumber matahari
melalui desa dan kota, gunung dan hutan
yang menghabiskan usianya

Kalau ombak menyambutku kembali
Akan kusebut namamu pantai kasih
Tempat kutanamkan kata-kata
yang dulu melahirkan aku
bergenerasi yang lalu

Betul, suatu hari penyu itu
tak pernah datang lagi ke pantai
sebab ia tak bisa lagi bertelur
Ia hanya berenang dan menyelam
menuju laut bertemu langit
di cakrawala abadi

Jakarta, 2003

Eka Budianta lahir di Ngimbang, Lamongan, Jawa Timur, 1 Februari 1956. Penulis produktif ini mengenal secara pribadi Pramoedya Ananta Toer sejak 1983. Kedekatannya dengan Pramoedya dituangkan dalam buku “Mendengar Pramoedya” tahun 2005. Karya terakhirnya Eka Budianta Mekar di Bumi terbit tahun 2006.

Puisi-Puisi Beni Setia

http://www.kr.co.id/24 May 2003
PENGUNGSI

kami ini barisan
achordeon dada
dengan paru-paru separuh

rompi zirah indian
jajaran bilah rusuk
setiap saat didera cuaca

warga kusta yang senantiasa
terengah-engah. lelah
membongkar tumpukan sampah

kami ini pewaris
persatuan kusta
di negara cacing pita.



ORGASMOLAND

aku mengenang soreang
seperti mencintai
surabaya, di mana
istri lahir dan kami merayakan kawin

aku mencintai surabaya
seperti aku memuja
caruban, di mana anak
digejalakan di dalam rahim dan lahir

aku memuja caruban
seperti mengenang
seorang di mana ibu
membuka pintu rahim dan aku hadir
dari kota ke kota
merentang cinta
sebelum aku telentang dalam
lahat kepayang mabuk kenangan



LAGU SIUL

bila tidak bersiul
barangkali kami
sudah lama mati. kaku

karena anak terus makan
minta jajan, uang sekolah
dan satu saat minta kawin. pesta

dan bila tidak belajar
bersiul: akan jadi apa
dengan berteriak dan berontak?

seperti sebuah lagu, aku
akan bersiul sampai
tembok runtuh dan indonesia tumbuh

dan bila bersiul
terus. lama-lama
aku jadi prongos dan kurus

12/3. 2003



KRONIK

simpan sperma kalian
sebelum pergi
perang ke babilonia

dan tentara remaja amerika
menyelinap. serentak
masturbasi mengumpulkan sperma

ada yang sesuai program kb
seujung sendok teh,
yang kemaruk separuh botol bir

lalu rebahan di bibir
fatamorgana menulis
wasiat: perang ini pasti membunuh ayah

kenapa tidak ikut demontrasi amti-perang
berseru: jr, bila tak bisa ‘mresiden lagi
‘ngapain mesti ‘nggulingkan saddam hussein?

sementara saddam hussein
dengan kloning
menjadi berjuta — membelah diri

menyuruk ke palestina, mengecambah
di timur tengah, lalu menyelinap
dan memasang bom di kota-kota amerika

masturbasi tak henti-henti
kloning agar tak mati
tahukah akan perang a la dolly yang asyik?

make love not war — atawa
jaga kebersihan alat kelamin
dan tingkatkan produk kondom dunia.

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Memandangmu dari Sisi Benakku

melihatmu dari sisi benakku
diantara cahaya mata terpaku
juga pada redup matamu
temaram siluetmu
di antara celah-celah bidai bambu
membayang samar pada pagar
mengisahkan kedalaman duka
atau rasa rindu yang masih tersisa
memisahkan antara benar dan alpa
dalam jazirah perjalanan luka

engkau berdiri menepi
mungkin itu sebuah isyarat
engkau telah jenuh menanti
atau telah tak ada arti
ribuan jarak yang terlewati
entah apa yang engkau cari
diantara beribu ujung argumentasi
mungkin mempertahankan eksistensi

tak ada warna abu-abu di langit kita
karena Tuan kita hanya memberi
dua warna antara mawar atau melati
yang tertanam pada masing-masing hati

Semarang, 20 November 2010



Bacalah

“bacalah,” begitulah ungkap-Mu yang paling romantis itu dan semua seperti tersihir untuk menyitir dan mengungkapkannya.
lalu kami pun menjadi mahir untuk membaca dan meneriakkannya. namun kami hanya pandai membaca aksara-aksara yang ditulis oleh para tetangga, sedangkan ketika membaca huruf-huruf yang kami gores ke dada sendiri, kami menjadi gagu dan alpa.

Sidomoro, 18 November 2010



Haruskah Engkau

haruskah engkau memenuhi rongga batinku
menyita hampir-hampir seluruh ingatan
menjadikannya seperti sejenis rindu

haruskah engkau mengisi kota hatiku
memenuhi hampir-hampir seluruh ruang kosongnya
dengan baris-baris namamu

ya hanya namamu
teringat olehmu seperti mengenang derita purba sebuah kota
orang-orangnya tertawan berbagai derita dan senjata

lalu tiba-tiba orang-orang itu menjelma menjadi hatiku
sedangkan senjata itu adalah namamu
mungkin juga senyummu

engkau tak kan pernah tahu di mana letak derita
karena aku telah menyimpannya
di dada

Sidomoro, 10 November 2010



Apa Kabar, Pagi?

apa kabar, pagi?
di tengah-tengah hiruk pikuk
debu-debu industri
masih sempat ku dengar
Engkau bernyanyi
pada pokok-pokok dedahan
dan reranting sunyi

Sidomoro, 8 November 2010



Pantun Rindu

patuh dalam didih dadaku
jatuh dalam pedih batinku
menyimak amsal sendu tak diam-diam
gelegak magma rindu tak padam-padam

Sidomoro, 19 November 2010



Angin Pagi

angin pagi menyeret anganku kepadaMu dalam iringan orkesta tubuh yang rapuh.

Puisi-Puisi Agus Sunarto

http://www.suarakarya-online.com/
Miskin

Pagi buta segala hantu pun
belum terjaga
berlari mengejar bis
jam kerja
antrian panjang di pintu gerbang

memoles wajah
menyemprotkan wewangian

buruh hotel menjual jasa
harus wangi, bersih, segar
dan pintar
tersenyum ramah
persetan dengan masalah rumah
yang menumpuk
tetap harus senyum
berada di dalam bangunan
megah hotel berbintang

akhir bulan upah hanya 2 jam
mampir di tangan
semua budgeting harus diisi
negosiasi upah
selalu ditolak pengusaha
alasan pengusaha, hotel rugi
pendapatan anjlok

tetapi ini harga diri
kami harus terus berjuang keras
bertanya kapan penyesuaian gaji

* Bandung, Maret 2010



Koin

dulu sering kusisipkan satu koin
bukan untuk telpon rumahmu
tapi untuk lempar
kaca jendela kamarmu
pemberi tanda aku datang
lalu kita duduk bersama
di depan beranda

banyak cerita
banyak tawa
banyak mimpi
berakhir begitu saja

kau memilih pulang lebih dulu
dan aku masih ingin disini

bukan salahku
bila kita tak sejalan
benda terkutuk itu telah
membawamu pulang
sebelum kau selesaikan
etape pertamamu
sebelum kau coba
Laptop terbarumu yang kita
beli berdua

kepana tak pernah cerita padaku
atau kau masih ragukan aku?

* Bandung, Mei 2010



Bolos


buku buku tebal ini
hampir menjenuhkan
bergelayut di punggung
ah…
sebaiknya tak kubawa
kusimpan dalam lemari saja
dan aku mau bersantai
udara cukup panas
biarkan aku berlari seaat tanpamu
aku rindu ibu
aku ingin lari ke pelukannya
dan kubilang:
“Ibu aku rindu
teh manismu”
kini ribuan mil jarak kita
aku cuma punya pohon ini
yang selalu kududuki dahannya
pejamkan mata dan ayunkan kaki
seakan berada dalam pelukan ibu

ibu,maaf aku selalu bolos
selalu mau bolos
kalau ingat berayun
dalam pelukanmu.

* Bandung, April 2010



Jakarta

lihatlah suasana baru
gedung gedung baru
hotel hotel baru
berdiri saling bersaing
tapi kemiskinan barupun
semakin nyata
tapi semua datar datar saja
pergerakan kecil maupun besar
tak terlihat sama sekali
syukurlah bila sudah
menikmati keadaan ini
akupun ingin diam saja

kerja tidur
makan tidur
kerja makan
tidur lagi

* Bandung, Juni 2010

Puisi-Puisi Diah Hadaning

http://www.suarakarya-online.com/
Yogya Sebuah Pertanda

dalam bayang karakter nawa
telah terbaca satu pertanda
raibnya sebuah tiara purba
raibnya nyawa -nyawa
syairmu teronggok di sisa runtuhan rumah tua
lepas fajar di yogya
mencari lembar sejarahmu
untaian merjan bumi mataram
kidungmu kidung sarira hayu
mantramu sastra binedhakti
caraka balik lumat batu akik
o, wong sidik

simak angka-angka biarkan bicara
bulan mei hari kedua puluh tujuh
di tikungan jaman penuh ontran-ontran
tangan gaib gusti pangeran
menepuk bumi kesayangan
saat jiwa rindu kehadiran
sang danyang gaib pulau jawa
sabdo palon menagih janji
bukan dosa bunda pertiwi
jika teraju emasku: seonggok kayu
jika taman sariku: abu
jika rumah tuaku : serpih sembilu

Teratak Gondosuli, Juni 06



Lepas Subuh di Bumi Raja I

saat jiwa tergetar menatap gunung wingit
sementara doa tak henti sentuh langit
laut menghardik
bumi terbadik
dusun tua tercabik
rumah kuna luluh kumuh
sisakan serpih tak lebih
fajar kehilangan cahaya timur
mengiring raib nasib dan umur
satwa kehilangan nuansa
dusun dan kota kehilangan tanda
manusia kehilangan daya
yang sisa tumpukan luka

seseorang menangis di bawah gapura
keluh dipatri di cakrawaladoa mengeram di dada
memanggili nama sang raja
mencari kaki pelangi di langit kota
pelangi tiada- terhela getar gempa
seseorang melompat:
kita belum sekarat
dunia belum kiamat
zikirkan ha na ca ra ka !

Teratak Gondosuli, Juni 06



Lepas Subuh di Bumi Raja II

wajah -wajah pias masih termangu
sisa subuh warna abu
prahara kota prahara jiwa
luka tanah luka manah *)
mimpi perubahan yang tercacah
seorang lelaki tua terpekur di ujung desa
coba memeras air mata
sisa diri masihkah makna
denyut nadi denyut langit tak sahuti
masih terdengar bisiknya santun
hati-hati dalam runtun :
adakah andika **)
yang selancar di lempengen australia
adakah andika
sedang punya hajad raya
adakah andika
tak menerimaku yang terlalu tua
menugasiku bersaksi pada dunia
lelaki tua terguguk
bumi raja benteng lapuk
hanya angka yang bertumpuk
pesan gaib jelang magrib :
kuat iman usah ngamuk !

Teratak Gondosuli, Juni 06

Catatan:
manah (*) = hati
andika (**) = Ratu Kidul

Diah Hadaning tinggal di Cimanggis, Bogor. Karya-karyanya, baik puisi, cerpen maupun esai tersebar di berbagai media. Pendiri Warung Sastra Diha ini juga aktif sebagai penggiat sastra Komunitas Dialog Jarak Jauh. Diah ikut membacakan puisinya dalam gelar “Peduli Korban Gempa Jogja” di TIM, baru-baru ini.

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumawi

http://sastra-indonesia.com/
Gempa mengusung Ka’bah

barangkali gempa yang mengusung ka’bah
seperti tanah batin yang rentan berpindah
ber-hala pada jenis dan ganda

manakah retak atas fitrah
kaca dipenuhi warna, bentuk, dan matra
memudar, menghalau lebih luar
dari wajah terdalam, terpesona pada bianglala

oh, bianglala, bianglala
indahmu biasan terik dan hujan
udara membumbung ragam warna
seperti dunia yang memenuhi kilau mata

laiknya, metrologi hanya memberi garis dan angka
seperti ka’bah yang menjadi satu tanda atas arah
pun segala arah dipenuhi wajah yang sama

Lamongan, 2010



Vonis yang Tertulis dalam Sejarah
-John Wansbrough

inikah nasib dari tradisi, bahasa, dan kisah
bahwa segala bermula dari yang datang pertama
adalah satu-satunya vonis yang tertulis dalam sejarah

tapi, siapakah yang kuasa berdiri di luar
bahkan tuhan pun disejarahkan, dikisahkan
dalam huruf, aksara, kata, dan tanda baca
sebelum diberangkatkan ke sidratul muntaha

apakah hanya dengan menjadi bagian kisah ini
lantas dengan semena-mena ditera sebagai imitasi
tanpa bersama bukti 200 tahun tradisi

bukankah pada manusia, sosialisasi-internalisasi, juga
mengekalkan dalam otak dan hati, adalah langkah sempurna
ketika pena berbelok-belok sekehendak arah

sekali-kali tak ada kata untuk menjadi bagian tersendiri
sebab kata ini adalah kata yang sama sejak pertama
seterusnya, pun tampak berbeda bentuknya
bukankah mata kabur oleh sakit dan renta

di sini, bilakah kalam akan terkabarkan
maka, bukan hijaiyyah yang tertulis dan terbaca
tapi, hanacaraka yang dianggap suci menjadi kaligrafi
dan barangkali beliau pun akan memakai batik jawa
dengan benjolan blangkon di belakang kepala
—atau lainnya—

dan, bagaimana akan menyebut tentang manusia
bersama pengingkaran atas partikularitas
timur dan barat adalah gelindingan bola
adam dan hawa menjadi orang tua pertama

pada kebenaran, siapa yang hendak meniru
meski bermacam pintu untuk bertemu

inikah vonis tertinggi dari sebuah imitasi yang terterakan
kata-kata menyemburkan katrina yang menitikkan gamang
hanya pada debu-debu yang biasa beterbangan

tapi, syukurlah tidak ada yang setenar tuhan
meskipun atas manusia, wajahnya kerap alpa

Lamongan, 2010



Para Pengantar Kabar
-Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht

telah hadir kabar-kabar, di depanmu di depanku
berlompatan, menjalin satu persatu, individu
matarantai-matarantai peritiwa dulu
utusan adalah titik penyandaran, hamba yang patuh

tanya mana yang mengantarkan pada ragu
—bahkan ingkar— bahwa segala itu palsu?

sungguh, selaiknya kita patut bertanya
bagiku bukan ragu, tapi, kita adalah para pembukti
para pemisah, karena antara benar dan dusta
tak mungkin menjejak di kaki yang sama
dan bilakah itu, merusak warna semata, kelabu
barangkali hanya duduk semeja dalam ilmu, dalam hikmah

demikianlah, dalam tradisi ini, tiga-lima generasi adalah nyawa
dari hidupnya sebuah kabar atas hadirnya seorang utusan
maka, sedari awal pun telah dipersiapkan, tanya-tanya
tak memihak, kecuali pada kebenaran

dan barangkali kau pun tahu, selain itu kehendak
segalanya kan tenggelam, batal dan rusak

Lamongan, 2010

Biodata Penulis:
Ahmad Syauqi Sumbawi, sebagian tulisannya (cerpen dan puisi) dipublikasikan di beberapa media massa baik lokal maupun nasional. Juga terantologi bersama dalam Dian Sastro For President; End of Trilogy (2005), Malam Sastra Surabaya (2005), Absurditas Rindu (2006), Sepasang Bekicot Muda (2006), Khianat Waktu (DKL, 2006), Gemuruh Ruh (Pustaka Pujangga, 2008), Laki-laki Tak Bernama (DKL, 2008).
Sementara bukunya antara lain Interlude di Remang Malam (puisi, 2006), Tanpa Syahwat (cerpen, 2006), #2 (cerpen, 2007). Dunia Kecil; Panggung & Omong Kosong (Novel, 2007, PUstaka puJAngga), dan Waktu; Di Pesisir Utara (Novel, 2008).

Puisi-Puisi Bambang Widiatmoko

http://www.suarakarya-online.com/
Tanda, 1

Mungkin tinggal kabut menjemput
Kesunyian dan rasa takut
Bingung mencari arah
Busur kehilangan anak panah.

Inilah bencana – entah apa pun namanya
Menceraiberaikan, lantas kering airmata
Bendera putih di ujung gang
Mengusir kembali burung gagak terbang.



Tanda, 2

Mungkin hanya tegur sapa
Tuhan hendak bicara
Berat beban bumi menyangga
Keserakahan dan nafsu angkara
Atau evolusi alam semesta
Berharap kita bijak mengartikannya.

Barangkali hanya tanda
Jika bumi menggeliat, hujan airmata
Ke mana lagi kita sembunyi
Tanah tempat kaki berpijak
Membuat kita enggan beranjak
Dan akhirnya kita lelah, juga pasrah.



Pura Beji
(Bagi: I Wayan Artika)

Penjor mulai kering
Tapi tiupan angin membuat kehidupan
Terasa berayun dalam irama nyanyian sukma
Lalu doa menjalin keseimbangan
Hitam putihnya sisi semesta
Percikan tirta dan bunga aneka warna.

Hidup terasa bagai pohon kamboja
Setia menjaga pura
Setia kata-kata harus terjaga
Bersama peluh, bersama sesaji
Dan patung-patung ditelan sunyi
Malam berkabut di pura Beji.



Perempuan Hikayat, l

Tenggelam dalam tumpukan buku hikayat
Wajahmu pucat – seperti anak tersesat
Mencari jalan kerahasiaan dan rasa penat
Apakah ada kata bijak – Tujuh Martabat
Atau bau busuk menyengat
Menyelinap dalam kamar tersekat
Tetap saja hikayat bercampur keringat
Menjadi hiasan dan rasa bersahabat.



Perempuan Hikayat, 2

Janganlah keyakinan menjadi padam
Meski cahaya lampu kamar selalu temaram
Hikayat telah menjadi jantung dalam tubuhmu yang legam
Seperti kitab daun lontar
Dalam peradaban dunia yang gemetar.



Perempuan Hikayat, 3

Ada abad-abad yang menyelinap
Dalam almari kayu yang dimakan rayap
Berjuta aksara menyimpan rahasia
Peradaban yang penuh makna kata.

Mungkin hanya tanya – penuh simbol bunga
Mungkin rasa sejati – juga mimpi-mimpi
Tak terbayang langkah kaki berlari
Dan berhenti pada titik kulminasi.

Perempuan hikayat terdiam sesaat
Seperti tersihir dalam dunia makrifat.



Perempuan Hikayat, 4
(Bagi: Indra)

Telah kaucatat hikayat Indra Maulana
Mengingatkan pada seorang perempuan pengelana
Dua nama yang terpaut abad
Tapi tak terpisah dari sejarah
yang melekat erat.
Perempuan hikayat lahir di bumi
Dengan dada menyimpan semangat api
Perempuan hikayat menangis seorang diri
Karena hidup adalah iluminasi.



Amsal Layang-Layang

Kita telah diajar untuk
bermain layang-layang
Tapi angin berhembus terlalu kencang
Menyobek angan-angan dan rasa senang
Kehidupan menjadi seperti terpanggang.



Amsal Rumah

Sebuah rumah – di atas sebidang tanah
Entah mencipta rasa gelisah atau gairah
Biarlah tetap kokoh tanpa timbunan sampah
Meski telah terperas jiwaku tinggal remah.



Amsal Cinta

Barangkali seperti sungai mencari lautan
Mengalir perlahan penuh perasaan
Atau banjir air-mata dan keputusasaan
Bisa juga tenggelam dalam ketidakpastian.

Tentang Penulis:
Bambang Widiatmoko, penyair kelahiran Yogyakarta, dosen luar biasa Universitas Mercu Buana Jakarta, menulis di berbagai media-massa. Antologi puisi tunggalnya adalah Pertempuran (l980), Anak Panah (l996) dan Agama Jam (2000). Cerpennya terhimpun antara lain dalam antologi Bupati Pedro, Laki-laki Kota Rembulan (2000).

Puisi-Puisi Indra Tjahyadi

http://www.suarakarya-online.com/
Musim Hanya Tinggal Gempa

Mayat ingatanku yang menginsyafi badai
mengganyangi kupu-kupu. Seratus siulan pelangi melesat
Dari balik mendung, berserapah pada rindu. Serupa
tikus, aku impikan keremajaanmu,
tapi tanpa sorban, pengetahuanku dekaden
dikuliti laknat hantu-hantu. Seratus kejemuan
yang diriwayatkan perusuh menemukan kota-kota
khayalanku yang hangus.

Karena telah aku setubuhi harum jenazahmu,
pikiranku risau, mencium bunyi-bunyi geludhuk.
Tetesan-tetesan air menghajari perdu.
Musim hanya tinggal gempa berkali-kali
memaki hasratku. Aku raut burung-burung raib,
sayap-sayap muram taifun mengumandangkan ode
hitam semangat nihilistik batu-batu. Ikan-ikan mistis
berterbangan, mengobarkan gemuruh! Sejarah
kegembiraanku yang gila mengutili sisa-sisa gerimis,
memamahi lumut.

Panorama kebisuan 32 tahun bersipecah di dadaku.
Tapi, seperti seekor kerbau kesadaranku letih, menjelma
serdadu, mencumbui pelacur. Meski di esok
yang saman sukmaku akan merenungi jalan-jalan
maut, terkubur hidup-hidup di perbukitan hasratmu.
Aku sosok-sosok kufur lumpur, dibantai seribu tatapan
mata terpilu. Di jurang-jurang galaksi terjauh,
arwahku yang rasul membiarkan ribuan ombak ajal
menghijaukan kabut. Seakan kau yang senantiasa
panggili aku dalam tidurmu. Serupa aku yang perlahan
kurus, diam-diam meninggalkanmu.



Sebab Udara Makin Alpa

disebabkan gerhana
riwayatku yang gasang
menggayuti pepohonan tubuhmu
pengetahuanku yang semesum guntur
menembusi hutan
gigiti pentilmu
seraya memekik
tiba-tiba aku dij`vu
arwahku manyun
meniadakan gemintang
kobarkan geludhuk.
di mana-mana langit hanya mendung!
segenap wisik pertempuranbermula dari pelirku.

keremajaanmu menjelma luka
luka kering
bangkitkan pesona kejahatanku
sajakku demikian murung
menyangkali tahajud abad semak
semak berperdu
aku pagut lehermu
ruhku tersesat di kota berhantu
menyabitkan parang
tusukkan belatung.
telah raib keteduhan
bahkan sorga
adalah liur pemabuk
yang memerahkan darahku.
“tataplah angkasa!”
dan lidahku yang cekak akan terasa banal
senantiasa mencuri bulan
yang kau sembunyikan
di sela selangkanganmu

sebab udara makin alpa
meski kelak seluruh laut pasang
dan bumi hanya tinggal kubur
tanpa lumpur
mari kubuka duburmu
kematianku pucat, melenguh
serupa mitos percintaan
yang terbunuh kelam
dan senantiasa diusung dendam tahun-tahun
aku telanjang di kegelapan
serupa perusuh
nafasku lebus
mengurapi gugusan bintang
yang kau sematkan di dadamu

Tentang Penulis
Indra Tjahyadi, alumnus Fakultas Sastra Universitas Airlangga Surabaya menulis esai, puisi dan cerpen. Karya puisi, esai dan cerpennya termuat di AIAA News (Australia), Bahana (Brunei), Horison, Jurnal Cipta, dan berbagai media nasional. Beberapa puisinya dalam bahasa Inggris termuat dalam Big Lick Literary Review; a Multicultural Arts Ezine, Roanoke, Virginia, AS. Ekspedisi Waktu (2004) adalah buku kumpulan puisi tunggalnya yang sudah terbit.

Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://www.suarakarya-online.com/
Pesta Kembang Kertas

taman malam begitu dingin,
tapi engkau membaris
lilin hitungan usia
yang semakin saja bergemetar
kembang-kembang kertas
bertebaran hingga dada
menjadikan makna perjalanan
terkikis oleh embun
dan ciuman membara
di kolong yang telah buram

jangan lagi percaya
kepada khutbah para pendosa
katamu, tetapi betapa berlari itu
meledakkan api
yang engkau mengabadikan baranya
di pesta-pesta
kapan lagi duhai,
bukan semata mimpi kedalaman
bukankah telaga kita
betapa pernah bersaksi cinta



Seusai Melukis di Pinggir Kali

berbaringlah kekasihku,
menuntaskan segala warna
senyampang yang mengalir
masih kebeningan
dan melati betapa bertebaran menguar wangi
agar tak lagi nanar tatap ini,
hanya sekedar lekuk
berkali degup jantung
membisikkan silau cahaya

berbaringlah kekasihku,
meredam gejolak mempurba
sebagaimana saat mengalirkan
segala amsal gelisah
dalam aliran hari-hari,
yang senantiasa gemerisik
anggaplah, duhai,
percintaan air dan batu-batu kali
bukankah dendam juga
menghanyutkan gemetar hati



Tentang Kepentingan Siapa

anak-anakku kini telah tidak belajar lagi
mengeja tentang kepentingan siapa, berbusa
mulutnya dan berbaru anyir entah karena apa

seorang tetangga bilang sebab televisi
yang menayangkan berita, para pembicara

anak-anakku kini belajar membungkam
mulutnya, dan hanya mau membuka mata
melihat kenyataan
tentang kepentingan siapa



Sepotong Daging di Perjamuan

jangan lagi atas nama cinta,
siapa yang berburu
saat kegelisahan sebenarnya lindap
di perjamuan
maka sepotong daging apalah artinya,
dijajakan
dan betapa lalat berhamburan
sepanjang temaram
lantas di manakah perbedaan
selembar kain yang
mewangi, atau justru
sepotong daging membusuk
padahal janji juga telah dibacakan, telanjur batu
lihatlah ketakutan seperti
mengiris jantung sendiri



Kembali Bersujud

akankah kebusukan ini dipestakan
dengan umpatan
dalam perhelatan agung,
berjubah kata atas nama
meski diam-diam pelacur pun bisa bertanya
sebenarnya lapar ditahtakan demi kepentingan
siapa, namun jangankan kembali
bersujud membunga
yang sungguh dirindu pesona dan wanginya
bersedekap saja kita kerap enggan:
sebab nyatanya
kembali bersujud, katamu,
menatap ada dusta!



Mematung di Ujung Hujan

segalanya telah basah dalam pertikaian ini
memahamimu sahabat, seperti mematung di ujung hujan
siapa yang bisa memastikan
datangnya angin reda
apabila rahim waktu,
masih sembunyikan orok dendam

kemarau yang berlalu
memang bukan wujud kutukan
membangun poranda ini sahabat,
padahal kita bersedekap
negeri ini dalam banjir sarat beban keseharian
belum lagi mulutmu berbusa,
menghujat sialan


Tentang Penulis:
Akhmad Muhaimin Azzet, kelahiran Jombang, Jatim, 2 Februari 1973 enulis puisi di sejumlah media cetak daerah dan nasional. Beberapa puisi terangkum dalam antologi puisi Tamansari (1998), Embun Tajalli (2000), Lirik Lereng Merapi (2001), Filantropi (2001), Malam Bulan (2002) dan Sajadah Kata (2002). Alumnus IAIN Yogyakarta ini juga aktif menulis cerpen, esai budaya, dan naskah drama.

Puisi-Puisi Dimas Arika Mihardja

http://www.suarakarya-online.com/
Di Kedalaman Dada, Jogja

di kedalaman dada, jogja
gempa mengguncangguncang sesiapa
yang pernah melintasi
malioboro-kraton-candicandi
di kedalaman dada, jogja
candu terasa pahit!

di ketinggian dada, jogja
merapi sakit flu berat
terbatukbatuk oleh asap
rokok mbah maridjan
dan cerutu sri sultan
jantung jogja penuh nikotin
memompakan asap wedhus gembel
yang membuat mripat perih

di dinding dada, jogja
kepingkeping luka tak terkalimatkan
puingpuing duka tak terbahasakan
empedu itu, aduh, betapa pahit

Jambi, Juli 2006



Jogja, Kota Kataku

jogja, kota kataku
tiap saat kubacabaca
tempat jiwa mengembara
pusara makna dan alamat doa semesta

jogja, kota kataku
tiap saat kurabaraba
tempat tragedi dan misteri
pusat magma cinta sejati

jogja, kota kataku kukatakan:
kita tak cukup melantunkan doa
kita tak cukup meraba jiwajiwa derita
kita tak cukup membangun tegursapa
kita harus meledakkan magma cinta

Jambi, Juli 2006



Metamorfosis

telur yang kulekatkan pada dauntelah menjelma ulat
aku-ulat itu bergerak di celah ruang waktu
merangkaki dinding gelap mengejar cahaya
mentari, awan, angin mengasuhku dalam hening
aku adalah kepompong bergerak di lorong-lorong
memaknai gelap yang melindap

lewat relung sunyi kubaca
kembali jatidiri
puisipuisi
arah matahari
seperti membaca nyeri negeri ini

aku pun keluar gua peraadaban
terbang mengembangkan sayapsayap kecemasan
mendaur ulang sejarah
menata langkah
menuju entah!

Jambi, Akhir Desember 2005



Pada Suatu Hari

pada suatu hari aku tak sempat membaca Air
kesibukan jam menyeret langkah menyusuri lembah
dari jauh kubaca Air mengalir menuju hilir
menghanyutkan peristiwa:
tragedi manusia!

pada suatu hari aku tak sempat mereguk Air
padahal gericikNya selalu saja mengundang dahaga
sejauh burung terbang, Air juga yang dirindukan:
perasan keringat dan kesadaran!

pada suatu hari merpati membawa kabar:
ada yang tergadai oleh geriap waktu
dan tahu di manamana Air
banjir airmata!

Jambi, Akhir Desember 2005



Memandang Riak Kolam Jiwa

memandang riak kolam jiwa
aku lihat lipatanlipatan air jernih
ikan ikan berenang tenang
melahap setumpuk hasrat

ada juga nyanyian ganggang dan lumut
berusia lanjutmerajut maut
yang siap menjemput

aroma maut itu terus beriak
dan membiak
sepanjang jejak!

Jambi, 2006

Catatan Redaksi:
DIMAS ARIKA MIHARDJA lahir di Jogjakarta 3 Juli 1959. Tahun 1985 hijrah ke Jambi menjadi dosen di Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Universitas Jambi. Gelar Doktor diraih 2002 dengan disertasi “Pasemon dalam Wacana Puisi Indonesia” (telah dibukukan 2003).

Sajak-sajaknya tersebar dalam antologi tunggal seperti Upacara Gerimis (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994) dan Ketika Jarum Jam Leleh dan Lelah Berdetak (Telanai Printing Graft, 2003). Antologi puisi bersama antara lain Pusaran Waktu (Bengkel Puisi Swadaya Mandiri, 1994), Negeri Bayang-bayang (Festival Seni Surabaya, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ-TIM Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Angkasa Bandung, 1997), Angkatan 2000 dalam Kesusastraan Indonesia (Gramedia, 2000), Kolaborasi Nusantara (KPKPK-Gama Media, 2006), Antologi Nusantara (Gama Media, 2006).

Novelnya “Catatan Harian Maya” dimuat secara bersambung di Harian Jambi Independent. Cerpen, esai, dan kritik sastra yang ia tulis tersebar di berbagai media massa. Kini berdomisili di Jln. Kapt. Pattimura RT 34/02 No. 42, Kenali Besar, Kotabaru, Jambi.

Puisi-Puisi Jurnal Jombangana, Nov 2010

http://sastra-indonesia.com/
Sabda dan Cinta
Ali Subhan

glamor mata melihat gambarmu
menghayal jika ada hasrat membunuhku
mengabaikanmu adalah perjuangan terhebat dalam hidupku
hanya untuk merelakan jika dirimu bukan takdirku
bak lidah berlapis dua
bisa membawa cinta menjauh
bisa mengalirkan kebencian di setiap jaringan sel darah
seperti alam yang waktunya bisa berhenti
untuk memberikan ruang bagi dirimu
melihat jalan berembun…. membeku…. menetes ranting
seperti paruh meneguk air dari sumber padang pasir
mencari cahaya dalam sepi
membagi sendiri untuk sepi seperti tiada henti

tidak…. ini harus diakhiri…
tatap matanya telah melumpuhkan benang retinaku
keanggunannya adalah muslihat dibalik kerudungnya
sihir katanya memalingkanku dari hukum jagad raya
kebaikannya bermotif nafsu setan..
aku tidak ingin membagi selain denganNya
aku hanya butuh menggandengnya
untuk bersama menghiba dikaki kekuasaanNya



Amanda Al Kautsar, 2008
Robin Al Kautsar

telah lahir anakku yang kedua
ponsel se-dunia menuju ke arahku
“Eureka!”

seperti kakaknya
segera kubawa ia ke mihrab nabi
“Ya Tuhan
jadikanlah pula manusia ini
pembela risalahMu”

di bawah lengkung masjid yang sepi
di 17 anak tangganya yang gagah
para malaikat sudah menunggu
dengan seruling, rebana, harpa
tambur dan timphany
mereka beterbangan memainkan musik purba
“Selamat datang, wahai
kekasih Allah yang baru!”

keesokan paginya
marbut menemukan rangkaian mawar jingga
dan ia bertekad merahasiakannya

Jombang, 23 juni 2008



Merapi
Yusuf Suharto

Lahar panasmu telah mengubah semuanya
Para makhluk dan juga manusia berlarian
Meenyelamatkan diri sebisanya

Siapakah yang tahu gejolak alam
Ketika memang telah ditentukan Tuhan

Wahai manusia
Siapakah yang sanggup menghindarkannya
Mayaat-mayat bergelimpangan
Dan tanpa perbedaan

Rasanya seluruh isi alam ikut menangis
Melihat fenomena hidup yang tak terkuasakan

Bukannya Tuhan itu kejam
Tetapi itulah kemestian
Betapapun pahitnya

Bahwa di balik kedukaan
Ada sejuta hikmah
Yang menuntun manusia menjadi berteguh iman



Tanahku Bukan Milikmu
Anjrah Lelono Broto

Bukankah setiap swara miliki gaungnya sendiri? Bukankah
tiap swara yang berdengung yang menyentak yang menjuntai niscaya
akan mencumbu buluh di rerimbun pring petung?
Begitu juga swaramu, anak-anakku.

Bukankah setiap mimpi miliki ujungnya sendiri? Bukankah
mimpi yang berkecambah yang meruah yang mengalir niscaya
akan tersimpan di laci memori pring petung?
Begitu juga mimpimu, anak-anakku.

Bukankah setiap rekah tanah miliki airnya sendiri? Bukankah
rekah tanah yang terlalu memberi ruang yang memberi dendang yang basah niscaya
akan mengubur akar, dahan, hingga dedaun pring petung?
Begitu juga dengan rekah tanah kelahiranmu, anak-anakku.

Berselang waktu,
rerimbun, laci, akar, dahan, hingga dedaun pring petung tersisa bongkah kisah
dalam masa indah tanah tumpah darah.
Berselang waktu, anak-anakku.
Swara-swaramu, mimpi-mimpimu, dan rekah tanah-tanahmu bersendawa dengan nestapa
persenggamaan berlebih tanah dan air. Dhapuran pring petung di sisi kanan
balairung rumah kita tinggal cerita lama terkubur buaian duka lumpur.

Lumpur menjengah telah merampas paksa semua yang berharga dalam hidup kita.

Girilusi, Mei 2010



Hujan Tadi Malam
Zaenal Faudin

Hujan es semalam pecahkan genting
apakah kau dengar petir menyambar
pohon kelapa?
Daun jambu diam berwibawa:
“Kau hanya mimpi, anak muda.”
semalam petir menggelegar menyambar
pohon kelapa, pikirku

Tanah basah segar isyaratkan bahasa
pada kecambah yang semi pagi ini
“Hujan semalam bukanlah mimpi buruk,
hanya hati yang remuk serasa digiring
ke pembuangan Siberia.”

Aku berfikir, apakah tadi malam hujan es
jatuh pecahkan genting?

11 Desember 2007



Rumput; Manfaat dan Kehinaanmu
Lailatul Muniroh

Sungguh heran aku …
Kau tipis kecil …
Kau pun mudah tertiup angin
Kau begitu gampang dibabat
Karena kau berakar pendek dan lunak
Kau kesat
Kau begitu hina
Sejak lahirmu kau berada dibawah sandal para manusia
Kau begitu tak beraturan
Karena kau tumbuh dimana-mana
Usiamu pendek
Bagai bulu ketiak manusia yang mudah sekali dicabut
Bentukmu pun bermacam-macam
Hijau, kuning, coklat, violet
Kau mengkilat dedaunmu
Kau bercabang dan bertangkai
Meski begitu kau ciptaan Tuhan
Tiada yang menduga akan manfaatmu
Dengan manfaatmu …
Hewan ternak bisa memakanmu dengan lembut dan lahap
Bahkan manusia pun bisa memanfaatkanmu
Dan kau dapat juga sebagai penahan air
Karena warnamu hijau
Kau sungguh menyegarkan
Para mata yang memandang
Jika kau dijadikan taman di depan rumah
Sayang … kau kotor dan tak berbunga
Karena tempatmu dibawah sandal para makhluk yang lain.

Puisi-Puisi Fatah Yasin Noor

http://sastra-indonesia.com/
Belantara Hijau

Mata yang tersimpan dalam kandungan gunung. Perlahan silau atas tajam matahari. Atas hari-hari yang semakin terbuka. Menguak kehijauan hutan belantaramu. Nyaris tak lagi bisa ditandai. Gerimis yang terus merintih pelan. Jejak-jejak sunyi masih merangkum musim. Aku berjalan perlahan dalam beludru malam. Melingkar lewat lekuk teluk yang dikenali pelanduk. Ahai sepi, seperti ampas kopi.

2009



Sunyi Dalam Punggungku

menulis ingatan yang merapuh. Ingatan yang dibawa dari puluhan tahun silam. Kenapa kini engkau selalu tak sabar ingin berangkat? Ingin selalu beranjak dari kamar yang kapurnya sedikit demi sedikit rontok memutihkan kelopak matamu. Bergesas menuju laut yang itu-itu juga, debur ombak yang nyanyiannya itu-itu juga. Tapi kita selalu datang ke situ, mendulang embun. Seperti masih mencari sisa kata yang mungkin tertinggal untuk puisi. Dibalik embun, di atas alunan ombak, dan rintihan pasir yang menggeser kursimu. Setelah itu kita melesat ke Bakungan. Mengulur salam selamat pagi kepada Pramu yang menjaga kolam ikan pancing yang asri.

Desember 2009



Aku dan Cinta

Bernyanyilah. Tangkaplah sayap-sayap kata yang melayang dalam mimpi.
Hari yang diarsir atas akar pohonan yang menghujam. Bersenandunglah.
Atas air yang memancar jernih dari hijau daun. Menjulangkan burung-burung,
atas kata angin yang melayang lembut.

November 2010

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Kemana untuk damai dan tenang jiwa

bintang-bintang
berhamburan
mengerdipkan mata
pada luka

gigil angin
merangkak
di ujung malam
selimuti
pohon angan
dalam remang

wajah basah
tengadah
terbasuh
ricik
alir
mata
air

wajah gundah
mendesah
tersapu
titik
alir
air
mata

kemana
tuk damai
dan tenang jiwa

sebatang asap
secangkir pekat
di remang
gelap

atau

sepasang takbir
selingkar dzikir
di fajar
lelap

2008



Jalanku

jalanku
ladang luas
mendaki

kaki-kaki
gemetar mengayun
pergi

jalanku
ladang luas
sarat
angan dan mimpi

langkah-langkah
pelan
mata lelah
menatap
depan

sangkuk
punggung
menahan
beban
rasa
menggunung

jalanku
ladang luas
lebat
onak dan duri

ku tabur
sejak
azali
ku tuai
hingga
kini

Oktober 2008



KataNya

ada yang
rindu
menyatu
dalam
kalbu

mengalir
dalam
darah

mendzahir
dengan
wajah

dia yang
bertanduk
tertunduk

lesu
terbelenggu
mengharap
saat-saat putih
berlalu

September 2008



Ajari Sesuatu

Tuan
ajari sesuatu
aku yang tak aku

kosong
pamrih
harap
nafi
perih
tak tiarap

Tuan
jangan tatap
aku yang aku

dengan
tembuspandang
cakrawalaMu
karna tak ada apa
apa dengan aku?

Tuan
ajari sesuatu
aku yang tak aku



Selamat Berduka Puasa

dari lapar
ke lapar
masih saja
tersisa
gusar

laparku
yang sehari
tak sanggup
merantai
angan purba

dahagaku
cuma sehari
tak mampu
menyiram
panas purba

diamku
hanya sehari
tiada daya
diamkan
hawa purba

dari lapar
ke lapar
selalu
tertinggal
Gusar

ELEGI SUKMA, TELANJANG…

Anggie Melianna
http://sastra-indonesia.com/

(I)
Telanjang-telanjanglah kau di sini
di bukit-bukit asing ini
bersetubuh
dengan para binatang

mencium dan menjilati
anjing-anjing liar
merasakan desahan
nafas-nafas setan,

beradu lewat gejala api
kehinaan, menggeliat-
laiknya cacing dan ular

menuntaskan birahi demi birahi
manusia kotor berkumpul mencari
kenikmatan jahannam!

Lalu yang tersisa
janin-janin terbuang.

(II)
Wahai dewa kehidupan
di mana lagi harus kucari
kelezatan-kelezatan semu?

Keintiman yang membawaku
ke hamparan syahwat membelenggu,

berapi-api keringat demi keringat
menetes bercucuran, lantas
diterbangkan abu jahannam
yang semakin ganas menggilas.

Tuhan, beri aku kenikmatan
meski kutahu semua itu bukan surga
beri aku rahmat, meskipun kufaham
yang datang hanya bersandar kekejian…

(III)
Di sini
ombak menggulung hati
mengobrak-abrik sukmaku
yang kurasa amat labil itu,

kemudian laut menjadi beku
menenggelamkan pada masa
yang menyerupai kematian.

Kemudian
kebangkitan dan kesakitan
semuanya menggerogoti tubuh
terbuangnya pada tong sampah
tercabik meraung, memanas,
mengering dan hancur.

(IV)
Wahai Tuhan,
aku tak menyerupai kehidupan
yang memberi keadilan
tak menjumpai kehidupan
yang menghidupkan
bahkan kehidupan
yang mengartikan.

Tak terlintas lagi
senyum bahkan sapa
yang terasa
hanya api menyala-nyala
dan lautan beku mencair
menjelma nanah.

(V)
Api memakan tubuh
tubuh memakan dirinya
menjerit, mengaung
tubuh berbalut luka
dan berparuh nanah

tak terdengar kalimat lain
selain mohon ampunan,
dan Tuhan
di seberang lautan.

(VI)
Api terdengar teriakan
Allahu Akbar
ampunilah aku
tolonglah aku!

(hahaha…)
Malaikat hanya melihat,
tertawa dan terbahak
menyaksikan
pertunjukan kotor
dan drama…

2011

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://pawonsastra.blogspot.com/
Lagu Musim

seperti lagu musimmusim tua, gerakmu adalah bau sunyi
yang tak habis kupahami. dengan menikam mata lenganku pasrah

memanjat bunyibunyi sangit kesakitan. betapa tubuhmu melabuh
dan dari pagar, kucakar semua ingatan dalam lehermu

aku seperti pemuda dengan kalungan darah, lukisan terjal
tentang igal hantu masa silam, membentuk gaunmu

terbelah di girang jauh. sungguh, aku rindukan jejakmu
alisalis bisu, di mana langit merah akan teraba dan kau

senantiasa menunggu, bayibayi terlahirkan serupa foto samun kenangan

2007



Setiap Malam Kurasakan Hujan

setiap malam kurasakan hujan
yang tumbuh di jemarimu
daundaun kurayu dan anakanak matahari
berkaki tanah terjura di kastil darah
sebagai bukti kukhianati laut
dan jejakku maut tumbuh di bulan
sesering kutumbuhkan mimpi daunmu
pada gereja bara

lalu lambang tanah gugur, serupa bayanganmu
terayun, mengingat ribuan terakota
yang mati dalam hembus hallintar
sepiku serupa pohon cahaya
aku tumbuh liar di pelupukmu
tahuntahun emas kebimbanganmuku
pada rumput
semerah pagi belati

2007



Kepompong Penyair

mataku yang picik menggali kubur semut
pisaupisau kenangan terbuka terbang
melecutkan malam amfibi. pada sebentuk lingga
betapa gairahmu menganga
alir rumput menyuarakan semu
di gerbang ingatanku, labalaba membangun
jantungnya. tapi mumi otakku seketika
murung. malaikatmalaikat masa lalu
bernyanyi menggemakan suar kelam kelabu
dengan kegaiban bibir pelacur

aku wujudkan guratgurat cemara berledakan
lidah bulan kaku menggenapkan waktu
bermuka patung. betapa sungai adalah kegilaan
seperti tari nabinabi yang mengutuk angin
arwahku hidup lebih sesat. pada kelas kenangan
betapa puisi jadi tak menyenangkan
fantasiku lancang mencela butiran salju
pemabuk dengan warna rabun melayang
menjadi berita cuaca yang gagal terbaca

segera segala kemustahilanku memberi nyawa
lubanglubang gerhana. perutmu yang mulus
menggugah tanganku untuk membunuh siput
sungguh, seratus tahun lebih kubentangkan
tubuhmu yang putih mengapung
tiangtiang jahat di selatan mengamuk
menculik terakanku yang lebih sumbang
dari aroma mobil terbakar
mengingatkanku pada kepompong penyair yang urung
memahat planet putih di pinggulmu

2007



Lalu Kukuburkan Seratus Planet di Dadamu

lalu kukuburkan seratus planet di dadamu
serupa kegembiraan burung terkurung pada
berabad pembunuhan
anakanakmu terlahir dan gerimis ombak kulukis
dari sebalik kubur yang terpajang
antara jendela dan tiang gantungan

2007

Puisi-Puisi Rudi Hartono

http://pawonsastra.blogspot.com/
Nyanyian Sepasang Pecinta

Siang nanti kita berjanji bertemu,
antara jalan penuh asongan yang masih terukir mungil namamu di situ.

Kita sepakat mengemasi segenap remah-remah luka, berwarna merah saga,
sebelum pamitanmu ketika itu, seperti warna darah bumi kita.

Aku harap kau di hadapanku nanti merona dan cantik berkerudung putih,
rapi dan wangi.

Tapi jangan kau kenakan segenap pakaian sunyi di tubuhmu
karena aku tak mau melihatnya.

Aku tak pernah bisa menjawab apa yang kau pertanyakan
karena rasa sayang tak ada alasan, tak terstruktur, dan tak berkerangka.

Jalan itu tetap saja kita lewati
meskipun bekas luka karena kesombongan cuaca
masih menyayat di bibir kita.

Bila nanti kau datang dengan kereta kupu-kupu
kemudian turun dari suara udara
dengan senyum kecil cahaya di balik dadaku kau kusambut.
Desiran angin belum juga datang padaku,
hanya bisikan kerikil kecil membawa kabar lewat di bawah mataku.
Aku tak akan datang, Sayang

Sukoharjo 2006



Wajahmu di Dalam Telephone

Hallo, siapa yang bertanya tentang pagi?
padahal aku sendiri terpatri membukanya setiap hari.
Apakah benar kau bidadari hati yang terbang hinggap tepat di dadaku?

Sementara itu aku terus bertanya
karena hanya ada nomor rahasia di setiap sudut kepak-kepak jemari
dan tombol penyampai pesan
sebagai isyarat bahwa kita harus segera mengemasi janji
karena bertemu pun tak mungkin lagi

Hallo, siapa di situ?
Kekasihku kah?
nafasmu dalam hatiku terlunta oleh desahan suaramu
seperti waktu kita bercinta, remuk redam digerus nuansa kita.
Wajahmu di dalam telephone seringkali membuyarkan konsentrasi
setiap kali ku tanya di mana kau berada

Hai, tak ada bisikan apapun dari mulutmu
yang ada hanya nada sela mengikuti denyut jantungku
yang tak berirama dan tanpa titk koma, melaju semakin lambat
karena pertanyaan yang tak kunjung lega
tetap saja aku pegangi gagang telephone yang sudah lama mati suri
karena aku yakin wajahmu masih tertinggal ayu
di sela-sela nada tunggu yang akhirnya pilu
Kupunguti sisa-sisa riasanmu yang masih lengket tanpa jawab

Surabaya, Agustus 2006



Renungan Takutku Padamu, Marti

Marti,
Aku takut mencintaimu
aku takut dengan kelemahanku yang terus memberontak
dari lingkaran genggamanmu
Perjuanganku memang tak secantik wajahmu yang tanpa cacat
Demi kepompong yang tak pernah bisa bermimpi
tak ada hak untuk bermimpi,
adalah hal yang sama denganku
Ujung lancip daun Teki mengundang langkah lunglaiku,
terjal dan sedikit bergelombang,
tapi dengan lidah ranummu aku terpaksa nodai fajar tadi
dengan selembar puisi ini
agar kau tahu aku tak berhak menjadi kupu-kupu

Marti
Aku takut mencintaimu
adalah sama dengan hantu yang menjaga di pundak kiriku
cukup kau yang tahu
bahwa angin membawaku dalam renungan ketakutanku

Surabaya, Agustus 2006



Cintaku Tumbuh di Meja Ini

Daunan kering di atas meja beton
memberi sedikit harapan
bahwa kita mungin satu nasib.
wajahmu membatu, layu
di bawah pohon nangka sedikit datang cahaya lewat di sela-sela ranting tua
aku memandangmu
hanya ada hening dan kekosongan, sisanya cintaku padamu
Bisikan daun itu memberi isyarat
bahwa kita harus pergi ke singgasana tempat kita nantinya bercengkrama
Banyak mata menyalahkan kita
persetan dengan mereka
yang aku tahu aku cinta, dan kau suka
Dalam kebersamaan ini aku sendiri yang membayangkanmu,
bukan orang lain
sebut saja itu kelebihanku yang sah untuk memelukmu

Dinda
Ada semut mengganggu cumbu kita
pura-pura tak melihat
dan selalu berusaha keras untuk tak kelihatan di depan kita
dari mana datangnya duri yang sering mengadu kita?
tak terasa memang, namun perlahan menggerogoti yakinku di atas kulit lembut lekuk dadamu
Yakinku berseru untuk tidak meninggalkan jejakmu
tanpa arah dan waktu kupastikan cintaku menjemputmu

Surabaya, Agustus 2006



Ketika Tak Bersamamu

Aku datang,
datang pula hamparan luas remah-remah rambutmu menyambutku

Lekuk bibirmu mengatup
tapi berbisik pada lembaran frase-frase pertanyaan
yang rambatan waktupun putus asa menyenggamainya

Menunggumu tiada bermula
akhirnya burung gereja berumahkan rambut kumalku

Penyesalanmu memang kelemahanku
janjiku tak mampu membayar titipan rindumu
barang kali kau ingin menebus dongeng-dongeng pengantar tidurmu
yang kemarin sempat kau pinjamkan pada malamku
jemari kesabaranku tak mampu lagi
menampung rajutan lagu
yang tumbuh subur di pelataran tangga nada
mendayu kesedihan yang kita sepakati bersama

Aku harap kau tetap ada dan bersuara
dan aku pasti mendengarnya,
suaramu serupa gelombang tetap kunanti menyapu iga lemahku

Juni 2006



Tanpamu

Angin hinggap di awang-awang
turun melintasi ranting-ranting dadaku
Kapan hatiku berwarna langit?
Aku tak tahu, biarlah jadi rahasia dunia

Seokor dara kecil menangis,
air matanya mekar menjelma mawar
sambil menggumam seakan diam
“tanpa kepemilikan atas dirimu membuatku tak kesepian”

Maret 2007



Karena Itu

Air matamu karena puisiku yang kucintai
Langkahmu yang menghampiriku yang kusayangi
Adalah kau yang kulingkari pelangi berbentuk hati
Sekali lagi, aku mencintaimu karena itu.

Juli 2007



Sayang Tak Untuk Beralasan

Bekas tatapan matamu masih tertinggal rapi di serambi rumahku,
saat kau pejamkan mata, lalu pergi, udara menciumimu.
Sama halnya kau yang menjelma udara yang kuhirup tanpa setahuku.
Itulah sebabnya aku memikirkanmu

Juli 2007



Perempuanku

Perempuanku, jika kau bidadari terbanglah ke sini!
Aku hampir terlelap karena mengenangmu
Tak mungkin ku akhiri.

Agustus 2006



Cinta Itu Diam

Langit terlipat rapi di rambutmu,
yang tadi sempat ku sentuh dengan jemari kesabaranku.

Kau mengingatkanku
pada daun yang belum selesai kurajut,
pada gelombang yang mengombang-ambingkan argumenku
bahwa kau telah bersemayam dalam ruang 3 X 4 inci di bilik jantungku.
Sisanya cintaku padamu yang belum sempat kusampaikan

Sept 2007



Selamat Malam, Sayang

Kau tidurkan matamu yang mulai rapuh dihunus hujan yang masih tersisa, dan ada wangi tanah,
lainnya mimipimu yang masih kau rencanakan,
denagn harapan paginya kita bertemu diperaduan.

Kapan kita mengakhiri kekejaman ruang dan waktu ini?
Tanyamu pada rindu di dadamu.

Oktober malam 2007



Kursi Pengantin

Ketika mengingatmu sudah habis dilumat udara,
kau belum datang juga

Kursi pengantin kita masih kosong,
hanya lalat-lalat biru lewat di atas kepalaku
menyampaikan cintamu yang tertunda.

Kamarku sudah aku beri bunga yang kupetik dari rambutmu,
dan kursi ini tumbuh melati,
ingin segera kau duduki
dan sejahtera menatap senyumku yang ranum
yang pernah kau ciumi dan kau kagumi.

Kamu adalah lumut di otakku, dan menjalar keseluruh tubuhku.

Penghujung 2007

Rudi Hartono, kelahiran Sukoharjo 1 April 1985. Mahasiswa UNS Surakarta, jurusan Sastra Indonesia angkatan 2003. Karya-karyanya pernah dimuat di Pendapa 3 dan Buletin Fillitra (buletin milik jurusan Sastra Indonesia).HP: 085 62 99 44 98.

Puisi-Puisi Agus Manaji

http://pawonsastra.blogspot.com/
GELAP MALAM MENGENALI KITA
- Nurul Aini Sinta Dewi…

Reremah sisa cahaya membentur dinding-dinding rumah kusam.
Mendung merundung, mengaji kesedihan. Gelap malam luruh
di kejauhan. Pertemuan demi pertemuan kita hanya mengupas kabut rindu
di mata, selebihnya luka kembali kambuh, bagai perih daging tumbuh. Mataku
terlampau rapuh untuk nyala merah kerudungmu. Tapi jalan-jalan resah kota,
juga kelam mendung di matamu itu, begitu nyata mengusik
ufuk-ufuk sepiku. Apakah kita hanya bayang-bayang dari warna-warni cinta?

Kau tak mengerti. Aku tak mengerti. Tak seorangpun, Sayangku,
menyapa kita di sini. (Mungkin karena kita pun tak mengenal luka
mereka). Meski, gelap malam mengenali kita, akhirnya; kenyataan membakar
namamu dan namaku. Desir sesal, memagutku ragu. Helai-helai rambut halus
yang menyembul dari tepian kerudungmu mengarsir murung wajahmu,
memancung linglung nafasku. Berdosakah kita yang mendamba
sebentuk keluarga, menghamba demi kesetiaan sederhana?

Reremah sisa cahaya pada dinding-dinding rumah kusam
karam. Mendung merundung, mengaji kesedihan. Gelap malam
telah tiba di simpang jalan. Aku mesti mengantarmu pulang. Sungguh,
bukankah takkan sepilu ini bayang-bayang, Sayangku?

Desember 2007



SEPERTI MALAM-MALAM FEBRUARI
- Nurul Aini Sinta Dewi

Kuulungkan beberapa patah kata ke tambir
sepi. Lalu, kaupun tuturkan kisah getir
yang bertahan menyimpan cahaya lirih
sepanjang musim di jalan-jalan kotamu.

Seperti malam-malam Februari
yang memerdekakan awan-awan hitam kumulonimbus,
bersila aku dalam remang, mengaji riwayatmu yang timbul hapus
disapu gelombang amarah para penghuni gua dendam
mengaji juga isyarat
sejak lambai gaun hijaumu
hingga wajahmu teduh yang sungguh
tak lagi berjarak dari kelahiran
dan kematianku.

Dan ketika tiba-tiba kau terbatuk
aku terlempar pada hening Mustofa
saat khusyuk menyimak nasihat Musa
sepulang dari sidratul muntaha.

Telanjang kita untuk linang airmata.

Kau labuh hati agar fasih
menyanyikan puisi cinta-puisi luka.

Pada nukilan kisahmu
gelisahku membara rindu.

Yogyakarta-Gamplong, 2007.



KUCURI TEMPIAS CAHAYA MATAHARI SENJA DARI MATAMU
-Nurul Aini Sinta Dewi

Selalu kusinggahi wajahmu, bersekutu dengan angin nakal
mengembarai sabana pipimu; jejak-jejak kesedihan
menanam kenyataan di situ, dan garis-garis wajah bersilangan
dinyalakan sapuan tipis pupur merah jambu. Sungguh,
kerap kucuri tempias cahaya matahari senja dari matamu.

Kumakmumi nafasmu, sembari menawafkan airmata
sepanjang lengkung orbit rindu, memiuh warna pelangi keinginan
dengan serakan debu jalanan. Sebab tak selamanya kita
bisa berontak. Tak semua mimpi pula percik menitik.

Dan karena langit begitu jauh dan angkuh, kasihlah geliat debu
dan rumputan, kasihlah mataair keajaiban, aku pun mencintaimu.

2007



RABU HENING DI BIBIRMU

Rabu bening di matamu
tak lain retina yang telaga
membasuh kenangan luka
harapan dan senyum kota.

Rabu hening di bibirmu
tak bukan lidah yang yoga
atas timbunan angka dan kata
luruh, menjelma ruh eksitasi
yang purnama.

Membaca Rabu di mata di bibirmu
terbentang berjuta tahun cahaya
menempuhmu.

2007



DEBUR MARET TERULUR

Debur Maret terulur, menjangkau samudera bagi kenangan
tak terkubur. Hilal menunjam punggung awan; sepetik fragmen
cinta yang lirih dan pedih, sebab orang-orang hanya lalu
dan enggan merintih. Tak ada keajaiban lagi, kini,
kecuali legit senyummu. Di bening matamu, Sayangku,
yang setemaram mata ibuku, kulihat satu tanggal mengombak
dan karam pada ufuk tak terukur. Debur Maret telah terulur,
membasahi lagi ingatan pilu tentangmu. Biarlah kusunyikan namamu
dalam rimbun sajak, sembari menyimak teriak gagak. Dan seperti nelayan
membaca rasi-rasi bintang, kusadap cahaya purba yang menghuni
lembah. Sembari menghempas tubuh ke tubir waktu. Menyurung ruh
sepenuh rindu. Menjelma angin mengibar kerudungmu,
agar tersenyum rahasia itu.

2007

Puisi-Puisi Heri Maja Kelana

http://pawonsastra.blogspot.com/
RAHASIA TANJUNG BATU

satu musim berlalu
pantun berganti lagu
lagu berganti batu
seperti phinisi tenggelam di tanjung batu

batu-batu berbanjar menyudut ke laut
ombak berlomba-lomba mencium pantai
berbagai warna muncul
dari pasir
laut
langit
menghiasi panorama senja

kusimpan kenangan di gelas arak kelapa
keringat-keringat bercucuran di atas pasir
anak-anak mendorong sampan ke sana ke mari
baginya kemenangan adalah bebas untuk bermain

angin menerbangkan pantun-pantun
waktu kembali bertabuh
aku berlari mengingat luka bakau di hutan sunyi

di atas pasir kalimat kutulis dengan jari ketam
mimpiku takkan tenggelam
gubuk-gubuk menyimpan sepi sendiri
burung-burung menyimpan kicau sendiri

di sini sepoi angin mengajariku bertahan diri
kesabaran laut
katabahan pulau
menepi dalam jiwa

bangkitlah rahasia tanjung
batu-batu bisu rindu padamu
lalu kutuliskan sajak cinta untukmu
secinta aku pada pulau ini

di tanjung sanjung lagu perahu
:tulus
seperti ketulusanku pada pulau ini

2007



SUBUH

doa mengurai dalam dzikir
tubuh tak sempat menyentuhmu
aku biarkan kaki berjalan
setelah sujud menghadapmu

fajar terbelah gunung
menyisakan kabut gerimis
pada tanah-tanahku

hening samar pada usia
saat kencana mengurai wangi melati
:kau terlahir

doa mengurai dalam dzikir
simbol-simbol kearifan
melekat di wajahmu
aku kembali tenteram
dan bersujud lagi
seperti layaknya subuh
bersujud kepadamu

2007



GUGUSAN SUNYI LILIN

lalu lilin menyala
tak ada mawar di vas bunga
semua kering
semua hening
seperti purnama kupandang
dari balik jendela

kembali aku menemukan waktu
syair doa mengalun dalam gugusan sunyi
debu kembali kedebu
jarak meningglkan jejak

aku datang tanpa sesaji
pulang tanpa kemenyan
tubuhku milik waktu
tubuhku milikmu
saat keranda tiba
lilin pun padam

2007



SETIABUDHI KETIKA ITU

teringat shiho sawai

di setiabudhi
malam menggila
kabut utara menuruni bukit
menggeraikan rambut

di setiabudhi
jam kita adalah kebebasan
seperti kau yang terbang
sepi luput dari keterasingan
pohon menggugurkan daun
saat bercerita taishogoto

di setiabudhi
segelas lemon tea
ikut dalam percakapan
aku mabuk benar
aku cemburu pada gelas
:mengecup bibirmu

di ujung malam
kusimpan aksara
saat perpisahan tiba
akan kutemukan makna
dari negeriku
wahai pengelana

di setiabudhi
telah kusimpan sebait haiku

bandung, 2007



KATA TELAH SELESAI
:tsb

9 oktober
pagi menyajikan kembang
catatan mengalir dari air mata
bendera kertas terikat keras pada pagar
lalu kota mengistirahkan jejak kelana
pada trotoar sebuah nama tercoret dari zamannya
almanak tergantung di dindng sisa belanda
tak henti-henti aku menghitung kemenanganmu
kota berhenti berpuisi
padahal luka dan darah telah reda
aku kehilangan satu bait dalam kehidupan
kata telah usai kau tuntaskan.

Hari Akhir Sultan Saladin

: serupa dongeng untuk susy lisnawati
Abdul Aziz Rasjid
http://sastra-indonesia.com/

saladin telah sampai
dari masjid umayyah ia berjubah pengantin
melewati gerbang pohon-pohonan pir
buah-buahnya melayang
seumpama melodi dzikir diiringi putaran samâ

di sana, ada tanah lapang
biru luas seperti siang
rumputnya putih segumpal awan
perawan-perawan setengah telanjang
berkejaran mencuri perhatian, sayap angsa
sewarna uban mengepak di punggungnya
beberapa lainnya berkecipak ria
melebihi manja, melempar buah-buah pir
untuk dihanyutkan
beberapa renang berlombaan sesekali menyelam
di sungai susu yang memanjang

: jangan tumpahkan darah
darah yang terpercik tak akan tertidur
itu wasiat saladin untuk darah serta dagingnya

bulan setengah lingkaran, di pucuk tenda
suara kibar panji-panji berpadu ringkik kuda
saladin rebah di ranjang
layangkan kenangan sembari menatap bilah pedang:

— sebuah pir menggelinding
ditangkap telapak tangan richard
ke dalam kotak, aku mengemasi obat-obat
sebilah pisau bertanda salib emas
ia tarik dari celah baju zirah
: kau musuhku tapi bagai sahabat setia
sambil berkata begitu
richard membelah buah pir itu
lalu mengalunkan sepotong padaku —

di bumi, pohonan menangis
duri, daunan
buah-buah dan bunga-bunga ikut menangis
kambing, kuda, unta bahkan serigala semua menangis
para syuhada membaca dua syahadat
tanah basah: rintik hujan dan airmata

di langit malaikat-malaikat menunggang griffon
dan unicorn
kepala mereka sama menunduk
serentak berseru syahdu: Hu!

sedang dalam tenda, ijrail membungkuk
mencabut satu bulu sayapnya
menjadikannya sebagai pena
lalu menulislah ia, di panjang bilah pedang milik saladin
: darah yang terpercik tak akan tertidur

(2009)

Puisi ini masuk sebagai nominasi dalam lomba Lomba Cipta Puisi Religius Tingkat Mahasiswa se-Indonesia yang diselenggarakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Purwokerto

Yang Hadir dalam Kemurnianku

Nur Wahida Idris
http://www.balipost.co.id/

duka penghiburanku…
tak soal engkau datang dari mana
tak soal aku mendayung
atau arus bawah yang mengawal
dinding bagiku semua sisi
bahtera ini hanya berhasrat
mengalir tujuan ke arahmu

bila daun-daun
dan hujan enggan jatuh ke bumi
melayang-layang di antara aku dan langit
dan langit tunduk padamu
o, jiwa yang dipikat fana dan umpama
kusemayamkan realitasku
di bawah daun-daun yang jatuh
di bawah hujan yang menimpa
aku menyaksikan dan memberi kesaksian
cinta dan aniaya
menyusun batu pijak ke arah jarak
dan cemas menyimak

…deru angin menikung di sela dahan
menyeru layar-layar menegangkan tali-temali
mengajarkan gerak dan suara-suara
bagi hikayat kegelapanku
ingatan pada bunga
yang tumbuh ditinggalkan daun-daun
ombak dikibaskan pujian
bagi bahtera yang terasing
terombang-ambing memutus pegangan kasih
bagi kehendak pergi untuk kembali

kini, aku berlaku bagi bumi fantasimu
berpijak bagi dunia fantasiku
dalam jerat grafitasi
arus duka penghiburanku
aku masih terikat pada dunia ini

oh, engkau yang hadir dalam kemurnianku
yang tercabik terserak tak utuh

kenyataan hanyalah daun-daun
juga mimpi-mimpi hanyalah daun-daun

Sepanjang Jalan Bukan Kenangan

http://www.balipost.com/
Nyoman Wirata

Di pasar pagi;

Biarpun kalut jika terbalut
Apa salahnya tawar-menawar
Pasar pagi menuju malam
Tak ada yang berhenti
Mengeja angka dan waktu

Biarpun kalut membaca lupa
Dengan rasa ragu kubayar
Dengan senyum dikulum

Masih ada rasa bunga
dupa dalam umpatan
Walau kata seliat getah nangka
Rasa basah masih terasa
Di dataran yang paling kering
Terasa duka tak abadi di wajah-wajah

Waktu subuh di terminal;

Pagi meniup terompetnya dan
Waktu pun migrasi
Bertualang langkah pekerja
Dimulai dari kuap kantuk
Dengan lenganlinggis bertato serta
Rasa tawar yang bengal
Namun mereka bukan begal

Bunyi klakson suara tambore
Penjaja luka pulang pagi
Gincu di sandal plastik warna ungu

Cleopatra berwajah edan
Dengan urat kawat
Lenyap di gang dekat terminal
Penjaja pun kehilangan wajah pembeli
Sesudah jubah malam tergantung di pagi hari

Mari bergoyang bersama sawi dan kubis
Racik dengan rasa pedas merica
Di atas kuali besar
Merayakan hari dimulai dari subuh

Yang diperlukan adalah kehangatan dan
Apakah pagi dapat mengubah birahi
Matahari menjadi sebutir telor
Percikan api di tungku baja
Barahati di arangkayu legam

Menjadi kunang-kunang pun terasa sulit
Sebab bukanlah hal mudah mengurai gelap
Jika nafsu mirip ikan senantiasa
Menggelepar di gelombang dada
Berbuih kesepian

Di pasar malam raya purnama;

Selalu ada yang tersisa
Cahaya, waktu, abu, labu, dupa dan
Purnama di keranjang bunga dalam truk
Matahari di lengan, kain lusuh
Mata senyap bersayap
Merangkul tubuh samsara

Karena belum menjulang kota
Masih terlihat langit
Dan tanah mengirimkan bau tubuh.

Puisi-Puisi Raudal Tanjung Banua

http://www.balipost.com/
PETA BARU PELAYARAN


Laut dan teluk
yang kelewat tenang
seperti beku di mataku
Pulau-pulau jadi sehening batu
Kapal-kapal berlayar kaku
Menara dan mercu
jadi semati tugu

Puisi-Puisi Liestyo Ambarwati Khohar

http://www.sastra-indonesia.com/
MALAM YANG MENJAWAB

Apa yang Tuhan jodohkan
sedari malam yang pekat
selain isak tangis kerinduan

Dedaunan berbisik gemulai
kini lunglai malu oleh waktu
yang tiba-tiba berhenti beku

Sebelum subuh menjemput malam
sebelum reranting kembali menari
dan sebelum masa-masa berlari

Aku kan menjawab
Disini, di bawah pohon ini
aku telah menanam ari-ari.



SETENGAH CINTA

Separuh dari rasa
yang pernah berkecamuk
menguap bersama tawa
juga kau sunting resah

Namun tapakan
angka-angka di kalender
bergulir semakin mesra

Sekalipun kau tak menemaniku
menghabiskan semangkuk senja

Tapi kau selalu mengirimkan
seikat puisi dari ujung kota
yang di ujung-ujungnya
ditulis setengah gelisa.



SENJA YANG PICISAN

Menyibak ilalang
memeluk senjakala

Menggenggam jemari
berangkulan cakrawala, berarak
bersembunyi hendak menutupi hari

Sedang punggung jemariku basah
kau cium dengan lembut bibirmu

Dua anak domba mengikik
tanda luapan cemburu.



PARANOID

Ah…
Mengenangmu adalah siksa bagiku

Belum juga seluruh aku mengingatmu
tetapi sukma ini menggedor-gedorku

Mencuat menyalakkan pisau kepadaku
serupa jin yang selalu bergentayangan
mengikuti kemana arah kakiku menuju

Aku lelah
aku lungkrah
tak ada daya



KOPI

Selalu saja
bergelantungan di sudut kamar
menawarkan wajah keglamoran

Namun aku ingin setia
pada secawan kopi di atas tungku
daripada harus mereguk kopi palsu
di dalam coffe shop bersiluet ungu.

Puisi-Puisi Dea Anugrah

http://www.balipost.com/
SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI

kabut yang terangkat
menyisa genangan
pada punggung jalan
kawanan merpati ngungun
di atas kabel kabel telepon
begitu mirip
begitu persis tahun tahun lampau

gadis gadis berseragam
pengayuh sepeda
mengingatkanku akan
bekunya kursi sekolah
dan perasaan perasaan
yang tak sempat
yang tak kuasa
kuucapkan pada fiska

tanpa pernah kuziarahi
mekarlah buah dadanya
bagi sepasang akik
yang lebih keramat
dari segenap puisiku!

matahari yang terangkat
mengeringkan sisa sisa embun
pada punggung jalan

dan belumlah genap kujejaki
bengkolan di depan
hilang sudah penyesalan
atas masa silam
yang disesaki
aroma kegagalan.



KALAU KAU INGIN MENGERTI

kalau kau ingin mengerti
bagaimana aku mencintaimu
berpalinglah

dari daunan gugur
dan gerimis yang menari
sekadar
dalam sajak sajak sapardi

lupakanlah juga
birahi tardji
yang sia sia
pada kucingnya

kalau kau ingin mengerti.
aku mencintaimu bukan dengan
sepotong bulan yang menuruni

jendela
(dan lenyap) saat kau melamunkan
treva jakarta.

tapi bayangkanlah
bulan itu
gerimis itu
dan birahi itu
semuanya
tersangkut di rambutku

waktu aku datang padamu
sementara sepasang paloma
hampir sempurna
memerangkap kita
dalam nyanyiannya.

dan satu hari lagi,
kalau kau telah mengerti
bagaimana aku mencintaimu

kau akan mengerti pula
tiada yang lebih menyedihkan
dalam hidupmu
daripada kehilangan cintaku itu.

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
MELEWATI PAGI MENGEJAR SIANG

selain pekatnya hitam
tak ada lagi yang dapat dilihat
bahkan luka menganga
yang orang bilang pedih dan bising itu

di sini di negeri tanpa pagi
nyaris semua indera tak berfungsi
mungkin masih menyisakan satu mata
tapi sudah terlalu lama lupa tempatnya

dan celakanya
ini bukan bagian paling menyedihkan
kerna duatiga tahun terakhir
kau aku belum sekalipun membunuh
berbagai jenis kegelapan
yang tumbuh subur membelukar
melenyapkan bayangbayang

bukti keberadaan yang makin samar
satu demi satu melayang

kepada waktu mesti bersulang
kita di atas kuda pacuan

13.02.2011



KE PUKUL 00:00

pada tiap pergantian gerbang
kalbu menjelma mantra
menjadi rajah pembuka pintu

huruf purba bergetar di lapang dada
menjanjikan rumah yang nyaman
bagi jiwa yang butuh betah
bermukim dalam tabah

sepanjang bentang berkelokan
tanpa marka pemisah
melintas di jalan satu arah
diam bersimpuh menempuh tujuan

tak ada lagi yang tengadah
sebab tangan menggenggam pisau
memotong sejarak risau
dari yang telah ditentukan

sudah terlalu banyak detik terbuang
biarlah waktu geming sejenak
atau tepat saatnya sekali detak

meski kemudian kedua kaki lelah
arah tak akan berubah

jarum kompas telah patah

10.02.2011



TAK TERASA PUTUS ASA

selagi masih rasa
yang dipercaya

tak pernah sampai
segala yang ingin dicapai

kehendak terperas dari keinginan
yang tiris dari nafsu
tak pernah selaras pada yang satu

kemudian menjadi siasia
meski keringat mengucur deras
dan air mata terkuras

hanya membasahi gambaran
luput pada kenyataan

tubuh begitu betah
seolah tak butuh rebah

begitu nyaman memasuki labirin licin
tak berujung pangkal
penuh godaan di tiap tikungan

inilah nikmat akal yang diulangulang
rasa ingin tahu paling sakau
betapa akut betapa pukau

seperti kepada mainan baru
membuatmu berlamalama
tak ke manamana

hingga lupa waktu
tak menemukan pintu

asyik terkunci

09.02.2011



RIUH PENYAMBUTAN

yang hadir adalah angin
menabur debu di ruang tamu
tanpa warna tak terbaca

hanya terasa
kian pupur pada wajah

udara makin dingin
aku bersitahan tanpa selimut
meyakini tipisnya kulit
tebalnya raut

geming menyambut maut
yang tak pernah mau bilang
kapan akan datang

lantai memucat
kian lapang pada ruang

deru kereta di kejauhan
merambat hingga ke jantung
mengatur iramanya sendiri

pada detak berbagi sunyi
saling mengunci

05.02.2011



TERIMA KASIH

sesiang ini
aku sibuk menghafalkan wajahwajah
yang dulu pernah kutemui
saat gunung yang kulukis masih berwarna biru
belum tercampur warnawarna lain

kenangan demi kenangan terus berkelebatan
sementara aku masih sibuk menghafalkan
memukimkan satu persatu semua yang pernah hadir
meski beberapa sekedar mampir
pada ingatan sebelum semuanya kusatukan

lalu kuucapkan dua buah kata
atas apapun yang pernah datang kepada mata
kepada mulut kepada telinga
kepada semua yang terindera oleh tubuh
dan jiwa yang menua

betapapun mulut ini masih lebih banyak bicara
ketimbang mengunyah garam

duka suka sama saja

03.02.2011

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Ngibulisme

burung bangkai melingkari korsi kerajaan
srigala lapar meraung meratapi rembulan
tikus busuk berdasi diangkat jadi menteri
semua jadi satu dalam sinetron kekuasaan

rebutan jabatan cara machiavellian
tukang intrik jualan pikiran sesat
segala macam curhat menipu rakyat
ngibulisme disulap jadi mata pelajaran

apalagi yang mesti diceritakan?
indonesia kita tanpa keadilan
siapa yang berduit bisa beli tuhan!
dan siapa yang miskin termajinalkan

musim manipulasi di tanah air kita
negeri kepulauan alamnya kaya raya
rakyatnya banyak yang sengsara
rajanya hidup senang mandi uang

19 februari 2011



Kodok beracun

kodok dicium putri
pangeran mencium kodok
semuanya mati

Amsterdam, 14/02/2011



Anjing muka dua

itu anjing buduk dilempar sepatu
diktator lari menggondol harta
demokrasimu mukanya dua?

Amsterdam, 14/02/2011



Jangan telmi

anjing lari dilempar sepatu, kekuasaan mubarak terkapar, diktator diusir.
lalu orang berpesta merayakan zaman baru. padahal wajah yang berubah.
siapa yang mengatur revolusi? mereka yang namanya rakyat atau elite?
jangan “telat mikir”, menyesal nanti.

Amsterdam, 11/02/2011



Pelajaran sejarah

18 hari demonstrasi di mesir
jutaan orang marah di lapangan tahrir
menuntut tiran turun dari korsi kerajaan

tiba tiba mereka kehilangan musuh bersamanya
orangpun bingung setelah diktator pergi, lalu?
siapa yang berani menjamin demokrasi?

sia-sia mengharapkan pada yang berkuasa
satu demi satu kekuatan rakyat nanti dibonsai
seperti pengalaman kami yang pahit ini

Amsterdam, 11/02/2011



Pertarungan

bertarung demi eksistensi
puisi dalam jelmaan pemikiran
demi tujuan bersama kita bisa

angin perubahan pasti datang
jika percaya pada tanda tanda
dari mana datangnya kesadaran?

Amsterdam, 10/02/2011



Leidseplein

mad world, mad world
lagunya gary jules membelah malam di leidseplein
sinar lampu jalanan membias di kaca restoran
dan mata siapa itu dari balik jendela trem?
musik membuai dibelai angin badai
di persimpangan jalan mengucap salam

Amsterdam, 7 februari 2011



Kaum

kaum miskin kota ada dimana-mana
di belakang perumahan mewah
di depan asrama tentara
di samping rumah ibadah
tersebarlah dendam yang lapar

kaum melarat yang namanya rakyat
jadi budak di kampungnya sendiri
rindunya kawula mimpi keadilan sosial

kaum terpelajar sembunyi di balik materi
riwayat penjilat dan kerlipnya berlian
menjual diri demi harta dan kekuasaan

Amsterdam, 6 februari 2011



Kemerdekaan

jalan berduri diasah pengalaman
hidup yang tak pernah diam
bicaralah kawan!
jangan membisu nanti beku
kutukan revolusi berdarah sejarah
menghalang siapa yang pasang badan?
kemerdekaan kita bukan kado dari langit!
biarpun badai menghadang gerakan
rakyat bersatu melawan penindasan

Amsterdam, 2 februari 2011



Batu

panorama stasiun angkot batu,
gunung-gunung tegak mematung,
di selecta batu-batu membisu dimakan waktu.

membaca senja menjelang malam,
ah, itu kan hanya impian semalam,
pilihan hidup bukan di garis tangan.

mengulang cerita tanpa koma,
menjalin cerita perjalanan manusia,
menyimpan memori bersaksi puisi.

Amsterdam, 1 februari 2011

Puisi-Puisi Effendi Danata

http://pawonsastra.blogspot.com/
KESEDERHANAAN YANG KITA BICARAKAN

di sepanjang sungai
tiba-tiba aku ingin bercermin
mencumbuimu dalam imajinasi
dengan dingin merangkul tubuh

aku menyaksikan
kau menawarkan rindu
yang terkelupas di bibirmu
menikam gairah
melintas keheningan

ada banyak jarak
pada kesederhanaan kubisikkan
dan kata-kata telah kusam
menyentuh telingamu

Lendek, 19 Agustus 2010



JADI SUNYI

aku pernah menyingkap air mata
di sudut bibirmu
mencari sunyi
pada detak jantungmu
kian memuncrat

aku pernah memelukmu
dengan sesungging senyum
mengharap nuranimu
jadi sunyi

Lendek, 22 Agustus 2010



MEMBURU

kutengadahkan jiwa pada matahari
agar mengelupas jadi keringatmu
yang panas

kau memetik hidup
memburu nyawa
isyarat pergulatan hawa
menjulur-julur ke lidah nafsu

seumpama malaikat menawarkan
segelas susu dan roti
kau memintaku mencipta nafas
dengan suara tak lebih jelas
dari suara sesenggukan
kemudian aku tenggelam
di pinggir genangan air matamu
yang tak lagi setia

Lendek, 24 Agustus 2010



PERJALANAN ARAH ANGIN

I
burung burung memutar di udara
dengan suara sukar ditebak
dan laut bercerita tentang
pengembara memercik
kenagan lampau

di anjungan
seorang penyair rebah
dalam jantung
gadis berambut biru
di matanya beribu lamunan menjerit
mendesak takdir secepatnya sampai
ke seraut wajah

“mengapa arah angin tertahan” tanyanya
pada takdir tak kunjung tiba
juga pada gelombang yang tak
menuju menuju tepi

seberkas cahaya menuju barat
melesat cepat
meraba raba jalan belum dikuasai kelam

dan sebentar lagi nyawa tak bertuan
segera tiba

II
waktu menari tenang di seberang
seorang gadis biru
leluasa memainkan sepi

birunya melilitkan luka rahasia

Kayangan,
rasanya membuka mulut lebar lebar
menanti kapal berlabuh
di punggung dermaga

“kemana kutautkan batin menyala-nyala” bisiknya
kepada angin yang juga juga belum mampir
tapi di timur cahaya membawa ketakutan
suara laut lebih murung
dari kabut yang memelas

dan di udara
tampak burung burung
masih saja memutar

Lendek, 25 Agustus 2010

Effendi Danata, Lahir di Bima kemudian dibesarkan di sebuah perkampungan nelayan desa Hu’u, Dompu. Selain mengajar teater di SMAN 1 Masbagek dan SMAN 2 Selong Lombok Timur, juga mengelola komunitas sastra Rumah Sungai Lombok Timur dan menjadi pemimpin redaksi bulletin EMBUN. beberapa karyanya diterbitkan dalam buku antologi puisi bersama “Lampu Sudah Padam” (KRS,2010). Kini bermukim di Lendek, Padamara, Lombok Timur, NTB. HP : 081918337284 Email :pradanata.fendi35@gmail.com

Puisi-Puisi Rakai Lukman

http://pawonsastra.blogspot.com/
Kupu-kupu di atas Monitor

kupukupu hinggap di monitor, sayapnya seperti selendang kekasihku, ia membatu menjelma arca, dan menepis upacara musim penghujan, sengat siang ini
sengat rinduku,
kupukupu hinggap di monitor menjengukku, pesakitan membaca raut muram senja mereda, warga desaku menghapus lelah,
seperti lelahku menanti hijrahmu ke tanah becek, tempatku menggaruh nasib, demi sesuap nasi, perjamuanmu di rumah nanti

Gresik 2010



Di Bantaran Bengawan Solo Suatu Petang

bunga bakung bengawan pesiar ke jantungku, berkendara air limbah, telortelor ikan menggelembung hampir meletus seperti amarah rindu, kecebongkecebong terdampar di bantaran menggenang di pandangku
air mata buaya membanjir, tanggultanggul pecah, desadesa terbelah air asin, lalu tubuhku telungkup dan mendayuh ke muara,
barangkali kekasih masih semedi di teratai ungu, menungguku

Gresik 2010



Anak Kecil di Beranda Siang

anak kecil yang bentangkan tangannya di beranda siang memohon receh dari saku kempesku,
ia bersanding keringat ibunya. seperti rinduku yang yatim menunggumu.
di sana selembar daun mangga lepas dari tangkai memaku tubuh dan mulutku. lalu ia berpaling menanggalkan senyuman,
seolah bertanya “sena’as itukah rindu?”
Lelaki Pedati

lelaki pedati menembus barisan gerimis
pengangkut rumput goresan mimpiku
ia lecutkan cemeti pada pundak sapi seperti lecuti amarahku
memanggul nasib yang belajar tabah
sesekali irama rindu ini bikin gaduh,
kapan akan sampai?
lelaki pedati guru sejati, pemacu nafas ke hadiratMu

Gresik 2010

LUQMANUL HAKIM, lahir di Gresik, Jawa Timur,. Bergiat di Wisma Poetika dan Sanggar Jepit, wahana penulis dan kesenian di Yogyakarta. Sempat aktif di Teater Eska, Kreseg (Kreasi Seni Arek Gresik), teater HAVARA dan ketua EXIST (MA Assa’adah bungah Gresik) dan Cinemage (Cinema Image Production) yang bergerak dalam film dokumenter, juga LPM Advokasia dan PSKH (Pusat Studi dan Konsultasi Hukum). Juga pernah menjabat sebagai ketua IMAGE (Ikatan Mahasiswa GRESIK di DIY). Sekarang partisipan KOTA SEGER (Komunitas Teater se-Kabupaten Gresik) dan PIMRED bulletin KOTA SEGER News. Pengurus harian LPSM (Lembaga Pendidikan Sosial Masyarakat) di Desa Sekapuk.Sebagian karyanya dalam antalogi bersama “Kitab Puisi I Sanggar Jepit.” Karya puisi dan cerpen dipublikasikan di daerah dan nasional, di antaranya: Majalah Sabili, Balipost, Pers mahasiswa UIN Sunan Kalijaga (Arena dan Advokasia), dll.

Puisi-Puisi Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Syair Penulis Tua dan Mesin Tik

Tidakkah kau tahu di balik tirai mata ini
Tersimpan harmoni hidup; memberi tanpa meminta.
Engkau adalah kekasih dalam dunia kisahku
Kita menari berdansa mencipta kata dan bahasa.

Kesendirian oh kesendirian ini
Karna waktu telah berubah

Dan
Ketika air mata pecah kau pergi menjauh aku sendiri mengurai mimpi
Menyala bagai pelita.

November 2010



Akulah Perempuan

Seperti rajawali terbang lepas
Menatap mengabarkan kisahnya kepada dara-dara yang dewasa.

Bahwa aku perempuan terlupakan.

Terbiasa dengan bahaya dunia menangis tanpa derai air mata
Karena cintaku hanya kehidupan bukan untuk meminta rawatan

Akulah perempuan karya diberkati cinta
Menjelma berganti rupa tundukkan duka derita

Dengarlah
Kusampaikan padamu kisah hidupku tentang dara dan cinta tanpa duka atau derita hidup ini.

Karena aku adalah perempuan.

November 2010



Aku Masih Ingat

Ini malam dingin sekali kita tumpahkan segala rindu
di bangku putih tempat biasa asmara terurai,

Cerita tentang esok…

Kau punya anak dariku
Aku jadi ayah engkau bundanya; bagi Lintang yang paling tua, untuk Jingga gadis nomor dua, dan Senja si bungsu yang lucu

Kita bicara tentang Lintang yang merengek minta dibelikan kaca mata
Sebab matanya silau karna begitu banyak papan iklan di jalanan

Kaca mata belum dibelikan
Si Jingga gadis kecil kita yang cantik mengadu padamu karna susu yang ia minum tak sama dengan minuman teman-temannya yang ber-strawberry

Dan Senja yang lincah menangis menjerit-jerit tak tahu apa maunya
Kita tersenyum menggelitikkinya sebab ia lebih suka naik di punggungku daripada mandi bola di Playing kids.

Ini malam dingin sekali, aku tersenyum sendiri mengenangmu
Dan anak-anak khayalan kita

Di bangku putih yang kian berlumut ini malam
Aku mengenang itu semua

Januari 2010-2011

———–
Fikri MS, Lahir di Muara Enim, Sumatera Selatan, 12 November1982. sejak th 1998 melanjutkan pendidikan di Jombang, Jatim sampai lulus kuliah th 2008 S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di STKIP PGRI Jombang.
Berbekal pengalaman ‘main’ teater di Komunitas Tombo Ati (KTA) Jombang, Agustus 2008 mendirikan Sanggar Teater Gendhing (STG), mengelola kedai baca (Beranda), di kampung halaman sampai sekarang.

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
Sajak Ladang dan Kebun
~ mengenangmu, Pak ~

detak kenangan mengapa selalu menikam pada hamparan ladang dilingkari alir sungai kecil mengering dan meluap mengikuti irama musim.

nak, arus sungai adalah cita-cita membawa anganmu menderas sampai muara jauh, arus sungai adalah sekaligus perjuangan melawan arus lurus menuju hulu meraih mata air bening melimpah. katamu, sambil engkau kumpulkan daun bambu kering dan menyulutnya, lalu kitapun menikmati jagung bakar dipinggir ladang pada suatu senja di dunia ceriaku.

derak kenangan mengapa selalu mengiang pada rerimbun kebun dibisiki gemericik air tumpah tak tertadah dari tarikan kekar dan kasar tanganmu.

sawo matang adalah kulit kami, anak-anakmu memilih kembara di rimba kota sebagai penghidupannya sedangkan kulitmu legam terbakar cahaya mengolah dan membalik tanah menyemai kehidupan yang berkah.

gerak kenangan mengapa selalu membayang pada liukan roboh pohonan bambu diterjang parang ditanganmu.

pada setapak jalan berlumpur diantara rimbun rumpun bambu, aku pernah mengantarmu pada senja di pembaringan terakhir saat hampir seribu hari telah lewat.

Mei 2008



Gandrung

nanar tatap mata
membadai di kepala

sunyi katakata
bergemuruh di sebalik dada

Mei 2008



Mahapuisi

MahabenarMu tersurat dalam
MahakatakataMu

MahabesarMu tersirat dalam
MahakaryaMu

MahakasihMu tergurat dalam
sangsaiku

Mahapemurahmu terucap dalam
sukacitaku

MahacahyaMu nyelinap dalam
dadaku

MahapuisiMu kapankah terurai

dalamdalam
dalam
kepalaku
dalam
pandangku
dalam
lakuku
dalam
lukaku
dalam
ngiluku
dalam
rintihku
dalam
igauku
dalam
kulitku
dalam
laguku
dalam
rinduku
yang batu

Mei 2008

Puisi-Puisi S Yoga

Kompas, 21 November dan 4 Juli 2010
GENDERUWO

obor-obor menyala berarak ke kampung
hutan, pantai, sawah, lembah dan gunung
ember, panci, sendok, piring seng
wajan, cutil, kompor, garpu, dandang

diseret berdencing dan dipukul bertalu-talu
bising dan memercikkan api masa lalu
blek blek ting tong, blek blek ting tong
berirama tak genah hingga memusingkan

membangunkan para penguasa malam
yang sembunyi di pohon-pohon waktu
bertahta di kursi megah kegelapan
yang telah mencuri malam-malamku

kelak kusumpah tujuh turunan
akan kupanggil raja kegelapan dari istana
untuk menghukummu dan membakarmu
dengan sembilan puluh sembilan cahaya

semua kegelapan telah kuterangi
dari sudut sempit, lebar, tinggi
rendah, pendek dan yang maha luas
dengan nyala obor dan doa-doa

namun tak kujumpai kau
yang menyita seluruh hidupku

Purworejo, 2010
Kompas, 21 November 2010



BARONGSAI

barongsai
cahaya keperakan, merah, kuning
hijau giok adalah pernak pernik kesunyian
terbang ke atas, ke puncak cahaya
meledakkan malam yang buta
malam lampion yang bercahaya
karnaval perayaan musim tanam
malam menjulang bertabur bintang
kembang api menyembur
di kegelapan malam yang memanjang
mercon meledak di udara
tambur dimainkan, gemerencing genta
dan keras genderang yang menggema
di persimpangan jalan kau ragu
arah mana yang dituju
menari-nari di malam gemerlap
warna-warni merah api
bergantungan di udara
di sisimu seekor naga raksasa
meliukkan ekor hitamnya
dengan sisik kuning emas
penuh kenangan
dan derita yang memanjang
dari sejarah gelap yang terlupa
berlengak-lengok dalam tarian liong
dengan tubuh telanjang
ekor masa lalumu yang melumut
melingkar-lingkar di dasar angan
meliuk dan menyemburkan api
membelit tubuhmu yang mulai bersisik

Ngawi, 2010
Kompas, 21 November 2010



NGIBING

hutan yang sunyi
seharum tubuh terlupa
hanya jejak-jejak yang tertinggal
di mana akar pertama ditanam
malam telah bertabur bintang dan kunang

kau mulai ngibing
sambil telanjang dada
kaki menghentak pada irama kendang
selendang kuning terkalung di leher
lelaki legam sebentar lagi tambah kelam

kau buka sarung yang melingkar di bahu
kau kembangkan ke udara memanas
kau sarungkan ke tubuh penari takjub
kau menari dalam balutan ciu kedelapan
kau menari dalam sarung yang sama
kau mencari dalam jiwa yang samar

tanganmu masuk ke rusuk sebelah kiri
menemukan tulang yang selama ini dicari
penari bergelinjang ke sebelah kanan
mencari yang lebih sepi dari api

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010



PALGUNADI

aku belajar dengan damar di belukar
hingga fajar pada sesosok tubuh samar
untuk mengejar semua pusat dan pusar amar
yang tak pernah kudengar

kudirikan sebuah patung buntung memegang jemparing
dengan punggung melengkung serupa dirimu yang agung
dari lempung gunung menghadap gerbang kampung
agar sabdamu selalu dapat kutangkap dan kukenang

kubentangkan panah cakrawala dari busurku
ingin kubidikan pada musuh-musuh malamku
namun kau meminta agar aku tak memanah rembulan
simpan semua kesabaran pada datangnya firman

Ngawi, 2009
Kompas, 4 Juli 2010
Sumber: http://syoga.blogspot.com/2010/11/pusi-dimuat-kompas-21-november-dan-4.html

Pengikut