Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Uang dan Tuhan

koalisi pahala dan rayuan dosa
manusia lupa dipeluk maksiat
dalam doa doa yang tak berniat
cuma sekedar pameran morailitas?

berlombalah membeli status suci
lupakan saja setan gentayangan
yang dipercaya adalah uang semata
kekuasaan pun mencetak kerakusan

pidato demi pidato bersaut-sautan
semua berjanji atas nama rakyat
hasilnya hanya pepesan kosong
faktanya duitlah yang jadi tuhan!

Amsterdam, 2 sptember 2011



Proteslah ketidakadilan

jutaan orang pergi ke luar negeri, karena negerinya tak bisa memberikan apa yang diharapkannya: pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya. jutaan orang indonesia terbang seperti burung merpati patah hati, patah semangatnya akibat ketidakadilan yang terjadi di negerinya, sedangkan di depan mata kita yang kaya makin kaya dengan harta hasil koneksinya, dan yang miskin berputar-putar frustasi di lingkungan serba kekurangan.

jutaan orang setiap 5 tahun sekali dibujuk janji-janji politisi, yang menjanjikan masa depan lebih baik, tapi nya…

Puisi-Puisi Hudan Hidayat

Republika, 26 Sep 1999
Akulah yang Kau Panggil Malam itu

Akulah yang kau panggil malam itu, ketika hujan menderu?
Memang kulihat kau di sana, dengan payung di tangan.
Tapi apa yang di tangan kananmu?
Anak kita?
aku tak percaya:
Bukankah ia telah mati, pagi tadi?
***



Apa yang Akan Kau Katakan tentang Mereka yang Mati Kemarin Malam

Apa yang akan kau katakan tentang mereka yang mati kemarin malam?Tolol? Sia-sia? Atau kasihan keluarganya?Jangan begitu, kawan.Bukankah mereka mati berjuang?Bukankah mati adalah resiko perjuangan?

Memang banyak resiko lain.
Misalnya mereka yang dikucilkan atau yang bekerja di ladang-ladang.
Tapi bagi yang memilih mati, ketimbang menyerah, haruslah dihormati.

Sebab itu hak.
Itu pilihan.
Dan tak semua orang berani mengambilnya.
Hanya mereka yang terpilih…

Kaum romantik cenderung bermain-main dengan kata dan perasaan mereka.
Bukan berarti mereka tidak berbuat.
Mereka berbuat tapi tidak pernah merubah keadaan.
Atau setidaknya, keadaan akan berubah dalam waktu yang sangat lama.
Sedemik…

Puisi-Puisi Ahmad Fatoni*

http://sastra-indonesia.com/
SANUR BEACH

resah bak purnama tak sudah
gundahku siapa bilang melelah
di balik pesonamu
pekikan rindu bertalu-talu

aku terhuyung-huyung lalu terpaku
hanyut dalam hempasan waktu
agar laut tetap membiru
bahteramu tetap melaju

tulus asaku tak henti-henti
mencumbui pantai itu
menunggu peziarah kembali
berharap garam semanis madu

(Kamis, 5 Mei 2011)



KUTA BEACH

begitu bumi mengubur matahari
jejakmu tampak jelas berdiri
sebagaimana janji tak bertepi
bertali di jari-jemari
inikah ikrar suci?

memori demi memori bersahutan
memenuhi ruang perjanjian
huruf-hurufmu lalu menjelma kata
menjerit tanpa suara

malam-malam semata mengundang rasa
mendekap sejuta asa
tapi aku tak tahu harus berucap apa

(Jumat, 6 Mei 2011)



DREAM LAND

masihkah kau ingat dari sudut nun jauh
selaksa sajak tentang keluh kesah
menagih telunjuk penentu arah
tanda dunia belum berubah

deburan ombak yang kau antar
menumbuhkan putik-putik mawar
berakar segala sabar
laksana selendang yang masih melingkar
di punggung kapal yang terus berlayar

(S…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi