Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2011

Puisi-Puisi Mahmud Jauhari Ali dan Fajar Alayubi

http://sastra-indonesia.com/
Kasidah Cinta
Fajar Alayubi

Ini pagi yang indah, saat yang tepat buat ku mengganti langit-langit kamarku yang penuh dengan lukisan air dan debu-debu. Ini hari bagi musim semi kita, dan kan kupindai hari ini seperti kupu-kupu yang mencium punggungmu -yang belum pernah kulihat sebelumnya.

aku tidur hanya sesaat. Telingaku semalam amat bergemuruh ketika bintang-jatuh di gerbang subuh. Sesuatu yang meletup-letup dalam dada begitu kuat setelah kukecup pipimu bagai kawah yang merah penuh bara gairah –ketika kau sandarkan tubuh di padang bahuku.

Saatku kusibuk dengan langit-langitku pagi ini, mungkin kau masih memetik bunga-bunga di taman mimpimu untuk kita rangkai jadi pandanan yang serasi dengan semesta jiwa. Bawalah yang banyak bunga-bunga, sampai keranjangmu sesak seperti dadaku.

Di meja kecilmu sudah kuletakan satu kuntum yang kudapat dari puncak malam, ke dalam vas bunga kesayanganmu, juga secarik tulisan ini yang kusandarkan padanya. semoga aroma secangkir coffe…

Puisi-Puisi Elly Trisnawati

http://oase.kompas.com/
Palung Cinta

Jika harus langkah kakiku terhenti
kuharap bukan terhenti karenamu
Jikapun suatu saat aku mati
kuharap pun bukan mati karenamu

Hati ini memang tak bisa ku ubah
jiwa dan pikiranku pun berakar sudah
Sepertinya cinta ini memang tercurah
hanya untukmu yang selalu buatku gundah

Tak aku peduli akan sakitku
tak aku peduli akan perihku
apalagi hanya dengan sikapmu
yang memang kutahu siapa dirimu

Harapan bisa kububung ke awan
asa bisa kubentang hingga ke seberang
tapi jiwa dan hatiku tak bisa lari
tak bisa pergi dari palung hati
karena dirimu erat mematri
menghabiskan seluruh rasa yang kumiliki

(Juni 2008)



Cintaku Pada M Everest

Huruf demi huruf aku belajar mengejamu
menghabiskan sewindu waktu untuk mengenali kalimat-kalimatmu
bait-baitmu masih samar dalam penjamahanku
aku masih tak mampu mengerti tentang puisi-puisimu

Sedalam palung di keluasan samudra terdalam
selayaknya aku berenang menyeberangi seluruh samudra yang ada
tak pernah mampu aku menyelam ke dasar samudra hatimu, dan
tak …

Puisi-Puisi Daysi Priyanti

http://www.suarakarya-online.com/
Kulihat Kau

Ketika kudengar
kharisma suaramu
di hamparan luas
tak bertepi
kulihat kau tegak
di puncaknya

sementara dari bgawah
kucoba mngais tapak
tapi rasaku tak sampai
dan tak pernah
hanya pekik suaramu
terdengar meggelegar
dan sampai padaku
kini tengah
kunikmati gemanya
akan suara suara ini luruh
dalam kerlip bisu malam

ketika malam bertaut
ketika bintang berbinar
sungguh aku tak tahu lagi
dan tetap termangu
nyalamu sampai
di atas sinarku
dan tetap pada
pijakmuyang penuh bara

dalam lintasan
keabadian alam
entah sampai kapan
kabut menggumpal
menutupi segala misteri alam
dan akan tetap sosokmu
menggilas kabut dan awan

Medan, Maret 2011



Untukmu 1

Dari kalah dan memang
sampai dalam
lingkungan keabadian
yang kau tinggalkan
telah hilang segala cahaya
alam aini tak pernah
siap kau tinggalkan

Meski pergimu
tanpa kerlip bintang
dan tanda jasa
namamu tetap membumbung
dan terus ke awan
kau tak kan pernah ada
dalam daftar panjang
sang penindas
atau pendusta

sebab keberadaan mu
selalu di antara mereka
yang terinda…

Puisi-Puisi Evi Melyati

http://www.suarakarya-online.com/
Langit Semakin Tua

Langit ada dimana mana
melingkupi segala
tak peduli rupa

bumi terbentang rasa
kita hanya bebas menapak
tanpa bisa memiliki

ketika langit semakin tua
bumi semakin sesak
rumput semakin tinggi
semakin menusuk
bencana tak jera mendera

rindu bara kepada Tuhan
kemana perginya

Tangerang, Januari 2011



Kemiskinan

Jika cawan telah kering
seperti jiwamu
jangan lagi berlari

kemiskinan yang mengekang
membuatmu lebih suka
menarik kutang,
membuka paha
kutahu itu bukan dirimu

mengadulah pada langit
pesantren tempatmu dibesarkan
kibarkan bendera
setengah tiang

kembalilah sahabatku
sebelum sesal
datang membayang
berhentilah
seperti kapal
merindukan dermaga

Tangerang, Fabruari 2011



Untukmu Guruku

Guratan luka adalah kepedihan
ketika rindu memanggil
memasung segala benci
dan dendam kala itu,
kami adalah
deretan kertas putih
tanpa makna

selama itu kita berpagut
dalam harapan
masa depan yang terbentang
begitu jauh begitu samar

kini kurangkai kata
untuk segala kebersamaan
yang pernah ada
tanah ini telah m…

Puisi-Puisi M. Badrus Alwi

http://sastra-indonesia.com/
Sajak Ibu 6

Sejak umur di sekitar pasar
nyenyak tidurku
aku ingin tetap di sana
tapi kasihan ibu yang rindu terlepasnya aku
dan beban

Sejak umur di atas dua tangan
melayang rasaku
aku ingin tetap
tapi kasihan ibu yang rindu umurku bertambah di bawah tangan

Sejak umur di atas KTP
bingung hadiriku
selalu, aku ingin cari
tapi kasihan ibu yang rindu baju-bajuku rapi.



Bibit Rindu pada mendung

Kulihat awan adalah kaca dan bayangku, di sebelah yang hitam.
tadinya biru, lalu hitam beku itu aku, mendung mengurung rindu.
di setiap tahunnya di setiap tepinya ada organisasi rindu yang eksis
aku di sana seperti air yang bergumpal, ingin tinggalkan batas penjara
kondensasi dan hindari evaporasi pemisah. Antara aku dan kau
adalah tempat terbang burung bercanda, bercinta yang menanam iri
di hening penjara.
Kau kuhayal tanah terasuki, terselimuti sebagai singgah sesaatku.
dan air itu aku, yang kau resap dan pelembap kulitmu sebagai penantian
langganan, yang dievaporasi ke tempat beda.
(aku di atas …

Puisi-Puisi Daisy Priyanti

http://www.suarakarya-online.com/
Cerita I

ada seekor lalat jantan
yang meneburkan dirinya
ke kolam api

karena ia tak dapat hinggap
dis ebuah ikan asin
idamannya

adakah sedikit tempat untuknya?

* Tangerang, Juli 2011



Cerita II

di sana
sudah jadi buah bibir
negeriku makmur
serta subur katanya
di sanadi kota besarku
mereka gembira
menyanyi lagu kesedihan

sementara di pelosok itu
seorang bocah
berlutut menanti batu
rebus di depannya.

* Tangerang, Juli 2011



Ketika Kudengar Radio
Dengan Berbagai Berita
Di antaranya Berita Korupsi

Dan aku pun berkata:
Tuhan, kapankah kau
mulai menertibkan negeri
yang penuh sebab akibat ini?

aku kan menantikannya
untuk segera
sebab, dosa dan doaku
sudah penuh di lemari
sementaratersisih
terjepit oleh keangkuhan
bersama semangat dalam lapar

* Tangerang, Januari 2011



Kelereng Anak Kecil

kita adalah kelereng
yang dilemparkan anak kecil
menggelindung, berpusing
cepat sekali bertabrakan
mungkin retak, tak apa

kita adalah kelereng anak kecil
yang dilemparkan
deras sekali menerjang
tahi ayam
mungkin berbau, t…

Puisi-Puisi Dwi Rejeki

http://www.suarakarya-online.com/
Dalam Rasa

Ada kesan indah ceria
yang kutemui
pada wajah senja
pada pelataran akhir pekan
pada jejak angin Jakarta
pada titian nafas
kau dan aku pada sela-sela
gegas waktu

wahai rindang
pucuk angsana
tingkaplah segala
sengketa nelangsa
agar kibar keceriaan
bisa tahan agar suasana alam
bisa sepadan

berikutnya sepakat
kita berkata:
perabuan sudah menjadi
milik kita

* Jakarta, Januari 2011



Saat mampir Di Kotamu

Hari pertama
saat berada di kotamu
aku tersentuh sebuah negeri
yang jauh
tekukur berdendang
di pematang lumut dan pakul
danau kemilau

hari kedua, kutatap
seorang adikmu
melintas di rerumputan
kakinya basah oleh embun
di tangannya beruntai
anggrek hutan
bagai mimpi anggur tua

terakhir, bagai terlompat
dari jendela
kicau burung angun gunung
jenjang jenjang denyut kotamu
lembaran lukisan negerikuyang jauh

kawan, di kotamu
kebunku bertunas
di kotamu rinduku
terasa tuntas

* Tangsel, Pebruari 2011



Hidup

sentak jantung
menggetarkan isi jiwa
keget, kejut, lalu diam
masih diam tetap diam

ada juga…

Puisi-Puisi Zamroni Allief Billah

http://sastra-indonesia.com/
Antara Berhalaberhala

Kau jumputi sisasisa jamuan semalam, saat hiruk pikuk pertemuan menyusur gulita dan gempita kemusykilan. Sekejap kemudian kau berlari ke tanah lapang dan berorasi sebelum sejurus lalu kau kumpulkan berhala mengelilingimu.

“Aku telah datang di perjamuan dan bertemu,” katamu meyakinkan dan segera menghardik sekawanan rusa yang tibatiba datang bertanya

“Bertemu dengan apakah wahai kepala berhala, semalam engkau di perjamuan?” kau sekejap melirik rusa lalu kau palingkan wajah dan lanjutkan ocehan
“Macam itulah contoh kekonyolan yang tak termaafkan! Jangan kalian macam rusa gila itu, terlalu banyak bertanya tentang sesuatu hal yang belum saatnya di buka” bersedekap engkau bicara, sesekali membenarkan letak surban yang kau pinjam dariku siang tadi “Untuk ceramah,” katamu.

Tak terjawab pertanyaan rusa, dan sekawanan binatang itu pergi meninggalkan jejak tajam yang kuyakin tak mampu kau baca sebagai tanda, sebab matamu tak pernah beralih dari berha…

Puisi-Puisi Nur Lodzi Hady

http://sastra-indonesia.com/
Embun

sejarah sudah ajar kala jarak terlampau dekat antara manusia dan hewan, dan tetap saja ada yang tak dengar..

kebingungan dan kesederhanaan itu menjadi petaka karna ia berubah jadi mesin kristal demi kutukan. Kutukan lantaran kesederhanaan yang tak sempat bertemu titik embun… jika pun iya pasti belum tuntas tatkala ia ajarkan makna yang kadang tiada butuh retori kata kata…

dan di suatu pagi aku tak tidur, pula jaga. sorenya aku terpekur… saat embun mengerlingkan matanya yang senyap dan membunuh!: kelembutan..! ..dan gema suaranya kutangkap selayak kemustian yang tak terbendung: kau siapa dan materi apa yang tengah mempertemukan kita…

embunkah?

Malang, 5 Maret 2010



Petisi Burung Burung

Petisi ini lahir dari pertemuan burung burung
Dan hutan tergetar oleh nyanyiannya
Ketika restu langit telah pasti tiba
Burung burung kembali ke sarangnya

Matahari telah di curi dari rumah kami
Bulan pula tak pernah purnama lagi
Segera siapkan bendera kita
Besok tumpah kita serbu cakraw…

Puisi-Puisi Chairul Abhsar

http://www.suarakarya-online.com/
Ramadhan

Seperti Ramadhan yang lalu
aku tetap bersimpuh dalam tetes keringat
kepasrahan seorang hamba

meski hati tertasa teduh
oleh tembang tembang
memuji kekuasaan illahi
kesepian telah luruh menghimpit sanubari

jika dunia tak kidapatkan
bawakan saja janji surga
tapi apa jadi mungkin
jika khilaf seluruh mendera

jangan tinggalkan aku
ya Robbi, penguasa alam
dalam awal perjalanan
hingga akhi Ramadhan
biarkan aku terjerat dalam kasihMu

Jika dengan tangis harus kudapat
dimana engkau sembunyikan diri
dimana engkau berhenti pendarkan cahaya
meski malam larut dilindungi
barisan Malaikat
lagu pujian tetap mengalun
melupakan duka dunia

aku tetap merapat dalam sajakku
berniat melupakan
kepahitan malam Ramadhan
dan hidup yang singkat

Bukittinggi, Juli 2011



Kesucian Ramadhan

Malam merangkak Naik
bulan berbinar sungguh
dalam balutan kesucian Ramadhan
aku tetap termangu

sekejab hati luruh dalam tanya
meretas hidup tanpa syukur
selalu dirambati kekesalan hilaf
semua kini tampak nyata

Ya Rabbi, aku rindu…

Puisi-Puisi Nadjib Kartapati Z

http://www.suarakarya-online.com/
KANGEN I

di dalam kelopak kembang randu tubuhku angslup dalam tubuhmu
napasku setubuhi darah dan darah ku senggamai hastari jingga
lepaskan gairah menahun yang mengendap
di sela sela kerisik rumpun bambu
seekor kupu kupu hinggap di sini:di pusat birahi
kepakkan sayapnya (lalu kangen pun tertebah sepuluh pisau) mesra!

Jakarta, 2009



KANGEN II

berjajar hari-hari panjang dan jauh kakiku
menari-nari hingga ujung paling rapuh
kuhirupi harum cintamu di kerontang pedestrian
zaman senyum yang kurindu tak tersua betapa kangenku!

Jakarta, 2010



KANGEN III

pertemuan dua rindu yang kau usung di tahun-tahun lalu
kini jadi ujung bayonet menikam dada
dan menyudet beku sepiku yang sendu
membumpat drainese biru cintaku adakah gelepar ini menyapamu?

Jakarta, 2010



AKU BERSERU

ada cinta teronggok bisu
di pojok beku memorimu
ia bernama kenangan
ada hasrat bertengger biru
di ujung deru anganmu
ia bernama harapan
ada sayat kepedihan
ketika kau berpaling
ke belakang ada ngilu kecemasan
ketika kau tatap jauh…

Puisi-Puisi Indiar Manggara

ROMANTIKA

I
aku telah bangunkan kau
gerbang-gerbang luka
yang kita mulai dengan romantika tua
seperti persetubuhan senja
memberi jejak-jejak
pada malam,
mungkin siang
pada setiap angka kalender kita
yang semakin tua

kau kirimkan namamu
yang kau kalungkan di leherku
seperti celurit
kau perkosai kata-kataku
dengan mimpi
basah – air mata - darah

II
ruhku menangis
seperti senja yang rapuh
aku acuhkan malam yang angkuh
menari di atas kafan hitam
dalam gelap
kurangkul malaikat-malaikat maut dengan air mata
ku selimutkan bunga duka di atas sejarah

III
samadimu kini telah sudah
tapi masih kau bakar
dupa kemenyan birahi
di atas ruang kosong mimpiku

kau cabut pusaka yang lalu
kau apitkan di sela pahamu
bersama waktu yang terbunuh puisi

masih terbakar
dupa kemenyan birahi
di atas ruang kosong penuh luka

26 november ‘05



SEBUAH MUSIM AKU RINDU

hadirkan aku dalam luka-lukamu
serupa horizon waktu
yang takkan kau tampaki raut riwayatnya;
habis terkubur daun-daun rapuh
sebab tlah kau teguk bingkai sejarahku
dalam selimut musim dingin
yang …

Puisi-Puisi Mas Marco Kartodikromo

http://sastra-indonesia.com/
Sama Rasa dan Sama Rata

Sair inillah dari pendjara,
Waktoe kami baroe dihoekoemnja,
Di-Weltevreden tempat tinggalnja,
Doea belas boelan poenja lama,

Ini boekan sair Indie Weerbaar,
Sair mana jang bisa mengantar,
Dalam boei jang tidak sebentar,
Membikin hatinja orang gentar,

Kami bersair boekan krontjongan,
Seperti si orang pelantjongan,
Mondar mandir kebingoengan,
Jaitoe pemoeda Semarangan,

Doeloe kita soeka krontjongan,
Tetapi sekarang soeka terbangan,
Dalam S.I. Semarang jang aman,
Bergerak keras ebeng-ebengan.

Ini sair nama; “Sama rasa”
“Dan Sama rata” itoelah njata,
Tapi boekan sair bangsanja,
Jang menghela kami dipendjara.

Didalam pendjara tidak enak,
Tertjere dengan istri dan anak,
Koempoel maling dan perampok banjak,
Seperti bangsanja si pengampak.

Tapi dia djoega bangsa orang,
Seperti manoesia jang memegang,
Koeasa dan harta benda orang,
Dengan berlakoe jang tidak terang.

Ada perampoek aloer dan kasar,
Djoega perampok ketjil dan besar,
Bertopeng beschaving dan terpeladjar,
Dengan …

Puisi-Puisi Ribut Wijoto

http://manuskripdody.blogspot.com/
SENGAJA AKU MENCINTAIMU

sengaja aku mencintaimu
lalu biarkan kukirim surat
seperti suratku yang tiada henti
mengalir ke tubuhmu

aku tak pernah menanti jawab
sebab aku belum selesai mengeja
bait bait sajak yang kautulis
tak juga sempat kutolak
sebab cinta adalah kesendirian

rindu aku jadi kekasihmu
sebab dari ada kuingin tiada

1996



DI PUCUK PUCUK

engkaukah itu
bening bergelantungan
di pucuk pucuk daun

dan akukah tuhan
tiap kali menyebut
namamu

1996



KABAR DARI PENGASINGAN

di paruh perjalanan
aku bertanya padamu
engkau kalijaga

sejarah merubah perahu
mencari cermin tanah
namun tanpa upacara
burung burung ketakutan

1996

Dijumput dari: http://manuskripdody.blogspot.com/2010/10/puisi-puisi-ribut-wijoto.html

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://sastra-indonesia.com/
Berbicara Tentang Kotamu yang Terlelap

berbicara tentang kotamu yang terlelap aku bangkitkan mayat mayat yang berbaris di lenganmu kesunyian di alismu perlahan bangkit dengan sungai yang lahir melalui wujud menara tapi bulan tumbuuh di rambutmu dan perlahan kawanan pemabuk menyentuhku mencekikku lewat keabadian goa yang terkutuk ribuan cahaya segera aku mati tanpa jasad dan segala kenanganku membentuk planet hijau di otakmu tapi begitulah, imajiku mengagungkan pelacur dan kaum surealis yang beku memaku birahiku persis kutunggui kupu kupu retak di alismu rupanya kesedihanku menggugurkan dedaun dan di ketinggian bulan retak, aku mencungkil matamu dan sayap laba laba yang kudengungkan berubah seseram jenazah seperti mimpiku yang lekas berlalu, begitu pula elang elang yang berdzikir di mulutmu aku kekalkan hari seperti kelak mayatku membiru memuja gairahmu dengan mulutku yang busuk

2007



Kuarungkan 1000 Surealita

jalan jalan angkasa telah mengaburkan
1000 langkahku. …

Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
Sisa Purnama

Bulan telah sejengkal
di kepala
bintang-bintang telah
ada di genggaman
cuma yang kurasakan
temaram begitu mendalam

Pada cermin kupalingkan
muka
namun rengkah kaca
pecah
bersiap membidik
nyawa.

14-9-2011



Yang Tertunda

Sekali lagi
rindu menunda kedatangannya
meski jalan begitu di hapal
sesak kerikil dan kesiur angin
menghantam kecamuk
kekasih
dalam ruang perjanjian
yang sunyi

Ini kali bukan waktu
bagai pantai dan buih
hanya ombak menepi
dan bulan pun urung
tampak dimatanya.

24-9-2011



Layang Jingga (1)

Seribu putaran matahari telah kita lewati
kekasihku, dan satu purnama
lagi musti kita lalui untuk sampai pada
tempat yang kita sasar.
Ini kali kesekian saat suci bulan
menaungi dunia, kita masih saja
merapal jarak meniti jejak.

Gelombang telah
membesarkanmu, ombak
setia membelaimu
dalam rengkuhan luas
samudera
kau menyulam masa depan
yang kita impikan.
Kalau laut mendebur akulah yang paling khawatir
bila angin berkesiur akulah
yang paling menggigil,
biarpun tak lelah kau
menenangkan aku dengan
car…

Puisi-Puisi Mahmud Jauhari Ali

http://sastra-indonesia.com/
Bulan di Padang Lalang *

telah berdiri ribuan lalang pada tanah
oleh angin, tubuh mereka terhuyung-huyung
sebagiannya mati. mengering!
sedangkan di tengahnya, sebuah rumah berdiri kukuh
tiangnya beton,
atap bajanya antikarat, menahan hujan-panas,
lantainya yang wah, terlihat mengkilat
juga pagarnya, begitu mahal

Puisi-Puisi Rama Prabu

http://oase.kompas.com/
Sajak Manis di Mayang Rambutmu
:/untuk acep zamzam noor

angin berarak naik ke pundak
menepi mengibas mayang rambutmu
dan ketika baku pandang redup di bulan itu
kita sadari tubuh rekat di pelukmu

seperti sajak manis yang kau kirim itu
menafsir musim berganti
karena sajak adalah harapan
sajak adalah hidupku akan datang
sajak adalah danau tenang
tanpa sampan tanpa gelombang *)
kita mendayung dalam kenang

jika tak ada senyap antara celah
tingkap yang mengulurkan lembayung**)
kita masih tengadah, ada bintang menyaksikan
rindu ini tercurahkan

yang nyala dalam jiwa
kemudi dalam hidup***)
tak pernah sekali kita biarkan redup
walau malam mengirim serdadu hitam
bagai kabut menyusur laut

kesaksian jiwa yang lahir dari mata kita
terbaca dari titipan bunyi bait dan rima
seperti kwatrin malam pertemuan kata
pada kegelapan. malam yang mengalirkan badai
dan laut pasang. pada lagumu****)
balada kasih sebelum kita menjadi penyair lagi

note:
*) bait dari puisi Prelude, Acep Zamzam Noor, 1978 di buku Menjadi P…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi