Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2011

Puisi-Puisi Fikri MS

http://sastra-indonesia.com/
Nafsuku Tenggelam ke Dasar Samudra Penciptaan
Kepada Nurel Javissyarqi

Kumamah Kitab Para Malaikat di bibir fajar
Ranum seperti bibir perawan sehabis mandi
Sambil menunggu matahari beranjak dari seberang timur

Aku berlayar
Dan terus berlayar mengembangkan layar menuju teluk tersembunyi
Dihujani embun kegadisan

Di atas gelombang yang merawat pantai
Kapalku pecah berderak
Gelisah menghantam liar

Lalu patahlah kayuh tintahku

Terombang-ambing
Tak tahu ke mana arah.

Dan nafsuku tenggelam ke dasar samudra penciptaan.

September, 2011



Matamu Berkabar Lelah
Kepada EL

Pernah kutuliskan sebuah sajak tentang kau EL
Apakah kau tak menduganya?

Malam yang sempurna
Bait-bait bercakap
Bersama mimpi dan ujung pena
Ada suara yang berbisik tentang kau di telingaku
“terjagalah” katanya.

Saat matahari terlelap di bagian ufuk
Aku tafakur mengurai kehadiran dari asal yang pernah
Kuanggap sia-sia belaka

Satu malam dan surya beranjak
Ada bayangan tentang semangatmu yang kukagumi
Meski waktu memperdebatkannya
Aku …

Puisi-Puisi Linda Sarmili

http://www.suarakarya-online.com/
Rindu

Hati putihmu yang aku dambakan
jiwa sepi tanpa pegangan
kini membuat redam
nanar hati bisu semua penantian
yang kutunggu adalah kasihnya

ingatlah padaku selama itu menunggu
deru angin malam membasuh jiwa
kering tanpa tanya membasuh rindu ini
terkapar dalam ragu

bila masa telah berganti tak mungkin
kutukar hatiku sekalipun harus
dengan airmata aku tetap menunggu
selama itu aku hanya memiliki
hati yang rindu

Jakarta, Desember 2010



Dalam Derit Malam

Dalam derit malam tikus tikus berbaris
dalam gelap menyusun langkah
satukan kata

suara tikus adalah kepedihan
mewnjadsi paduan suara ketimpangan
seperti juga jeritan hati sang nyonya

rakyat menjadi tanpa daya
harus menerima meski tak suka
harus mau meskitak setuju
rakyat kelu kaku bisu
malam kian larut
tikus tikus makin kusut
hendak kemana
suara ditumpahkan
jika dunia tak lagi berpintu

ketika subsidi jadi kompensasi
apalah artinya
jika harga-harga
terus melambung tinggi
merangkak mencekik nafas
yang tinggal setengah jalan
derita tikus derita…

Puisi-Puisi Zawawi Se

http://sastra-indonesia.com/
namamu disebut

tuhan
aku dengar
namamu

disebut-teriakkan
dalam
geram
adakah,

adakah engkau
tertawa-tawa
ditengah-tengah
mereka
dalam
gemuruh
dada
gemuruh
suara

mempertahankan
egonya

Juli 2008

[sajak diatas semula saya posting di milis apresiasi sastra dengan larik-larik yang agak memanjang. lalu mendapat respon dari Hudan Hidayat (novelis dan esais) dengan penataan larik-lariknya menjadi sebagaimana diatas. respon lain adalah bahwa sajak tersebut terlalu verbal, saya disarankan untuk menggunakan metafora-metafora, tapi saya memang belum bisa membuat sajak yang kaya dengan metafora-metafora, baru belajar menulis, semoga dapat dinikmati meskipun terlalu verbal]



Persinggahan
~ belah jiwaku ~

aku rasa beginilah kita
seperti jurang terkikis perlahan
oleh arus deras dan dalam
kita pun diantara tepian
semakin asing memandang
semua peristiwa mengalir
ke muara

sebagaimana detik-detik berlalu
masih kusinggahi perhentian
mengantarku dari waktu ke waktu
melabuhkan segala harap dan cemas
kepadamu.

Juni 2…

Puisi-Puisi Binhad Nurrohmat

http://jurnalnasional.com/
Makan Malam Lima Pengarang di Busan

Mereka menyimpan bahasa yang berbeda dalam tubuhnya
dan rasa lapar menyatukan mereka di sebuah meja makan.
Semerbak Asia, Arab, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan
larut bersama denting mangkok, sumpit, dan garpu logam.
Binhad, Ines, Zhamby, Andres Solano, dan Adania Shibli
menyantap hidangan yang sama seakrab lima orang saudara.
Mereka saling bicara dengan kosakata dan tatabahasa asing
yang didapat dari bangku sekolah di negeri masing-masing.
Lidah mereka bermain drama sambil beradu gelas minuman
tanpa bisa menyembunyikan aroma muasal bangsa mereka.

“By the way, Binhad tak makan daging babi
tapi Andres gentar melahap cabe pedas ini.
Apakah ini yang membuat pengarang Asia
sulit menggondol Hadiah Nobel Sastra?”

“Listen to me my dear all friends.
Hadiah Nobel terlalu murah harganya
dibanding emas dan lada kami yang pernah dijarah orang Eropa.
Hadiah sastra dunia tak bakal bisa melunasi hutang mereka.”

Tubuh mereka melingkari meja makan dengan ke…

Puisi-Puisi Gus tf Sakai

Kompas, 3 Oktober 2010
Susi: Merah Padam

Telinga yang terang, antarlah Susi menyaksikan
tubuh tak berbayang. Jarak ini, alangkah mustahil
dicapai dengan mata. Bermilyar tahun cahaya: kau
dibungkus orbit terendah. Semua cakra melingkar
hanya mencecah, melayang di punggung tanah.
Tak cukup kata untuk rasa yang kau indera. Susi
menangis, merintih, tetapi tak sedih. Susi meraung,
memukul-mukul dada, namun tertawa. Apakah kata
untuk rasa semacam riang, namun pilu? Semacam
rindu, tetapi sendu? Susi bergetar, lampus prana.

Cahaya menyentuh apa pun rupa. Getar melepas
apa pun rasa. Jalan ke Sang Sumber, nikmat aduh
tak terkira. ”Susi, ah Susi, siapa terbakar—merah
padam, karena cinta?” Semua menanti, engkau
kembali: membawakan kami kabar gembira*.

Payakumbuh, 2009 * Dari QS 2:119.



Susi: Sengal Perahu

genting tampukmu, gelantung rawan kami meragu.
Gugurmu, Susi, ”Pucat gemerincing dalam seratku.”
anyir usiamu, geronggang musim yang tak kautahu.
Benihmu, Susi, ”Liar mendengking dalam sarafku.”
puting jantanmu, timpan…

Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

Kompas, 21 Feb 2010
Sekhak

Pada pukul 16:00, di bawah jembatan itu ia dengar ”sekhak”. Seperti bunyi waktu.
Seorang pemain catur selalu mengatakan kata itu
sebelum saatnya.

Dan seekor kuda rubuh.
Dua bidak lari ke sudut.

Tak ada yang akan mengatakan raja akan tumbang pada langkah ke-20. Sore dan debu bertaut. Ia bayangkan sebuah perang dalam asap. Di bawah langit diam, di petak terdepan, ada selembar bendera dengan huruf yang hampir tak terbaca: ”Akulah pion yang gugur pertama.”

Tapi tak seorang pun tahu kenapa prajurit itu–ia tak berwajah –berdiri di sana, siap dalam parit, meskipun merasa bodoh dengan mantelnya yang berat. Di seragamnya tak tertulis nama. Hari tumbuh makin hitam. Hanya ada cahaya api di unggun kecil. Hanya ada bau sup pada cerek, seperti bau busuk pada koreng. Tapi ia berharap.

”Jangan serahkan kami, Maestro, kepada nasib.” Siapa orang yang bergumam, siapa yang berdoa? Para uskup berdiri di petak kanan, di antara ksatria dan kavaleri, putih, hitam, sebuah deretan kera…

Puisi-Puisi Syifa Aulia

http://sastra-indonesia.com/
Sepotong doa untuk kepala yang dipenggal paksa

Darah kembali bersimbah
di Bumi para Nabi
mengalirkan sungai
disudut mata Bunda Pertiwi
BMI berduka lagi.

Bersama hukum pancung
seluruh asa pun terpasung
setulus doa terpanjat
serupa kidung agung
menghantar ketempatmu
yang abadi dan terlindung.

Hai Rembulan
belikan kami telpon genggam
untuk menghubungi Tuhan
bikin perjanjian, bahwa
hidup bukan hanya milik
tuan-tuan berseragam safari
di gedung dewan perwakilan.

Sebab rancangan undang-undang
yang kesekian
nama-nama kami tidak
disebutkan sebagai anak
Negara
yang satu tumpah
air mata darah.

20-6-2011
(puisi untuk ibu Ruyati BMI/TKW yang dihukum pancung di Arab Saudi)



Aku Kau dan Jarak

Jarak ini bentangan waktu,
sayang
pulau-pulau yang bakal
kita lewati adalah
sejumput harapan
tentang rumah, juga
pepohonan yang melilitnya
laut-laut tumpah di matamu,
bahwa kita kehilangan
dayung
hanya layar mengantar
sampai ke Negeri siapa
kita sasar.

Kita bukan orang tepian
sayang
kit…

Puisi-Puisi Afrizal Malna

Kompas, 13 Juni 2010
Stasiun Terakhir
Untuk Slamet Gundono

Aku hanya gombal yang tergeletak di lantai 230 kg namaku. Nama yang setengahnya terbuat dari air mata dan azan subuh. Gombal yang bisa tertawa dan bernyanyi dari hidupku sendiri. Gombal dari tembang-tembang pesisiran yang membuatku bisa tertawa bersama Tuhan. Melihat surga dari orang-orang yang bertanya, kenapa ada gema kesunyian ketika aku berdiri dan menggapai semua yang buta di sekitarku, kenapa aku bertanya seperti tidak mengatakan apapun.

30 hari aku lupa caranya tidur. Dinding-dinding mulai berbicara, membuat gravitasi terbalik antara tubuhku dan malam yang tersisa pada jam 11 siang. Seluruh dunia datang dan berebut masuk ke dalam telingaku. Aku tarik rem kereta api, berderit, besi berjalan itu berhenti mendadak, berderit, seperti besi besar membentur stasiun terakhir. Aku muntahkan tubuhku bersama dengan suara-suara yang ingin mendapatkan nama dari kerinduan.

Aku hidup bersama Bisma yang berjalan dengan 1000 panah di pung…

Puisi-Puisi Heri Latief

http://sastra-indonesia.com/
Jakarta

kota lama eh stamboel tjatja
cahaya kota gemerlap berlian
laron pacaran di lampu jalanan

ibu kota sinetron politik uang
koruptor ngantre ambil nomor
penjara penuh penjahat berdasi

apalagi yang disandiwarakan nanti?
judulnya penyalahgunaan kekuasaan
diatur tangan tangan yang tak kelihatan

Amsterdam, 27/08/2011



Amsterdam

kota pelabuhan asal muasal kolonial
seperti puisi surrealis yang tragis?
kerajaan bukan sekedar lambang
konflik politik siapa yang menang?

kota misteri dilingkari jalan trem
berbecak dayung bermotor listrik
campuran budaya patatje oorlog
nasi goreng di lagunya wong indo

kota tua dan gedung gedung antiknya
eh ada angsa putih berenang di kanal
rumah kaca di daerah lampu merah
legitimasi sejarah budak masa lalunya

Amsterdam, 24/08/2011



Bling Bling MImpi

meraung sirene merobek keramaian
lukisan kota tua yang jauh di sana
kanal tempat orang buang sampah

saat hujan sekejap memberi ingat
dunia materi bukan jadi ukuran
bling bling di dunia miski…

Puisi-Puisi Acep Zamzam Noor

Kompas, 31 Jan 2010
Pada Sebuah Kafe (1)

Apakah kau sedang menyanyi untukku, atau tidak untuk siapa-siapa
Hanya kau sendiri yang tahu. Suaramu terdengar sayup-sayup
Di antara raung gitar dan gemuruh organ. Kulihat ada yang melayang
Seperti gumpalan awan, meliuk-liuk di udara, memasuki ceruk-ceruk sepi
Mengembara dari tiang ke tiang, menyambangi meja demi meja
Hingga ruang pun bergetar. Gelas-gelas berdentingan
Apakah kau sedang menyanyi untukku, atau menyuarakan luka dulu
Apakah sedang menghiburku, atau diam-diam menikam jantungku
Hanya kau sendiri yang tahu. Di atas lantai detik-detik menggenang
Menit-menit mengendap, lalu menguap pelan-pelan, menjadi detak jam
Yang berulang. Kata-kata yang didesiskan, nada-nada yang didesahkan
Seperti berasal dari keabadian. ”Mengapa cinta ini terlarang…” tanyamu
Hanya kau sendiri yang tahu. Hanya waktu yang akan mengerti lagu itu



Pada Sebuah Kafe (2)

Apa yang sedang kulakukan? Seperti biasa aku hanya diam
Memandangmu dari kejauhan sambil membayangkan …

Puisi-Puisi Lina Kelana

http://sastra-indonesia.com/
BULAN KESIANGAN

geletar itu menjadi redam. bulan yang jatuh di kasurnya, menolak tumbuh di halaman. telah dibaginya surat dari sungai hingga terakhir sesapan. mata-mata yang dilajunya sepekan lalu, kini lunglai lututnya. tersungkur dengan dengkur yang mengubur setengah tubuhnya jadi lebih lebam dan biru. sungai telah berpindah ke tubuhnya.

bulan yang jatuh di kasurnya itu, Luruh sebelum amanatku sempat.

2010 – 2011



KOTA SUNYI

kota ini hantu, Bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, launnya luruh dari rahim napasku.

“setengah jiwamu dicuri sunyi, anakku.
temui sejarah. di sana sebagian jiwamu tinggal.
namun perjalanan, bukan kisah yang menyenangkan
di pagi hari,” kata ibuku sebelum hilang hening

kota ini hantu, bingo.
kusaksikan tubuh ibuku tanggal dari kalender.
kulitnya hitam, daunnya luruh dari rahim napasku.

2010-2011



SESEORANG YANG MENCARI PECAHAN KISAHNYA

pernah aku mencuri cahaya dari kerling matamu. ia berteriak, tentang deta…

Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono

Kompas, 11 Jan 2009
Sonet 5

Malam tak menegurmu, bergeser agak ke samping
ketika kau menuangkan air mendidih ke poci;
ada yang sudah entah sejak kapan tergantung di dinding
bergegas meluncur di pinggang gelas-waktu ini.
Dingin menggeser malam sedikit ke sudut ruangan;
kautahan getar tanganmu ketika menaruh tutup
poci itu, dan luput; ada yang ingin kaukibaskan.
Kenapa mesti kaukatakan aku tampak begitu gugup?
Udara bergoyang, pelahan saja, mengurai malam
yang melingkar, mengusir gerat-gerit dingin
yang tak hendak beku, berloncatan di lekuk-lekuk angka jam.
Malam tidak menegurku. Hanya bergeser. Sedikit angin.
Ada yang diam-diam ingin kauusap dari lenganmu
ketika terasa basah oleh tetes tik-tok itu.



Sonet 6

Sampai hari tidak berapi? Ya, sampai angin pagi
mengkristal lalu berhamburan dari sebatang pohon ranggas.
Sampai suara tak terdengar berdebum lagi?
Ya, tak begitu perlu lagi memejamkan mata, bergegas
memohon diselamatkan dari haru biru
yang meragi dalam sumsummu; tak pantas lagi
mengges…

Puisi-Puisi Joko Pinurbo

Kompas, 21 Maret 2010
Embun

Subuh nanti aku akan jadi sebutir embun
di atas daun talas di sudut kebun.

Pungut dan sembunyikan di kuncup matamu
sehingga matamu jadi mata embun.
Atau masukkan ke celah bibirmu
sehingga bibirmu jadi bibir embun.

Sabar…, aku harus pergi dulu menjenguk
seorang bocah perantau yang sedang tertidur pulas
di bawah pohon besi di sudut kotamu.
Aku akan menetes di atas luka hatinya
yang merah menganga sampai ia terjaga:
“Terima kasih, telah kausangatkan perihku.”

Mungkin aku tetes terakhir dari hujan semalam
yang belum rela sirna sebelum bertemu
dengan ibusunyi dari bocah perantau itu.

Mungkin kau hanya akan memandangiku berkilau
di atas daun talas di sudut kebun
sampai aku menguap, lenyap, ke cerlap matamu.

(2010)



Orang Gila Baru

Sesungguhnya saya malas membaca sajak-sajak saya sendiri.
Setiap saya membaca sajak yang saya tulis, dari balik
gerumbul kata-kata tiba-tiba muncul orang gila baru
yang dengan setengah waras berkata,
“Numpang tanya, apakah anda tahu alamat …

Puisi-Puisi Denny Mizhar

Suara Pembaharuan 7 Agust 2011
Narasi-Narasi Kesepian

I
aku pacu kuda putih menyambut bulan yang hendak mengakhiri diri. ketika angka pada ekornya berubah wujudnya. di mana perawan aku kenang. dalam malam memampah waktu. siluet harum kenanga menyapa, memetiknya. menyelipkan di sela telinga. wajahmu masih wangi terasa bersetubuh dalam sembayangku yang sunyi.

II
satu persatu pergi. aku sendiri. tapi ini tak aku ingin. sebab kesepian bagiku mengerikan. di mana tuhan? dalam diriku pun tak ada: ada dalam tubuh perawan.

III
aku pernah membuat rumah dalam kepalamu. tetapi kerapuhan mengunjungi hingga roboh berkali-kali. aku pergi melambaikan senyum perpisahan–jarak fikir antara kita begitu absurd– aku tak menyesali: kepergian.

IV
satu persatu mereka pergi membawa mimpi dari hari yang dilewatinya. sedang aku masih di sini, sendiri. ah, tap apa. bukannya kesendirian juga punya ruang resonansi menembus langit. tetapi kadang juga mereka memaksaku berkemas menemui keramian yang tak kumaui. tidak, a…