Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2010

Puisi-Puisi Hamid Jabbar

http://www.sastra-indonesia.com/
LAPANGAN RUMPUT, SISA EMBUN DAN MASA KANAK-KANAK

Lapangan rumput, sisa embun dan masa kanak-
kanak menggelinding bagai bola, serangga tak
bernama, impian-impian dan entah apa-apa.
Menggelinding bagai bola, sebuah lomba tentang
bahagia, gol dan sukses, tetapi yang terjaring adalah
nasib dan bukan tidak apa-apa. Peluit tidak
berbunyi, aturan-aturan dibuat dan dimakan,
mengenyangkan isi kepala yang menggelinding dari
sudut ke sudut. Tendang dan kejar. Tendang dan
menggelepar. Batu dan kaca. Kaca dan mata. Pecah
dan luka. Menggelinding bagai bola, sebuah lomba
tentang bahagia, tetapi dunia jadi embun masa
kanak-kanak, rumputan dan serangga dan sejuta
suara warna-warna dan impian-impian
menggelembung jadi sesuatu yang bernama luka,
tetapi bahagia, bukan, bukan-bukan, ternyata kuda-
kuda memakan rumput dan meninggalkan embun
dalam ringkiknya.

“Hidup bung, merdeka atau mati…”

1978
Horison, no. 4, th XVIII, April 1983



DI TAMAN BUNGA, LUKA TERCINTA

Di taman bunga, cinta dan luka
mekar …

Puisi-Puisi A. Mustofa Bisri

http://budhisetyawan.wordpress.com/
STASIUN

kereta rinduku datang menderu
gemuruhnya meningkahi gelisah dalam kalbu
membuatku semakin merasa terburu-buru
tak lama lagi bertemu, tak lama lagi bertemu

sudah kubersih-bersihkan diriku
sudah kupatut-patutkan penampilanku
tetap saja dada digalau rindu
sabarlah rindu, tak lama lagi bertemu

tapi sekejap terlena
stasiun persinggahan pun berlalu
meninggalkanku sendiri lagi
termangu



GELISAHKU

gelisahku adalah gelisah purba
adam yang harus pergi mengembara tanpa diberitahu
kapan akan kembali
bukan sorga benar yang kusesali karena harus kutinggalkan
namun ngungunku mengapa kau tinggalkan
aku sendiri
sesalku karena aku mengabaikan kasihmu yang agung
dan dalam kembaraku di mana kuperoleh lagi kasih
sepersejuta saja kasihmu
jauh darimu semakin mendekatkanku kepadamu
cukup sekali, kekasih
tak lagi,
tak lagi sejenak pun
aku berpaling
biarlah gelisahku jadi dzikirku

Jakarta, 2002

(diambil dari buku: NEGERI DAGING, karya A. MUSTOFA BISRI, penerbit Bentang Budaya, cetakan pertama, Sept…

Puisi-Puisi Ramadhan KH

http://budhisetyawan.wordpress.com/
3

bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas tali-tali kayu berlubang

sumur segala derita,
bersamaan semua berpelukan

bumi ini dibawa ke alam hijau
dan perang tiada
di atas hati-hati dara terluka

sumur segala sayatan,
penampung tangis bertukaran

[dari sub-kumpulan Dendang Sayang]



3

penyair
kayu pertama
di tumpukan pembakaran

penyair
abu landasan
di tumpukan reruntuhan

dara!
bimbang hanya
mencekik diri sendiri!

dara!
takut hanya
buat makhluk pengecut!

[dari sub-kumpulan Pembakaran]

(diambil dari buku: Priangan Si Jelita, Kumpulan sajak 1956 Ramadhan KH, Penerbit Pustaka Jaya, cetakan keempat, tahun 2000)

Puisi-Puisi Sitor Situmorang

http://budhisetyawan.wordpress.com/
SURAT KERTAS HIJAU

segala kedaraannya tersaji hijau muda
melayang di lembaran surat musim bunga
berita dari jauh
sebelum kapal angkat sauh

segala kemontokan menonjol di kata-kata
menepis dalam kelakar sonder dusta
harum anak dara
menghimbau dari seberang benua

mari, dik, tak lama hidup ini
semusim dan semusim lagi
burung pun berpulangan

mari, dik, kekal bisa semua ini
peluk goreskan di tempat ini
sebelum kapal dirapatkan



DUKA
kepada Chairil Anwar

manakah lebih sedih?
nenek terhuyung tersenyum
jelma sepi abadi
takkan bertukar rupa

atau petualang muda sendiri?
gapaian rindu tersia-sia
tak sanggup hidup rukun
antara anak minta ditayang

sekali akan tiba juga
takkan ada gerbang membuka
hanya jalan merentang
sungguh sayang cinta sia-sia

manakah lebih sedih?
nenek terhuyung tersenyum
atau petualang mati muda
mengumur duka telah dinujum

(diambil dari buku: SURAT KERTAS HIJAU, kumpulan sajak SITOR SITUMORANG, Penerbit Dian Rakyat, cetakan ketiga, tahun 1985)

Puisi-Puisi Hamdy Salad

http://www.jawapos.com/
BULAN MELAYANG

Guyur aku dengan darah panasmu
dan biarkan kompor gas itu menyala
mematangkan butiran beras
daging cinta dan urat-urat biru
sekujur tubuhku. Bulan melayang
lepas cahaya dari ikatan malam
menyusup tanganmu ke dalam dada
memeras pahit empedu
dekat jantungku. Luka pun berbunga
menari-nari di ujung tangkai
tegak berdiri menghunjam tanah
saat langit menggambar wajahmu
dan bumi bersinar di telapak kakiku

Duhai penjaga asmara yang setia
kibarkan tujuhpuluh sayapmu
agar aku bisa terbang kembali
menempuh rindu tanpa nafsu bidadari

(2010)



MIMPI BERJALAN

Di atas gelombang samuderaku
mimpi-mimpi berjalan tanpa kaki
menolak dandan pengantin baru
melepas jubah dan pakaian
bagai perahu sedang berlabuh
pulang dan pergi ke tepi pantai
mencari pangkal segala ruh
di antara topan dan badai

Separuh bayang-bayang meregang
dan melenguh di sisi ranjang
suntuk jiwaku dalam dekapan
harum lempung dadamu
kuhirup sampai hilang purnama
di antara kekalahan dan kemenangan
di antara kehidupan dan kematian

Suara se…

Puisi-Puisi Indra Tjahyadi

http://www.jawapos.co.id/
HIKAYAT BAJAK LAUT
: trombol

berdayungkan ombak berlayarkan angin
: ”hai! mau ke mana, bung?”
rambut kuncir ekor kuda tumbuh uban satu satu
lengan kekar sebesar akar sengon tua
bersanding bangkai tikus busuk
kota masih seperti dulu, bung
: lampu-lampu kuning,
jalan yang menderu lantas hening
angin yang ditiup musim
dan jatuh mendenging
sapi yang dikarap selalu lebih cepat ketimbang laju
memburaikan debu
menusuki mripatku
di tengkuk
udara selalu terasa lebih ringan
lebih rinding lebih riang ketimbang dingin, bung
selalu mengingatkanku pada hikayat seorang bajak laut
yang terdampar di ujung teluk
waktu itu:
jukung-jukung pikun tak melaju
orang-orang pantai menekur
terpekur
jalan ngelindur
lalai melaut
”moyangku datang
dari sebuah pulau tandus
di timur bandar besar yang kumuh
datang dengan berperahu.”
(sungguh) kau (pernah) berkata seperti itu
seperti bunyi lesung
yang ditumbuk perempuan-perempuan kampung
perempuan-perempuan yang kakinya kurus
yang menjejak tanah berlumpur
konon:
dulu seorang raja
p…

Puisi-Puisi Noor Sam

http://www.suarakarya-online.com/
sebuah mimpi

ada seutas tali
tempatku panjatkan harap
tapi terlampau rapuh
terlalu besar kuberharap
darinya
inikah jalan
yang kau bentangkan itu?

aku tetap berharap
akan ada cahaya
dalam gelap
menepis segala pikiran buruk
masih adakah celah suaramu
membelah batu
mengikis tanah tandus
ketika jalan kiat surut?

segumpal harapan masih kutebar
mimpi semakin jauh
semakin tertinggal
ini jadi pecundang sejati
yang terkapar

* Januari 2008/2009



Topeng

ada batu cadas
yang terbelah hujan
angin dan matahari
ketika inginku menelikung deras
menerba seribu wajah
yang tertekan

mestikah melepas jati diri
terpuruk angan semu
angin tetap berjalan
mengitari rasa
yang terpendam

bayangan hitam hari sunyi
membelit setiap nafas dan harap
keinginan berlalu beku
dalam bayang
yang memagari rupa

tak sanggup aku teruskan
memasangi wajah dengan topeng
berteman dengan dusta
dan sandiwara
hati telah jauh tertinggal

ingin kudekap malam
dalam sahaja
ingin kureguk hari
apa adanya tanpa topeng

* Pebruari 2008/2009



getaran jiwa

ini kali p…

Puisi-Puisi Agus Sunarto

http://www.suarakarya-online.com/
jalang

ketika jalang merusak sukma
nafsu berpacu mendobrak batas
mengoyak dada, meretak kepala
membuta mata, menuli telinga
membebal rasa

duh, gusti
mengapa aku selalu jadi pecundang
ketika harus melawan jarang?

Surabaya, Januari 2009



skenario 1

kalau aku bicara
akulah rakyat jelata yang terengah engah
kalau kamu bicara
kamulah penguasa pongah
dengan mulut berbuncah
kalau mereka bicara
mrekalah politikus rakus
yang terus mengendus
ketika aku diam
suara rakyat terbungkam
ketika kamu tak mau diam
tangan penguasa main bekap
ketika mereka tak bisa diam
lidah politikus saling tikam

Surabaya, Desember 2009



Skenario 2

bicara atau diam
apa bedanya?
aku bicara
rakyat bicara
sampai mulut berbusa
aku diam
rakyat bungkam
bersama leleh airmata
tiada telinga mendengar
tiada gaung menggema

ketika bicara menjadi diam
riuh berubah bisu
panggung kehilangan riuh
dalang kehabisan cerita

Surabaya, Desember 2009



Ibarat kaca

hidup ibarat kaca
kadang begitu rapuh
dan kadang begitu angkuh
bila pun ia pecah berserakan
itu b…

Puisi-Puisi Deny Tri Aryanti

http://www.jawapos.com/
Karena Tahun Tak Pernah Berulang

saat kukenang kelahiranku yang terselip butiran tanah merah
yang nampak hanya roncean semboja
di antara keabadian tak terbaca
seperti teriakan ku yang masih saja menjadi teka-teki ”cinta maya”
adakah kemolekan dari sebuah tarian sunyi
saat berputar-putar mengelilingi mimpi
bercinta dengan abjad yang semakin renta
dan memberikan bayang-bayang sebuah ironi
adakah engkau di sini
saat tetesan pelangi mulai melahirkan kereta kencana
menembus fatamorgana
seolah merantas segala kemuskilan yang tengah kau tawarkan
munkin kelahiranku adalah tawa
munkin juga mengenangnya adalah sebuah luka dari seonggok nyawa
tapi aku mampu menundukkanmu dalam siluet kata-kata
dari detak angka dari detik waktu
semua legenda hanya sebuah dinasti tak bertuan
mungkin masa lalu adalah kesiaan
saat hanya kesepian yang mampu memberikan senyuman
Aku sadar doamu adalah sajak tanpa nyawa
melesatkan waktu dalam hentakan abad
saat terjalku menjelma mimpi dalam lorong masa lalu
dan bayangan…

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto

http://www.jawapos.com/
Lukisan Perempuan di Museum Blanco

debu berebut merajam waktu
aku terpenjara mata perempuan
semata perempuan dalam kanvasmu
mata yang menari entah dalam irama
gamelan, jazz, bosanava atau salsa.
mata yang samar serupa kabut
memucat pada lembar biografi
mefosil dalam geletar ingatan
mata perawan menyimpan rahasia api
buah larangan yang disembunyikan dewa-dewa
pada bilik-bilik kahyangan yang pengap
ruas tubuhnya bergetar menafsiri rahasia malam
jejak-jajak malaikat tersesat
pada rambut yang berkibar-kibar
meramu wangi udara serupa harum sesajen
ditaburkan pada pori-pori di tubuhmu
di tengah ranum bola matanya
jalan-jalan rumpil berkelok-kelok,
sungai dengan jenggot sulur yang getas
di antara akar-akarnya
bayangmu bergoyang-goyang
bungkuk dan batuk-batuk di bangku batu
menganyam senja, jarak, peristiwa
juga warna malam dan awan
menunggu menjadi hantu di taman tua
merajam sunyi menjadi bunyi

Ubud-Ngawi, 09/010



Camar Mencari Ceruk Karang

waktu yang digaris gerimis mengingatkanku
ketika tapak kaki…

Puisi-Puisi Pringadi AS

http://www.sastra-indonesia.com/
Sebuah Jawaban di Stasiun Kereta
: wan anwar

dari Ampera, aku tidak pernah berpikir akan lupa pada seporsi
mpek-mpek yang asam, dan manisnya segelas es campur di keruhnya
wajahmu. tiga puluh menit, Wan, tiga puluh menit saja aku sudah
sampai di kereta membawa sebuah koper yang berisikan wangi
parfummu tetapi aku masih meninggalkan selembar kertas kosong
atas pertanyaanmu dulu. aku duduk di gerbong ke tiga,
sebuah televisi menyala menampilkan sakit yang sama saat aku berjanji
takkan lagi pernah menemuimu yang rubuh
di jalan raya,
di sekitaran air mancur dekat masjid Agung yang luntur
sebab mata ibu tak lagi merunduk mencari aku
di sekitaran lampu merah
di pinggir-pinggir ibukota dengan sandal jepit
dan pikiran yang selalu sempit.

dari Ampera, Wan, aku merindukan kepergianmu yang angslup
di balik dua garis sejajar yang bertemu
di satu titik milikmu, titik yang menyampaikan pesan terakhirmu

di kertas kosong itu.



Suatu Malam di Cianjur
: wan anwar

Menguburmu malam-malam, aku ter…

Puisi-Puisi Zen Hae

http://cetak.kompas.com/
naga

ketika kau tertidur di bawah ancaman awan hitam aku menjagamu. aku yang menunggu di
balik tabir berabad-abad lamanya hingga kau menyebutku si mendiang, hanya hidup di dalam
kitab, pada lelembar dongengan. aku yang tidak pernah kausebut dalam doamu meski
kaurupakan aku dalam kayu dan perunggu. kuajak pula leluhurmu yang lain agar berjaga-jaga
bersama sampan abu-abu, pelantar hitam, rumah coklat tua, dermaga yang baka oleh garam.
kami akan mencium kau yang letih, memulihkan mimpi anakmu, menjaga guci-guci abu,
melantunkan gurindam—tapi beri kami kopi susu barang seteguk.

lidahku menyemburkan api. aku bisa menghanguskan bahtera dan mendidihkan samudra
paling biru. telah kulumat para lanun, musuh-musuhmu, atau kubuat mereka gila hingga
seluruh rasi bintang menyesatkan mereka. satu legiun memang telah menaklukkan sebuah
kota tapi setelah mereka meminjam lidah-apiku. tapi itu dulu. sebelum badai waktu
menumpasku dan kau melupakan aku. maka aku mati—tidur panjang, sebenarnya…

Puisi-Puisi Mardi Luhung

http://www.sastra-indonesia.com/
PULAU

Pulau kita tak keliru. Tapi, memang terlalu cantik.
Padahal kita tak butuh kecantikan. Apalagi untuk
sebuah ketenggelaman yang akan tiba. Ketenggelaman
yang seluruh dirinya dibungkus asap dan kabut.

Yang cuma matanya saja menyala. Dan dengusnya
pernah mengisi setiap relung-lubang. Saat kita
yang telanjang mengingati kelalaian yang sering
merangsek. Sambil membidik bagian-tepi-pelipis.

Agar dapat mengusir si pengelabu. Memang pulau
kita tak keliru. Tapi, karena terlalu cantik, maka
banyak yang menyuntingnya. Dan banyak pula yang
akan menukarnya dengan puisi atau kembang.

Yang kelak akan berkhianat, atau menyingkap
pakaian kita di malam yang dingin. Agar kita
mematung di dermaga itu. Sambil menunjuk-nunjuk
jejak pesawat di angkasa yang memberat.

Yang pernah menyelinap di selimut-masa-kanak-kita.
Dan menidurkan kita seperti si waktu-apung.
Si waktu-apung yang selalu menjulurkan tangannya.
Untuk merapikan pulau kita. Pulau kita yang beda.

Memang, pulau kita tak keliru. Da…

Puisi-Puisi Bernando J. Sudjibto

http://www.sastra-indonesia.com/
Sehari Sebelum Ke-24
Eternal Reportage
Kepada Do2n

ibarat sebuah undakan
tangga hingar melingkar
satu hari sebelum menuju rumahku
engkau akan menemukan jalan buntu
hutan dan batu yang tak pernah kuberinama
kini menggenapkan peta
merampungkan rute
bagi perjalananku yang lain
jangan pernah resah
kepada yang akan engkau lewati
sebuah hutan, rawa, bunga dan savana
akan menyulammu, juga jalan-jalan
yang semakin senyap!
adakah engkau menunggu
bertanya tentang pejalan
yang kini jauh tersesat itu?
jika ia telah menemukan
bertadah kepada embun
di luar engkau yang tahu
bukanlah ia tersesat
ia hanya menyimpan harap
esok cemas dan tiarap
aku pernah berkata pada puisi
24-ku telah disakralkan
bagaimana engkau mengenaliku
wajah hitam di tengah malam batu?
inilah nyala itu
seperti yang engkau lihat
seperti yang tak kau lihat!

(bje, 2009)



Pemahat Gerimis

dalam lipatan gerimis
ada yang selalu memanggilku
ke tengah hujan yang lebih lebat
ia seperti mata seorang bocah
terkaca nama-nama baru
setiap pahatan gerim…

Puisi-Puisi Kurniawan Yunianto

http://www.sastra-indonesia.com/
PERTUNJUKAN KE SEKIAN

panggung adalah lautan
kilau lokan nyala ikan
suara ombak telan menelan

ada yang berhasil sampai ke dasar
meski berperan sebagai perahu
tapi bukannya karam

angin dengan kristal garam
mengajak orang tepuk tangan

heii kaukah itu sayang

duduk di deret kursi paling depan
melambaikan tangan kepadaku
yang mabuk sendirian

sebotol arak masih tergenggam
saat nyanyian air beraroma karang
meninggalkan ruang

lampulampu akhirnya padam

aku masih di sini
sibuk menangkar segala kegilaan

09.06.2010



MELEWATI KUTUB

tak hanya engkau yang merasa lega
aku seperti turut meluncur keluar dari mata
setelah sekian lama terperangkap dalam kacakaca

biarlah bayang kita saling meninggalkan
punyamu ke utara punyaku ke selatan
setelah melewati kutub pasti kembali bertemu bukan

di sini di ruang tanpa pintu tanpa jendela

meski telah berabadabad di dalamnya
kita tak lagi butuh waktu untuk menunggu
kerna jantungku sejarak detak dengan dadamu

08.06.2010



MENJELMA APA SAJA

bagaimana mungkin merindu
jika …

Puisi-Puisi Salman Rusydie Anwar

http://www.sastra-indonesia.com/
Tunas-Tunas
-santrihamasy

karena perihmu masih membelit akar pohonan
kubiarkan tanah ini menyerap lukanya
di langit mungkin matahari selalu muncul dari rasa gelisah,
takut dan kecemasan yang tak pernah selesai

sementara batu-batu itu masih menyimpan
gemuruh laut, tempatmu berjanji menautkan keinginan
pada lempengan waktu yang mengombak
dalam doaku

mesti kita kejar bintang itu
dan membiarkan cahayanya memintal sendiri
di dalam kegelapan yang menyayat sejarah air mata

atau biarkan saja kita tenggelam
sambil terus meneriakkan mimpi
untuk meredakan gelombang
dari sebuah jeruji malam yang begitu panjang

2006-2008



Menyentuh Langit Cintamu

seberapa tajam cadas yang hendak merobekku
saat Kau memberi ruang tunggu begitu lama

di sini, waktu menjadi jurang
tempat menampung segala gundah
berpintalan sebelum akhirnya pecah dalam darah

aku ingin pulang
pada asap yang mengalir dari rindu-Mu
membiarkan angin mengusung mautku
yang akan kembali menyala saat langit cinta-Mu berhasil kusentuh
dengan …

Puisi-Puisi AF Denar Daniar

http://www.sastra-indonesia.com/
Nelayan

jauh berlayar di laut mata-Mu
angin begitu dingin
mengayuh perahu kayu
menjauh dari tepian

: inilah perahuku
derai rerindu
dari bukit-bukit kelu

ooh…
betapa layar mengembang melebihi tiang
angin penuh derak
mengarak ombak kian bergejolak
perahuku mengambang gamang
ke laut karang bertepi gelombang

ah!
kuhempaskan saja batang dayung
ke ombak bergulung
biar lebih pandai angin mengungkap badai
biar perahuku lebur
terberai di laut impian

Jogja, 2009



Jalan Getir
; buat anak-anak jalanan

dari sudut matanya yang berawan
kulihat ada derai yang memuai
begitu giris gerimis tipis mengurai tangis
begitu deras merangkai derai
hingga ke entah

Jogja,2009



Soliloqui
:di tepi sungai Gajah Wong

kau lihat sungai bergolak itu
air menciprat sambil bergemuruh
serupa tangan-tangan mengembang
melambai….
kemudian tenggelam dalam keruh

tapi, aku bukan pelaut
yang mengerti bahasa sungai
hanya di kedalamannya
lumut makin coklat
mengakar ke tebing-tebing masa lalu
diraba, ia membengkak seperti luka
dikepal, banal men…

Puisi-Puisi Ulfatin Ch

http://www.jawapos.co.id/
Belum Tuntas Kata

Belum tuntas kata
yang berkelok di tikungan itu
jejaknya masih lekat di lengkuk mataku
sebagaimana dulu kita mengurainya dari kelam
hingga malam
dari siang hingga petang
Dan matahari itu sudah meninggi
meninggalkan kita
menyisakan bayangan menghitam
di belakang

2009



Membaca Batu

Akhirnya, wajah kita yang tertunduk
membaca batu-batu di sepanjang jalan itu.
Dingin udara malam melangkahkan kaki kita
berputar seperti piringan di taman
tapi, tak juga sampai pada kata
pada nada yang terkemas. Hingga kudengar lagu
Mestinya Tuhan menciptakan kita bahagia, katamu
tapi, angin yang kesiur hanya menjawab rindu

2009



Laut dan Nelayan

Seberapa dalam lautan, nelayanku
ombak pun seperti diam
saat kausentuhkan jala ikan di atasnya.
Dan dengan kesabaran rindu
kau menunggu
berlayar bersama camar-camar timbul tenggelam di atas samudera
Seberapa dalam sudah kau selam lautan, nelayanku
hingga badai hingga gelombang
menahan kokang
rindu pada dendam

2009



Rindu Yang Kutanam

Tak ada lagi prasasti itu di…

Puisi-Puisi Muhammad Zuriat Fadil

http://www.sastra-indonesia.com/
MIMPI MASA LALU

Pada mimpiku tadi,
aku bertemu
dengan orang-orang dari
masa lalu
saat terbangun kusadari
ternyata masa lalu
itu mimpi
dan mimpi itu
masa lalu

maka
kuputuskan
dengarkan
suara panggilan
dan bertanya

mungkinkah dirimu
hanya seonggok daging dan
belulang
yang berenang
mengikuti aliran
sungai waktu?
lalu
di manakah muaramu?

Pada
samudera keabadian
pada
muara kekinian,
sesungguhnya
kekinianmu segera berlalu
tanpa kau sadari tanpa tahu

tubuhmu adalah hari
yang selalu berganti
dari subuh ke senja
dari senin ke minggu
terus berlalu

namun
tiapa-tiap anakpun tau
bahwa setiap hari
memang seperti itu
seolah tetap
namun gerak
seolah ganti
tapi abadi

hidup itu
masa kini
yang selalu berganti
tuhan hidup
pada masa kini yang tetap

maka
muarakan sungaimu
padanya
yang tak pernah berlalu
dan tak pernah
meninggalkanmu

ceburlah pada
samudera keabadian
samudera cinta sejati,
samudera kekinian
yang abadi

(15 September 2009, saat terbangun dari sebuah mimpi)



BATARA KALA

adakalanya sang kala
menancapkan taringnya
pada tubuhku
m…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi