Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2010

Puisi-Puisi Agus Sulton

http://www.sastra-indonesia.com/
Sketsa Tak Bermantra

Terlukis sudah,
mawar bunga tiada estetika
dalam sebuah sketsa tak bermantra
langkah pena yang penuh bimbang
teduh tamanku kini mengerang.

Akulah sang pelukis mawar itu,
tangkai mawar bersembilu pilu
merah merona
warnanya yang belia
indah merekah,
tapi selaksa rekayasa.

Jombang, 2005



Berhias Mata Kaca

Saudara berhias mata kaca
Saksi mata tertawa
Seorang ibu tertusuk pedang busuk
Sebelah rumah, sebarkan kasak-kusuk.

Jombang, 2005



Pentas Malam

demikian keluhan pentas malam, babak-babak yang sukar ia tebak
syair-syair dari para penyihir
lakon-lakon yang tiada lagi ditonton.

nampak ia terjangkit insomnia, damai dan lelap tidurnya terampas hempas—mimpi-mimpi yang tak berbunga lagi; angin malam yang tak kabarkan temeram.

Aku selalu menunggu risalah dalam relung kalbu,
usir kemunafikan yang menderu.

Aku berguru pada fantasi
yang ku biarkan berlalu.

Jombang, 2008



Panggung Sampah

Mudah sekali engkau bersilat lidah. Mudah sekali engkau bersolek rona; berpose, kemudian ber…

Puisi-Puisi Dody Kristianto

http://www.jawapos.co.id/
Riam Hujan

ia akan kembali untuk yang lama
ia akan pergi bagi yang purba
sebab ia sekadar singgah
menemui Puan yang terus ia rindui
Puan yang lama menjejaki bumi
Puan yang tinggalkan segala benih
benih rindu yang kelak tak abadi
sebab ia akan terus kembali

2010



Gambar Hujan

sudah berkali-kali ia masih lupa
warna mata yang ditatapnya
di perjalanan
tak berkehendak ia serupa buta
tapi sekenangan kastil masih saja
menunggunya di senja pertama
sebelum malam sesekali menghapus namanya
sungguh, bimbang ia masih
pada sebidang putih
yang mengungkungnya
di akhir malam

2010



Kitab Hujan

serupa pencuri tandang tiba-tiba
ia sabar masih, terlampau sabar
untuk memindai genting yang alpa
pada salam yang ia ucapkan, semalam
sedang segenap malam masih berbenah
untuk pantun yang gagal ia lanturkan

2010



Detak Hujan

ia dan jantung purbanya sungguh dekat,
hanya sejejak, sejejak saja terpisah
lalu dalam sekejapan akan ia temui,
jejantungnya,
sekaligus seteru dan sekutu
yang selalu gagal ia retakkan
pada genggam pertama
su…

Puisi-Puisi Arieyoko Ksmb

http://sastra-bojonegoro.blogspot.com/
Sajak Sabdopalon-Noyogenggong

Sebagai gedhibal alam, Sabdo dan Noyo terus menunggang angin.
Melayang bersama kabut, antara Gunung Semeru, Lawu, Merapi,
Slamet sampai Tangkuban Perahu. Ke duanya berdzikir pada tanah,
pada air, pada kayu, pada burung, pada bara
dan api.

“Aku tak hendak menagih janji, atas kesepakatan alam ruh dan
alam nyata, ketika itu. Aku hanya mengabarkan pada semua,
bahwa janji selalu menepati dirinya sendiri,” begitu mereka berbisik lirih.
Dari ujung kulon sampai ujung wetan.
Dari walang sampai kijang di hutan.

Di roda zaman, sebuah janji alam tak pernah berarti apa-apa.
Kecuali hanya sebuah pengertian tentang sejarah. Tanpa mau
mengerti, bahwa alam yang mencatatkan perjanjian
di tangga langit, selalu menyinarkan kebenaran atas janji
yang terlupa itu.

Sabdo dan Noyo terus berputar-putar di atas-atas rumah kita.
Mereka membawa obor kencana, yang bakal ditancap-tancapkan,
di pekarangan hati yang terbuka.
Siapa saja.

Jonegoro, 11/8/2010.



Republik Kata…

Puisi-Puisi Kusprihyanto Namma

http://www.jawapos.com/
TELAGA

Di tempat seasing ini kudapatkan telaga
milik siapa ketenangan air yang jernih
sedang aku jadi malu seusai membuat kecipak
lalu duduk saja memandang cemara-cemara
yang berbaris membentuk bayangan raksasa yang lelap
oleh belaian angin bukit

Sebaiknya engkau datang kemari di saat pagi
saat ikan-ikan bermain dengan pucuk-pucuk ombak
tapi jangan membawa kail itu akan membunuh cacing
daerah ini suci dan merdeka
belum pernah ketumpahan darah, setetes pun

Kalau ingin ikan-ikan datang berkumpul
cukup dengan menyanyi, kau telah pula memanggil
murai, kutut, podang, tilang, jalak, dan emprit
yang membangun sarang di tengah telaga
semakin jelaslah kedamaian dan rasa bersama
berada jauh dari pusat kota



SARANGAN

Telaga itu masih seperti dahulu
jalan melingkar, kabut, cemara-cemara yang berisik
cipak ikan, kicau burung, dan angsa berenang
ketenangan ombaknya sesekali dipecahkan gerak sampan

Telaga itu masih seperti dahulu
pasangan demi pasangan lenyap di balik awan
ringkik kuda, dan pekik kagum…

Puisi-Puisi Aming Aminoedhin

http://www.jawapos.com/
Aku Masih Melihat
catatan ramadhan 1431-h

aku masih melihat
orang-orang melangkah ke masjid
selepas magrib jelang isya tiba
berharap bisa tarawih dengan berjamaah
aku masih melihat
orang-orang melangkah ke mal dan plasa
melepas duit jelang hari raya
agar lebaran tampak gagah lupa hati pongah
aku masih melihat
mal dan plasa berjuta orang
mengigau berjamaah, hamburkan uang
tanpa pernah dirasa atau merasa
ada berjuta orang di luar sana
atau mungkin di sekitar kita
teramat miskin papa
aku masih melihat
jurang menganga
begitu dalam tak terjangkau
dari matabatin orang-orang mengigau
aku masih melihat
berjuta orang meracau dan mengigau
di negeriku yang kacau

Canggu, 19 Agustus 2010



Matematika Lailatul Qodar

pakar matematika pernah berhitung
jika seribu bulan
adalah 83 tahun lebih umurnya
sedang usia manusia
tak lebihi angka sejumlah itu
maka bersujud dan beramallah
pada saat lailatul qodar
hingga impaslah segala dosamu
dibayar oleh sujud-amalan
di malam qodar itu
aku termangu (mungkin ragu)
lantas kita se…