Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2010

Puisi-Puisi W. Herlya Winna

http://www.sastra-indonesia.com/
Berlayar Menuju Tanahmu

Mungkin musim masih enggan mengantar kita
kembali seperti Februari tahun lalu.
Ada perjalanan yang terus kenang
terekam di memori bayang mata.

O jasad yang di seberang sana
aku sedang berlayar
menuju tanahmu yang ranum itu
sambil membaca puisi sulamanmu.

Parahyangan, Maret 2008



Cahaya di Halaman Mata

Kutanam cahaya di halaman mata
menghasilkan anak-anak matahari.

Kutulis kesetiaan sebagai garis tangan
melahir sajak-sajak perjalanan.

Kukayuh tubuh saat petang
rubuhkan sisa-sisa waktu.

Kusulam hujan pada tanah basah
menyisakan pohon-pohon kerinduan.

Parahyangan, Maret 2008



Serupa Selat
: Kang Nyonk

Meski jasad tak sampai di matamu
aku serupa selat
melayarkan sampan yang karam
ke lengkung senyummu.

Parahyangan, 31 Juli 2008



Pertalian Mata
: Novia

Sajak tumbuh di matamu
mengakar hingga penghujung musim
musim yang bertuan hujan.

Dan jantung bergetar
tanda siap berlayar
menuju tangan tak hambar.

Jangkrik merekam peristiwa
ombak jadi puntalan usia.

Sesampainya di telaga wa…

Puisi-Puisi Tita Maria Kanita

http://www.sastra-indonesia.com/
Telinga

Suaraku lebih mewah dari lanskap di wajah bersisik.
Maka tutup matamu
karna saat mata terpejam, para telinga terbangun.
Jika mampu manusia merajai indera lainnya, maka
‘kan kupinta pula kaututup lidah, hidung, serta arimu karna yang kumau
cuma telinga dan kepekaan gendangnya meski kental dan jingga berlilin.
Indera yang teragung bagi para
Muslim, Nasrani, dan Ibrani untuk kubisiki.
Bahwa menyimak wanita tidak
cuma dilihat, namun juga didengar.

Bandung, Juli 2008



Tentang Berebut Magelang

Kami tidak Cuma berterima kasih tapi juga menerima kasih untuk sebulan Juni
Saat Gunung Kidul kembali subur dan di Magelang tak ada lagi sakit gigi
kami nanti engkau di pangkal Selat Bali

Bandung, Agustus 2008

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Seli Desmiarti

http://www.sastra-indonesia.com/
Sihir Terakhir

Apa yang kau harapkan ketika mengurai kenangan
Senyum tertahan, kata tersimpan di tenggorokan
tangan kiri membaca mantra, tangan kanan berdoa ke langit juga

Kutaruh di balik saku jaketmu
sesuatu yang tak kau pahami, tentang mula
ikan renang, lompat katak, lari kijang, terbang burung,
juga tanganku yang murung. Letakkan kemudian dalam lemari, kuncilah
jangan pernah tergoda untuk membukanya hingga terpahami rayap-rayap
di ribuan malam pengantinmu. Berdoalah jangan ada kelak
teryakini di punggung tanganmu,
menggenggam murung itu.

2008



Surat untuk Bunda

Bunda, ketika matahari telah sempurna digantikan neon
mungkin aku hanyalah sebuah kabar dari rantau, berbekal sebuah harapan
bahwa kelak aku kembali bersama mimpi hari ini yang telah kujadikan
kenyataan

Bunda, sejujurnya aku telah berpurapura tak peduli dengan ratusan mimpi
buruk dan juga ribuan tangis yang tumpah di ranjang pengantinmu,
hingga nyeri tertanam pula di dadaku

Bunda, aku tak pernah menyalahkanmu atas…

Puisi-Puisi Maya Mustika K.

http://www.sastra-indonesia.com/
kau

/1/
kau serupa bangku kosong
terisak kelam dalam goresan muram
tak lagi seperti dulu
ketika dongeng nyanyian tidur
luluh mengalir ketidakberdayaan

/2/
kau serupa bangku kosong
dingin mengiris setiap gelap
mengubur usang pada jejak
dan berakhir di kekosongan sudut
hanya hampa

2007



mungkin

lelahku sudah berada di ujung nafas
mungkinkah aku masih dapat menyulam baju rindu
menjadi kita kelak
dan sekarang
keluhku telah berada di tepi ragaku

2008



telah sampailah

telah sampailah aku pada perkampungan waktu
menembus segala indera
walau terkadang langkah tak mampu hantarkan
walau bahasa tak mampu menyampaikan
rasa dalam selembar tafsir
namun, katakata tak akan pernah cukup
menampung kekosongan

2009

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Lela Siti Nurlaila

http://www.sastra-indonesia.com/
Putih atau Hitam

dalam putih tersirat hitam
mengarungi irama gerak serta tuturku
ia gencar mencari celah untuk menyeruak
sekadar penghias, namun menjadi terlarut

hitam merasuki putih
menyihir sorak-sorai di puncak bahagiaku
tunduk, bukan berarti mati selamanya
mungkin ya, tersadar dalam hitam di atas putih

aku bertudung dalam kegelapan mata
memanjakan hatiku dengan tangisan
kelak ‘kan kubawa sebagai hadiah untukmu
biar putih tak selamanya ada padamu

2008



Selepas Kenangan

bersama embun kau dekap sejengkal ranting
menusuk kesedihan tanah yang mengecup basah
lantas lepas
yang begitu dekat, katamu
sementara aku hanya sebagian dari titiknya
menjadi layak bagi reruntuhan daun yang menggigil
tangan yang menengadah
mungkin hendak melahirkan gerimis

dan

aku duduk bukan merayu
hanya belajar untuk menipu
bagaimana menyembunyikan luka

Bandung, 2008

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Ike Ayuwandari

http://www.sastra-indonesia.com/
Embun di Bunga Kol

Sumringah bak matahari yang tersenyum
Ia bertebaran di tanah bumi nan subur
Di pagi yang kabut penuh embun di atasnya
Penuh kesegaran saat mata memandang

Tangan seolah t’lah menyentuh kesegarannya
saat di tiap batang tubuh melekat embun-embun pagi
yang hilang dengan ikhlas memberikan wangi kesegaran baru
yang akan ditatap oleh jutaan mata

Sayang, kuharus kembali
kupercayakan saja pada alam
biar ia yang menjaga bunga kol itu
sampai kupunya waktu lagi
untuk kembali menatap kesegarannya

Lembang, 9 Maret 2008



Pada Sendiri

Kesendirianku
Adalah derik para jangkrik di wajah malam
Saat langit berkabut
Atau jahitan benang hitam yang semrawut

Kesendirianku
Adalah kertas-kertas yang terbang
Hilang menjadi layang-layang
Hitam kelam bagai satu bayang-bayang

Kesendirianku
Adalah rekahan mawar
Yang tak pernah pantas meranum
Ketika malam ini, kau membayang dalam sajakku

Bandung, 2008



Catatan Malam

Maka berhentilah malam
Ketika angin membelah tiap lipatan langit
Membelah sudut sudut…

Puisi-Puisi Ikarisma Kusmalina

http://www.sastra-indonesia.com/
Rindu Hujan

Apa yang Tuhan jodohkan selain hujan pada tanah
Yang kemudian beranakkan sungai
Dan bercucukan samudera

Entah kapan aku mampu melahirkan sungai
Hingga mampu kudekap samudera

Sedang di sini
Aku teramat rindu hujan
meski kedatangannya hanya lewat gerimis

2009



Ketika Kau menari

Menarilah kamu didadaku
Sebelum semua orang mengetahuinya
Dan biarlah aku yang merasakan
: kaki-kaki kecilmu menginjak dadaku
Karena ketika kau menari
Aku mulai menulis sajak ini

2009

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Fina Sato

http://www.sastra-indonesia.com/
Mungkin Aku Lupa Menghitung Kisah
: buat Rosadi

mungkin aku lupa menghitung kisah
menjadi sejarah pada awal perjalananmu
aku mengiris sungai dan batubatu hitam
yang semaikan suka duka pada akhir
malam sesak kelam

“hujan pun mengantarkan kepulanganmu
dalam kamar gelisahku,” sapamu sesaat
ketika malam merayap gigir di ujung jalan
yang laju tembus halimun pada gelap jalan berbatu
tapi matahari lindapkan kisah pada
lelaki dan segurit puisi

ada sebaris kenangan kausulam
pada punggung kesunyian akhir cerita
pun selayar pesan pejalan yang berangkat
pagi buta kepergiaan
bahkan tak ada janji pertemuan pada episode
tak sempat ditamatkan
waktu kelak bersumpah memberi ruang
untukmu menyapa perempuan yang sampai
di persimpangan

“titipkan sebait puisi untukku,” katamu
embun makin bekukan ujung jarijariku
memahat lekuk kata pada telapak tanganmu

kini aku hanya mampu mengenang
kisah malam lelaki kesah di persimpangan
semusim di rahim kotamu
purnama tak lagi telanjang

saat kepulangan di teras rumah…

Puisi-Puisi Fadhila Ramadhona

http://www.sastra-indonesia.com/
lelaki penjual dongeng

sebagai apakah engkau akan mengunjungiku lagi?
seorang penari gelisah atau lelaki penjual dongeng
mungkin tak keduanya
tersebab lama kau tak singgah dengan wangian air tanah
pulang jadi dongeng, hari menjelma dongeng, kata seperti dongeng,
sunyi seumpama dongeng, dongeng menjadi lebih renta

“beginilah menghitung lambai sampai tanpa sambut”
kuingat katamu mengakhiri dongeng di hari terakhir kunjunganmu
setelah kita bicarakan hari yang menukar badainya
orang-orang berjalan lekas melepas galau
dengan mesra tahun berdekap sayang
alamat sepi tentang ketiadaan

lalu seperti dirimu
semakin lama orang datang dan pergi
dengan cara yang ganjil

jatinangor, mei 2009



menjadi ingatanmu
: A.R. Kusumah

pada yang berbatas
seseorang di luar sana akan menemukan sunyimu
dan menyulapnya
:waktu
dalam mesra sesuluh redup
perahu layar diarungkan menuju tepian tanpa hasrat kenangan
sebagai duka yang melewati ingatan purba

17 maret 2009



lelaki senja
: H.S Wijaya

ah, memikirkanmu seumpa…

Puisi-Puisi Evi Sukaesih

http://www.sastra-indonesia.com/
Ketika Senja

kemudian senja tenggelam
meninggalkan bayang terkenang
dan angin membelai mesra sepiku
seolah mengirim kata
: esok senja kan menggeliat di ujung barat

2009



Skenario
_Seni

dan skenario yang kau kirimkan
masih saja menyimpan kerut di dahiku
kadang ada segaris senyum
pun ada genangan di sudut mataku
Sen, bayangmu melulu menggedor-gedor tubuhku
meninggalkan jejak di ruang batinku

2009



Saat Hujan

hujan merayap dari genting hingga ke celahcelah jendela
gemerciknya mengalunkan nada klasik
ah, ia menyelimuti tubuhku
hingga aku tergeletak pada mimpi

2009

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Evi Sefiani

http://www.sastra-indonesia.com/
Sajak Kerinduan

aku melihat wajahmu berserakan
pada aspal, trotoar, sampai spanduk juga reklame
yang menjadikan kota penuh dengannya

aku melihat wajahmu berjatuhan
dalam semangkuk sarapan
untuk pencernaan yang kosong sejak kemarin pagi

aku melihat wajahmu tercecer di ranjang
usai menghisap mimpi-mimpi sebuah malam sepi
yang menjadikan rindu bersemayam dalam selimutku

: wajahmu menari di pelupuk mataku

Sudirman, 2008



Solitude

bagaimanakah kumaknai kemarau?
sedang jajaran cassia telah dihisapnya
dengan segala kemudahan

daun terakhir di tubuh kering pun dijatuhkan
angin panas menjadi penguasa
negeri asing (kemarau selalu
membangun kerajaan di tanah tandus
ketika rumputrumput merelakan dirinya layu)

maka, kuterima tanah ini menjadi
lahan kesedihan yang ditumbuhi
benih kesunyian abadi
sebab air mata pun telah pasrah diterbangkan
debu semuanya

2009



Suara di Tepi Kali

di tepi kali, aku menemukanmu
pada riak yang memanggilku sayup
ada desah nafasmu bergetar
dan menjerat kerinduan—terus tumbu…