Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Puisi-Puisi Ellie R. Noer

http://www.sastra-indonesia.com/
My Mom Superchef

ibu memasak sayur sop
ia menceduk air dari mataku
beberapa gayung
katanya akan dibagikan ke tetangga
kata tetangga
air mataku mengandung khasiat
: mimpi dan citacita

ibu menggoreng katakata
yang selalu dihidangkan untukku
rasanya pedas dan membuatku
betah nongkrong di toilet
beberapa jam sambil bermimpi jadi penari balet
(nari baletnya jangan terlalu lincah nanti ketahuan mamah)

ibu mengupas khayalku
hidangkan di ruang tamu

Rahayu, 13 Oktober 2008



Bidadari Mandi

masa kecilku dulu
sering didongengi tentang bidadari mandi
hingga penasaran ingin lihat tubuh bidadari
berulangkali naik ke genting rumah paling tinggi
sepertinya mereka sembunyi, takut ketahuan
bekas luka bakar, atau
jerawat yang asyik nongkrong di wajahnya
seusai hujan
bidadari segera menutup pintu dengan pelangi
“kali ini harus berhasil,” kataku
teropong canggih sengaja kubeli
simpan di kamar mandi
“HHaaHH”
mereka tidak punya tubuh
dasar ibu pendusta

aku lari mencari ibu
yang sibuk dengan kocokan arisan
“kalau…

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://www.sastra-indonesia.com/
Bahtera

bahtera mengapung di permukaan
air mata yang membawanya pergi
seperti burungburung terbang menuju hilir
bahtera kubangun sekuat tenaga
bercampur air mata rasa gelisah

kujelaskan pada mereka
penghuni setiap tingkap
bangunan ini hanya sebuah kegalauan
dan bahtera tetap berkelana
mencari tempat aman di atas kefanaan

bahteraku penuh keluh
selalu diurai kisah masa lalu
siapa penghuni berikutnya

ada firasat tak baik di hati
ragaku adalah bahtera
yang haus kisahkisah baru
di lambungnya terdapat karat
sebab menanti hujan reda
adalah sesuatu yang tak terjangkau

kayukayu berpatahan
koyak dimakan waktu
galau menuju kehampaan
siapa penghuni berikutnya
tak mengawali permulaan dengan kebohongan
nomornomor palsu
katakata hanya berlesatan

air mataku menderas
menggoyahkan samudera
tubuhku rapuh dimakan lumutlumut
kupercayakan alur air yang membawaku
gelombang membuai buritan
tiangtiang mencapai langit
berusaha mensucikan hati
aku dan tubuhku diintai waktu

siapa penghuni berikutnya
dapatkah kujelas…

Puisi-Puisi Diah Budiana

http://www.sastra-indonesia.com/
Menjelang Malam Purnama

kutulis sajak ini untuk kesekian kali
menopang getiran tanda tanya

lalu asap rokok bergetir merasuk aortaku
perbincangan di luar hanya sekadar lampu merah

burung-burung bersua, duduk sahaja
andaikan melodi kalbu dapat kudengar
sudah ke seribu malam purnama itu tak akan habis
ruh takkan meninggalkan jasad
dan kata tak mewakili jawaban
kau sudah terlanjur menggenggam siang-malam

bila kesempurnaan tiada menjadi batasan
akan kukayuh perahu bersamamu
menemui pulau tanpa penghuni
mengakhiri laut

bersamamu menjadi dayang-dayang keabadian
(namun ketika purnama usai, segalanya kau ditinggalkan.)

Serang, 2008



Kiranya Angin Enggan Bersemilir Sendiri

kiranya angin enggan bersemilir sendiri
juga musim malas diperpanjang peralihannya
disinikah paraunya rasa
menghangus batasan kesejukan
kaki pun tak berniat melangkah
bumi tak membara
waktu bersengat
diranjang sulit kumaknai bayangan
sebagaimana rautmu kian serupawan cadas
atau air kali
setiap senja, langit bau tanah
dan kau…

Puisi-Puisi Dewi Kartika

http://www.sastra-indonesia.com/
Bunga Kapal

Bila aku memiliki bunga
Maka aku berhak memberikan nama
Jika kamu memiliki warna
Kamulah yang berhak menentukan rupa
Sebab kita adalah nahkoda kehidupan



Janji Matahari

Celah rembulan telah berlalu untuk kembali membayar rindu
Kekuatan untuk memburu pantai
Memeluk angin, setelah berubah menjadi karang
mengakar ke bumi
hingga saat cahaya rembulan itu datang
membayangi jalan sang putri,
tak harus berdosa jika harus mencumbui waktu
menjunjung tinggi janji seorang ksatria

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Amelia Rachman

http://www.sastra-indonesia.com/
Ke Ujung Pohon

berdiri kaku
di atas akar tersumbat
trotoar mengeras
tengadah menuju ujung kesirnaan
yang kembali rindang
oleh dedaunan yang menggunung
ke sanalah aku akan

aku mulai meraih ranting, berpegang
menapaki dahan demi dahan
coklat menghitam penuh debu
tersisit tangan-tangan jahil
walau lambat merambat
sesekali melihat ujung
ke sanalah aku akan

jika tiba
aku terlepas dari sirna
menjadi ada di ujung
mengatur dunia yang macet
sesak dengan polusi
lelah dari munafik
terancam mati
dalam iba

ke sanalah aku akan
untuk bergerak

8 Muharram 1429 H/ 17 Januari 2008



Untuk Hati

tak perlu buka hati bagi yang lain
tak pantas dekat yang baru

ketika
harus tetapkan kisah terbaik untuk hati

Cikande, Agustus 2007



Pergi

aku ingin pergi saja, berlari
menjauhi segala yang dekat
ingin sendiri, merenung
terdiam dari penat
pergi
menemui anugerah yang abadi

Bandung, 160507

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Desti Fatin Fauziyyah

http://www.sastra-indonesia.com/
Kepada yang Melupakan

sepertinya kita hanya sebuah kartu
nomor, pesan, huruf-huruf dalam tombol
kita hanya album foto
diam dengan senyuman
yang tak berubah
sampai kartu itu hilang
sampai foto itu kenang

kita belum menjadi kita
dan kau melulu jadi pelupa

Agustus, 2007



Bandung-Cianjur

aku menemuimu di lorong hati yang berguncang
kepul asap dan orang-orang bertuai di ladang

kereta ini membawa kita pada jarak tak berujung
di jendela aku mencintai bayang-bayang sendiri

2008



Tentang Angin

Tak perlu kuudarakan kecemasan
ketika kita menyeberangi negerinegeri lain

kuceritakan padamu tentang angin
yang lebih berkuasa pada musim
membawaku kembali pada satu

September, 2007



Kau yang Air

Jangan beri aku ruang dalam malam untuk menjawab pesan dari
yang lain
Ketika angin menjadi kata-kata rindu yang menari disela-sela pintu

Ketuklah!
Kan kubuka pintu untuk lelahmu

2008

*) Sihir Terakhir, Antologi Puisi Penyair Perempuan ASAS, Penerbit PUstaka puJAngga, 2009.

Puisi-Puisi Aldika Restu Pramuli

http://www.sastra-indonesia.com/
Sauh

Kapalmu pada siapa ‘kan berlabuh?
menabuh rindu di atas sauh,
berkata pada senja yang kian purna.
Nyatanya,
Kapalmu tak mau jua tiba
Tempat dulu menyulam peluh bersama topan yang lahirkan kita,
Tapi kita, kini malam yang menjahit suram paling gulita

kapanpun, entah fajar, entah siang,
Ini labuh hanya buat kau yang bersauh

Tasik, Oktober 2007



Tigapuluh April

Hari ini Tuhan menyuguhiku segelas kemarau
Ketika kerongkongan terbiasa kuyup digenangi hujan
Mengajariku bahwa musim senantiasa bertukar alamat
Mengunjungi satu wajah,
Melangkah kemudian mendengkur di wajah lain

Hari ini Tuhan mengajakku bersulang dengan seteguk kemarau,
Musim yang memaksaku menjatuhkan tangis



Lelah

Apa yang mesti diutarakan bumi pada senja
Ketika detak tinggal sepetak menapak malam?
Apa yang mesti disampaikan tanah pada hujan
Ketika air tengah mengancam bandang?
Apa yang mesti diujarkan sauh pada layar
Ketika suara angin berkabar badai?
Apa yang mesti dikatakan,
Ketika lelah?



Mata

Hujan mengajariku rahasi…

Puisi-Puisi Cut Nanda A.

http://www.sastra-indonesia.com/
Kenang

kita berpasangan
di depan gedung tua
saat hujan menggandeng angin sore-sore
berjatuhan rincik di atas payung kelabu
menikung pelan ke sunyi
kita diam saja
hanya ada jejak nafas yang pudar

Venustus, 2007



Untuk Betara

aku lempari kau jam
kau bukan menghindar:
mengulurkan tangan lalu membalasnya
berlama-lama dengan rindu dulu

kau sakit:
aku berikan opium tinggi
kau jadi melayang
lalu bawa aku dalam dunia 1001 malam

aku pecahkan kelopak mawar
tapi kau susun lagi dengan air surga buana
mengampelas duri
beri wangi dari jentik-jentik dewi bestari

kapan sabarmu habis, Betara?

Venustus, 2007



Di Pinggir Teratai

percakapan di pinggir teratai begitu santai
tergeletak dua sajak dan sebuah buku tentang jejak
bergerak batu tempat kita duduk
memanggut tanda setuju
langit biru bercermin di bajumu, dan kupu ikut berseru-
seru
aku ingat sesuatu tentang dermaga yang dulu
lalu, runtuh satu-satu titik di kolam itik
kerikil menggigil
tercungkil tungkai kaki terpelanting
kita meminggir
terlihat putih mang…

Puisi-Puisi Alfatihatus Sholihatunnisa

http://www.sastra-indonesia.com/
Kisahku Dimulai dari Namamu

Kisahku dimulai dari namamu
Tentang usia yang tak lagi merekam malam
Tentang gerimis yang tak lagi menangis

Selalu jadi semacam rindu yang rapuh
Ketika tak kutemukan kau di tepian hari
Menghilang di balik mesjid
Lalu aku akan menunggumu di aruh waktu yang lain
Mengingatmu lewat angin

Aku tak pernah tahu akan waktu
Tapi kisahku telah dimulai darimu
Pada isyarat yang kau kirim lewat embun

2008



Pulang

Aku temukan kegelisahan yang lain di sisa perjalanan
Di waktu yang tinggal sepotong
Satu persatu kepingan itu semakin jauh dan hilang
Aku bahkan terlalu takut tuk sekadar memejamkan mata

Ketika pada akhirnya aku harus sampai pada tepian itu
Mungkin akan kutemukan kembali robekan-robekan kenangan
Yang tertinggal di simpangan jalan
Kali ini begitu berat melangkah pulang
Kembali pada hari-hari bisu
Di rumah tak berpintu

2008



Perjalanan

Setiap bait adalah larik-larik tentang puisi
Ditulis pada ngalir air ke laut
Dinyanyikan oleh ombak
lalu dimulai cerita tentang p…

Puisi-Puisi Dea Ayu Ragilia

http://www.sastra-indonesia.com/
Catatan Hujan 1

Gerimis mengucap salam pada dedaunan
tiap tetesnya adalah doa pada bunda
teringat sunyi, ketika malam mengajarkan kegelapan pada mataku
aku jatuh pada kenangan
tentang rindu, tawa, dan air mata
seperti matamu yang tak lepas kutatap

2008



Matahari

Menjelang pagi
ada yang tiba-tiba tumbuh
ada yang tiba-tiba luruh
pesannya pada lembah, memasuki celah tanah

2008



Sebuah Pesan Tertinggal di Sepertiga Malam
:bapa

ada yang tak bisa kumaknai ketika malam
tentang sunyi
tekateki
juga rindu yang tak henti
kau datang memanggil hujan
memunguti mimpi di ujung jalan
mengadu nasib pada asap rokok juga rambut putihmu
terkadang, bercakap dengan segelas kopi dan sebuah tayangan sepakbola
meski tak cukup memabukkan
kita samasama bermain kata

ah, lagilagi
sepertiga malam itu tlah memanggil
menungguku bergegas pergi
memasuki langit tuamu yang pucat
kembali pada waktu.

2008



Hujan Mengingatkan Kisah Pelayaran

Hujan mengingatkan kisah pelayaran
membuatku bermimpi tentang pulau jauh
sebuah rumah di …

Puisi-Puisi Pringadi AS

http://oase.kompas.com/
Ilustrasi pemilu

Tentang Merah Warna Kakinya
sejak semula ia tahu: merah warna
kakinya membuat ia ingat darah bapaknya
yang bunuh diri mengiris nadi di tangan kiri
atau ibunya yang kemudian sakit-sakitan
batuk semakin parah sampai berdarah-darah
tak mampu berobat ke dokter di klinik dan rumah sakit
mana pun

(dan) sejak semula ia tahu: merah warna
kakinya telah memerahkan tanah yang sudah
dijejak atau disentuhnya. dibeli sepatu, merah sepatunya
pakai kaus kaki pun merah kaus kakinya. dan di
malam pertama ia baru sadar istrinya turut memerah
saat kakinya dilipat di antara tubuh penuh keringat
(yang sedang bergumul dengan nikmat)

ia lari menjerit, memandangi cermin yang
menampakkan merah matanya dan
merah tubuhnya yang membuatnya lebih menjerit
lalu keluar memandangi langit yang juga memerah
dan udara memerahkan nafasnya membuat ia
memegangi rambutnya yang juga berubah merah

(sejak semula ia (tidak) tahu: merah warna
kakinya tak bisa membuat ia membedakan
warna-warna)



Pe(m)ilu

tak usah pili…

Puisi-Puisi Saut Situmorang

http://sautsitumorang.wordpress.com/
saut kecil bicara dengan tuhan

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata Ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang dimana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang ka…

Sastra-Indonesia.com

Sajak-Sajak Pertiwi