Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2009

Puisi-Puisi Iman Budi Santoso

http://jurnalnasional.com/
Manusia 1

Walau tubuhmu kian lapuk dengan mati
Jiwamu masih kusimpan dalam puisi

(12 Juni 2008 08:24 WIB)



Rumah

Malam kelam telah datang
Langit menyanyikan keheningan
Tidurlah, kekasihku, tidurlah
Biar lelahmu kian merebah

Kau tak perlu menceramahi
Tentang bagaimana mencintai
Kau bahkan tak tahu pasti
Seperti apa mencintai
Kau hanya ingin memiliki!

Kau cepat sekali terlelap

Kau terlalu banyak berharap!

Aku menari sunyi di langit
Sambil mengirimkan kasih
Untuk menyelimuti lelapmu
Biar hadirlah mimpi indahmu

Apa yang aneh dari perpisahan?
Bukankah itu terjadi berulang
dalam setiap kisah kehidupan?
Mengapa air matamu berlinang
seakan hujan tak lagi menggenang?

Sebenarnya aku ingin memelukmu
Seraya kau tidur, seperti dulu
Tapi aku enggan melakukannya
Tubuhku membatu dengan lara

Tak usah dikenang
Walau terasa dalam
Biar dendam melayang
Biar langkah terbebaskan

Ketika kau terbangun esok pagi
Mungkin kau akan mencium wangi melati
Nikmatilah
Itu yang sengaja kutinggalkan

Untuk apa mencaci yang telah mat…

Puisi-Puisi Dian Hartati

http://jurnalnasional.com/
Pelataran Kawah Putih

memasuki wilayahmu
ada hampar pasir jadi gerbang
anakanak angin membangunkan segala ruh
rantingranting membatu
cahaya kehijauan mencipta langit teduh

aku datang membawa raga
dari tangkuban parahu
menyampaikan salam junghuhn
untuk kau yang merajai patuha

eyang jaga satru, aku mendengar laskar yang kau pimpin
suarasuara itu menyadarkan aku
betapa alam begitu ambigu

aku hirup belerang
bau cadas yang siap menyerang setiap ingatan
tanahtanah mengering, batubatu memenjarakan jarak

mengitarimu,
aku mendapati aroma memikat
jalan setapak
hangat udara
juga cakrawala yang tak pernah senja

kau yang menguasai kawahkawah
asapasap pengintai usia
juga suara domba putih, domba lukutan

eyang jaga satru, inikah kerajaanmu
yang setiap hari didatangi peziarah
dari kotakota berlainan

SudutBumi, 2009



Menyulam Sisa Hujan

di teras rumahku ada payung,
sisa hujan sore tadi

kuperhatikan
: masih tersisa jejak kakimu yang basah

sisa kunjungan yang tak usai

SudutBumi, 2009



Jalan Air

aku menelusuri jalan…

Puisi-Puisi Hasan Al Banna

http://jurnalnasional.com/
Gurindam Perpisahan
‘”kepada penyair-penyair perindu

apabila pulang kukata,
pergi kau kira.

kita bertolak dari dermaga yang sama,
dermaga abjad yang terluka.

tatkala beranjak padamu,
berdiam bagiku.

aku kau berarung pada laut yang tiada berbeda,
laut kata-kata.

jikalau datang kaubilang,
hilang kuhidang.

kau aku terombang pada badai yang senama,
badai kalimat yang bergelora.

manakala gaib kausaji,
wujud kuberi.

aku kau terkapar pada karang yang tiada berlainan,
karang bait yang berkenan.

ketika pergi padaku,
tinggal bagimu.

kau aku tenggelam pada kedalaman yang serupa,
kedalaman makna.

apabila rumah kauduga,
kelana kusangka.

kita tersungkur pada palung yang satu,
palung rindu.

Jambi-Medan, 2008



Perkara Tubuh dan Bayang

perkara pertama:
tatkala tubuh dan bayang menolak di belakang
siapa yang pantas berdiri di depan

tergantung cahaya
sepihak mata atau sekutu tengkuk

perkara kedua:
manalah tubuh ada di kanan
kalau cahaya menoleh dari kiri

jangan harap bayang pulang ke kiri
sebelum cahaya pergi ke ka…

Puisi-Puisi Beni Setia

http://jurnalnasional.com/
LEMBANG, HOTEL PANORAMA

telepon di sisi pembaringan melengkung karena
menunggu, tak seperti ranjang dan kasur yang
lempeng karena sepreinya selalu diganti para pelayan

telepon itu ingin berbisik pada dirinya setelah
berhari, berminggu dan berbulan tak ada yang
menelpon dan membisikan kata-kata sayang merindu

senantiasa kesepian di udara dingin (malam) berkabut



PENGENALAN DIRI

kita dijaga oleh syaraf. tulang-tulang
dibungkus kulit yang berlapis daging
tempat ribuan urat mengalirkan darah
–jantung mengisap serta mengempa
seirama dengan paru-paru menapis udara

kita dililit syahwat. dibina instink akar kiara
tumbuh dengan tekad menjulang mengaling
semak-semak dan rumput dari berkah surya
jadi yang senantiasa menyala di tengah semesta
di antara planet dan astroid–reruntuk eksistensi

sesal gerabah pecah dengan jejak embus nafas-Nya



DONGENG SEBELUM SARAPAN

suatu pagi aku semakin mengerti: kenapa
lelaki tua itu sekuat tenaga memampatkan
udara ke dalam selongsong ban becak tuanya

di dingin p…

Puisi-Puisi Fitrah Anugerah

http://oase.kompas.com/
Ledakan Kebencian

Meledak kebencianmu yang tersimpan dalam kaleng cat.
Ah amarahmu semburat pada wajahku
Dan plafon pikiranku terwarnai hitam cacimu

Aku tahu lukamu sedemikian mengubah warna hidup.
Hingga dendam, hingga relakan gelap mencampur,
Putihmu telah mengelupas perih dari kesakitan tak berbalas.

Dan meledak sudah meledak kebencian.
Meninggalkan warna menawan dari senyummu.
Terhapus suci airmata dan doa.

Bekasi nov09



Saat Aku Menuju Padanya

Aku tersisa dalam langit benakmu. Mengintip setiap kabar darinya.
Dengan kemilau bintangmu. Kau lempar mataku.
Menjadi silau tanpa aimata. Aku buta depanmu dan depannya.

Aku adalah setan penghalang jalan menujunya.
Kutahu kau akan korbankan kehormatan padanya.
Bayangku menghalang. Berpuluhan batu terlempar.
Batu dari ludah kejimu.Yang tercurah setelah mendengar namaku terucap.

Ada luka mendarah.
Aku lari terbirit tanpa darah
dan mengintip sebuah kemenangan Dia
Mengorbankanmu.

Bekasi, nov09



Kwetiauw Goreng

Kusajikan sepiring kwetiauw goreng di …

Puisi-Puisi Weni Suryandari

http://oase.kompas.com/
1. Perempuan Ini

Kesepian mengetuk-ngetuk dadaku begitu nyaring
Rupanya ingin merenggut waktu sibukku
Bukan lantaran lelakiku ingin dibelai
Atau anakku minta disusui
Atau setumpuk pekerjaan kantor di meja

Tapi jemu yang akut ikut menggoda kepalaku
Untuk melompat dari dunia kini
Dunia keperempuanan yang menuntut tenaga
Juga hati.
Sedang lelaki hanya punya satu ukuran, bekerja

Manakah yang terbaik, jika perempuan yang bekerja
ingin jeda sebentar saja.
Bukan berarti perempuan tak punya kekuatan
Tapi hanya ingin menghitung sisa waktu untuknya

Desember 2009



2. Perempuan Perkasa

Mencangkul angan terserak
Pada pelepah mati
Di tanah-tanah retak
Melepuh terpanggang matahari

Demi detak waktu bergegas
Perempuan menanam perih
Sambil menelan keringat jerih
Menumpu sabar menanti tunas

Pada tanda-tanda zaman
Saat pria memakai kebaya
Perempuan memanggul beban
Payungi pria tak berdaya

Serupa tuan lindungi hamba sahaya
Lalu dogma ada di mana

Mei , 2009



3. Perempuan Senja

Perempuan senja termangu letih
Menghitung …

Puisi-Puisi Budhi Setyawan

http://oase.kompas.com/
KEMBANG PERBATASAN

kekasih,
masihkah aku tertanam
dan kau rawat di kebun jiwamu?

akulah puisi,
yang berasal dari tapal batas
tumbuh di antara pegunungan impian
dan lembah kenyataan



DEBAR DENYAR

sekuntum puisi yang kuberikan dulu
masihkah segar di taman rindumu?



NGEBUT

wuss….wess…wiss
sejarah melaju dengan kencangnya
kami yang mencoba berjalan agak ke tengah
lagi-lagi tertabrak dan terpental
lagi-lagi menciumi geragal
lalu kapankah jalanan ini diperlebar?
wueisss…..



RUMAH SAJAK

ini rumah beralas sunyi
berdinding mimpi
beratap pelangi

di sini
di tiap detak masa kucumbui kekasihku:
gelinjang desah resah kata-kata menggoda

kusetubuhi ribuan sosok pantun dan syair
beranak pinak
mengalirlah wajah-wajah ranum
sajak-sajak berkecipak



ISTIRAH 1

taburkan puisi-puisi
segar ranum
aneka rupa
beragam rasa
rebahkan indah
gelarkan pasrah
biar menyatu
damai dalam tidur panjangku



PUISIMU PENJAGAMU

penyair cahaya
puisimu setia melulur tiap jengkal langkah
tampakkan sosokmu di tiap penjuru
seperkasa rindu
bahkan saat kau tela…