Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2009

Puisi-Puisi Eimond Esya

http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Soda

Tentang mereka yang terjepit bagai senja di antara siang mumi
dan malam mayat, bagai batas keabadian teror yang sesekali
memang bahagia
Itulah bunker alam tempat kau bisa mendengar raung kultikula
pertanda beberapa fosil tengah diserang uban dan gatal
Sedang sesungguhnya kau tak pernah mati meski sesekali

memang sedih

Pada perang kasih yang berulang-ulang dikumandangkan
Seterang suara sepanjang gema aku peringatkan,
Bahwa gema tak pernah ada karena cinta tak berdinding
dan berdiri di atas bumi yang sesekali, coba kau pikirkan:
memang piring.
Karena itulah jiwamu yang berjalan sejauh batas elips tertentu

sementara
yang kau perduli dan nikmati masih ciuman buntu

Tepatnya,
Betapa sempitnya ruang hampa
Keabadian menyewa energi seperti kasih sayang membayar tunai
hutang tak terbayar tubuh pada ruh yang selalu mengajarkan
hidung mencium makna wangi-wangian,
telinga mengukur tikungan, dan
leher agar tetap longgar meski yang …

Puisi-Puisi Yuswan Taufiq

http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/mbahYuswan
“sendang ngiang”

Kukata ceruk-ceruk menggelandang!

Sesayup sengau yang telentang
Setajam buaian yang menggantang
Landai jua ruas-ruas itu lantang
. . . menunjuk wewangi ilalang

Terserak dirimu telah menguap?

Kiniku segera pulang
Pada suluk periuk telah mengusap
Hingga tanak dan tinggal menunggang
Pada jarak menua telah lama bersedekap

Hingga kiniku memamah diang
Bukan lagi legam seranjang karang

(28 April 2009)



“angin belumlah usai”

Lebam membiru kekaca berangsur buram
Tergulung pasungan selimut hangat mengeram
Tersangka dalam pelarian ombak menuju karam

Hinggakah ajal telah menemu puncak terengah
. . . pada rerimbun nyiur pantai bersulur jengah?

Lambaiku teperdaya selarik bimbang telah lama terperam
Menuntun ninabobo segenggam dian yang muram
Dan terseok di antara riuh angin malam yang gemas
. . . berebut menjambak ke laut lepas

Hingga secawan kuarung lagi kayuhan darah
Membentang seluasmu mengukir ziarah terdedah

(3 mei 2009, surabaya)



“keronta…

Puisi-Puisi Heri Latief

http://oase.kompas.com/
DEJA VU

rasa manis pahitnya
pengalaman
bercumbu dalam konflik
kepentingan
seperti senyum deja vu
merayumu?

Amsterdam, 10/05/2009



Refleksi Sejarahmu

puluhan tahun yang lalu
di radio pemimpin besar berpidato
tolak bantuan asing yang menjajah!

begitu kenyataan jaman dulu
sipatnya tegas dan tekadnya keras
anti nekolim dan makelarnya

di masa itu rakyat memuja kemandirian
gotongroyong membangun kekuatan
mana lagi sekarang sisa kesadaran?

keberhasilan minjam hutang dibanggakan
upah buruh dan jaminan sosial diminimalkan
yang kaya makin genit memamerkan harta
yang miskin boleh sirik tapi jangan ngamuk?

oya?!

puluhan tahun tertindas sepatu lars
sepanjang jalan kenangan berdarah
siapa mampu nolak refleksi sejarah?

Amsterdam, 06/05/2009



Sajak Kowloon Park

baca sajak di kowloon park
syair buruh migran teriak
ayo bela persamaan hak

merantau jauh derita kaum buruh
primadona devisa indonesia
di kampungnya diperas calo ganas

negara bisanya nikmati uang pajak
buruh migran tetap termajinalkan
dicari pemimpin rakyat …

Puisi-Puisi Liza Wahyuninto

http://celaledinwahyu.blogspot.com/
Balada Cinta

Karena kita tak tahu esok kan tetasp ada mentari
Pada setiap waktu berilah arti
Tidak ada kepastian dalam mimpi
Tapi selalu ada harap dalam kecewa yang sepi

Cinta adalah doa dan pengaharapan yang berujung kecewa
berilah makna pada setiap kata
Kelak ia kan menjelma sumpah

Mawar tak pernah terlahir tanpa duri
Setiap ramai slalu kan berujung sepi
Keindahan teragung adalah dapat berbagi
Dan sikpa paling dicintai adalah dapat mengabdi

Malang, 27-28 April 2008



Kecantikan Itu

Alangkah eloknya bila tak hanya paras yang cantik
Tapi jua bijak dalam kata
Anggun dalam langkah
Baik dalam pekerti

Bukan kecantikan yang menawan sungguh
Serupa Rafflesia yang indah
Tak nak didekati
Hanya dipandangi
Tengoklah pula pada mawar
Berapa hidung yang mengorbankan diri
Meski duri jadi lawan sejati

Akan tiba saatnya
Bukan mata,
Bukan telinga
Bukan pula lidah
Yang memilih
Tapi hati

Kecantikan, keanggunan, keindahan
Semuanya
Ada di sini
Pada nurani

Malang, 2009

Puisi-Puisi Samsudin Adlawi

http://www.sastra-indonesia.com/
Pintu

ketuk pintu

hati ini berlumut
dosa kami jumud

buka pintu

hati ini rindu
cahaya jatuh

buka pintu

setetes air
ia butuh

di muka yang sama
jatuh dalam irama

seperti hunjam hujan
mata batu berlubang

the sunrise of java, 26062009



Bunga Taman

matahari
musim hujan
silih ganti kau undang
cumbui bunga di taman

dalam belainya kuncup bunga rekah
nyenyak di kelopaknya kami tak

lingkar merah membingkai bibirnya
nyaman di mayangsarinya kami tak

tanamlah bunga
yang rekahnya rela

tirah kami dilindung
dari sengat kumbang

the sunrise of java, 25062009



Menjaring Embun

di mulut malam bejana kami menganga
menjaring guguran embun diayak angin
bejana muntah di kaki anak matahari
secanting kami gunakan menyuci hati
secanting lagi untuk merendam mantra
selebihnya kami taruh dalam kendi yang
mulutnya memanggil para musafir yang
hilang arah melayarkan haus dalam jiwa

the sunrise of java, 22062009



Memilih Arah

akhirnya sampai juga
di pembuangan lelah

badan rebah mata melangkah
menjumput kelebat tandatanda

arah menuju b…

Puisi-Puisi Maghie Oktavia*

http://www.kompas.com/
Tiga Keping Keindahan

Menelusuri terowong hati
Kusapa kau,dia dan dirinya
Kau
Kelebat meteor yang lintasi jiwa
Menggurat ukiran palung hati terdalam
Terdiam anggun
Lalu sontak menyeruak
Bangkitkan ruh semara yang terlelap
Dia
Kerlip susastra yang taburi malamku
Kadang hilang
Tersaput mendung yang betah dengan kelam
Lalu kembali bercengkerama dalam senyap
Temani jelaga sunyiku
Dirinya
Baskara yang bujuk pagiku untuk tersenyum
Padanya hujan asinpun kerontang
Ia satukan sari pati kasih tersisa
Lalu beranjak pongah
Tapakkan fatamorgana
Aku
Masihlah milikku
yang tak ingin tinggalkan basat pada sesak
Karena kau,dia dan dirinya
Siluet terindah di jeda masa



Mata Hati yang Terlambat Terjaga

Kupungut siluet indah yang teronggok di sudut meja
Debu bingkai yang berjatuhan retaskan rangkaian frase
yang terpekur pada kenang
tahukah kau
awanku telah lelah dendangkan elegi pada kelam
dan selembar kasa kusam masih mendekap keping hati yang basah memerah
Menahun
Palawa coba gerogoti hibatku yang berkelana di atas …

Puisi-Puisi Esha Tegar Putra

http://www.korantempo.com/
UBUR-UBUR MABUK

kukira kau ubur-ubur mabuk di ujung teluk
berpura ngamuk dan membenturkan kulit lembut
pada mata kail si pemancing yang tangannya buntung
sebelah–meski sebenarnya kau cuma berusaha
mengajarkan, bahwa persuaan antara kulit lembut dan
runcing mata kail adalah permainan saling menggelitik

kau ubur-ubur mabuk yang salah sangka
di lapisan dalam kulit lembutmu tersimpan daging sintal
idaman para penguasa laut. kau ubur-ubur suntuk yang
kehilangan akal bagaimana cara menumbuhkan sepasang
sayap burung di punggung lunakmu
agar kau bisa terbang, lepas dan terbebas
dari aroma garam dan ngilu percik pecahan karang

dari sebuah jarak, entah itu jauh atau dekat, dengan lendir
di tubuh dan mata yang menetaskan pecahan garam
kau memperhatikannya dengan penuh maksud

si pemancing yang tangganya buntung sebelah itu
telah bermalam lamanya menunggu agar kulitmu
menggelipat pada mata kailnya. di gelembung riak teluk
di isyarat laut yang kesekian kali memberi pertanda

sambil merapal bebe…

Puisi-Puisi Acep Syahril

http://www.kompas.com/
negeri yatim
:wiji thukul wijaya

di rumahmu yang sumpek itu tanpa basa basi
kita saling mentertawakan diri sendiri
kau tertawa melihat telapak kakiku yang lebar
aku juga tertawa melihat mata dan gigimu
yang maju nanar leak karib yang mempertemukan
kita cuma tertawa lalu kau perkenalkan sipon
istrimu padaku aku serius menyambut
uluran tangannya tanpa tawa karena aku tau
kau terus mengawasi hatiku yang menggoda
setelah itu kita mulai cerita dan tak banyak
bicara soal sastra tapi sedikit menyinggung
tentang negara kau bilang hidup di indonesia
seperti bukan hidup di negara kita lalu
ku bilang kalau saat ini kita hidup
di negeri yatim yang sudah lama di tinggal
mati bapak sedang ibu pergi menjadi angin
kau cuma mengangguk-angguk tapi dari dialekmu
yang gagap dan cadel itu kau seolah memeram
amarah kau bilang ibu kita yang angin itu
telah di kawin paksa lelaki kejam dan tiran
dia sering kali mengirim tentara polisi
dan mata-matanya untuk menghabisimu
serta teman-teman kita
mereka tidak lebih …

Puisi-Puisi Yuswan Taufiq

http://www.sastra-indonesia.com/
http://www.facebook.com/mbahYuswan
“mendulang sesyair”

Jika merajang sesyair puisi pertanyakan berjawaban
Semestinya ditengok langkah sehidup menggenggam bekalan
Jika melerai sesyair bersebrangan pertanyakan searah tujuan
Semestinya ditengok latar sehidup mengurai riak adaban

Tangan jangkau pikir mengulah hati merekah?
Atau akal menggigil rasa melengah pedang pun menjengah?
Adakah tertanya lubuk menyirat menggaduh kecamuk memucuk?
Atau hanya searah ingin dimaksud merujuk peluk semabuk?

Air pun memancar melenggok semua arah melantun alam
Menggenggam bumi memetak tanah menebar semi membuncah polah
Pun membecek hati meluap samudera mengamuk sepanjang kelam
Masih dipersoalkan dulangan sajak kepakan kalap angin menggubah?

Jika Dia hanya pentas cenderung terasi dan mengakuNya
Di mana onggokan sampah romantisme gila mencari pemilikNya!
. . .

Semestinya lagi direlakan tangan sesyair menjulur menggerayang alam!

jul09′08, sby



“sudut tua Surabaya kini”

Potret tua itu
Hingga gambaranmu…

Puisi-Puisi Dharmadi

http://www.kompas.com/
KATA

ia sadar benar tentang sajaknya
yang belum juga berpuisi

diketuknya pintu demi pintu waktu
dicarinya kata yang selalu merayu
dalam angannya buat sajaknya nanti

khayalnya selalu buyar
ditumbuk pikuk dunia

rindunya tak pernah mati

dengan raga merana rasa terlunta
sambil bersenandung lagu hati dicarinya
kata yang selalu merayu angannya

dicatatnya segala;

yang dirasa
yang dibaca
yang diraba

kata tak juga mewujud puisi
dalam sajaknya

oh, angkasa raya bumi yang
fana, di mana kau sembunyikan
kataNya?

dibersihkan gairah sukmanya dari
limbah hari; didakinya bukit demi
bukit malam, ditelentangkan ruh
ketika terdaki puncaknya;

di batas sadar serasa mimpi
tiba-tiba di relung dadanya tumbuh
satu kata, ”Gusti”.

2008



IBU YANG KITAB
IBU YANG ZAT

-1-
dengan mata angan dibacanya dari
paragraf ke paragraf ibunya yang
kitab babad

tak sekata sekalimat terlewat

telah dihabiskan beribu pagina dan
bab tak tamat-tamat

sesaat dihelanya nafas;

“ibu, engkau kitab babad penuh misteri dan
tafsir riwayat; seakan kau bawa aku me…

Puisi-Puisi Denny Mizhar

http://www.sastra-indonesia.com/
SISA PERTANYAAN AKAN KENANGAN

Bulan jingga setengah rentah
menyapa degub hati gelisa
hanyut dalam kesepian malam purna

Berserat-serat tarian dedaunan
memuja kelam
pada kejinggan dalam keterjagaan

Gegunungan memandang,
menunduk - berderet

Baris-baris lampu kota
hiasan mata memandang
Jauh lanskap petunjuk malam
pesona perbukitan, dimana kota menjadi kenangan

Seperti kemarin
dari jauh penuh harap
kau memandang

Kini ku dapati
kau menyelinap dibalik semak-semak, entah kemana?

harapan tertinggal sia
meranggas seperti jati di musim kemarau

kau pertanyakan perihal cinta, kepadaku?
mengejar
menyergap
terdesak
tertinggal keyakinan
tak mampu berkata-kata

Rembulan remang bercampur bintang
penghias malam serta petunjuk nelayan

Aku terperangkap dalam lembah-lembah, malam pekat
tak sadar lalu hilang,
bagai ashabul kaffi
mata terbuka dengan kebaruan

(Dimana ku temui percakapan panjang para filosof
tentang kebenaran cinta: sehabis aku tertidur didalamnya).

Malang, November 2008



MENGENALMU
;nt

Biarkan aku m…

Puisi-Puisi Kika Syafii

http://berbagipuisi.blogspot.com/
Kamu dan Aku

Malam ini melarikan diri
hanya kamu dan aku
mencari kedamaian
jauh melewati samudera

Kekasih, betapa kamu hidup
dalam nafasku…

Depok, 2009



Dialog

Dalam rintik hujan aku bertanya
kamu takut?
“tidak!” katanya
“kenapa menangis?” tanyaku
“aku sedih melihatmu kekeringan” sambungnya
“apakah kamu jatuh cinta padaku?” tanyaku
“tidak ada waktu menjawab itu…”
kamu menghindar
“aku jatuh cinta padamu….” bisikku lirih

Pada malam, pagi, siang dan sore
dingin, panas, mendung serta hujan
aku jatuh cinta
Ya…
betapa banyak cinta merenda hari

Depok, 2007



Gumam

Setiaku pada tulang putih
menumpuk, memasung perih
cintaku pada merah darah
menggigit, meresap nanah

Indonesia
kapan engkau MERDEKA!



Tak lagi Air

Sembari aku tangkup tangan
aku sebut namamu
mungkin kemarin adalah terakhir
disertai kaku kita bertemu

Semoga kamu selalu baik
sampai saat kita bertemu
saat itulah kita tak lagi air
namun juga udara, tanah dan api

Bandara Soekarno Hatta
2009.



Iris

Dulu..
setengah bergumam kamu bilang takut
takut bila ha…

Puisi-Puisi Eimond Esya

http://www.sastra-indonesia.com
http://www.facebook.com/people/Eimond-Esya/1345467895
Lotus

(I) Seperti pelacur perawan. Dikepalamu Mahkota anyaman
ranting dan daun-daun zaitun melingkar. Di belakangmu
seekor Phoenix membentangkan sayap. Dua bayi bertubuh
monyet. Menggenggam trisula. Menjagamu tidurmu.

Demikian aku melihatnya. Ratusan tahun yang lalu. Ketika
kata-kata dan kebijaksanaan lebih sedikit dari jumlah telur naga.
Kau mengkudeta syair seorang penujum uzur dan kemudian
dilamar Midas. Memilih nurbuat yang bisa disentuh jadi emas.

Tapi kau memilih nasibmu sendiri. Sebuah telaga payau.
Yang paling hijau pekat. Tempat klorofil luntur. Dari jutaan
Lumut yang gugur. Disana kuncup-kuncup baru jantung bertunas

Tanpa harus kelaparan. Atau hilang ingatan. Saat sebuah kail
dicelupkan. Kau selalu timbul. Keluar dari kekudusan.
Dan sebutir kebijaksanaan kau lesatkan dari kedalaman

(II) Sebuah peringatan. Seperti ubun-ubun seekor paus.
Membersinkan bubuk kristal garam. Terlontar seperti peluru
sonar. Cambuk a…

Puisi-Puisi D. Zawawi Imron

http://www.jawapos.com/
SELAMAT JALAN, SANG PUJANGGA!
In Memoriam WS Rendra

I
Aku seakan gagap menafsirkan kehilangan ini,
Daun-daun mengirimkan talkin
Barangkali bukan talkin
Tapi salam yang bercampur airmata
-

Kata-katamu telah menjadi bunga
Bunga itu adalah puisi yang tertulis di langit beludru
yang mengajarkan untuk menjadi manusia
agar sanggup memaknai rumput
dan ujung rambutku sendiri
-

II
Selamat jalan, Empu yang bermukim di angin!
Karena kau punya kata
yang menampung benih sejarah, perihnya darah
Kau tersenyum melihat pintu penjara
Karena bagimu ”Bencana dan keberuntungan sama saja”
-

Aku tidak menyaksikan saat kau melepas nyawa
Tapi kau pasti tersenyum, pasti tersenyum
untuk orang-orang tercinta
-

Karena cintamu tak pernah berdusta
Karena tanah air sudah jadi kekasih
Senyummu akan hidup bersama ricik air sungai
Bersama mega yang menyiapkan hujan
-

Selamat jalan, Mas Willy!
Cintamu kepada orang yang terluka
Akan segera berwujud mutiara

Batang Batang 7 Agustus 2009



BERGURU KEPADA RENDRA

Berguru kepada Rendra, ala…

Puisi-Puisi Halimi Zuhdy

http://www.facebook.com/profile.php?id=1508880804&ref=fs
Untukmu

kusulam sajak ini, untukmu
hai! pecandu rindu dari kalbu
yang tergugah.

kurajut sajak ini, untukmu
hai! zeonis cinta yang harap debar kedamaian.
di sana, terlihat konspirasi-konspirasi
kemunafikan, keangkuhan, kedholiman, ketidak pastian

kurangkai sajak ini, untukmu
hai! Penyamun kekuasaan, yang tak lelah
melahap kemurkaan. Opera-opera berhenti
di penghujung ketidakjelasan. Sarung-sarung
melorot, jilbab-jilbab tergantung di pojok-pojok
kota, kesucian robek mengerang.

kutitipkan sajak ini, padamu
agar tak beku, punah, hancur, lusuh,
ditelan waktu.
bacalah! dengan riak-riak
rasa. dengan tetesan linangan mata.
tapi jangan sampai terbakar
dilahap bara.

Malang, 17 April 2005



Sajakku Tak Bermakna

lembaran putih
tinta hitam
melebur menjadi kata
kata yang tak bermakna
kau baca dengan larik mesra
namun kata itu
tetap tak bermakna
kutambah frasa, klausa, kalimat sehingga menjadi alinea
kau bilang masih tak bermakna
kata memang kadang tak mewakili cinta yang s…

Puisi-Puisi Kedung Darma Romansha

http://www.jawapos.com/
Surat Buat Bunda

Masih tentangmu, bun
Di Agustus yang murung ini
Sejarah adalah hal asing
Yang gampang berbohong
Dan mudah dilupakan.
-

Di sini
Kita tak lagi bisa membedakan
Yang mana barisan dan yang mana antrian.
Upacara tak lebih dari kewajiban beribadah
Dalam agama.
Berpura-pura hormat dan sedih
Sesudah itu dilupakan
Dan menikam satu sama lain.
Masih tentangmu, bun
Kita yang bermula dari kata
Kata yang lahir karena rindu
Rindu yang risau karena dirampas orang lain.
-

Tak ada yang diwariskan atas kelahiran
Kecuali makam bagi masa laluku
Dimana aku menimbun kemiskinan dan kesakitan
Anak-anakku.
-

Aku dilahirkan untuk dilupakan
Karena sejarah tak pernah mengajariku
Bertutur yang benar.
Sudah berapa nyawa kupanggul
Untuk menebus hutang-hutangku.
Sudah berapa doa yang mereka kirimkan
Tapi selalu gagal dipanjatkan.
Sebab Tuhan
Yang biasa mereka ucapkan
Tak juga ditemukan.
Lantas apa yang mereka dengungkan
Ketika malam berjaga-jaga di hati mereka?
-

Bun, hidup tak lebih dari serangkaian usia
Sudah itu k…

Puisi-Puisi Tjahjono Widarmanto

http://www.jawapos.com/
TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (1)

di kolam mana tempat aku bisa mencelupkan kepala, Tuhan !
tubuhku sarat dengan bangkai, nanah, dan air mata
belatung. anyir. hitam.
kefanaan melayang-layang.
entah sampai mana
wajah mengabut makin dekat ke sudut. anyirku mengalir
mirip akar sulur menjulur di sepanjang tembok penuh lumut
merayap
meleleh
berleleran
tuba tubuhku. racun bagi
segala ikan
di kolam mana, Tuhan, pada beningnya bisa kucelup kepala
senja telah larut
hanyut aku bersama fanaku

Ngawi-Surabaya, 2009



TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (2)

batu-batu mengeram di bawah reruntuhan hatiku
batu-batu ini, resahku,
kengerian yang mengeram bagai harimau dengan taring hiu
menggerogoti akar batang-batang air dalam jiwa
beribu unggas pun berlarian
membawa cinta dan seluruh senyum
jasadku penuh ulat
zakarku sarang belatung
tunjukkan kolamMu. akan kucelup tubuh anyir
namun, tinggal sesobek doa
yang tak dipedulikan musim hujan.

2009



TUNJUKKAN KOLAM ITU, TUHAN (3)

sampai dasar kugali kolam
mata airMu
memburu tetes embu…