Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2009

Puisi-Puisi Mustofa W Hasyim

http://sastrakarta.multiply.com/
PEMAKAMAN WARTAWAN
- Udin

Berita
dikafani malam

Liang lahat
menunggu bunga

Yang terbunuh langkahnya
diusung doa

Bocah
tergenang pertanyaan

"Ibu, kapan Bapak selesai
berwawancara dengan Tuhan?"

Makam
jadi lautan gelombang

"Engkau tidak mati
karena berani bersaksi."

Daun bambu gugur
mencium rumput kering

"Arus bisa berbalik
menabrak musm."

Lihatlah
keajaiban waktu
Kematian tidak membusukkan
justru menyuburkan kata

1996



JUSTICE NOT FOR ALL

Cermin
berwajah murung

Hakim gemetar
di seberang meja

Dasi
lapar

Rokok klembak
patah di tengah sidang

Bagai air terjun
yang atas menimpa yang bawah

Lantai tempat berpijak
berlubang seluruhnya

"Rumput
jangan menjangkau langit!"

"Terima kasih."

1995



MENUJU KOTA BUNTU

Asap
setajam pisau

Mengelupas
kulit kota

Debu berjanji
benghiburmu

Tiang-tiang
melawan bendera

Lagu berkeping
melukai bunga

Anak sekolah
mendorong langit ke jurang

1995



MENYEBERANG GELOMBANG
Bima

Setelah malam
siang menjadi pantai

Setelah siang
malam menjadi gelombang

Mem…

Puisi-Puisi Fauzi Absal

http://sastrakarta.multiply.com/
SESOBEK ANGIN

sesobek angin mula-mula
mengembara di benua-benua di agama-agama:
sesobek angin!
hanya angin sesobek - "cukup" - katanya
menyayangi namaku. sesobek angin
adalah berita adam terguling

sesobek angin bercengkerama di pelabuhan
berjodoh dengan denyutku
sesobek angin merayakan pelaminan
membongkar kucir lilin menetapkan darah:

sesobek angin membubuhkan berkah kunang-kunang
sambungan nasib moyangku!

sesobek angin memuat kerlap-kerlip ikan
sesobek angin adalah makna
atau taman makna
adalah bahasa arwah.
sesobek angin menemukan mata
menemukan telinga menemukan mulut
memperoleh leher memperoleh kemaluan
memperoleh kegairahan dalam hidupku

sesobek angin adalah berita persembahan
adalah berita mengenai kincir angin di surga



MATA ZAMAN

Mataku ini makin menyala
sebelah jadi bajingan sebelah jadi pelacur
telah semakin sempurna menyamarkan kebenaran
baik dan buruk telah sama-sama percaya diri
pada suatu pesta yang menenung hati nurani

mataku kini adalah sepasang mempelai y…

Puisi-Puisi Hamdy Salad

http://sastrakarta.multiply.com/
SURAT-SURAT UNTUK BERKACA

Dan dunia telah dibenamkan para raksasa
ke dasar benua. Laut berlumpur hitam
menghisap cahaya dari cincin matahari
mengaduk luka dan air garam
dalam bencana yang tak pernah selesai

Doa dan dupa, mantra dan sesaji
tak juga sampai ke langit tinggi
menggumpal di udara kelam
bagai awan yang gagal menjadi hujan
tubuh dan jiwa bersembunyi dalam keluh
berpisah diri dengan semesta paling inti

113 surat dalam kitab keabadian
menuliskan martabat cinta
bagi manusia yang berkaca. Bacalah! Bacalah!

2001



SENJA DI ATAS MENARA

Dan bergeraklah senja. Fasabbih, fasabbih!
menyeberangi segala sungai yang mendidih

Matahari berambut pirang, mengirim usia di perbatasan
tangan-tangan saling berebut bagai puncak menara
dalam remang, menjulurkan rasa takut
di antara gema adzan, ayat suci dan panggilan maut
yang bergulung menuju pelangi di langit baka

Maka badai tak kunjung reda untuk berdoa
dan kembali ke dalam mimpi yang lebih purba

Kemarilah wahai pedang khalifah. Tebas leherk…

Puisi-Puisi Fati Soewandi

http://www.kompas.com/
MEMBELAH MALAM
: Kuta

nelayan itu melupakan lautnya
membelah malam yang menjadikan sauhnya tawanan
ombak dan pasir menciumi wajahnya
bangkai hujan

aku melihat petir dan kilat
di sepotong siluetnya
mendengus panjang menunggui cakrawala bengkah
hingga mengguyurkan huruf-huruf langit
agar bisa ia menyumpahi kenakalan cuaca
yang memulas kisahkakinya dengan dingin
jadi pijakan paling renta

cericit anak-anak camar merestui permainannya
membelah malam dan cahaya bulan
dengan kesepian kenangan
bagi rasa sakit baru yang diperamnya diam-diam
kelak, waktu memutarku hingga mengasap di sini,
pada karang ini
yang dipahatnya jadi wajahku pagi
mataku rasi

Bali 2004



KAU, ENTAH

kau lepas tanganmu
tak mengajariku telanjang menyentuh wujud keibuanku
dengan patahan-patahan oda perempuan
jejak hati yang menegas kaubiarkan menistakan nyalangnya pengabdian nurani
sendiri
kauranggasi setiap benih ruh yang baru kutanam di rahim langit
yang asing dan dingin. kodrat apa kuwarisi dari para pengagum kegagahan wujudmu sed…

Puisi-Puisi Slamet Widodo

http://www.kompas.com/
Puisi seorang ndoro untuk babunya

Minah…
kamu sudah lima tahun nderek ndoromu
sudah saya anggap jadi keluarga
Pada hari raya nanti
Kamu saya belikan kalung emas 5 gram
Sebagai penghargaan atas loyalitas pengabdianmu
Tapi saya minta kamu tidak pulang
Nanti saya kasih tambahan hadiah satu kali gaji"
Minah tidak memberi jawaban
Tapi raut mukanya jelas menyatakan penolakan

Para babu ketika lebaran
Susah ditahan untuk pulang
Susah diajak kompromi untuk berbincang
Tak mau diiming imingi uang
Menahan pembantu pulang
Seperti menahan gelombang pasang
Percuma ........ia pasti pulang kandang

Tanpa babu kita memang kelimpungan
Tanpa babu para ndoro kelihangan keseimbangan
Akhirnya para ndoro mbaboni
Masak seterika dan cuci sendiri
rasanya kesel sebel capek dan pusing
Anak-anak, suami dan isteri kekompakannya diuji
Akhirnya berantem saling iri

Tiga hari sebelum lebaran
Minah nekat pamit pulang
Rambut disasak model lohan
Kacamata cengdem warna hiitam
Pakaian nya merah menyala agak kusam
Hp barunya dik…

Puisi-Puisi Ni Putu Destriani Devi

http://www.kompas.com/
Tata nini pon-pon:
Wibi

Tata nini pon-pon,
Bawakan kakak
kuda kayu yang bergoyang
di masa kanak dulu
Jadikan kakak boneka kelinci
yang kau peluk di tepi senyum mungilmu

Tata nini pon-pon,
Jangan nyanyikan cicak-cicak di dinding lagi
Jangan menirukan suara cicak lagi

Bergoyanglah lagu tata nini pon-pon untuk kakak
Lagu yang kakak nyanyikan untukmu

Tata nini pon-pon,
Tunjukkan tari perut yang membuat semua mata tertawa

Di badanmu yang gendut,
Ada beribu permen karamel yang tertinggal
Di ponimu,
Tersembunyi balon warna-warni serupa pelangi
Di tawamu yang berlarian
Ada masa riang ayah dan ibu yang hilang



UNTUK SI MATA SIPIT

Di bawah selimut bibir merah
tersembunyi surat si mata sipit
yang terjepit misteri dirambutnya

Geraknya di ayuni senyum mungil
entah kemana
bahkan tiap cermin melukiskan haru
dan terselip di langit biru
untuk lelaki yang entah untuk siapa?

sejak hujan menengadahkan kagumnya
angin-angin tak lagi menangis
payung-payung tak lagi menari
semua sajak jadi musim semi
di senja yang sendir…

Puisi-Puisi Marwanto

http://sastrakarta.multiply.com/
Sendiri di Malioboro

Malioboro di waktu malam
menyeretku berkenalan
dengan materi dengan kepalsuan
Sementara teman-teman di sampingku tertidur
keenakan – mengunyah permen karet dari pedagang
kaki lima, yang menawarkan bersama senjata
Lampu-lampu jalan kutatap menimbulkan tanya
tanya dan selaksa tanya

Namun kapan kutemukan jawaban
di tengah-tengah orang yang takluk pada benda
Kulanjutkan pertanyaanku, pada lampu ukir, kantor
pos besar, monument Serangan Umum, gedung Bank Indonesia
:Sejarah bagai keset menyambut di muka pintu
Selanjutnya di dalam ruangan, pesta pora mencincang saku

Yogyakarta, 1992



Langgam dari Temanggung
-untuk Nur Hidayat

Dingin dan keramaian
membaur di cemara-cemara kota
Dan kita yang bertiga
semestinya bertukar nyanyian

Lihatlah penjual martabak itu
masih setiap membanting-banting gandum
Di sela-sela orang berduyun
Kusempat menggores sajak baru

Saat besok lampu-lampu kota kutinggalkan
biarlah nyanyian itu selalu tersimpan di hati
sampai rambut kita beruban

Temang…

Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

http://sastrakarta.multiply.com/
PUISI PAGI SEORANG PENGANGGUR

Tuhanku
hari ini tak ada yang tercatat dalam buku
tak ada ruang terbaik buat menunggu
tak pernah lagi hari-hari kuhitung
batu-batu lelap menatap
lewat jendela yang terbuka
terdengarlah senantiasa teriakan-teriakan
gemuruh roda-roda kehidupan
yang digerakkan tangan-tangan
kembali aku pun mengaca pada diri-sendiri
ketika Kau tetap bernama Sunyi
ketika segalanya hadir: puisi.

Tuhanku
hari ini untuk pertama kali
kuucapkan pada-Mu: Selamat Pagi
sebab, ketika hari bulan terus juga memberi
senantiasa aku pun merasa
hidup memang bukan milikku pasti



SEPOTONG WAJAH

Dari atap dan jalan-jalan kota
membidik masa lampau
indahnya semua yang indah
bertindak aku tak hendak dipandang salah
meski kasar mengusir
ditinjau tetap berdesir apalah penyair
di hulu batinnya, di hilir mata segan menerima
Seorang bertahan terhadap perlambang cendekia
Seorang bertahan rahasia mimpinya

Jangan kasihani kami, di mana-mana
biarkan tegak, sendiri
hingga tenggelam seluruhnya
kembali dahulu …

Puisi-Puisi Mutia Sukma

http://sastrakarta.multiply.com/
Di Borobudur

aku membaca jejak sidartha
di antara pekat hitam batu-batu
langit mengirim tangkaitangkainya
mengering di tubuh kami
yang basah
riuh perjalanan pun menjadi
relief baru yang memahat
cadas tua penangkas waktu
berlompatan mengirim kisahkisah lalu
yang diceritakan padaku
dikurung candi tanggal
kutemukan dirimu tetap di situ
;sidartha
memetik daundaun doa
yang tangkainya telah jatuh
di tubuhmu

untukku padamu
yang tetap di situ

Borobudur, 2007



Tentang Tubuh

Dan rambutku yang bergelombang
membuatmu berenang
menebus riuh asin dan amisnya lautan
mengganti manis juga bening warnawarna
Dan tubuhku yang telanjang
membuatmu berenang
menyerap segala bacin dari
sungai kecil punuk susuku
Dan mataku yang tenang
membuatmu berenang
meminum lubuk hingga mabuk
berdendang nafasmu di telingaku
Dan rambutku
Dan tubuhku
Dan mataku
yang membuatmu terus berenang
menghanyutkan pesan mama
di awal datang bulan
Dan ah…

2007



Di Kaki Merapi
bersama koto

Di kaki merapi
Aku tibatiba datang
Ke rumahmu; Gendhot
Jalan lici…

Puisi-Puisi Kuswaidi Syafi’ie

http://sastrakarta.multiply.com/
TARIAN DI BUKIT CINTA 1

Untuk sementara
Aku menyebutmu Efa
Meski aku tahu
Itu bukan namamu

Bukan apa-apa Adik
Di luar amat banyak cincong dan hardik
Hingga angin seperti tak bertuan
Dan hatiku jadi kecut blingsatan

Kelak setelah cuaca reda
Kusebut namamu terus terang
Dan sehabis mengunyah senja
Kita bertekad menziarahi bintang

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 2

Dari dua jendela yang berjauhan
Akhirnya mata kita bertemu jua
Kutahu jiwamu masih rawan
Karena itu kau jadi terkesima

Di antara denyar hidup yang semrawut
Kusimak kau sebagai ikhwal yang azali
Dan di antara barisan anai-anai dan semut
Biarlah kukhalwatkan namamu beribu kali

Sungai Gajahwong, 2003



TARIAN DI BUKIT CINTA 3

Di pantai mana kita akan menepi Sayang
Setelah hari-hari dipukul gebalau lindu?
Kuharap kau tak akan gamang
Meski mataangin menjulurkan sembilu

Sering malam hari aku terbangun
Oleh bayanganmu yang datang mendadak
Lalu kutempuh sisa malam dengan terngungun
Dan sukmaku serasa meledak-ledak

Sungai Gajah…

Puisi-Puisi Ulfatin Ch

http://sastrakarta.multiply.com/
CATATAN LUKA

Aku sudah lupa
sejak kapan kemarau
berjalan bagai macan
mengaum melelehkan api
di atas bumi.
Panas yang diperpanjang
mengelupaskan kerak bumi
hingga jantung
terbakar hutanku.
Belum juga gempa
lumpur panas
ular manusia
bagai mata api
yang tak padam
gunung berapi pun menunggu
entah. Sejak kapan
dan sampai kapan

2006



TAK SEORANG PUN, DAN KAU

Tak seorang pun menyapa
tak seorang pun, dan kau
Sang penyair, Sang musyafir

Di sudut-sudut kota membungkam
tak seorang pun
Ketika angin berkelebat
dan bertatap atau tersenyum
tanda kawan
tak seorang pun, dan kau
Karena aku memang bukan
harapan

Hingga selepas jam
dan terdiam

2005



AKU BERNYANYI MAWAR

Seperti kelopak mawar
ketika mekar. Ia bersenandung bulan
aku menyanyikan lagu kekasih
membebaskan camar dengan sayapnya
patah

Dengan kesederhanaan rindu
kulampaui malam-malam wirid penuh liku
yang membaca kehadiran dari jendela
Engkaukah kini bernyanyi matahari
pada subuhku

1992



SELEMBAR DAUN JATI

Selembar daun jati
gugur
jeritnya terdengar parau
sampai ke ha…

Puisi-Puisi Goenawan Mohamad

http://www.korantempo.com/
HOLOGRAM

Dari berkas cahaya
yang mungkin tak ada,
kulihat kau:
sebuah hologram,

srimpi tak berjejak,
dari laser yang lelah
dan lantai
separuh ilusi.

Di lorong itu dinding-dinding
kuning gading,
kebun basah hijau,
dan kautaburkan biru

dari kainmu. Bangsal kraton memelukmu.
Waktu itu sore jadi sedikit dingin
karena tak putih lagi
matahari.

Aku tahu kau tak akan
menatapku. Mimpi tiga dimensi
akan cepat hilang,
juga sebaris kalimat yang kulihat

di almari yang gelap:
"Aku tari terakhir yang diberikan,
aku déjà vu
sebelum malam dari Selatan."

Aku tahu kau tak akan
menyentuhku.
Seperti pakis purba di taman itu
kau tawarkan teduh,

juga sedih. Tapi aku merasa
kaupegang tanganku,
seperti dalam kehidupan kita dahulu,
sebelum kau ingatkan

bahwa aku juga
mungkin pergi.
"Bukankah itu yang selamanya terjadi.
Aku seperti waktu, karunia itu."

2009



DI MEJA ITU

Jangan-jangan hijau teh
telah meyakinkan aku: aku melihatmu
di sebuah adegan remeh
di kafe kosong it…

Puisi-Puisi Abidah El Khalieqy

http://sastrakarta.multiply.com/
KERAJAAN SUNYI

Syair malamku
ke Sinai aku menuju
Tak terbayang kerinduan melaut
tak terpermai kesunyian memagut

Seperti bumi padang sahara
haus dan lapar mengecap di bibir
merengkuh mimpi saat madu terkepung lebah
kekosongan dalam tetirah

Padang padang membentang
melahap tubuhku tanpa tulang
dan kesana alamat kucari

Kerajaan Sunyi

2000



AKU HADIR

Aku perempuan yang menyeberangi zaman
membara tanganku menggenggam pusaka
suara diam
menyaksikan pertempuran memperanakkan tahta
raja raja memecahkan wajah
silsilah kekuasaan

Aku perempuan yang merakit titian
menabur lahar berapi di bukit sunyi
membentangkan impian di ladang ladang mati
musik gelisah dari kerak bumi

Aku perempuan yang hadir dan mengalir
membawa kemudi
panji matahari

Aku perempuan yang kembali
dan berkemas pergi

1991



PEREMPUAN YANG IBU

Perempuan yang ibu tak kan lahir
dari rahim bumi belepotan lumpur dan nanah
nurani berselubung cadar kegelapan
dan pekat bersama harapan
terkapar

Perempuan yang ibu lahir
dari buaian cakrawala
dari ukir…

Puisi-Puisi Bakdi Sumanto

http://sastrakarta.multiply.com/
DASA KANTA

1. TIKAR

Dengan tegas tegar
Kita menyatakan
Bahwa kita ini tikar
Orang-orang tua duduk berdoa
Orang-orang muda bercanda
Mudi-muda ciuman
Yang berselingkuh berdekapan
Dan berbadan
Pencuri menghitung curian
Koruptor berbagi hasil
Dengan kroni dan koleganya
Guru menilai pekerjaan siswa
Ahli bahasa mencari kesalahan karya-karya
Bayi-bayi ngompol
Balita-balita ek-ek
Penyair-penyair jongkok sambil ngrokok
Aktor-aktor latihan gerak indah
Pelukis-pelukis nglamun
Politikus cari akal mendepak teman seiring
Anggota DPR bikin rencana naikkan gaji
Dan studi banding ke luar negeri
Lalu, para penjudi membanting kartu-kartu

Kita ini tikar
Ketika datang kasur
Tikar akan segera digulung-gusur
Dibakar atau dibuang ke tong sampah
Dan dilupakan oleh sejarah

Oberlin, Okt 1986



2. HUJAN

Hujan tak turun
Ketika petani memerlukan air
Tetapi air tetap mengucur
Dari pori-pori tubuhnya
Membasah pada kaos
Yang sudah tiga hari
Tak dicuci air

Sekali air disuntak dari langit
Dan di sawah & ladang
Terjadi banjir…

Puisi-Puisi Kirana Kejora

http://oase.kompas.com/
AKU TERJEBAK SKENARIOKU SENDIRI

Hari ini aku patah
Aku merasa jadi daun
Bukan eidelweismu lagi
Aku merasa kamu hilang
Diammu bukan emas
Tapi sebuah kemarahan padaku

Aku sering melupakan diri
Bahwa kamu adalah lelaki dengan kudanya
Yang terus bergulat dengan cairan-cairan darah
Memacu terus pelana bajamu
Melibas badai
Menyeruak di hutan cemara kisah

Aku serasa tak memiliki pagi, siang, malam
Senyapku tetap setia menjadi rasa

Kini
Jika aku kasih tahu tempatku
Apa kamu akan petik aku dan bawa terbang pagi ini membelah mentari?
Sebenarnya aku ada di dekatmu

Sapamu telah bangunkan tubuhku dari persinggahan alam sadarku
Lalu kau pergi begitu saja
Ah!
Kau ternyata jadi angin sesunyiku pagi ini
Jika kau elangku
Harusnya kau terbangkan aku untuk membelah mentari
Ah!
Kau nakal!
Rindu apa yang kau punya buatku yang hanya setetes embun di padang tandusmu?
Aku hanya sebutir debu, sehelai bulu ayam, sepenggal sabit
Kau merasa begitu sempurna buatku?
Ah!

Aku terhenti di ujung penantian tanpa kutoleh ke bela…

Puisi-Puisi Slamet Rahardjo Rais

http://www.hupelita.com/
Prosesi Senja
-catatan atas masjid tua di Cijantung, geletarku

tak ada kesepakatan yang perlu dirundingkan
sepasang mata-sepasang mata sigap
beriringan sampai kepada dzikir lampu
bahkan menjemput dalam kerinduan
"Assalamu'alaikum, semuanya saling bersaudara
memeliharakan kebun mawar milik kita!"

maka sunyi membuka senja
catatan menjaga luka

coba dengar baik-baik suara
menggali seribu yang bertasbih
dalam kemuliaan
sedikit pun tak merasa sebagai orang asing
seketika Qobil terbunuh tanpa dibunuh

1998/2000



Ketika Anak-Anak Berangkat Mengaji

sebenarnya senja saat itu milikmu juga
peluk dan segera jemput
ruang tunggu dengan menghiasinya melalui
suara anak-anak berangkat mengaji
warna yang menggoda

sekarang milik siapa pintu jendela rumah
ketika membaca cahaya di matanya
anak-anak bagian dari kalimat
yang dilisankan dalam isyarat
membersihkan atau memberi buram lonceng bergetar

maka bergeser menuliskan setiap sudut tertangkap
menghidupkan seluruh sujud yang terdampar
nyanyian anak-…

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

http://www.hupelita.com/
Doa Pembuka

hanya milikmu cahaya pagi hingga senja
dan rahasia kegelapan ketika malam tiba
pada muhammad kauanugerahkan kemuliaan
pada sulaiman kaulimpahkan keberadaan
kau tunjukkan keindahanmu melalui yusuf
dan cinta kasihmu melalui isa
di hati kekasihmu sejati pun kautanam
rahasia kemakrifatan

kaujadikan perut burung-burung
kenyang ketika petang
dan lapar kembali ketika pagi
hingga terdengar selalu kicaunya
menghiasi kelompok hari yang terjaga

kaujadikan bintang-bintang
selalu bertasbih padamu
kauciptakan pohon-pohonan
selalu berzikir padamu
o, allah, anugerahi aku kesetiaan
tanganku menjadi tanganmu
kakiku menjadi kakimu
lidahku menjadi lidahmu
mataku menjadi matamu
telingaku menjadi telingamu
hatiku menjadi istanamu
:bumi dan langit tak mengandungku
tapi hamba berimanku mengandungku*

*dari Hadis Qudsi
1989



Sajak Urat Leher

karena cinta tuhan meletakkan
dua malaikat di pundakmu
-inilah pengasuh-pengasuhmu
kata tuhan. sayap-sayapnya
bisa membawamu terbang ke langit
sekaligus berpijak di bumi l…

Puisi-Puisi Yuswinardi

http://www.kompas.com/
Waktu

seorang laki-laki
bercermin pada segenang air hujan
“mengapa tubuhku menua?
Padahal baru kemarin aku bekerja.”
Seorang perempuan
Berkaca pada secawan anggur merah
“mengapa wajahku cepat keriput?
Padahal baru tadi malam aku bercinta.”



Sepi I

Kau merasa sepi; untuk itu siapa yang sebenarnya butuh cinta?
Lalu kau pun bermain-main dengan waktu; menghabiskan sisa-sisa hidup yang memaksamu menjadi tua; tua yang sakit; tua yang berdenyit; dan tentu sepi lagi; menjemput yang bernama abadi; sendiri;



Sepi II

Kau pun terus berpikir;
Kemana sebenarnya kerja bertepi?
Kemana sebenarnya cinta menyempurnakan diri?
Kemana sebenarnya puisi ini menemukan arti?



Sepi III

Memangnya kau bisa tanpa sepi?
Melewati resah sepanjang malam dan dingin yang berapi;
Dengan mimpi dan amuk wine atau segelas kopi;
Mengurung diri; lalu berisak dalam sebuah lorong; tertatih;
Mengamit sebuah cinta yang terus menganga; perih;
Mengenang kembali; sungguh parah tanpa sepi;



Sepi IV

Jika mata pisau itu mengkilat tajam;
Ia ada…

Puisi-Puisi Gita Pratama

http://www.kompas.com/
Pondok Bambu

Ada yang menggeletar di lembah lembah duka
Kisah tentang cinta di sebuah rumah bambu
Dengan hiasan dinding kayu
Pondok kecil di tengah hutan
Dekat dengan sungai yang lupa hulu

Kisah ini hanya cerita kecil
Yang sebentar mampir lalu pergi
Sekedar mlipir di pinggir sungai

: Sepenggal luka beriak menggelitik

April 2008



Lukisan Sepi

Ada sebuah hiasan pada dinding rumah bambu
Ingatkan pada sepenggal ragu

Lukisan perempuan dengan selendang mendekap dada
Pelangi beraneka rupa warna ditunggangi
Bingkainya rapuh dengan plitur terkelupas

Ranum senyum pada bibir perempuan

: Tanpa sapa hanya gelak-gelak sepi

April 2008



Kenangan Sungai

Ia berdiam mengamati sungai
Alirnya memagut dalam mesra

Bagai kelok liuk perempuan
Berwajah pilu dan kuyu

Sapa kecil tanpa senyum
Lunglai basah daun putri malu

Ingatan kecil mengembara
Mencari cinta kisah-kisah lalu
Berpeluk dekap sepasang pemburu

April 2008



Inilah Kisah Lelaki yang Keras Kepala

Berenanglah ia tanpa pelampung, memanggul ombak
Berkoar kasar memanggi…

Puisi-Puisi Haris del Hakim

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
SAPI KITA DALAM JERAT LABA-LABA

seekor sapi – dari tujuh yang kita punya – terperangkap sarang laba-laba. dia menjejak-jejak senar-senar rapuh itu sambil memamah angin. kemudian seekor singa penyihir melemparkan buhul-buhul, seperti penyihir fir’aun. sapi itu menggeleng-gelengkan kepala seraya melafalkan nama samiri. buhul-buhul bersekutu dengan jaring laba-laba untuk menjeratnya semakin kuat.

laba-laba memanggil teman-temannya dan kentut bersama-sama di depan hidung sapi kita itu. kita menyumbat hidung dan mencerca penggembala yang belum kembali dari buang hajat.

Lamongan, 2 mei 2008



AKU DAN PEREMPUAN YANG TIDAK KUKENAL

kami duduk menunggu bus lewat. “ini adam,” kataku memperkenalkan diri. dia menimpali, “ini hawa.” lalu adam dan hawa saling kunci dalam kamar surga. mereka bicara melalui lubang kunci dengan kata-kata membosankan. bersamaan dengan itu, lahirlah setan dari mani onani iblis.

“apa yang dibayangkan oleh iblis ketika itu?” tanyaku padany…

Puisi-Puisi Johan Khoirul Zaman

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
CAHAYA ILAHI

Malam dari pijaran cahaya Allah
Sunyi menjadi tahajud suci di dalam hati
mengukir nama dalam tasbih paling syahdu.

Memanggil-MU dengan tangan yang bergetar
tak mampu diri rasakan rindu ini

Surabaya 12-07-08



KALAM CINTA

Maha Mulia yang menggenang
sepanjang waktu alirkan Rahmat
yang tak kuat matahari pandang pesonaMu
sehingga ia bagaikan Engkau saedang ia bukanlah Engkau

cintraMu tak bersembunyi dalam getar
kembali diri hanyut dalam air yang jernih nan bening
"sungguh dari air itulah kehidupan diturunkan"
aku sekaligus tak ingin berubah dalam kejap waktu ini.

Bandung 29-12-08



GELEMBUNG REVOLUSI SYURGAWI

“Manusia- manusia dalam novel, manusia-manusia dalam film
Mahluk –mahluk dalam dunia kesunyian memanggil ruh para pemberontak.

Orang-orang dari guyuran rupiah dan dollar
Insan-insan dari lumpur politik
Jasad-jasad dalam rongga dunia memanggil nyawa para pemberi adil

O……Kalbu yang getir,
aku memanggil Ruh yang kesepian dipesta monster kapitalisme
de…

Puisi Puisi Abdul Wachid B.S.

http://www.suarakarya-online.com/
Rani yang Bertanya

Rani yang masih di kamarnya
Rani yang masih di mimpi kanaknya
Rani yang tak biasa di pagi harinya
Rani yang jalan-jalan di imajinasinya

Rani,
Tatkala bumi bagai dalam ayakan Tuhan
Pohon-pohon belakang rumahmu
cemas hempaskan tubuhnya
Tak lagi kuasa kuatkan akar-akarnya
Lintang-pukang orang-orang di bawahnya

Bagai dalam ayakan Tuhan
Tembok-tembok mengombak naik-turun
Rani,
Rumah-rumah seperti roti kering yang kau ledakkan
Di tanganmu. Lintang-pukang kurcaci menghindarinya

Rani yang dalam dekapan ibunya
Rani yang amat sangat ketakutan
Rani yang masih balita itu tengadahkan tangan
Rani yang bertanya
"Tuhan, apakah Engkau sungguh marah hari ini?"

Jambidan, Yogyakarta, 27 Mei 2006



Wonokromo

Silaturrahmi ke Wonokromo
Desa santri yang mengaji
Ada rumah kekasih yang tersembunyi
Sejarah masjid yang "Hamengkubuwono"

Ada pertemuan dua sungai
Di sikunya masjid itu hijau kebiruan
Ada makam di baratnya bila kulewati
Selalu kusampaikan salam pertemuan

Aku mas…