Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2009

Puisi-Puisi Endang Supriadi

http://jurnalnasional.com/
ENGKAU AKHIRNYA MEMILIH DIAM

malam mengelopak oleh cahaya lampu yang gemulai
sepi menyusup ke sudut-sudut hati
ada kelelawar menggantung di bingkai bulan
meratapi gejala cuaca di lubuk kegelapan

jika engkau ingin menangis, menangislah
seperti gerimis yang turun dikelopak bunga
tertatih dengan segala beban yang hendak diledakan
ke bumi dimana bila dipijak terasa menginjak duri

atau jika engkau ingin tertawa, tertawalah
seperti gelombang di laut lepas
yang menepikan busa ombak ke pantai
membasuh punggung-punggung karang yang kekeringan

atau jika engkau ingin bernyanyi, bernyanyilah
seperti gemericik air pancuran yang ada di ujung dusun
yang mengundang ikan-ikan menari
hingga membentuk gelang-gelang air dipermukaan

atau jika engkau ingin diam, diamlah
seperti mikrofon yang ditinggalkan penyanyinya
seperti sepasang sepatu yang dibiarkan teronggok di raknya
hingga diammu teramat diam seperti akar yang mati

jika engkau ingin bertanya, bertanyalah
seperti embun pada batu, seperti debu pa…

Puisi-Puisi Dharmadi

http://www.kompas.com/
SAJAK BATU
-medy lukito-

batu dalam basah embun
di dasar kali di musim kemarau
sambil mencucup cahaya pagi
bergumam sendiri;’engkau beri
aku enerji’

1999-2004



DALAM KEMARAU

demi hujan langit setia menjerat awan yang
digiring angin sambil mengingat bumi

2000



PENYUCIAN

embun membasuh malam
dari debu pengkhianatan
dalam tatapan rembulan

2000



SEBIJI BERINGIN

sebiji beringin
lepas dari mulut kelelawar
jatuh di ceruk batu
tumbuh dalam mainan cuaca

2000



SELEMBAR DAUN

selembar daun mengapung
pada sungai yang mengalir
di sela-sela retak batu
mencari samudra

2001



BULAN TUA

sesaat bulan tertegun
di atas rawa sehabis
mengembara
memandang wajahnya sendiri
tak lagi purnama
dalam mainan sisa riak gelombang
bersama gerimis turun

ke malam mana lagi aku mesti mencari?

2003



MUSIM KERING

kamboja tumbuh di retak-
retak sawah ladang
melintas-lintas gagak terbang
sungai meratapi diri
merasa tak berarti

gunung kelabu
di puncaknya tak ada lagi
langit biru

matahari tajam menatap bumi
tak henti-henti melelehkan api

2006



MUSIM KERING-1

angin…

Puisi-Puisi W.S. Rendra

http://budhisetyawan.wordpress.com/
KANGEN

Kau tak akan mengerti bagaimana kesepianku
menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
kau tak akan mengerti segala lukaku
kerna luka telah sembunyikan pisaunya.
Membayangkan wajahmu adalah siksa.
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan.
Engkau telah menjadi racun bagi darahku.
Apabila aku dalam kangen dan sepi
itulah berarti
aku tungku tanpa api.



KENANGAN DAN KESEPIAN

Rumah tua
dan pagar batu.
Langit di desa
sawah dan bambu.

Berkenalan dengan sepi
pada kejemuan disandarkan dirinya.
Jalanan berdebu tak berhati
lewat nasib menatapnya.

Cinta yang datang
burung tak tergenggam.
Batang baja waktu lengang
dari belakang menikam.

Rumah tua
dan pagar batu.
Kenangan lama
dan sepi yang syahdu

--------------
(diambil dari buku: EMPAT KUMPULAN SAJAK, karya RENDRA, penerbit Pustaka Jaya, cetakan kedelapan, tahun 2003).

Puisi-Puisi Ragil Suwarno Pragolapati

http://sastrakarta.multiply.com/
Membaca Koran Tempel

Hari-hari memberikan kabar monoton. Isi mirip beda judul
Advertensi pun menerkam semua kolom besar, over membius
"Gadis diperkosa!" teriak seorang bicah, jemu dan kecal
Kau pun menekur. Mahkota perawan dikoyak di kolam sudud
Brahmacorah seksualita jadi siluman di desa-desa dan kota
Hakim, KUHP dan palu pengadilan menabukan opini kecewa
Hokum suka melecehkan kesucian perawan pada vonis ringan
"Hakim itu dilahirkan dari rahim WAnita!" gerutumu marah
"Jika memvonis pemerkosa, bayangkan ibunyalah korbannya!"
Esok, esok, dan esoknya lagi, kabar seruba muncul kembali
Di halaman dua, ada vonis hakim. Ringan! Dicemooh public
Di halaman muka, ada "Seminar Keadilan Hukum" jadi proyek

Jagran, 1988



Sang Brahmancari

Yogya mengirim gerimis pagi bagimu di serambi masjid
Sendumu menyisa pada asap rokok, mengepulkan fantasi
Nasib nglangut. Mandi tidak perlu, berkumur pun cukup
Kambuhan penyakit 1968-1971. kau terbius dingin sud…

Puisi-Puisi Emha Ainun Nadjib

http://sastrakarta.multiply.com/
Kudekap Kusayang-sayang

Kepadamu kekasih kepersembahkan segala api di dadaku ini demi cinta kepada sesama manusia
Kupersembahkan kepadamu sirnanya seluruh kepentingan diri dalam hidupku demi mempertahankan kemesraan rahasia, yang teramat menyakitkan ini, denganmu
Terima kasih engkau telah pilihkan bagiku rumah persemayaman dalam jiwaku remuk redam hamba–hambamu
Kudekap mereka, kupanggul, kusayang-sayang, dan ketika mereka tancapkan pisau ke dadaku, mengucur darah dari dada mereka sendiri, sehingga bersegera aku mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan–sobekan bajuku
Kemudian kudekap ia, kupanggul, kusayang–sayang, kupeluk, kugendong-gendong, sampai kemudian mereka tancapkan lagi pisau kepunggungku, sehingga mengucur lagi darah dari batinnya, sehingga aku bersegera mengusapnya, kusumpal, kubalut dengan sobekan–sobekan bajuku, kudekap, kusayang-sayang

1994



Doa Syukur Sawah Ladang

atas padi yang engkau tumbuhkan dari sawah
ladang bumimu, kupanjatkan syukur dan

Puisi-Puisi Kirdjomuljo

http://sastrakarta.multiply.com/
ANGIN PAGI

III
Yang pertama kupunya
dan terakhir kulepaskan
adalah kemerdekaan
Kemerdekaan yang lahir semacam alam
bersayap semacam burung
basah dengan cinta semacam pagi
Mengatasi segala apa pun
bagaimana juga permintaannya
atau pun dibunuhnya aku
Inilah milikku yang pertama-tama

IV
Yang pertama kucintai
dan akhirnya kukatakan
adalah kebenaran
Kebenaran yang lahir dari arti
mengalir dan melekat pada alam
dan hati
Kebenaran yang memberi sesuatu
dan mencerminkan
alam, cinta dan manusia
Karena ia adalah semacam permata



PENGGALI BATU KAPUR

Beginilah ia berjanji
dengan irama guyur batu
hingga ladang berderak
burung-burung merendah
merasa betapa berat langit
betapa berat hati
angin menggantungi sayap
kabut meradangi arah

Entah ia melepas dera
entah bertahan dari derik
atau tertantang keras batu
nyanyinya sederas getar derita
langsung mengenai dasar
darahku memutih
tulang menyusut
- Hula hule hula ho oo
hula hule hula oo

Begitu berat melepas
sekejap datang sekejap hilang
ditiupkan arah angin
matanya pu…

Puisi-Puisi Ahmadun Yosi Herfanda

http://sastrakarta.multiply.com/
REINKARNASI

kukembalikan dagingku pada ikan
kuserahkan darahku pada kerang
makanlah milikku, ambil seluruhku
kukembalikan tulangku pada tripang

jika aku mati
hanya tinggal tanah
jiwaku membumbung
ke kekosongan

bertahun-tahun aku mengail
berhutang nyawa pada ikan
berabad-abad aku minum
berhutang hidup pada laut
berwindu-windu aku berlari
berhutang api pada matahari
tiba saatnya nanti kukembalikan
semua hutangku pada mereka

kukembalikan jasadku pada tanah
sukmaku kembali ke tiada
: zat pemilik segalanya!

Jakarta, 1992.



AYAT-AYAT ALAM

berabad-abad wajah tuhan bertaburan
jadi ayat-ayat alam yang berserak pada batu-batu
tiap perciknya menjelma wajah yang berbeda
berabad-abad wajah tuhan bertaburan
dalam serpihan cinta sekaligus sengketa

berabad-abad pula adam gelisah
mencoba menyatukan wajah tuhan
dalam gambaran seutuhnya. namun
selalu sia-sia ia. sebab, tuhan lebih suka
hadir dalam keelokan yang beraneka

pada keelokan pohon dan keindahan batu
pada keperkasaan ombak dan kediaman gunung
pada …

Puisi-Puisi Suminto A. Sayuti

http://sastrakarta.multiply.com/
DONGENG SEBELUM TIDUR

1.
Itulah ular yang kau gambar tempo hari
dan diberi nilai delapan oleh ibu guru
: ular itu bernama Siapa Saja
bisanya luar biasa
Ialah yang telah menggoda bapa adam
dan ibu hawa di perkebunan karet
kaki bukit itu, seperti kata mereka
Ialah ular yang melilit melingkar tubuh
saudaramu tatkala mengembara
di samodra, mencari perwitasari tirta
Ialah yang dijadikan kalung dan gelang
oleh para penggembala kerbau di padang-
padang rumput dataran itu
Ialah yang bakal menyabotmu kelak
di tengah palagan, tatkala engkau
bertanding melawan abang tertua
yang terpisah denganmu sejak kecil
lantaran kehormatan yang disia-siakan
Hati-hatilah
karna tatkala engkau lena dalam
mimpi berkepanjangan nanti
ia bakal masuk dan mengendon dalam dasar
sanubarimu paling dalam. Jangan sampai
kau berkeinginan memiliki dan memeliharanya


2.
Dan ini adalah kijang
larinya luar biasa, warnanya keemasan
juga bernama: Siapa Saja
ialah yang telah menggoda kakak iparmu di
belantara itu, dan kau menangg…

Puisi-Puisi Endang Susanti Rustamadji

http://sastrakarta.multiply.com/
SIANG ITU, ADA LUKA DI TATAPMU

Siang itu kau memakai baji biru
di tatapmu ada luka
dan langit yang renta sengaja berbaik hati
menyimpan kegelisahanmu yang mulai karatan itu
di antara menga-mega yang menggulung diri menjadi mendung
lalu menangkarkannya dengan guratan panjang
menjingga di cakrawala
Siang itu kau laburi langit hatiku
dengan warna biru muda
sukmaku mandah, batinku gelisah
ragaku lelah
Akulah anak kecil yang mencandai boneka lucu
yang menggemaskan, sementara antara lain
terditur dalam ayunan
Dan kau; rajawali luka
bersabung dengan angan-anang
tentang bidadari meniti pelangi
lalu kau ikuti mereka terbang ke nirwana
tak kau ingat zarah yang netes di kaki
dinginnya tusuki sanubari
amisnya adalah polusi yang cemari mega
keruhkan wajah langit
hingga jagakan malaikat, tergelincir
di tangga langit
Wahai, ada Tanya yang tetap amenggumpal
tak juga mencairi hati;
kau hadir
di tatapmu ada luka
obat itu,k adakah di muara anganmu?

Karangmalang, 19041990



TERMINAL

Jeritan aspal di jalana…

Puisi-Puisi Linus Suryadi AG

http://sastrakarta.multiply.com/
ELEGI

Akulah tongkang sendirian
Perahu di tengah lautan
Sunsang menampung malang
Rambu-rambu dunia lataku
Mendayungkan tiang tenggelam
Meraih letih, o, gelombang
Lautan suara sibuk
Dalam diri memburu
Memburu yang kehilangan

1971



ALIBI

Antara ayat-ayat suci
Engkau pun mencari
Halaman yang hilang
(anak kecil mengejar bayang-bayang)
kapan cuaca tiba
meredakan gemuruh kedirian
berterompah impian
(di sisi kesepian)
ada pun sesuatu
derasnya topan
derunya rindu
dendam kekecewaan

1971



LAGU TENTANG SEORANG PENGGESEK REBAB

3000 gesekan lebih perih dari 3000 rajaman
3000 sayatan lebih pedih dari 3000 tikaman
mijil diulang-ulang. Tembang sedih; kenapa
mencapai kelembutan harus lewat kekerasan?
Sampai teriakan menjelma menjadi bisikan
Sampai kekakuan menjelma menjadi keluwesan
Sampai luluh derita. Sampai lebur di badan
Sampai tumbuh dan berbuah kebijksanaan!

1981

Puisi-Puisi Akhmad Muhaimin Azzet

http://sastrakarta.multiply.com/
MENGANTAR MANUSIAKU

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
meninggalkan gerimis di perbukitan yang biru
selamat tinggal, duhai, lembah dan ngarai
juga jurang-jurang tempat indah menunggu

lorong-lorong kota akhirnya kusinggahi
ada yang bergetar, dari kabel dan televisi
manusiaku terpaku dibawah menara negri
ada yang mau runtuh, saat segalanya tergadai

hari ini, aku mengantar manusiaku pergi
bersama angin yang membadai di kepalaku
sebab langkah semakin ingin kembali
memunguti jejak yang kabur dari jantungku

Yogyakarta, 2006



DI LERENG MERAPI

asap tebal yang membumbung itu
mengarah ke utara
sementara aku menatap ke selatan

guguran lava menggetarkan jiwa
tetapi aku hanya terpaku
dalam pesona awan bergumpalan

--zet, sudah saatnya mengungsi
ke mana engkau menyelamatkan diri
namun kaki ini kaku, jiwa pun kelu

Yogyakarta, 2006



SEHARI SAJA

walau sehari saja aku menjadi sungai
sepanjang dada ini terasa tak lagi beruang
batu dan pasir betapa berhimpitan
dalam cairan limbah yang kian menghitam

Puisi-Puisi Thowaf Zuharon

http://sastrakarta.multiply.com/
Sebuah Panggung Bernama Lampung

dalam sandiwara kali ini
beribu peladang
seketika menjelma budak kongsi dagang
beribu kapal asing memangsa gembur suburku
mengganti lada dengan hunjam desing peluru
tubuhku susut dipagut serdadu bermata biru
murka Eropa kira-kira tiga abad lalu
aku dulu punggung yang berdebu
riwayat sakit bertabur mayat di dadaku
pada berjuta tubuh kanak
jutaan inggu dikalungkan
agar kematian raib dari ingatan

dalam hamparan kesedihan yang perpalung
aku belajar mengenal kembali
angka dan angkara
pada pukau parau Ranau yang seperti angka nol
pada nyeri sunyi yang selalu mengincar puisi
ruhku memudar dalam panorama
yang menandaskan getar dan getir tak terhingga

aku mencoba menyusun melodi
dalam babak tragedi tanah ini
tapi semua ruang telah bising denting terapang
yang beradu dalam karnaval seteru
aku seperti pandawa kalah dadu
Kalianda menjelma Kurusetra
anyir darah sedalam telaga, jasad pun membukit
ingin kuabadikan semua itu dalam lagu kelabu
dengan talo balak kesa…

Puisi-Puisi Mustofa W Hasyim

http://sastrakarta.multiply.com/j
THE KILLING FIELDS

Angin
memenggal suara-suara

Penari
meledakkan selendang

Terompet
membunuh sisa-sisa jiwa

Nol
bumi terbungkus kata

Pertanyaan
kehilangan langit dan lautnya

Cahaya
menjerat bocah tak berkepala

1995



POTRET KELUARGA

Kursi
tua di halaman

Album
dijilat kolam

Bayi
menangisi puting

Pengantin
berdatangan di tikar

Pohon
bergerilya di kamar tamu

Lukisan
merobek dinding.

1995



ADA YANG MENGANIAYA KUPU

Ada yang menganiaya kupu
pagi hari

Taman
dipersiapkan untuk perang

Luka
dipersiapkan untuk perang

Luka
ditertawakan

Kematian
dikubur kata-kata

Catatan
disembunyikan tulisannya

"Gusti Allah ora sare,"[*])
kata saksi
yang terpenggal jarinya

Kupun menunggu senja
yang menenggelamkan.

1997



ANAK-ANAK BERLIBUR DI KUBURAN

Anak-anak berlibur
di kuburan waktu

Sibuk
dengan tikungan-tikungan

Menjelajahi kerumitan
jaring-jaring keluarga

"Kereta api
disumpal manusia."

"Kota-kota
setengah tidur."

"Taman hanya menjanjikan
sampah dan debu."

"Museum menjadi senjata
untuk mengema…

Puisi-Puisi Fauzi Absal

http://sastrakarta.multiply.com/
MENGAJARI KUPU-KUPU

Kita benamkan dalam air
Kolam tujuh bidadari mandi
Lalu kita angkat
Kita goreng di bawah terik matahari telanjang
Sampai klojotan
Kita ajari ia
Patah hati
Kita bawa bertamu
Pada sahabat di negeri sukses
Kita remas-remas
Lantas masukkan dalam kulkas
Sementara kita ngoborol tentang kehidupan
Yang hangat penuh kasih lagi mesra
Kita ajari ia menggigil
Kedinginan

Kita seret ke dunia industri
Sementara gusur-menggusur terus belangsung
Kita biarkan kandas hingga kuyub
Biar terolah lalu tertempa lalu tercor
Lalu terbeton
Lalu kita sekolahkan mendalami mata pelajaran dia
Agar terbiasa mengolah jeritan
Hingga sorotan matanya keras dan rasional
Belum, belum selesai
Kita ikat ia dengan benang merah
Pada gema adzan yang membersamai reputasi zaman
Agar terbawa terbang
Ke mana angin bertiup

1996



MELIHAT KUPU-KUPU

hati siapa terkirim lewat kupu-kupu
ia terbang kian kemari di udara wening. sunyi
melintasi pesta bisik
merendah, meninggi, meliuk dan menukik
menari-nari hanya berbekal ca…

Puisi-Puisi Hari Leo

http://sastrakarta.multiply.com/
MATI WAKTU

Mati
Waktu
Di pundak
langit menghempas
sarat beban
tangis diri dicaci

Anak laut
Jadi takut ombak
anak gunung jadi takut kabut
anak hutan takut arah
anak kini takut mati

Kemana
ibu bisa disebut?

YOGYA 2007



BATU DIAM

Diam
batu ku pahat
wajah manis sepi sendiri
ragu aku menyapa
mimpi berulangkali
bertanya
siapa?

YOGYA 2007



PINTU MATI

Ia ingin pulang
tapi ia sendiri lupa dimana pernah tinggal
jalan jalan yang pernah dilewati
tidak lagi janjikan kapan bakal sampai dan kembali
yang ia ingat hanyalah sungai kecil dengan air bening
membelah jalan menuju pintu mati
itu saja belum cukup bagi dirinya untuk arah pedoman
Ia mati dalam kehidupan
tapi ia tetap hidup dalam kematian

Batu batu adalah singgasana keramat
dinding dinding adalah batas pandang
Ia tinggalkan rumah menuju taman bunga
sebelum ia sampai pada tempat yang dikehendaki

Ia ingin pulang
tapi ia merasa bodoh dalam pijakan
tidak ada lagi matahari yang memancarkan cahaya jingga
bagi hidup dan alam keterasingan
lalu iapun pilih d…

Puisi-Puisi Iman Budhi Santosa

http://sastrakarta.multiply.com/
CATATAN HARIAN SEORANG SULTAN

Sekian purnama kelelawar-kelelawar menyerbu
ke dalam semadiku. Melati kenanga bersengketa
asap dupa tak berbau, keris tombak berdiri
berontak dari genggaman para abdi

Kemudian remang ada pada tiang, mahkota lusuh
membisu di sudut ruang. “Siapakah engkau
jika istana tinggal bayang-bayang
lalat nyamuk menari di pagelaran
burung-burung gereja bersarang di bubungan?”

Sesekali aku berdiri mencari puncak Merapi
sebelum gerbang terkunci. Sesekali meniti buih
laut selatan, menapaki pasir karang
sambil mengaca, “Aku bukan raja…”
Sebab, tikus mulai ada di kamar pusaka
burung malam seperti mengecam
kota dan tembok benteng yang berseberangan

Sekian musim bercermin pada rumput
pada taman yang berlumut, sisa keraton
tinggal bangunan tua dan rindang pohon.
“Jangan panggil aku Gusti…”
Tapi, mereka nekat ngapurancang di depan cepuri
menunduk pada huruf-huruf Jawa yang tak terbaca
oleh lidah yang lama mengembara

1997



ORANG-ORANG BATIK USIA SENJA
BELAKANG KERATON YOGY…

Puisi-Puisi S Yoga

http://jurnalnasional.com/
http://syoga.blogspot.com/
LILIN

telah kumusnahkan tubuh yang dulu
hingga dapat kuciptakan bayangan baru
dengan api yang selalu menghabiskan
kepercayaan kepercayaanku telah jatuh

ke dalam jurang jurang malam
pada langit yang tak pernah kujangkau
kuharap kau merunduk dan menciumku
karena hanya ruang yang dapat kupahami

dengan waktu pun aku telah menjauh
karena hanya akan mengekalkan kesunyian
yang selalu kumusuhi dalam mencari terang
aku hanya bertamsil pada angin yang membisu

di atas meja berplitur yang menggoda
debu debu telah bersetubuh dengan waktu
mengincarku dengan bidikan lumpur
agar aku runtuh dalam lobang yang sama

lobang yang pernah kugali saat kejatuhan dulu
saat aku membenci warna yang menyilaukan
ketika aku menyihir bayang bayang
dari kenikmatan kenikmatan dunia

di atas penderitaanmu
memang kebahagiaan yang selalu kucari
dengan api yang menerangi kegelapan
sebelum tubuh habis dilalapnya

***



IKAN

bukan aku yang ingin mendustai
sisik sisik ini bukti keremajaanku
meski telah kute…