Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2008

Puisi-Puisi Sri Wintala Achmad

http://www.lampungpost.com/
Menjelang ke Jakarta

Selagi bisa membaca bahasa burung
Saat pagi membangunkan orang-orang
Dari ruang tidur, maka
Dengarkan senandung jiwa
Serenyah kicau segairah kepak
Sebelum belajar menyukuri sisa waktu
Buat berbenah tinggalkan rumah masa kecil
Menuju ladang perburuan
Atas mimpi keliarannya sendiri
Sebagai tangkapan lelaki yang
Pantang kembali

Sanggar Gunung Gamping, 2004-2008



Kepada Penjaga Malam

Dengan bahasa anjing
Telah kaujaga mahkota malam
Berparas purnama bermata safir Maria
Atas para pencuri yang
Mengendap-endap serupa kucing
Menerobos lewat pintu dan jendela rumah
Tak terkunci penghuninya

Sanggar Gunung Gamping, 2004-2008



Sebelum Tidur

Memetik bintang-gemintang
Sebelum dipanen pagi
Bagimu kekasih yang
Berhasrat merangkainya menjadi cinta
Kepada burung bence
:Penjaga mimpi anak-anak
Dari para maling masa depan
Di dalam rumah kita sendiri
Anak-anak adalah matahari yang
Mengisyaratkan aku sebagai nahkoda
Dan kau sebagai pembentang layar
Atas bahasa angin, sebelum
Sampai di dermaga sen…

Puisi-Puisi Eny Rose

http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/
SEHELAI NAFAS

bulan
bunga
malamku runtuh beracun
pada sehelai nafas
beribu jejak ombak turut menitipkan
tembang lautan
pada jiwajiwa yang teringkari
namun gemuruh pagi
masih saja membisik di sela
kepunahan langit
pada karang tak terangkai

engkau
aku
masihkah malam kan membelit
kita pada jaringjaring alam
yang terpekamkan luka?

Lamongan 2008



TAK BERJEJAK

dan hijau bungabunga rumput
yang kau semaikan tepat di jantungku
adalah hiasan tiaptiap nafasku
karena aku hanyalah sekelebat kabut
yang tengah mencari rindu
rindu yang kau kurung dalam ruang hampa
aku yang selalu diburu kesesatan
dan pergulatan waktu
sungguh pada siapa aku memetik
gitar cerita pemujaan roh cintamu?

sedang harihariku dibasahkan kesetiaan
meski harus berakhir tak
berjejak.

Lamongan 2008



SERUAS AKSARA

di tapaktapak kencanamu
kututurkan setitik hati lewat bisikan raga
lewat pergantian wangi musim
juga lukisanlukisan senja
marilah beranjak bebas
seperti anginangin suluh
yang menghampiri peradaban-nya
sejauh jiwa mengepung

Puisi-Puisi Marhalim Zaini

http://www.jurnalnasional.com/
Seribu Lima Ratus Sebelas

seribu lima ratus sebelas
di dinding gereja merah saga
burung-burung hitam
melepas gaun melaka.
tembok meninggi
membangun ritus
di kaki langit tua
aku menurunkan
gumpalan kota
dari pundak malam
yang memberat
di anak tangga ke tujuh
pada dingin
yang disalibkan.

aku tamu
berharap bertemu
separuh tubuhku
di tanah bekas waktu
menurunkan gerimis
menjejakkan kaki portugis
tapi tangis itu
tangis itu juga yang mencumbu
menggelapkan segala peluk
pada kutuk
ia hinggap di ujung-ujung rambutku
membangun jembatan rumpang ke masa lalu.

ia menungguku
dentang jam pada lengang
mengirimkan becak penuh bunga
seorang tua menebak wajah sejarah
di raut asing bahasa lautku
tapi ia tahu
di jalan lurus yang kurus
sebuah kota sedang bekerja
membuat pagar dari kaki-kaki
pendatang yang kekar
turunkan aku di sini, tuan

di mana rumah itu
tempat kebisuan dibatukan
gedung tua saling pandang
membuat tubuhku terasa telanjang
aku takut menyebut siak
mulutku tertinggal di kursi retak
aku ragu memanggil lingg…

Puisi-Puisi Ni Made Purnamasari

http://www.jurnalnasional.com/
SEUSAI SUNYI
: Rilke

Di dunia ini,
ada lampu yang kehilangan warna,
ada labirin untuk jejak langkah
yang bahagia.
Tapi di ujung titik,
hanya ada kata-kata
dan hampa yang percuma.

Di dunia ini,
ada gadis-gadis yang menyamar cermin,
ada cium yang meniru malaikat salju.
Tapi di antara koma,
malam-malam jadi selimut tua
dan dingin jadi dingin yang biasa.

Di dunia ini,
mungkin semua biasa.
Juga bagi seekor lebah
yang menggantung di sudut ruang,
yang mendengungkan murung
untuk udara yang tak tembus cahaya.

Dan di dunia ini,
ada pendulum waktu
yang tak punya kilau biru,
bergerak pelan
hingga yang hampa
sampai ke batas cahaya.

Juli 2007



JEMBATAN KOTA

Sehelai sakura jatuh di langit biru.

Ada riak kecil, sesaat menghilang
ditiup gelombang angin
Siapakah yang memberi nama
untuk semua burung camar
yang melayang hampa?

Barangkali payung seorang gadis
yang menunggu di jembatan
atau ilusi yang menyamar ranting pohon

Seandainya semua bisu
sebelum langit menjelma biru
bisakah lonceng bergema tiga kali
dan ribuan…

Puisi-Puisi Budhi Setyawan

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
ODE PENYAIR LUKA

akulah
penyair luka
terlahir dari darah nanah

kutawarkan rintih duka kepada samudera
untuk kutukar dengan: ombak ganas

kutawarkan bosan nuansa kepada ladang
untuk kutukar dengan: gesit musang

kutawarkan hambar jiwa kepada sabana
untuk kutukar dengan: taring singa

kutawarkan keluh sengsara kepada belantara
untuk kutukar dengan: aum harimau

kutawarkan beku cinta kepada gunung
untuk kutukar dengan: gelegak lava

masih ku duduk di kepak kata
menunggu jawabnya,
sambil menghitung sisa usia

Jenewa (Swiss), 27 Juni 2007



SAJAK PENYAIR LUPA

bukan ini yang kumau
mengapa puisi begini menjadi
ini hanyalah najis dalam bangunan kata-kata manis

“duhai kata pujaan
bermalam-malam
berbulan-bulan
bertahun-tahun
kau benamkan aku dalam perahu renjana
melintasi taman teduh sekujur pembuluh
setia meski di ruang keruh
bahkan banyak yang ingin membunuh
tiada keluh mengaduh
sampai engkau kurengkuh, sungguh”

“engkau terus membelit menggodaku
namun kau tak pernah hadir di bait-bait sajakku
men…

Puisi-puisi Bambang Kempling

...Menisik Luka

jarum jam menisik luka
:menyebalkan
kaukah yang terjebak dalam tanda
diantara dera cuaca dan guyur hujan?

ada yang tersimpan
dalam genangan air di jalan
:sesosok jiwa
mengerdil
ia menari bersama pelor-pelor hujan
untuk sebuah lagu yang hampir usai
lalu terdengar dentang di pembatas waktu
menuju senja.

sesosok kunang-kunang
mengejanya ketika hujan telah reda
malam terdiam
takjub pada cahanya

13 April 2007



Hari Ini Kau Terjaga

hari ini kau terjaga: di sudut peron stasion
ruang menjalamu
rel kereta memanjang dalam gaib
balok-balok yang abadi itu
masih begitu setia
menghitung angka-angka

sampai hari ini: saat kau terjaga
dengan kerdip mata
yang begitu lelah
deru kereta hanya sayup terdengar

terkadang kau pun sangsi
pada persetubuhan yang harus kau lakukan
saat perjalanan belumlah sampai.

April 2007

Puisi-Puisi Dian Hartati

Di Balik Tikungan
buat budi p hatees

h/
malam telah menghabiskan cahaya
seluruhnya diserap tubuhmu
aura apa yang kau sisakan di gelap ini
yang silang di balik jabat tangan

ternyata jalanan telah mempertemukan kita
arah datang katakata tak diduga
mencecar tawa dalam ruang yang melaju

t/
siang tadi aku masih mencermati tikungan ini
sepi, hanya angin yang menghibur diri
dan gugur daunan mendatangkan kupukupu
apakah itu pertanda kau akan datang

menjelang malam serangga itu pergi
berganti dirimu
duduk menanti di tikungan

aku abai melewatimu
yang sibuk di antara genggam ponsel
tertawa begitu renyah
kau berbicara dengan siapa
sungguh aku ingin tahu

s/
di balik tikungan
akhirnya kita saling sapa
menorehkan segumpal kenangan
selalu dalam tawa yang hangat

SudutBumi, 30 April 2008



Melati yang Aku Curi

kata leluhurku,
datangilah setiap pelaminan yang digelar di ranah kerinduan
di situ ada cinta yang diikat sempurna oleh janji sehidup
ada hati yang tak dapat mengaburkan kenangan
tersebab harihari dilalui dengan asa

kata leluhurku,
b…

Puisi-Puisi Wayan Sunarta

http://www.kompas.com/
Puisi untuk WL

walau cuaca galau dan
angin memeram benih malam
namun kau masih setia berjalan
dari waktu ke waktu pertemuan
antara kenangan dan kerinduan

lebih puisi hari-harimu kini
endapan semerbak wangi rambutmu
o, kilau cahaya yang ragu
pada batas kelam kelopak mata
ombak merayap mencapai mulus betismu
letih telah paripurna di tepian senja
dan camar yang mengembara sendiri
akan kembali pulang ke sarang jiwamu

Karangasem, Bali, 27 Mei 2008



Sajak

aku tahu kau akan tiba dengan kutukan baru
aku tahu kau akan tiba dengan jubah baru
aku tahu kau akan tiba dengan perahu baru
maka begitu pula kau tahu
aku akan tiba dengan kematian baru

(2008)



Padangbai Pagi Hari

perahu kembali tiba
dari jenuh pelayaran
anak-anak ombak
mengeja riak di tepian
dan terbaca lagi air matamu
yang bagai kilau mutiara
dalam kandungan cangkang kerang
bertahun-tahun lampau

ufuk pagi menyala dari matamu
di mana tertambat segala lara
dan rindu akan kepulangan

kabut masih merambat di tiang-tiang layar
dan ikan layur masih pula seti…

Puisi-Puisi Dadang Ari Murtono

Jurnal Kebudayaan The Sandour III 2008
TIGA BELAS FRAGMEN BUAT SINDHU

sepasang mata selebar piring berdiri di dada ibumu,
di kelamin ayahmu

1. Tidur
aku bermimpi menjadi sebatang pohon
dan saat terbangun
rambutku telah berganti daun-daun

2. Pertemuan
menuju muara
tubuhku mencair dan mengalir
mengikuti liku-liku tubuhmu

3. Keberangkatan
satu persatu orang-orang pergi
dan tubuhku tinggal gerimis

4. Handphone
jerit yang terus menyala
ijinkan aku tidur di relung matamu

5. Di Bawah Akasia
gerimis telah menjadi hujan
mari, berlindung di balik puisi

6. Bir
di riak busanya
tertulis norma, agama dan dunia
“mabuklah”

7. Kerinduan
pantatmu tercecer di lorong-lorong sunyi
yang membentang dalam tumpukan
puisiku

8. Doa
setelah berjuang melahirkan kata
aku ingin mati di rindang senyummu

9. Buka
segera siapkan pisau paling tajam
kita tikam lapar di ulu jantungnya
agar tuntas segala dendam
biar lepas segenap beban

10. Sendiri
masuklah ketubuhku
penuhi relung dan lorong
juga gang-gang sempit berbahaya
tak perlu sungkan atau malu
sekian lama ak…

Puisi-Puisi Mashuri

http://mashurii.blogspot.com/
Lorong Tak Berujung

rahasia yang berkumpar di bayangmu membuatku piatu
hidup begitu asing seperti pemancing
tak berumpan dan berkail
di kapal, aku hanya menghapal depa laut
yang tak kunjung susut aku layari
ah, masihkah kau sembunyi di balik ufuk

Puisi-Puisi Tjahjono Widijanto

http://jurnalnasional.com/
BISMA

“telah kusediakan hari dan pengantinku sendiri…!”

desir pasir di gigir ini menyimpan rahasianya sendiri
ramalan musim berbiak sejarah melata di selakang waktu
memintal kembali tekstur buram rajah nasib lancip di urat nadi

tak ada waktu untuk kembali
seonggok jubah kelabu, mahkota terbelah
mengubur syahwat yang juga gelisah

jagat dalam tatapan lensa tua terbungkuk-bungkuk
menanggung riwayat larut oleh hujan
yang mendadak berubah lempeng logam

seperti memahat batu yang tak henti belajar beku
tafakur serupa bayang-bayang kastil purba
dalam tatapan letih mata malaikat tua
yang perlahan-lahan mendengkur

tak ada yang dapat dilakukan kecuali mentakzim sunyi
angslup ke dasar jantung dalam gelora gemuruh
sesaat setelah tabik terakhir
dalam sayatan yang juga terakhir

Ngawi, 2007



ARAFAH

entah siapa menyuruhku menghitung kembali tulang igaku, tetap saja hilang satu
berjuta yang lain juga mencari tak ketemu-temu sebelum pada senja yang mendekati gelap ia datang sendiri mengetuk pintu pel…

Puisi-Puisi Y. Wibowo

http://www.lampungpost.com/
Sungai Sindang dan Jejak Pasir-pasir

Sejak air melulur pasir di lembar bukubuku buram
riwayat ikan menjelma bulan, luput tak tercatat
ada juga keong yang bertutur lisan
sebagai bayang masa silam
sulur cahaya berpendar menebar rawan
aku hadir sebagai pemulung muram
memungut secarik alamat

Memungut peraduan masa silam
tempat berpercik kembang setaman
denyar persetubuhan
seperti larik pasirpasir
jejak resap surut air

Mungkin saat itu udara menggelepar
pandangan tertebar pada yang nanar
kilau air berbuih meracau
desah asap lecut mendesau
dan semayup kehangatan telah beranjak
menyisa keriut noktah
menghampiri si pemulung berambut hitam
berkulit coklat, mencacah kenangan
mengkunyah masa depan
menciptakan alamat pada sungai
pada rompal batu dan jejak pasir
yang ingin kembali berdesir



Sekawanan Buih Danau Ranau

saat airmatamu telah jadi ikan
apa yang kucari di pulau itu?
dengan segala yang membuat aku bertanya
mungkin itulah makna buih --yang di kutuk angin

; berulangkali musnah tinggal rangka
ti…

Puisi-Puisi Pringgo HR

Berperahu

simpulsimpul di tiang rindu
engkau urai satusatu kian longgar membebat
renggangi ruas rasa pada camar camar yang resah
benturan debur

luka kain layar mengolengkan perahu
berpusing di pusaran angin yang tak pernah setia
meniti setiap lengkung gelombang

tinggalah tiangtiang telanjang berdiri mengurus
menghitung angkaangka di kalender nasib
berharihari merasai panggang matahari

berayunhayun perahu berpayung ombak
selalu menikung
di setiap bentur.
di setiap tubi cambuk debur
membuat papanpapan setia meretaki
luka

barangkali semisal Nuh
menenggelam sayatan satu demi satu
atau terdampar
menyisahkan tanda
dari pantai ke pantai
dari musim ke musim

saksi aku dan engkau
pernah berperahu

Babat, 16 September 2006



Oktober Ke 20 - 2006
: untuk C.I3

malam ini menyuntingmu masuk dalam dekapan
tanpa rembulan hanya angin dingin yang mengabar
oktober segera menjatuhkan gerimis yang pertama
rerintiknya membasahi lincin antara jalanan maret
sampai tepian rindu

aku terpelanting terjerembab
di semak katakatamu yang mengulur musim
h…

Puisi-Puisi Anis Ceha

SEBELUM KU TAHU ENGKAU

Sebelumnya aku gelisah:

“apakah ada sesuatu di hatiku
ketika kita saling menyapa?”

hujan menurunkan kaki-kakinya,
berlarian saling mendahului
kemudian genangan air melimpah-ruah.

Dan kilatan-kilatan petir saling bertukar cumbu
dengan bumi,
lalu gelegarnya menuai reda,
waktu tenang;
dahaga tak lagi ada.

Malam itu ada jawab,
yang sebelumnya aku gelisah!

Malam itu aku melepas pasrah.

051129



MALAM

Akhirnya
ada jawab
tentang kau;

kekasih
di degupan jantung angan.

051129



PURNAMAKAH AKU?

Jika ku temui dirimu di ujung bulan,
akan jadi apakah?
Permaisuri raja,
pungguk rindukan bulan.

Jika ku temui dirimu di awal senja,
kemudian menghitam,
larut dalam adukan kental kopi selir lamunan
atau sekedar embun sepi di malam-malam lalu,
menjadi selimut tebal;

justru membuat beku segala kelu.

Maka, purnamakah aku
bagi bumi mendadak gelap?

050829



KU DAPATKAN DIRIKU

Ku jadikan diriku
selembar daun mengharum senyum,
kala pagi menghijau
atas kesejukan malam ku jelang,
agar ku bisa sentuh sepimu sendiri jadi raja
lalu karam di l…

Puisi-Puisi Ahmad Muchlish Amrin

De Javu

Kasih;
Dalam tidur malamku, kamu datang dengan sebilah tanda tanya, tanda
tanya mirip gumpalan titik koma, kurasakan lembab tanda seru
bersembunyi pada batang takdir yang kucipta dalam rahim ibu.

Seperti garis peta yang menghunjam jantungku, ingin kutafsir jalan nasib
lewat petualangan tiada akhir.

Aku menangkap wajahmu serupa wajah dalam mimpi-mimpi, wajah yang
datang tiba-tiba di keheningan batinku.

Aku merindukan kurung buka untuk merapal nama-nama bintang
sesuai angka kelahiran dan
kutemui wajah-wajah yang sama meski beda nama, mereka pergi bila
kutanya.

Aih, rupanya aku sudah mulai gila padahal belum kutulis kurung tutup
lewat tangan yang gemetar jika mendengar namamu disebutkan

Ibu;
Meski semakin jauh aku berjalan, semakin terjal jarak kampung halaman:
itulah kepulangan. meski nasib tak menentu dan kenangan-kenangan
gugur di jalanan; aku masih bertualang.

Selalu aku menyusu pada matahari yang terbit dari do’amu meski cahaya
kisut dan usiaku makin keriput
lihatlah, Ibu! lihatlah gambarku dala…

Puisi-Puisi Sosiawan Leak

http://budhisetyawan.wordpress.com/
BERALAS SAJADAH KUTULIS PUISI

timpuh di sajadah
kutulis sajak
tentang pelacuran,
pornografi dan kehidupan malam.
tapi tidak ada mesias apalagi tuhan
kitab suci terbakar bersama tembakan
dan huru hara kartun nabi.
timpuh di sajadah
kutulis sajak
tentang mata anakku yang terpejam
kecapaian di tengah malam
entah karena mimpi atau lantaran permainan siang hari
tentang wajah ibunya yang dirajang-rajang usia
lantaran pekerjaan rumah, kenekalanku yang meremaja
atau kesibukan kerja.
tapi tidak ada malaikat
surga terbakar kenaikan harga
neraka menggurita di mana-mana
di tiap trafick light dan pojok kota
merdeka dan sentosa!
kaki tangannya menjelma tuhan, nabi, kitab suci
juga malaikat dan surga
bahkan juga puisi, timpuh dan sajadah ini.

Pelangi Mojosongo, Solo, Maret 2006



NEGRI KADAL

negri kami negri kadal
negri yang tidak pernah sepi dari juluran lidah
menjelma dasi, panji-panji hingga janji-janji
yang selalu terpelanting bacinnya ludah.
sambil melata, kami mengendap,
menikam dan bersengg…

Puisi-Puisi Ilenk Rembulan

http://www.kompas.com/
Lapindo Satu
: bude Umi

dua ramadhan sudah berlalu
ini ramadhan ke tiga
adakah gema takbir di ujung sana?



Lapindo Dua
:bulek Menik

jemari menyisir sahur di ujung rambut
tetesan peluh menakar gelas kosong
adakah mukena bersih yang masih tersisa?



Lapindo Tiga
:guru Tono

keluh menghimpit
di ujung tumpukan buku
jemari menghitung
papan tanpa tulisan
menunggu bagdo buka
masih adakah bingkisan datang?



Lapindo Empat
:ustadz m.arifin ilham

lafal dzikir bergema
gelegak lumpur mengiringi
lambaian tasbih menari
jeritan puasa berjama’ah
sudahkah kau kirim tahajud padaKu?



Lapindo Lima
:tuanku bakrie

keranjang parcel masih terhidang
lipatan sarung dalam jutaan
kuketuk selembar hatimu
sudahkah kau kirim zakat untukKu?

Jakarta, 9.10 wib, 16 september 2009

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi

Interlude di Remang Malam

terdengar itu,
jam dinding membentak
hitungan waktu yang terpenggal
tak pernah gagal

rupanya,
kita sudah menjadi kebal
terus mengotak-atik waktu
dari 1 ke 1001
: mimpi manusia

tapi,
suara tokek itu
masih sempat membikin kita tersentak juga



Perjalanan Ke Bukit

aku tak ‘kan mengharap
jalan datar di depan sana
dan doa yang mengharapkannya
akan ditertawakan udara
sebagai ketololan yang sia-sia

”telah kering sang Pena”

iklim-cuaca pun mencatat
bahwa perjalanan ke bukit
otot-otot menjadi kawat
butir-butir nasi menjadi keringat
dan semangat ditumbuhi karat

dan manakala aku tergelincir menggelinding
aku tak mau ada di antara ngeri dan mimpi
yang tak lain adalah diam yang menyiksa

biarlah hancur binasa
sebab kehidupan akan tergelar segera
dengan memandang mekar wajahku
di bukit sana



Kepada Waktu

coret saja namaku dalam daftarmu
berkali-kali tak sambut buangan kakimu
dan buang saja ludah pahitmu ke mukaku
seperti yang selalu kaulakukan membikin sesal

memang hijau jari-jari di dada rentan patah
apalagi untu…

Puisi-Puisi Imamuddin SA

DARI ALIF SAMPAI YA’
kepada Sang Nabi

lidahku laksana kutub
dan sarafku tak bergaun wol
hingga bibirku membeku
membisu

imajiku kaku
tiada aksara terangkai untukmu
hampa mengukir puitika puja nan merdu,
sungguh segalanya telah terlampaui keanggunanmu
gontai jalan hatiku

mengangan angan tuk kembali memujimu
sebab abjad terusang olehku

di sisa degup sahadat
merekat
kusisipkan rekaat munajat
lewat tembang-tembang yang kau gurat;

“dari alif sapai ya’
adalah bukti perjalanan waktu
disingkap kebersatuan laku
terkunci keyakinan kalbu,

esok kita kan bersatu
kala kusanggup membongkar tanda
yang kau kisah untukku
sebab yang tertuju hanyalah satu
kuyakin itu”

Kendalkemlagi, Maret 2008



KADO JATI SEREMONI

ia kenal tembangmu
walau ini sepedih rasa
meringkuk telah
di sekutu tanah,
kau rentang saja
sayap-sayap kalbu
merela gala teseru

adalah serimpi misi
mengarang kembang usai
lewat cendawan nanti
tak terbeli
atau tergadai lalui
liat lindu tempo hari
pun entah … ini
sebatas sirkus nadi
bagai kado jati seremoni

tiada seberat hati
melepas diri
bagi…

Puisi-Puisi Denny Mizhar

KABAR DARI KAMPUNG

Sawah Mbok Yem, gagal panen
Akibat limbah pabrik yang meracuni tanah sawahnya
Nasi pecel Mbok Jah tidak laku lagi
Akibat kalah bersaing dengan makanan instant dari luar
Karibku masuk bui
Akibat mencuri uang untuk ibunya yang sakit
Mbok Yem, Mbok Jah, Karibku entah besok siapa lagi?
Kampungku terasing, tersingkir atas nama pembangunan

Malang, Februari 2007



DI ANTARA DUA PILIHAN

Daun-daun berguguran saat musim hujan.
Sungguh aneh?
Itulah yang kulihat!
Tanpa kumengerti, dan terjadi begitu saja
Halnya dengan waktu
Aku tidak bisa memahami,
pergantiannya
arti sebuah malam dan siang
Semua terjadi…
Saat kucumbui kegaluan hati
menjelang persetubuhanku untuk menancapkan rasa hati

Malang, 5 Juni 2007



BURAM

Aku inggin bertanya,
Pada kita yang sebentar lagi menjadi gundukan tanah

Masikah kita menjadi manusia utuh?
Ketika yang nyata menjadi maya

Masikah kita otentik?
Ketika dalam diri kita ada yang lain

Tuhan,
Adakah diri kita sejati dimana hitam dan putih bercampur,
dalam bayang eksistensi jiwa bebas manusia

Tu…

Puisi-Puisi Sri Wintala Achmad

SULUK SRIKANDI

(I)
Di alun-alun
Rumput merimbun
Semilir angin
Buai sepasang beringin

Angkasa membiru-jingga
Membakar gairah asmara
“Kanda, ajarkan aku memanah matahari
Sebelum terbenam ke dasar hati!”
Ujar Srikandi, sembari
Mencolek pipi Permadi

(II)
Angin lelap di sarang malam
Tidak ada kecipak ikan di kolam
Hanya desah Srikandi di bibir ranum
Melenguh hingga ke tulang sungsum
Lunglai telanjang di ranjang
Di pipi, airmata berlinang

“Kanda, mengapa kita cepat berpisah
Manakala matahari terpanah
Koyak berdarah?”

(III)
Di depan gerbang istana
Hati Srikandi berbunga-bunga
Melepas Permadi ke Madukara
Dadanya hangat diraba
Namun matanya tersirat sendu
Sekali mencinta lelaki buat dimadu

Sanggar Gunung Gamping, 07082006



SULUK BANOWATI

Di depan Bunda Setyawati
Aku hancurkan cermin kaca
Malu hidup sekali
Sebagai wanita pendua cinta

Akulah si bungsu Narasoma
Yang terlepas dari kudangan
Bukan pecinta s’orang hingga senja tiba
Melainkan pengkhianat kasih pujaan

Tidak sebatas Aswatama
Aku rela dicap sephia
Menebus dosa seusai Baratayuda
R…

Puisi-Puisi Esha Tegar Putra

http://jurnalnasional.com/
Orang Ladang

tujuh petang menukak punggungnya, di bukit
ingin mencakau alang-alang. niat tinggal kalimat
tujuh petang gigih menikam, menyansam,
mirip ragam umbi yang ditanak dalam periuk
teruka ini tinggal batas, tinggal jejak, sebab di bukit
ia tumbuh dan menyusup ke dalam lempung tanah

tujuh petang menukak punggungnya, di ladang
ada yang tak pernah hafal desau biola, segelas anggur
atau niat untuk membangun rumah pasir di tepi pantai
sebab ia orang ladang. ia lesap ketika mengejar tupai dan beruk,
dia rapal musim petik kopi
dan ketukan yang berkali pada pintu dangau
ia tahu siapa yang tiba

maksud hanya menukak tanah lalu tanam. menanam
lalu petik. tapi sepi berkuasa terlalu dalam
ia ingin bertuju pada sebuah jalan batu, simpang
dengan udara masam, ilalang kering merabuk
ke sebuah tempat di mana tupai dan beruk berdamai,
bersamanya. mereka akan berkejaran di bukit
dalam botol anggur,
lalu mereka akan lelap di desau biola

tujuh senja adalah ia yang ingin berladang
pada sebuah tanah…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

DEMI WAKTU

Apa yang kau pikir tentang aku selama ini adalah kesalahan terbesar yang pernah dilakukan oleh waktu; keberadaan itu pencapaian di perjalanan waktu melampaui waktu; aku memang ada di jalanku sendiri, namai keadaan dengan penyerahan sesuatu yang memang seharusnya ada tapi tak terlihat, maka siapa menemui duniaku disana tidak bersembunyi dari jejakku, maka jejakjejak itu akan mengantarnya sendiri pada kabar mencapai kebenaran penempatan wajah tertinggi; demi waktu aku milikmu demi aku waktumu milikku.

Adakah kata kan disekat pembatas yang nyata sedang waktu sendiri adalah bahasa akhir melepaskan segala kehidupan.

Ini waktu bukanlah kebohongan, adalah yang menandai batas yang kau pikirkan: siapa melewatinya dengan pandangan kebenaran.

Lamongan, 2006



POETRY OF ABSOLUTION
:bagi kaum pemurtad dan berhala

Tentang kehidupan terasing ini; aku menangkap manusiamanusia di sekitarku tak lain adalah kesiaan, begitupun aku. Inilah kehidupan paling aneh yang pernah aku rasakan; kehidupan seakan …

Puisi-Puisi Amien Wangsitalaja

HIATUS
-pesan mai

selagi masih ada ruang keberanian
biarkan
kehendak yang tak masuk akal
menaruh kepercayaan, bahwa
takkan ada pengucilan
akibat kebencian, atau
hukum manusia

selagi masih ada ruang kelembutan
biarkan
diri mengembara
menghayalkan
sebuah pertemuan, yang
mendebarkan



BIDUK

1
suatu hari
aku menghadiahi kapal mainan
berbahagialah anakku pertama
karena memiliki teman bercanda

kapal itu, kataku
tidak akan berangkat tanpa keyakinan

2
istriku meragukan
makna keceriaan anakku kedua
karena ia tertawa
setelah kapal mainan jatuh terlempar

aku ragu, kata istriku
apakah tiang layar tak bisa patah?

3
segera kusembunyikan kapal mainan
sengaja aku ingin menggoda
agar kedua anakku marah
dan istriku masam-masam cuka

hai kalian, kataku
siapkan pelampung

4
kupikir
aku seorang pelaut
dengan membeli kapal mainan
dan membincangkan laut

tanpa ombak, kataku
laut bukan laut

5
kupikir
istriku mudah berang
jika kapal mainan sering tenggelam
dan hatinya pun

kukutuk malam, katanya
kenapa orang suka berlayar



AMSAL MUSA 1

kutulis singkat cerita
dari kein…

Puisi-Puisi Dian Hartati

Kamar Beraroma Apel 2

inilah garis singgung yang kucipta
sebuah dunia yang mendedahkan segala rasa
ketika tawa dan cerita hanya milikku
tak terdengar oleh sesiapa

di sinilah sudutbumi kuhamparkan
petapeta rahasia kubentangkan
penuh kepak kupukupu
kesegaran aroma apel
kecerahan matahari yang selalu bersinar
juga lelembah yang antarkan aku pada sebuah cahaya

di hampar permadani yang sejuk
kusebutsebut sebuah nama
juga kutuliskan banyak puisi
untuk mengenangkan seluruh kisahku
mengabadikan tangis yang diantar sebagian rasa gundah

jika kau masuki tempatku berada
lihatlah sketsa hidupku
seseorang telah melukiskannya untukku
di beranda sebuah mall
ketika angin memenjarakan aku di senja kota bandung

telusurilah angan yang kucipta
langkahlangkah sepasti sejarah
lekuk gairah yang lebur di tubuhku
semua menghadirkan senyuman yang banal

SudutBumi, 07 Maret 2008



Sketsa Hati

hatiku bukan hijau
ia ungu seperti yang tumbuh di mataku
ia dalam menutupi sumur kenangan
ada luka di hatiku
yang selalu gerimis
jika seseorang melihat di k…