Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2008

Puisi-Puisi Mardi Luhung

DARI JALANAN

Dari jalanan ketika kau bekerja cuma
dibayar dengan berita dan terpaksa
pulang dengan persiapan berkelahi dengan istri

dari jalanan pula aku mainkan yang bisa
dan sesekali menghitung siapa yang telah
menembak tubuhku lewat balik jendela

lalu aku pun mati dan bangkit lagi
bangkit dan mati lagi, mati dan bangkit lagi
tanpa tahu siapa yang berkuasa atas kejadian itu

sebab ketika tepat di depan pintu rumah
istriku pun telah menyiapkan selembar
kafan putih bertulis:

“Kami telah putuskan untuk memotong
alat kelamin suami-suami kami, yang telah
membikin kami bolak-balik melakukan abortus!”

dari jalanan aku kuburkan potongan alat kelaminku
dan mayat anak-anakku. Dari jalanan pula
aku mainkan yang bisa:

“Berlari dan makin berlarian,”

Gresik, 1994



PENGANTEN PESISIR

Aku datang dalam seragam penganten pesisir
seperti arak-arakan masa silam
jidor, kenong, terbang, lampu karbit mengiring

di depan para pesilat bertopeng monyet
celeng, macan, dan juga kancil berjumplitan
mercon sreng sesekali mewarnai langit

aku da…

Puisi-Puisi Kadjie Bitheng MM

BERSENDAWA

marilah bersendawa
jangan terlalu serius
karena semakin serius semakin tidak terurus
coba lihat ranting dan dahan
terlihat ceking dan kurang makan
karena mereka terlalu serius menjaga bumi ini
padahal mereka bukan kholifah bukan pula nabi
lalu disemprotkanya racun dan pestisida
biar acum dan tak berdaya
mari, mari kita bersendawa
tuangkan air dalam kendi
bukan arak atau brendi
lau kita duduk dalam satu meja
tapi, ssst jangan berkelakar!
nanti malah dituding makar
bisa jadi ada mata mata
mengendap endap di bawah meja
mari, mari kita bersendawa, kawan
sambil kita nikmati pisang dan singkong rebus
hasil panen dan sisa tikus
tapi sabar, sisakan sedikit buat pajak
biar tanah kita aman dari pembajak
tetap, tetaplah bersendawa, kawan
dan berpura puralah tidak tahu
tentang saudara kita yang terkapar
flu burung dan busung lapar
karena kalau kita sampai tahu
maka nasib kita tidak akan ada yang tahu.

Lamongan, 2005



PERJALANAN

menelusuri perjalanan
tersesat aku
pekat masih menghantarkan rindu…

Puisi-Puisi Javed Paul Syatha

ABSURDITAS RINDU

adalah samsara rindu
membuatku mengenali segenap ruang bagi jiwa
sebagai pengendali yang hebat
diperjalanan beratus abad lampau dan nanti
[melampaui semua rahasia
semua misteri]
kini aku miliki setiap waktu dalam perjalanan rindu
dan untuk perjamuan dan berkahberkah.
duh, hanya anggur yang akan kusuguhkan
untukmu
dan pergelasnya adalah cahaya
serangkaian cahaya dari ujung ke ujung
engkau menjadi tamu yang mampir ke
rumahku
kemudian lebih dekat ke esensi ke arti
engkau berada pada jarak tanpa batas.
o, rindulah itu
sebuah perjamuan di suatu rumah
dimana kedekatan terus membuat makna
mencoba menetapi pada jalanan waktu.
maka datanglah jika engkau rindu
bukalah pintu rumahku secara penuh:
bahwa ada rindu yang berkenan bicara
tanpa harus menghianati suatu pun.

yang mengabaikan rindu
namamu tertulis dalam kegelisahan janji
[adalah laksana cermin yang memancar
lantas menghilang engkau dalam kegaiban]
dan yang rindu dan bertemu arah
:inilah keagungan tanpa batas...

(lamongan, 2006)



ALIENASI KE…

Puisi-Puisi Imamuddin SA

EMANASI

Lihatlah,
Bersama rasa sejati
Sapa diri sendiri?

Rotasi masa pengubur ari
Dalam legenda misi atau sangsi
Telah membawamu di hening emanasi.

Selembar titah kau pegang, tertuang
Semi
Di jejak jemari
Senandung sangsi ukir sayap sendiri
Kala desah hati membakar ingkar sang mentari.

Ingatlah,
Serangkai saksi
Bertabur atas titik suci
Dalam cakrawala tertinggi?
Semasa diri terbelenggu dua esensi
Tinggal-lah bersama samsara ini.

Ya, lekas hembus padanya!
“debu-debu jiwaku
adalah kesemestaanmu,
tanpa percik cahayamu kan berlalu
sebab gala tanda terlukis semu
hampa berlagu
kala sang sinar tertarik kembali
dalam nada azali.”

Lamongan, 2006



KEDAI JAMU

Sungguh, gala pasak bertegak
Sangga singgahsana suci
Di kedalaman hati
Ukir saksi misi diri sejari.

Kala padanya kau seru
“datanglah di kedai jamuku”
Dan segala hasrat tarik mengerat
Lukiskan parede arwah raya
Dalam hening romansa.

Saat itu, kau saji secawan anggur
Pesan, pada roh sendiri,
Hanya ia tak kau perciki.

Tapi, sona membawanya terketuk
Bertentang sedu

Puisi-Puisi Heri Listianto

PANGGUNG SENYUM

Sekedar menggelitik
disekitar tolehan tangga,
Panggung senyum tertawa bersuara

Kotak jurnalku terkapar
Mengabsen jari-jari lengking
yang berjalan menggelitik diatas wacana itu,

Kitapun mulai mendata
partikel-partikel yang berjalan setengah langkah.

Mungkin, malaikat rumput
mulai takluk oleh para kambing
Yang menunjuk para moderator
Dalam sidang para "Hayawan"

12 Okt 2005



TINGKAI-TINGKAI TIKAR

Pada benih-benih malam yang diam
menepuk tikar senja
mataku berkedip melamun lelah

Kunci-kunci anehpun
menggulung baja subuh yang tidur angkuh

Luntur…!
Hancur...!
Puncak berapi yang tidur disebelah tangan

Karena tahun
malaikat berubah lelah.

21 Okt 2005



PASIR KEPOMPONG ENJELAI

Dinding tebal disekitar padang
Merajut pola di sepi sahara

Suara-suara gerimis
Memuai pada telinga-telinga
Di atas sanggahan Alang sang pujangga

Bersama turunan nilai
pasir-pasir berlari
Di dalam buku enjelai.

Mungkin…
Renungan mereka berkiprah
Di rupa keletihan

Dengan sikap lembut menggunung zarah
Yang berubah
Mengungkap lu…

Puisi-Puisi Haris del Hakim

DOA KAWANAN ANJING

tuhan,
kemana para pelacur yang menyingkapkan betis,
melepas sepatu high heel
memeras payudara
dan memberikan susu kepada anjing-anjing yang kelaparan.

15/07/05



SAYAP KUNANG-KUNANG
: buat SBB

tubuh yang berkepala, bertangan dan berkaki ini, kupinjamkan sayap pada kunang-kunang yang malu bermain dengan cahaya di siang hari; agar sekejap terbang meninggalkan pematang dan membakar diri dalam bara rindu matahari, lalu kata-kata, surga dan keabadian saling kelebat dalam sukma yang lenyap…

“kerakusan hendak menjamah tanah lapang berumput,” jawab penggiring kerbau atas pertanyaan ibu-ibu berkebaya yang dibasahi lumpur dengan tangan menancapkan batang padi di sepanjang jidar; lenguh lelah dan panas yang memeras keringat serasa rintik hujan yang menyingkirkan mendung di wajah anak-anak mereka

sementara para remaja berseragam belajar
menyusun puisi:
malaikat-malaikat yang mengintip
kata-kata bijak tak berpijak di atas lincak
atau bermain sayap rayap-rayap menelan harap
daripada:
mencatat …

Puisi-Puisi Ghaffur Al-Faqqih

TERPEDAYA

Semakin tersesat kenikmatan
Pandangan kabur
Berjalan diatas keraguan membuat
mata-mata buta
Terperosok jurang keindahan.
Dimana hitam, putih sama
Roh-roh menawarkan anggur
Menepis keimanan.
Takberdaya atas nikmatMU
Lupa akan daratan
Tenggelam akan nikmat dunia.

(Lamongan, 2006)



DIBATAS KERINDUAN

Ia hadir, hanya di batas kerinduan
Dibalik debu-debu
Ingatkan kekasih
Malam itu, semalaman penuh ia bersajak
Berimajinasi mengurai rindu padanya
Merujuk ruang waktu, semakin hitam
Penuh debu-debu persimpangan jalan
Cintaku padaMU

(Lamongan, 2006)



PENCARIAN

Jangan bertanya laut,
Apa arti kedamaian,
Bila laut masih meriak.
Teguh batu karang terkoyak
Hamparan gelombang badai topan
Angin lalu.
Jiwa-jiwa rapuh
Perahu kecil berlayar, telusuri
Pulau-pulau. Mencari kedamaian
Di tengah-tengah lautan.
Perahu kecil berlayar
Disana ada pelabuhan.

(Lamongan, 2006)

Puisi-Puisi D. Zaini Ahmad

AWAL TAHUN KELABU

Gemerlap kembang api tahun baru
Masih terbayang di pelupuk mataku
Tiupan terompet di sepanjang jalan
Masih terngiang di telingaku

Kegembiraan sejak pagi
Terukir di setiap perempatan jalan
Dan tanah lapang

Senja hari mendung petang datang
Bergelayut memayungi bumi
Memberi kabar
Segeralah pergi mencari tempat
perlindungan

Hujan badai pun
Datang menerjang porak-porandakan
segala di hadapan
Gemerlap kembang api berubah jadi
jilatan bersabung menyambar puncak
gedung dan pepohonan

Suara petasan dan terompet
Berubah jadi suara guntur
dan halilintar
Tawa gembira menjadi tangis derita

Tinggallah gemuruh doa yang kubaca
Dari hati yang nestapa

Januari 2006



FANTASI SAMPAH

Awal Januari nun berseri
Dalam sebuah ruang aku terburai dalam
fantasi
Simpuh meratap hidup tiada arti

Sembari kulihat manik-manik linang
air mata
Dalam sebuah cermin
Wajahku hitam kelam
Tiada setitik sinar putih memancar

Diriku sadar
Diriku tertimbun di antara bau busuk
sampah dan kerumunan lalat
dalam cakaran pemulung

Diriku tiada berdaya …

Puisi-Puisi Atrap S. Munir

KEPADA ENGKAU
- kesaksian hari

Kepada engkau
Aku disini hanya menangkap makna
Setiap kepak sayap burung dalam dada
(seperti engkau tebar ridho dengan cinta
dari doa aku berserah)

Wahai engkau
Mungkin harus tiada tersisa yang kita punya
Untuk mengubah zaman
Sebab dimana engkau hidup harus bisa;
Maka beri arti setiap desah nafas peluh
Pada kesempatan hari untuk memberi roh
Pada mimpi-mimpi.

(Lamongan, 2005)



MILESTONE CINTA

Tidakkah engkau baca
Kepadaku,
Tuhan melahirkan cinta
Kemudian membunuhnya.
Maka atas nama saya
Kutulis prasasti
Sebuah nisan kematian bagi cinta.
Cinta sekadar ekstase
Apresiasi ruang kosong dan hampa
Jalan tol ke syurga dengan tarif rupiah
Cinta sekadar sejumlah isyarat
Jika terpenuhi dapat kita nikmati.
Begitu nista kelahiran demi kelahirannya,
Kemudian dengan cara tuhan
Diciptakannya kematian.
Hanya angka dan bahasa
Kapan dan bagaimana ia lahir dan mati.
Maka akan kulahirkan cinta
Ribuan kata bersama tanggal
Bulan dan tahun
Pada pahatan ribuan nisan
Seabagai prasastinya
Sampai datang m…

Puisi-Puisi Ariandalu S.

CERITA MERPATI PADA SUATU PAGI

Lama aku tertegun melihat merpati yang bertengger diantara tumpukan jerami tengah mengusap-usap keringat di kepalanya dengan sayapnya yang pucat, ia semakin merunduk lalu bersimpuh pada sudut pandangan kosong di antara ilalang yang seakan asik berbicara dengan angin

Tak lama kian kulihat kesendiriannya telah hadirkan iba pada diriku, lalu kuhampiri dengan sejuta tanda Tanya, dan aneh ia malah tersenyum memandangku dengan matanya yang lembut seakan memberi ketenangan pada diriku, lalu ia bicara "hai maukah kau menggantikanku, aku terlalu lelah berkabar pagi, setelah larut dalam arus badai semalam, aku ingin istirahat dan setelah itu aku akan berada disampingmu mendengar kau bercerita tentang cinta pada suatu pagi nanti" dan iapun tertidur pulas sepulas bulunya yang sebagian terbang tertiup angin. Aku hanya terdiam melekat apa yang diucapkan merpati tadi pada suatu pagi

Lamongan, Januari 12, 2005



KERANDA GUSTI BERKARAT SEPI

Keranda itu sepi menghias …

Puisi-Puisi Anis Ceha

PADA SUATU HARI DI UJUNG SUBUH

Pernah pada suatu hari
Kudapati gelisahmu di ujung subuh
Tentang kupu-kupu yang di sayapnya
Terluka sebelah dan tak dapat lagi
Menyeret pintu samudra diambang pagi

Kata-katanya terlalu lugas untuk
Kumaknai, betapa pun kamus—
Kamus itu tersaji di hamparan mataku.

“aku tak bisa membaca”, kataku
waktu itu yang kemudian telapak
tanganmu menenggelamkan kepalaku
pada hangat ketiakmu

Awan terlalu tinggi untuk kau bisa
Terbang dan mengambilnya segumpal
Untukku…
Maka latihlah sayapmu agar tak kaku
Dan belajarlah terbang agar kau
Bisa mengambil lebih dari segumpal awan-awan itu

Agar kau bisa menjadikannya apa saja
Dan tak lagi putih, biru dan kelabu warnanya.

Katamu, tak perlu gelisahmu kau
Hadirkan sebuah kupu-kupu yang
Terluka sayapnya tak mungkin menyeret
Pintu samudra di kakiku,
Pada suatu hari, di ujung subuh…
Di ambang pagi!

051011



AWAL BULAN

Awal bulan,
ku singkap rembulan
agar bisa ku dekap maknanya
Walau letih selama langkah

Awal bulan, aku menurunkan jala
di tengahnya ku pasang …

Puisi-Puisi Ali Makhmud

DIALOG SERAMBI


isyarat mengepung ketika hampir saja
dialog serambi memuntahkan interupsi
pada ruang sunyi
dia berhasrat tiba-tiba
menghadirkan guratan mega
diatas kanvas
pada bingkai terlepas

sementara abjad melafadkan
irama mendayu
mendentangkan gejolak pada engkau
yang terkurung dibawah kubah
merindui, dia dibatas jauh

04 – 05



CIPRATAN KATA

ketika malam tiba-tiba tak lagi
melukiskan warna
menjaga dengan kerlip
lilin pada cemasnya yang terlelap
sesekali redupnya memunculkan igauan
waktu siang, memaksa engkau
merangkai kembali cahaya
sebentar-sebentar padam
berharap ia tak terjaga
dalam percikan kata-kata
diam
menyadari tetesnya
pada akhir waktu
mengeras diatas nyata
ia pun mengelap cipratan kata
yang tak lagi bias

04 – 05



MEMBACA TANDA BACA

menjelajah lembaran
pada tiap garis-garis
menyusul koma,

abjad semakin kencang menerpa
lafadnya melambaikan
sepoi rindu pada kekasih

dia yang telah menjejakkan
diatas tanah, melebur
air berbasah menebarkan
bau rindu atas segala
kasih mencebur
tenggelam dal…

Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi

DIA SEDANG TERBANG
- sm

dia sedang terbang
di bawa angin yang tertangkap
dari sinetron ABG dan kisah cinta,
ketika tiba-tiba
aku nekat beranjak pergi
dengan sebuah lukisan
—potretnya—tergulung

dia sudah tak terjangkau malam itu
ketika rinduku lega di ruang tamu
tapi, dia berkata:
besok saja, kulihat lukisan itu

ada yang hendak tumpah di dada

ah, lega rasanya
tak sampai tumpah rasa
terbuang dalam keranjang sampah
—yang kubayangkan—
di punguti dua ekor ayam
yang telurnya hampir
kusantap tiap malam

2004



JANGAN KAUBILANG
- G

jangan kaubilang
aku tak mencegatmu
di gerbang halaman
saat kau tanpa pamit
ingin berjalan-jalan, menengok
gebyar di luaran

tahulah,
tak ada ruang lagi di dada
bahkan bagi diriku sendiri
—tuk mengungkapkan hak—
lidah telah dipatahkan cinta

dan apalah tuah kata
jika hanya jadi pagar
yang kau ingin lompat
kau terjang

maka, bersukalah
—cukup bagiku, kau—
dengan sebuah rumah di dada
pelindung panashujan
gebyar di luaran

2004



AKU TAK INGIN SALAH MELUAPKAN RINDU

duh,
ampuni aku
selama ini
tanpa sengaja aku menyel…

Puisi-Puisi Mashuri

Doa Kutilang

aku berdoa dengan tangan disalibkan karena harapan hanya bunyi yang kelewat sumbang didengarkan: elli, elli, elli! lalu laut dadaku susut bagi tembikar yang kering usai dibakar; jantungku bernyanyi serupa derap sepatu tentara yang berlari ---ah, aku harus mengungsi ke mana, jika nanti kemah jiwaku dibongkar dan hartaku yang terpendam bakal menjelma bohlam yang ‘lah padam.

PARMI

Saiful Bakri

Suaranya di lipat
Di tekuk tekuk
Lalu dimasukkan dalam saku
Dan tak mungkin lagi dikeluarkan

Setiap hari Parmi berangkat dari rumah ke pabrik
Untuk disedot sisunya
Lalu pulang kembali
Tapi Parmi bukanlah sapi perah
Yang tak bisa ngomong
Atau bersuara merdu
Bila jatah makannya tak ada
Bila gajinya kadang kurang
Bila cuti haidnya kadang dipersulit
Bila keperawanannya direnggut

Parmi adalah Parmi
Gadis desa tamatan SD
Yang menjual kemerdekaannya
Pada cukong cukong

Juni 1997

BAHASA DIAM

Jibna Sudiryo

ombak memecah buih
di pesisir yang menoleh kerinduanku
pada bahasa diammu

lalu
kau sapa batu-batu
yang membeku
memandang arak pelangi
menulis isyaratknya;
diam-diam arus di bibirmu
menarik gelakku
dan engkau masih terdiam

2007

Puisi-Puisi Alfiyan Harfi

ODE BAGI YANG TAK DIKENAL

Aku ingin mendekat dan mengenalmu:
Mengenal bagaimana kau bangun
dan melangkah di tengah dunia
Bagaimana kau sentuh ranting kering
dan membuat mawar tumbuh darinya

Aku ingin mengenal bagaimana
Matamu menutup dan menyimpan
mimpi yang kecuali aku
tak seorang pun tahu
Aku ingin mengenal
Setiap udara yang kau hirup
Serta wangi yang kau hembuskan

Aku ingin mengenalmu kian dekat
Hingga aku mengenalmu
Layaknya aku mengenal diriku sendiri

Aku ingin menjadi akrab dengan kulitmu
Layaknya udara akrab denganku
Aku ingin menjadi akrab dengan suaramu
Layaknya aku akrab dengan kata hatiku

Aku ingin mengenalmu hingga
Aku mengenal segalanya;
Dan setiap bunga nama yang tumbuh
Mengakar padaku memancar padamu

November ‘07-Mei ‘08



SEPASANG MATA

lebih sunyi dari sebuah cermin
matamu bening bagai hati pencinta
dimana aku melihat diriku
menatap bagai malam padamu

kau yang menatap asing padaku
perhatikan bayang-bayangmu
tersimpan di kedalaman mataku
bagai cahaya menunjuk pusat kegelapan

apa dan kemana kau mencari
aku …

Puisi-Puisi Kirana Kejora

LELAKIKU DAN KUDANYA

Lautan pasir jiwanya selalu menggunung
Tak tersisir guratan luka tatihnya
Dia terus memacu kendali
Bergulat dengan amarah
Berrebut cairan-cairan darah
Dia tak ingin mati

Cemara yang memucuk
Terus tertejang derap kudanya
Libasnya begitu liar
Tumpahkan semua energinya
Dia selalu diam tak bicara padaku
Namun lembut membisikiku
Menitah tatih langkahku
Dia ingin kemudikan dunia
Melalui pelana bajanya

Trah tak angkuhkan busung dadanya
Dia terus melawan sakitnya
Rerimbunan jiwa yang lapuk
Ditebasnya dengan Atalla

Aku mulai kagum
Lelakiku yang tak pernah turun dari pelananya
Memacu detak hidup dengan kembaranya
Yang masih sulit aku runuti jejaknya

Bumi Samudra, Surabaya, 070507



SURAT KEPADA ILALANGMU

Pada ilalang kutawarkan secangkir embun
Buat redam takutku
Aku hanya pijar
Yang berujar sendiri pada langit
Jadikan tarian lekukku
Menjadi persembahan surga
Yang menjadi
Tetes dahaga hasrat tandus padangmu

Mohonku kepada getaran
Rasuki jiwaku untuk terus bertunas
Menjadi pohon-pohon kembara
Gelinjangkan lelaku r…

HIKAYAT ULAR

S Yoga

kudengar nada lirih
yang terukur berkesiur
dan bergetar di dalam dada

di dalam dada ada damar
menyala terang di sulur pohon poplar
di bawah pohon poplar
ada ular melingkar
di akar yang kekar
konon terusir dari surga
ketika menjaga pohon kuldi keramat

adam dan hawa telah membujuknya
untuk memetik buah terlarang
karena manusialah yang berakal
sang ular hanya mengikuti naluri
dengan kata kata bijak
ia telah mengingatkan agar selalu tafakur

dengan mata yang nanar
adam yang berwajah pupur
melempar takdir
ke sisik sisik tubuh sang ular
hingga ia undur terjatuh ke lumpur
yang tergenang di dalam dada
hingga di dada tumbuh pohon amarah
yang tercipta dari nafsu dan kelenjar nanah

setelah memetik buah harapan
sang adam membawa anggur kebahagiaan
menuju altar hawa yang girang
ia sedang membuat catatan harian
tentang kisah sang ular
yang menjebak dan merayu samar
agar ia nyidam buah terlarang
agar adam bersedia memetikkan
dan memakan buah hasrat berdua

di nadir dan tabir ini
sang ular membongka…

Puisi-Puisi Budhi Setyawan

http://www.kompas.com/
JALANG MENJALAR

engkau adalah
sungai jalang
yang biarkan ku berenang liar
dalam kecipakmu kian menjalar

sampai kapan
kauserap aku
dalam kubangmu
tergagap ruang membaca waktu

Jakarta, 26 April 2007



TINGGALKAN DI SINI

tinggalkan di sini sesobek senja
biar kuciumi
semampai jingga

tinggalkan di sini secarik malam
biar kutiduri
segaris dingin

tinggalkan di sini seiris mimpi
biar kurenangi
sebait ilusi

tinggalkan di sini seutas sepi
biar kususuri
seranting arti

Jakarta, 19 Mei 2007



MAGIS LUKA

luka, remah aku dalam kunyahmu
hingga tergerus segala pedih
jadi irama di tembang musim

luka, rengkuh aku dalam asingmu
hingga terkumpul segala jauh
mengapung mencipta jelujur gapai

luka, permainkan aku dalam gelinjangmu
hingga terlena sekujur ingin
langit turun merapatkan pengap

luka, tenggelamkan aku dalam hampamu
hingga meleleh segala lelah
lebur meluruh terhempas nganga

luka, cumbu aku manis awalmu
terkam aku ke dalam buas
hingga punah segala ronta

Jakarta, 30 Mei 2007